"> Marketing RSOT Surabaya – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

lari.jpg

CEDERA adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga.

Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didapatkan pada saat berolahraga. Bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.

Menurut dr. Theri Efendi, Sp. OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligament dan jaringan lunak lainnya seperti meniscus (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan, dan cedera otot di sekitar lutut seperti hamstring, quadriceps, dll. Cedera yang serig terjadi pada lutut adalah cedera Anterior Cruciate Ligaments (ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulamg paha dengan tulang kering di sendi lutut.

Sementara di daerah ankle, yang paling sering terjadi adalah sprain ankle, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan keseleo. Pada ankle, ligamen yang paling lemah dan sering cedera adalah anterior ligament. Selain itu, cedera pada ankle yang sering terjadi adalah pada tendon achilles, yang merupakan tendon besar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari, dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitive, overused atau dilakukan dengan intensitas sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan stress fracture.

“Cedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga high impact dan cenderung banyak body contact-nya. Seperti sepak bola, basket, dll”, terang dr. theri. “Cedera olahraga paling banyak disebabkan karena body contact, tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dengan jatuh posisi tidak betul, atau melakukan Gerakan memutar seperti pivot (Gerakan berputar secara tiba-tiba dengan berporors salah satu kaki, red) itu juga paling sering menyebabkan cedera pada lutut dan ankle.”

Untuk itu, dr Theri menekankan pentingnya pemanasan dan pendinginan untuk menghindari cedera. Meski dr. Theri tidak memungkiri, bahwa cedera pun dapat terjadi pada saat warming-up dan cooling down. “Itu sebabnya, kita harus tahu batasan atau kemampuan kita sendiri. Latihan sejak dini dan rutin juga diperlukan, agar otot lebih kuat dan siap untuk diajak berolahraga. Pemanasan dan pendinginan dengan baik tetap harus dilakukan sebelum dan sesudah berolahraga,” urainya.

Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga makin banyak digemari, termasuk olahraga urban sport, seperti running. Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. “Salah satunya yang sedang in adalah olahraga lari. Merasa mau event, persiapan kurang, tapi ingin sampai finish. Jarak yang diambil yang pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,” papar dr. Theri, “Nutrisi juga harus diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk menunjang olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yang kurang saat berolahraga.”

 

JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT, LAKUKAN RICE

Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat berolahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. “Yang pertama harus dilakukan adalah Rest (istirahat). Jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,” ujar dr. Theri.

Kemudian, Langkah berikutnya adalah Teknik ICE, yakni icing, compressing, dan elevating. Icing adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri, salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.

“Kalau cedera itu sebenarnya ada kerusakan jaringan di dalam, kerusakan jaringan lunak di dalam, termasuk di dalamnya pembuluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya pendarahannya akan semakin banyak,” papar dr. Theri. “Kalau dikasih es, kontraksi, pendarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres alcohol juga tidak betul. Penanganan dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.”

Proses elevating juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki dapat digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. “Kalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kecang, tapi juga tidak terlalu kendor,” katanya. “Kalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.”

 

PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT

Seiring dengan tren olahraga, penanganan pada sport injury di Indonesia juga terus berkembang,. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub spesialisasi sport injury.

RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan peralatan modern. Salah satunya adalah arthroscopy, Teknik operasi minimal invasive dengan luka yang sangat kecil bahkan kurang dari 1cm dan prosesnya recovery yang sangat cepat.

Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehab medik dari dokter dan fisioterapis yang memiliki program dan Standart Of  Procedure (SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini, RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya, dan berbagai klub professional lainnya.

“Target pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tahu, kapan mulai bisa Latihan lagia, kapan bisa tanding lagi, dan seterusnya,” papar dr. Theri. “Sebab, dalam penanganan sport injury di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahraga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pension,” tutup dr. Theri.


dr.-Theri-1200x1195.jpeg

Saat berolahraga maupun beraktivitas sehari – hari dapat berisiko terjadinya cedera. Masih banyak orang yang belum menyadari pentingnya penanganan cedera dengan tepat, misalnya sudah tahu cedera namun tetap melanjutkan aktivitas. Atau salah dalam penanganan cedera misalnya pergi ke tukang urut. Hal tersebut justru akan menimbulkan dampak cedera yang lebih serius.
Lalu bagaimana sebaiknya yang dilakukan jika mengalami cedera ?
Yuk ikuti Online Discussion dengan topik

“Waspada ! Jangan Salah Penanganan Cedera.”

