Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

makanansehat1-1612955976129.jpeg

Menjadi insan yang sehat tak hanya bersumber dari olahraga rutin. Asupan makanan dan minuman yang sehat juga menambah kualitas lutut. Agar tidak salah pilih, panduan dari dr. Their Effendi,Sp.OT dapat membantu memilih sajian yang tak hanya nikmat, tapi juga sehata untuk lutut.

 

BUAH BERRY

Keluarga buah Berry tentu nikmat disantap. Tapi, tahukah anda kandungan resveratrol pada buah Berry bermanfaat bagi sendi, termasuk mengurangi peradangan bagi sendi? Resveratrol ini ditemukan pada buah Cranberry, Mulberry, Blueberry, hingga Anggur Merah atau Redberry. Hal ini dipublikasikan pada Journal of Agriculture and Food Chemistry.

Radang yang dibiarkan dalam waktu yang lama dapat membahayakan sendi. Buah-buah Berry dapat menghambat peradangan. Disamping itu, kandungan flavanoid di dalamnya juga telah terbukti sebagai anti oksidan yang melindungi sel endotel dri radikal bebas.

 

WHOLE GRAIN

Padi, gandum, beras merah, dan jagung termasuk dalam deretan biji-bijian whole grain. Olahan menu dari whole grain selain mengandung serat yang tinggi, kandungan mineral tembaga yang membantu kesehatan sendi serta tulang. Dikutip dari American Journal of Clinical Nutrition, whole grain mengandung choline dan betaine yang dapat  mencegah terjadinya pembengkakakn sendi atau inflamasi.

 

SUSU & OLAHANNYA

Bukan hanya susu high calcium, Anda juga dapat mengonsumsi olahan makanan berbahan susu seperti keju dan yoghurt. Keduanya juga mengandung kalsium, zinc, magnesium, vitamin dan mineral yang sangat penting untuk pembentukan dan kepadatan tulang. Manfaat plus-nya, Anda juga bisa terhindar dari risiko osteoporosis bila mengonsumsi susu secara rutin.

 

IKAN TUNA & SALMON

Tuna dan Salmon sama-sama khas dengan tekstur lembutnya. Kduanya mengandung asam lemak esensial dan asam lemak Omega-3 yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan lemak harian. Asam lemak Omega-3 inilah yang dapat mengurangi peradangan. Rasa nyeri sendi pun berkurang.


Badminton.jpg

  • QUESTION

Selamat siang, dok.

Sebelumnya terima kasih sudah diberi kesempatan untuk bertanya lewat rubrik konsultasi majalah Orthocare ini. Nama saya Eko, 30 tahun. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai ayah saya. Beliau sudah berumur hampir 60 tahun. Tapi sampai saat ini masih sangat aktif berolah raga bulutangkis, yang sudah jadi rutinitas beliau sejak muda.

Masalahnya, saat ini saya sering khawatir karena usia beliau sudah cukup sepuh. Tapi intensitas bulutangkisnya masih sangat sering. Seminggu, bisa dua sampai tiga kali beliau masih berlatih. Yang ingin saya tanyakan, apakah intensitas tersebut tidak berbahaya bagi orang seusia beliau. Gerakan-gerakan apa yang harus dihindari dan bagaimana batas amannya saat bermain bulutangkis? Karena keluarga sudah meminta beliau untuk mengurangi intensitas bermain, tapi beliau tidak mau, karena memang sudah hobi.

Terima kasih jawabannya

Eko, Surabaya

 

  • ANSWER

Yth Tn. Eko

Olahraga memang bisa dilakukan oleh kalangan usia berapapun, baik tua maupun muda. Seberapa tinggi intensitas olahraga yang diperbolehkan tidak semata-mata bergantung pada usia. Usia boleh saja hampir 60 tahun, tapi selama fisik masih mendukung dan tidak ada keluhan yang dirasakan, maka olahraga tersebut boleh dilakukan.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa semakin kita menua, akan semakin menurun kemampuan fisik kita. Organ-organ tubuh tidak akan luput dari proses penuaan. Sehingga tetap harus lebih berhati-hati bila memasuki usia di atas 50 tahun.

Olahraga yang dianjurkan untuk kalangan usia di atas 50 tahun adalah olahraga low impact, non-kontak, dengan intensitas ringan-sedang. Misalnya jalan kaki, sepeda, berenang, yoga dan jogging.