Narasumber : dr. Theri Efendi, Sp.OT (K)
Hari /tanggal : Sabtu, 6 Maret 2021
Pukul : 10.00 WIB
Live Zoom dan Youtube
Daftar sekarang di:
bit.ly/healthtalkrsot
atau scan barcode pada gambar

ID meeting dan password akan dikirim melalui email.
Dapatkan doorprize menarik dari PT. Novell Pharmaceutical Laboratories !

Gratis dan terbuka untuk umum !
Ikuti Instagram & Youtube kami : @rsotsurabaya


sindrom-text-neck.jpg

Waspadai Sindrom “Text Neck”

Karena Kecanduan Smartphone

Dilansir dari We Are Social, disebutkan pada awal tahun 2020 ada 338,2 juta masyarakat Indonesia yang memiliki smartphone, dengan 160 juta pengguna aktif media sosial (medsos). Bila dibandingkan dengan tahun 2019, maka pada tahun ini ada peningkatan 10 juta orang indonesia yang aktif di medsos. Pengguna aktif smartphone dan media sosial ini bukan hanya pada kalangan anak muda saja, namun dari remaja hingga usia lanjut (16 hingga 64 tahun).

Fenomena masifnya penggunaan smartphone ini cukup mengkhawatirkan, pasalnya, terdapat fakta lain yang muncul akibat banyaknya pengguna smartphone yang mengakibatkan nyeri atau sakit pada kepala, leher, hingga punggung. Kondisi ini kemudian disebut sindrom Text Neck.

Sindrom Text Neck adalah nyeri di leher, otot leher, dan bahu, bahkan mungkin melibatkan degenerasi tulang, persendian, atau cakram tulang belakang di leher. Hal ini menjadi masalah apabila cedera di sekitar leher terjadi berulang kali akibat penggunaan ponsel dalam jangka waktu yang lama.

Gejala Sindrom Text Neck

  • Leher kaku dan sulit bergerak saat menggerakkan leher
  • Nyeri biasanya di bagian leher bawah dan nyeri terasa tumpul atau tajam seperti ditusuk pada kasus yang sudah berat
  • Nyeri menyebar hingga terasa di bahu dan lengan
  • Kelemahan otot-otot bahu
  • Sakit kepala
  • Nyeri lebih terasa saat leher menunduk
  • Nyeri atau kesemutan, kebas, yang menjalar hingga bahu, lengan, tangan dan/atau jari tangan

Akibat dari Text Neck Syndrome

Bila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dapat menyebabkan nyeri leher dan punggung yang kronis, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Pada anak-anak, saat mereka memasuki usia 20-30 tahun akan terjadi perubahan degeneratif pada postur tubuh mereka. Kemungkinan mereka akan memiliki postur tubuh bungkuk pada usia yang relative masih muda.

Bukan hanya itu, sindrom ini juga biasa mengganggu kesehatan mereka yang dapat berakibat anak-anak mengkonsumsi obat-obatan lebih banyak atau bahkan menjalani operasi di usia muda. Kondisi text neck yang menahun juga dapat mengakibatkan bantalan antar ruas tulang belakang keluar dari posisi sebelumnya sehingga menekan saraf. Saraf pada leher berfungsi untuk mengatur nafas, jika saraf tersebut rusak, maka kita akan mengalami kesulitan dalam bernafas.

Bagaimana Mengatasi Text Neck Syndrome

  • Batasi Penggunaan Smartphone

Saat postur seseorang berada dalam posisi tegak, maka kepala akan seimbang dengan leher. Namun saat kepala menunduk, maka kondisi kepala dan leher menjadi tidak seimbang.

  • Posisikan Smartphone Sejajar dengan Mata

Bila terpaksa menggunakan smartphone dalam waktu lama, usahakan posisi smartphone sejajar dengan posisi mata. Sebuah studi mengatakan bahwa berat kepala manusia pada posisi netral sekitar 5-6 kg. pada posisi menunduk dengan sudut 15° berat ini bertambah 20 kg, 30 kg pada posisi menunduk 60°. Dapat dibayangkan berapa berat yang harus ditopang oleh leher setiap harinya saat anda menggunakan smartphone dengan kepala menunduk?

  • Istirahat saat Menggunakan Smartphone

Berilah istirahat pada diri anda sekitar 20-30 menit sekali saat sedang menggunakan smartphone. Letakkan smartphone sekitar 2-3 menit untuk memberikan kesempatan kepada leher, punggung, dan bahu agar dapat berelaksasi.

  • Lakukan Peregangan Otot

Tundukkan dan tengadahkan kepala secara bergantian, lalu tekuk ke kanan dan kiri bergantian. Juga lakukan gerakan memutar bahu searah dan berlawanan arah jarum jam secara bergantian. Dengan peregangan ini diharapkan otot dapat kembali normal dan terhindar dari sindrom text neck.

  • Hubungi Dokter

Bila nyeri leher yang anda rasakan masih terus berlanjut maka saatnya untuk mengunjungi dokter. Semakin cepat anda mendapatkan perawatan dari ahlinya, semakin sedikit resiko atau akibat yang dapat terjadi pada kesehatan anda.


Duduk-benar-1200x1800.jpg

BAGAIMANA POSTUR YANG BAIK UNTUK PUNGGUNG?

POSTUR TUBUH SAAT BERDIRI

Perhatikan hal-hal di bawah ini ketika berdiri :

  • Posisi tubuh tegak
  • Tarik bahu dan perut kearah belakang (jangan berlebihan seperti posisi tegap khas tentara, karena itu bisa menyebabkan gangguan kelengkungan tulang belakang dan kelelahan pada otot)
  • Biarkan tangan menggantung secara alami di sisi tubuh
  • Beri jarak antara kaki kiri dan kanan, kurang lebih selebar bahu

Menjaga kesehatan tulang belakang sangat penting, karena tulang belakang merupakan salah satu struktur utama penopang tubuh. Tulang belakang bisa mengalami beberapa kelainan, seperti scoliosis, kifosis, maupun lordosis. Dari beberapa kelainan tulang belakang itu, ada yang disebabkan karena kelainan genetik, tapi ada juga yang disebabkan karena postur tubuh yang salah. Ya, postur tubuh yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai keluhan. Mulai dari nyeri punggung, sakit leher, dan nyeri bahu. Hal ini berdampak pada kelenturan dan keseimbangan tubuh, serta mempengaruhi proses pernapasan dan pencrnaan. Inilah sebabnya, kita harus menjaga agar postur tubuh selalu dalam posisi yang tepat, agar kesehatan tulang belakang selalu dalam posisi yang tepat, agar kesehatan tulang belakang selalu terjaga.

POSTUR TUBUH SAAT DUDUK

  • Usahakan duduk dengan posisi bokong di bagian paling belakang kursi, karena itu dapat menyangga area punggung dengan baik. Jika diperlukan, anda bisa menyokong area punggung bagian bawah dengan meletakkan bantal kecil.
  • Dekatkan siku dengan tubuh.
  • Hindari menyilangkan kaki, kedua telapak kaki sebaiknya menapak lantai.
  • Atur ketinggian kursi, sehingga sendi pada lutut membentuk siku-siku (90°)
  • Saat duduk di depan komputer, pastikan layar monitor sejajar dengan lengan. Perhatikan juga jarak pandang antara layer dan mata.
  • Saat menyetir, atur posisi kursi mendekat pada kemudi, sehingga lutut tetap menekuk, tetapi kaki dapat mencapai pedal.