Badminton memang termasuk olahraga high impact. Sehingga, apabila masih tetap ingin melakukan olahraga ini, disarankan untuk mengurangi intensitas, frekuensi, dan durasinya. Misalnya, badminton 2-3 kali seminggu, maksimal 1 jam, dan sebisa mungkin mengurangi gerakan-gerakan yang eksplosif.

Juga untuk diwaspadai, karena badminton termasuk olahraga overhead, dimana tangan dan siku sering berada lebih tinggi dari bahu, maka rawan mengalami cedera bahu. Untuk menghindarinya, lakukan pemanasan dan peregangan yang cukup, utamanya bahu, selama 10-15 menit sebelum olahraga.

Salam,

dr. Gede Chandra, Sp.OT

 

 

Bagi Anda yang ingin mendapatkan informasi awal mengenai keluhan-keluhan seputar kesehatan tulang dan sendi, dapat mengirimkan pertanyaan kepada para dokter ahli di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya melalui rubrik Konsultasi. Kirim pertanyaan Anda ke email: rsot@surabayaorthopedi.com Subjek/judul: “TANYA DOKTER”


pertolongan-pertama-cedera.jpeg

Tips penanganan awal saat cedera olahraga dengan menggunakan PRICE :

  1. PROTECTION

Melindungi area yang mengalami cedera. Gunakan brace atau penyangga, elastic bandage.

  1. REST (ISTIRAHAT)

Saat timbul cedera, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan aktivitas olahraga sesegera mungkin. Minimal 48-72 jam.

  1. ICE (ES)

Gunakan es yang dibalut kain untuk mengompres area yang cedera. Bisa juga menggunakan air dingin yang diletakkan padaa botol kaca. Lakukan secara rutin 15-20 menit setiap tiga jam selama masa akut, yakni 49-72 jam. Jangan gunakan air hangat, karena akan menambah pembengkakan.

  1. COMPRESSION (PENEKANAN)

Lakukan balutan pada area yang cedera untuk mengurangi pembengkakan. Gunakan elastic bandage. Jangan terlalu kendor dan jangan terlalu kencang. Balutan yang terlalu kendor tidak akan memberikan efek apa-apa pada cedera, sementara balutan yang terlalu kencang akan menimbulkan nyeri dan bengkak.

  1. ELEVATION (PENINGGIAN)

Saat tidur atau istirahat, posisikan kaki yang cedera sedikit lebih tinggi dari jantung agar pembengkakan bisa berkurang, bisa dengan bantal, handuk, dll. Tujuannya adalah untuk mengurangi nyeri dan mengurangi aliran darah kebagian tersebut yang menambah parah inflamasi (peradangan) yang terjadi.

 

Selain keempat pertolongan pertama tadi, ada empat   hal juga yang harus dihindari saat terjadi cedera olahraga yaitu HARM ( Heat, Alcohol, Running, dan Massage ).

  1. HEAT

Hindari kompres atau merendam bagian yang cedera dengan air hangat.

  1. ALCOHOL

Jangan meminum alkohol karena berisiko meningkatkan pendarahan dan pembengkakan.

  1. RUNNING

Hentikan aktivitas yang akan memperparah kerusakan ligament, termasuk lari dan olahraga lainnya.

  1. MASSAGE

Jangan dipijat, karena akan menambah risiko pembengkakan dan pendarahan.


cover-bentuk-punggung.jpg

Kelainan bentuk tulang belakang pada anak bisa terjadi pada berbagai tahap perkembangan,semasa bayi,ataupun di masa balita dan kanak-kanak. Bagaimana cara mendeteksi secara dini kelainan bentuk punggung buah hati kita?

3 kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang wajib dikenal oleh orang tua :

  1. Kifosis

Kifosis adalah kelainan bentuk tulang belakang di mana tulang belakang bagian atas membungkuk lebih dari 40 derajat. Dari samping, orangtua akan bisa mengamati bahwa punggung anak terlihat bungkuk/sangkuk (Bahasa Jawa). Selain karena bawaan lahir, kifosis pada balita bisa terjadi karena berbagai sebab seperti :

  • Masalah metabolic
  • Kondisi neuromuscular
  • Brittle bone disease, kondisi yang membuat tulang sangat mudah patah.
  • Penyakit
  • Tumor tulang belakang
  • Infeksi TBC tulang belakang

Kebiasaan duduk sambil membungkuk saat belajar atau bermain gawai juga dapat membuat postur tubuh anak berubah menjadi sangkuk (kifosis postural). Kifosis pada balita bisa dikenali dari gejala seperti, kepala cenderung lebih condong ke depan dibanding bagian tubuh kita, bagian belakang atas terlihat lebih menonjol.

 

  1. Hiperlordosis

Hiperlordosis atau swayback adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak dimana area bawah tulang belakang melengkung ke arah dalam secara berlebihan. Penyebabnya antara lain :

  • Kelainan neuromuscular, misal cerebral palsy.
  • Achondroplasia : Gangguan pertumbuhan tulang.
  • Discitis : Peradangan pada ruang di antara tulang belakang akibat infeksi.
  • Trauma

 

3. Scoliosis

Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang melengkung ke samping seperti huruf C atau S, dengan sudut lebih dari 10 derajat (pengukuran derajat pada xray tulang belakang)

 

Penyebab :

Sebagian kecil kasus scoliosis disebabkan oleh cerebral palsy atau distrofi otot, tapi mayoritas lainnya tidak diketahui secara pasti penyebabnya (idiopatik). Scoliosis juga disebabkan, karena cacat bawaan lahir dimana ruas-ruas tulang belakang tidak tumbuh sempurna.

 

Gejala umum scoliosis pada balita dan anak di antaranya adalah :

  • Bahu miring dan tidak sejajar, dengan satu tulang belikat terlihat lebih menonjol.
  • Rusuk yang terlihat lebih menonjol pada satu sisi.
  • Tinggi dan posisi pinggul yang tidak sejajar.
  • Besar payudara tidak sama.

 

Faktor resiko apa saja yang harus diwaspadai :

  • Usia puber, Anak perempuan usia 8-13 tahun, anak laki-laki usia 9-14 tahun. Rentang usia ini adalah masa dimana anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan yang pesat. Oleh karena itu skrining scoliosis di sekolah-sekolah dilakukan untuk kelompok usia ini, tujuannya dalah mendeteksi adanya gejala idiopatic adolescent scoliosis sedini mungkin.
  • Scoliosis lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
  • Riwayat keluarga : ibu, nenek juga penderita scoliosis. Bakat menderita scoliosis bisa diturunkan di keluarga. Meskipun demikian, belum tentu bakat tersebut diturunkan ke semua anak dalam satu keluarga. Scoliosis juga bisa terjadi walau tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga.

 

Kelainan bentuk tulang belakang pada balita dan anak bisa ditangani dengan latihan postur,pemakaian brace, atau prosedur operasi, tergantung dengan tingkat keparahannya. Makin cepat mendapat penanganan, biasanya hasilnya akan makin baik.

 

Apa yang bisa terjadi bila tidak mendapat penanganan yang tepat :

  1. Anak mudah mengeluh sakit punggung. Keluhan sakit akan makin meningkat seiring pertambahan usia.
  2. Scoliosis berat dapat menyebabkan anak mudah sesak saat beraktifitas. Fungsi paru terganggu.
  3. Tidak percaya diri karena diolok-olok teman.

 

4 HAL YANG BISA DILAKUKAN ORANGTUA :

K : Kembangkan kebiasaan duduk yang baik. Batasi pemakaian gawai.

A : Ajak anak berolahraga diluar ruangan. Belajar renang akan sangat membantu mengubah postur tubuh.

K : Kenali sejak dini tanda dan gejala kelainan bentuk punggung.

I  : Ikuti saran dan petunjuk dokter bila anak telah mendapatkan pemeriksaan


097448500_1499922622-Ciri-Sakit-Pinggang-yang-Disebabkan-Batu-Ginjal.jpg

Nyeri pinggang merupakan permasalahan yang sering terjadi pada kelompok usia dewasa. Menurut penelitian, sekitar 80% penduduk usia dewasa, pernah mengalami nyeri punggung atau nyeri pinggang (low back pain) dalam kehidupannya. Bagaimana teknologi penanganan terkini mengatasi nyeri pinggang?