POSTUR TUBUH SAAT TIDUR

Tanpa disadari, tidur menghabiskan sepertiga waktu seseorang dalam sehari. Oleh karena itu, posisi tidur yang baik juga tak kalah penting. Perhatikan hal-hal ini :

  • Pastikan bantal berada di bawah kepala, bukan di bawah bahu. Ketebalan bantal juga harus diperhatikan agar kepala tetap berada pada posisi normal.
  • Bisa juga tidur menyamping dengan lutut sedikit ditekuk, tetapi jangan sampai posisi lutut menempel perut. Posisi tersebut bisa menyebabkan nyeri punggung.
  • Hindari posisi tengkurap.
  • Pilih Kasur yang dapat menopang berat badan dengan baik, tidak perlu yang terlalu keras dan jangan yang terlalu empuk.

 

POSTUR TUBUH SAAT MENGANGKAT BENDA

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam mengangkat dan membawa suatu benda yang dapat melindungi punggung anda dan dapat mencegah cedera.

  • Hindari membungkuk setinggi pinggang ketika mengambil sesuatu. Hal ini dapat menciptakan ketegangan pada punggung dan memperbesar resiko cedera.
  • Kaki anda memisah, dengan satu kaki sedikit ke depan dari kaki yang lain. Ini memberikan basis penyangga yang lebar, lebih stabil, lebih bertenaga, dan lebih kuat.
  • Tekuk lutut anda dan berjongkok, jaga punggung anda tetap lurus dan kepala anda juga lurus selama mengangkat. Posisi ini memberikan kekuatan yang lebih untuk otot-otot tungkai dan menjaga keseimbangan punggung anda.

gensingen-brace-1200x1800.jpg

Dengan pendekatan brace yang bersifat asimetric, personal, dan computerize, Gensingen Brace According to dr. Weiss (GBW) menjadi harapan baru bagi penderita scoliosis. Bukan hanya untuk menahan laju pertumbuhan kurva pada tulang belakang, tapi juga untuk mengkoreksi kurva tersebut.

GBW adalah brace yang dikembangkan oleh dr. Weiss di kota Gensingen, Jerman. Brace ini merupakan turunan dari Cheneau Brace yang selama ini dikenal oleh para dokter orthopedi di seluruh dunia sebagai terapi bagi penderita scoliosis. GBW dikembangkan bersama dengan Schroth Best Practice untuk mendapatkan hasil koreksi yang lebih maksimal.

“GBW adalah asymetrical brace dan merupakan support dari Schroth Best Practice yang merupakan specific exercise atau latihan-latihan spesifik untuk scoliosis. Metode specific exercise ini hanya ada beberapa di dunia, tidak banyak. Dan yang sudah banyak riset dan jurnalnya adalah schroth,” ujar dr. Arhwinda ketika ditemui di ruang praktiknya di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya. “Dulu, jika kurva scoliosis diatas 40 persen, sudah indikasi atau harus operasi, tapi dengan perkembangan teknologi, oleh perhimpunan scoliosis  dunia parameter itu ditarik. Diatas 60 persen baru indikasi operasi.”

Dilanjutkan oleh dr. Arhwinda, proses pembuatan GBW untuk penderita scoliosis dilakukan secara terkomputerisasi, baik dari sisi desain maupun manufaktur sehingga bentuk brace yang dihasilkan bisa sangat personal sesuai dengan masing-masing kurva penderita atau bersifat asimetri. Hal ini berbeda dengan brace konvensional yang bentuknya cenderung sama dari atas ke bawah.

Proses pembuatan brace tersebut dimulai dengan proses scanning tubuh pasien. Hasil scan tersebut akan diproses secara komputerisasi dan langsung di-upload ke sistem dan dikirim ke jerman beserta dengan data-data pendukung lainnya yang dibutuhkan, salah satunya adalah foto x-ray scoliosis view.