 

Secara umum, nyeri punggung dan nyeri pinggang atau low back pain dapaat disebabkan oleh ketegangan pada pinggang bawah, arthritis (radang sendi), penyakit degeneratif pada tulang belakang, kesejajaran dan stabilitas tulang belakang yang tidak tepat, hernia pada diskus, radiculopathy atau sciatica (nyeri dari punggung menjalar ke tungkai), stenosis pada tulang belakang, dan penyebab lain yang berhubungan dengan system musculoskeletal.

Sebagian besar keluhan nyeri pinggang tersebut umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan dan fisisoterapi. Operasi tulang belakang biasanya direkomendasikan hanya pada kondisi nyeri punggung hebat dan jika masa perawatan non-bedah seperti pengobatan dan terapi fisioterapi belum meredakan gejala nyeri yang disebabkan oleh masalah punggung.

Pada masa sebelumnya, operasi tulang belakang secara tradisional dilakukan sebagai “operasi terbuka”. Ini berarti area yang akan dioperasi dibuka dengan sayatan Panjang untuk memungkinkan ahli bedah melihat dan mengakses anatomi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi telah memungkinkan mengobati penyakit pada tulang belakang dengan Teknik bedah invasif minimal atau Minimally Invasive Surgery (MIS).

Ada beberapa tindakan MIS yang dapat dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi, tergantung dari diagnosa yang diberikan oleh dokter ahli bedah tulang, antara lain :

  • PSLD (Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression)
  • PELD ( Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy)
  • MED ( Microendoscopic Discectomy)
  • Ballon Kyphoplasty (Suntik Cement)
  • Percutaneous Posterior Pedicle Screw Fixation (Pasang pen tanpa buka)

 

Tindakan-tindakan atau prosedur MIS diatas dapat digunakan untuk menangani kondisi seperti :

  • Penyakit degeneratif pada tulang belakang
  • Diskus yang mengalami hernia
  • Stenosis pada tulang belakang
  • Deformitas tulang belakang seperti scoliosis
  • Infeksi tulang belakang
  • Ketidakstabilan tulang belakang termasuk spondylolisthesis
  • Fraktur kompresi vertebrata
  • Tumor tulang belakang

Berbagai jenis tindakan minimal invasive surgery memiliki Teknik masing-masing, namun semuanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh tindakan operasi konvensional, seperti sayatan operasi yang sangat kecil dan beberapa milimeter saja, lebih aman, dan masa pemulihan yang lebih cepat. Karena hanya membutuhkan sayatan kecil (beberapa milimeter), tindakan minimal invasive ini juga memberikan keunggulan berupa :

  • Secara kosmetik lebih baik karena sayatan kulit yang lebih kecil (hanya beberapa milimeter)
  • Lebih sedikit kehilangan darah akibat operasi
  • Mengurangi resiko kerusakan otot, karena pemotongan otot sedikit atau bahkan tidak diperlukan
  • Mengurangi resiko infeksi dan nyeri pasca operasi
  • Pemulihan lebih cepat dari operasi konvensional dan tidak membutuhkan terapi rehabilitasi medik yang terlalu lama
  • Mengurangi ketergantungan pada obat nyeri setelah operasi

Meskipun demikian, seperti halnya prosedur pembedahan lain, tetap ada resiko seperti reaksi alergi/efek samping obat anestesi, kehilangan darah yang tidak terduga selama prosedur, dan infeksi lokal area sayatan.

TIPS PENANGANAN MANDIRI NYERI PUNGGUNG DI RUMAH

Meski RSOT tidak termasuk rumah sakit rujukan COVID-19, namun banyak masyarakat yang beberapa bulan terakhir ini takut untuk pergi ke rumah sakit. Untuk itu, ada beberapa tips yang dapat dilakukan pasien yang mengalami nyeri punggung bawah pada saat di rumah.

  1. Jangan terlalu banyak beristirahat atau berdiam di tempat
  2. Bergerak aktif
  3. Lakukan terapi kompres es
  4. Lakukan peregangan
  5. Perhatikan pola makan dan jaga berat badan anda
  6. Memperbaiki postur tubuh anda, terutama saat duduk lama

Kapan anda harus memeriksa diri ke dokter?