Proses tersebut dapat dilakukan langsung di RSOT dengan peralatan yang dimiliki oleh rumah sakit khusus tulang dan traumatologi tersebut. Yang menarik, di RSOT proses foto tersebut cukup dilakukan dengan satu kali exposure/foto saja dengan menggunakan Long Length Imaging System. “Kalau nggak pakai alat ini, foto untuk scoliosis view harus dilakukan sampai empat kali foto. Artinya, paparan radiasi yang diterima pasien juga semakin besar”, tandas dr. Arhwinda.

Hasil desain GBW dari jerman didesain oleh teknisi khusus kemudian akan dlikirim ke pabrikan Jakarta dan dimanufaktur dengan komputerisasi, untuk kemudian diteruskan kepada pengguna GBW. Hal lain yang menjadi pembeda GBW ada proses evaluasi, dimana setiap enam bulan sekali akan dilakukan foto ulang untuk mengetahui koreksi kurva. Pada GBW, foto tersebut akan dilakukan tanpa menggunakan brace, sementara pada brace konvensional, foto dilakukan pada pasien dengan tetap menggunakan brace sehingga koreksi yang tampak cenderung tidak sesuai dengan koreksi real yang terjadi pada bulan tersebut.

Proses penggunaan brace tersebut akan dijalankan selama dua tahun. Setelahnya, diharapkan akan terjadi koreksi yang signifikan pada kurva scoliosis pasien,. Setiap tiga bulan, juga akan dilakukan revisi pada GBW sesuai dengan progress yang terjadi pada kurva scoliosis pasien. Seperti penyesuaian padding, bar, dan bagian lain pada GBW.

Untuk semua revisi tersebut dan observasi selama dua tahun, pasien tidak akan dikenakan biaya tambahan, karena sudah termasuk dalam biaya pembelian GBW. “Jadi harga GBW sudah termasuk biaya konsultasi dokter sebanyak delapan kali dalam satu tahun, biaya latihan schroth sebanyak 14 kali dalam satu tahun, dan revisi-revisi pada brace”, tentang dr. Arhwinda.

 

Deteksi dan Penanganan Lebih Awal, Hasil Lebih Maksimal

            “Sepanjang yang saya tau, dengan penggunaan GBW ini, kurva scoliosis pasti dapat 100% terkoreksi atau membaik, cuma tinggal koreksinya seberapa besar. Ada yang bisa bagus banget, bahkan lebih dari 50% terjadi pengurangan kurva, dan itu biasanya terjadi pada kurva-kurva yang besar”, tandas dr. Arhwinda. “Apalagi kalau pasien datang pada usia sebelum 14 tahun atau sebelum haid pertama kali, hasilnya akan baik sekali”.

Tapi bukan berarti mereka yang berusia diatas itu tidak akan mendapatkan hasil yang baik. “Usia 18-20 tahun misalnya, tetap bisa terkoreksi meski tidak signifikan, tapi secara kosmetik akan terlihat hasilnya. Terutama bagian punuk dan tonjolan pinggul”.

Selain itu, RSOT juga mendukung proses perbaikan kurva scoliosis tersebut dengan latihan schroth. RSOT jugatelah beberapa mengadakan latihan schroth yang dikemas dalam Scoliosis Super Camp. Salah satunya adalah event Scoliosis Super Camp yang diadakan januari 2020 lalu dengan mendatangkan langsung trainer schroth dari Ukraina. GBW adalah brace yang sesuai dengan prinsip latihan Schroth Best Practice.


1-Position-1200x900.jpg

Sebelum lebih lanjut membaca tulisan ini, ada baiknya Anda memperhatikan postur tubuh Anda. Cara duduk Anda, posisi leher anda saat membaca, dll. Sebab, low back pain atau nyeri pinggang bawah sangat dipengaruhi oleh postur tubuh Anda saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya low back pain atau nyeri pinggang bawah. Salah satu penyebab terbanyak adalah proses degeneratif yang umumnya dimulai pada umur 40 tahun. Selain itu, hal ini yang secara signifikan mempengaruhi terjadinya nyeri pinggang bawah adalah karena kesalahan postur tubuh yang repetitif atau dilakukan secara berulang-ulang dalam kurun waktu yang lama.

“Duduk dengan posisi yang salah dalam bekerja setiap harinya, orang