  1. Saat anda mulai merasakan kelemahan pada kaki anda
  2. Inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil)
  3. Nyeri yang tidak tertahankan
  4. Demam
  5. Menggigil
  6. Mati rasa

Tips untuk mencegah sakit punggung saat bekerja dari rumah selama pandemic COVID-19 :

  1. Lakukan peregangan sederhana setiap 1-2jam
  2. Hindari postur tubuh yang buruk
  3. Istirahat cukup
  4. Ganti kursi yang lebih ergonomis untuk tubuh anda

 

 

Tiga latihan dasar :

 

Jika membutuhkan latihan atau terapi untuk tulang belakang, bisa anda konsultasikan dengan dokter rehabilitasi medik di RS Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.


dr.kis-artikel.jpg

Teknologi kesehatan terus berkembang, termasuk untuk tindakan operasi tulang belakang yang dulu identik dengan luka sayatan yang lebar di punggung dan waktu pemulihan yang lama. Kini, dengan teknologi Minimally Invasive Spine Surgery (MISS), semua itu dapat diminimalisir.

Kelainan tulang belakang dapat disebabkan oleh beberapa factor. Trauma atau kecelakaan, infeksi, faktor degeneratif, maupun tumor. Faktor-faktor tersebut akan mengakibatkan ruangan untuk urat atau saraf yang ada di tulang belakang menjadi lebih sempit dan mengakibatkan keluhan-keluhan seperti nyeri pinggang, nyeri tungkai, kesemutan atau tebal/kebas dan jarak jalan yang memendek. “Orang awam biasanya menyebutkan dengan saraf terjepit, tumbuh tulang, atau kecetit” ujar Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp.OT (K), dokter ahli spine dari Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT Surabaya).

Menurut dr. Komang, dari berbagai faktor penyebab masalah tulang belakang di atas, kasus yang paling banyak ditangani dengan metode operasi minimally invasive surgery adalah kasus kelainan tulang belakang yang disebabkan karena faktor degeneratif atau faktor usia. Yang kedua adalah trauma atau kecelakaan dan masalah tulang belakang karena infeksi. Sementara, tumor ganas pada tulang belakang umumnya tidak dapat ditangani dengan operasi minimal invasive ini. Sedangkan tumor jinak tertentu masih bisa.

  1. Komang melanjutkan, metode minimally invasive spine surgery ini memiliki banyak keunggulan disbanding dengan operasi konvensional, khususnya untuk kasus-kasus degeneratif yang umumnya dialami oleh orang lanjut usia. “Operasi dengan metode minimally invasive hanya memerlukan sayatan 8mm sehingga pendarahannya tidak banyak, proses recovery-nya juga lebih singkat. Hanya butuh 1-2 hari tinggal di rumah sakit pasca operasi. Rehabilitasinya juga lebih singkat, bahkan tidak membutuhkan rehab jika bisa Latihan sendiri di rumah,”papar dr. Komang. Sementara, proses tindakan operasi membutuhkan waktu yang relatif sama dengan operasi konvensional, yakni antara 1-3 jam, tergantung kesulitan kasus yang ditangani.

Proses penanganan dan rehabilitasi yang cepat ini memang merupakan hal yang sangat penting pada masalah tulang belakang, karena tulang belakang diciptakan bergerak dan memiliki mobilitas yang tinggi. Tindakan operasi dengan sayatan lebar, termasuk memasang pen, akan membuat tulang belakang menjadi tidak fleksibel dan membutuhkan proses pemulihan yang lama untuk dapat bergerak seperti sebelumnya. Selain itu, tindakan open surgery atau operasi dengan sayatan terbuka akan membuat pendarahan makin banyak dan rasa sakit yang lebih besar.

“Apaabila kalau orang tua, yang dibutuhkan adalah mobilitas secepat mungkin. Kalau lebih lama di rumah sakit, lebh lama recovery-nya. Tiduran terus, maka goal dari operasinya tidak tercapai. Kita butuh sesegera mungkin selesai, segera rehab, sehingga di rumah sakit tidak lama. Apalagi di era pandemi, tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit”, terang dr. Komang.

 

RSOT – 10 Tahun menjadi Center of Minimally Invasive Spine Surgery

Sebagai rumah sakit yang concern pada masalah tulang, sendi, otot, dan saraf tepi, RSOT kini telah menjadi pusat operasi tulang belakang dengan metode minimal invasive. Hampir semua tindakan operasi tulang belakang karena amasalah degeneratif, mulai leher sampai pinggang, dapat dilakukan di RSOT dengan semua peralatan terkini dan para ahli tulang belakang yang ada di rumah sakit ini.

Dijelaskan oleh dr. Komang, RSOT terus melakukan inovasi dengan mengikuti perkembangan teknologi berkaitan dengan operasi tulang belakang. “Sekarang bukan jamannya lagi operasi tulang belakang dengan cara konvensional dengan sayatan lebar. Sekarang eranya full endoscopic surgery dimana semua proses operasi dapat kita lihat dari monitor”, jelas dr. Komang. “Dulu operasi tulang belakang harus melakukan sayatan sekitar 20 cm, lalu ada Micro Endoscopic Disectomy (MED) dengan sayatan 16-18 mm, Sekaran dengan metode minimally invasive surgery, cukup 8 mm”.

Ditambahkan dr. Komang, ada banyak metode minimally invasive surgery yang bisa dilakukan mulai dari Ballon Kyphoplasty atau suntik semen, Microendoscopic Disectomy (MED), Percutaneous Endoscopic Lumbar Disectomy (PELD), Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression (PSLD), pasang rod dan screw pada kasus yang tidak stabil pun dipasang Percutaneous dengan irisan kecil. Secara prinsip, semuanya sama dan menggunakan metode minimally invasive. Hanya saja metode-metode tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penanganan dan disesuaikan dengan patologi pasien.

“Dalam tindakan minimally invasive pada tulang belakang, kita berpedoman jangan merusak terlalu banyak saat melakukan operasi. Dan tujuan operasi ini adalah murni untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, bukan menghilangkan struktur yang sudah rusak karena prose degeneratif”, papar dr. Komang. “Jadi jangan berharap umur 71 jadi umur 17 setelah operasi. Problem pada sendi dan tulang yang kita carikan jalan keluar. Secara quality of life jadi lebih baik. Hidup lebih senang, tidak ada rasa sakit dan Bahagia di hari tua”.

Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp. OT (K)

 


mis-1200x1199.jpg

Sambut hari Natal & Tahun baru, RSOT Surabaya memberikan harga spesial biaya operasi sebesar 10% dengan teknik minimal invasif (bedah minimal):

– Rekonstruksi ACL/PCL
– Acromioplasty
– Repair Meniscus
– Arthroscopy
– PELD/MED/PSLD
– Kyphoplasty/Vertebroplasty

Berlaku mulai 7 Desember 2020 s/d 5 Januari 2021.

*S&K berlaku

Informasi
Customer Care RS Orthopedi & Traumatologi
Surabaya
0813.3787.3131


WhatsApp-Image-2020-12-04-at-10.38.32-AM-1200x1200.jpeg

Dapatkan harga spesial biaya operasi dalam rangka HARI IBU sebesar 20% dan implan 10%
– Operasi Bipolar/Hemiarthroplasty
– Operasi Ganti Sendi / TKR ( Total Knee Replacement )

Berlaku mulai 7 Desember 2020 s/d 5 Januari 2021.

*S&K berlaku
Berlaku untuk pasien perempan & laki-lali

Informasi
Customer Care RS Orthopedi & Traumatologi
Surabaya
0813.3787.3131


RSOT-JP-Rev-1200x920.jpg

Genap 10 tahun RSOT Surabaya melayani masyarakat, deretan inovasi dibidang muskuloskeletal (tulang, sendi, dan jaringan sekitarnya) terus dilakukan.

Sebagai Centre for Minimal Invasive Orthopedic Surgery, RSOT Surabaya dilengkapi dokter subspesialis orthopedi dibidang spine, hip and knee, foot and ankle, pediatric orthopedic, hand, dan sport injury. Tujuannya adalah dalam menangani kasus kelainan pada sendi serta penanganan patah tulang secara komprehensif, cepat, dan tepat dengan sayatan minimal. Dengan demikian akan mengurangi risiko infeksi dan komplikasi.

Dalam waktu dekat, RSOT Surabaya akan memiliki Dynamic Weight Bearing MRI yang memiliki fungsi spesifik untuk kasus tulang belakang dan sendi-sendi yang lebih rumit. MRI ini berbeda dengan MRI konvensional karena pasien tidak perlu masuk ke dalam alat, pasien hanya perlu duduk, berdiri, atau berbaring dan alat akan berputar untuk melihat keadaan tulang/sendi.

Informasi Layanan:
RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya
Jl. Emerald Mansion TX-10 Citraland Surabaya
(031) 574 31 574 / 574 31 299
Customer Care : 0813 3787 3131


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat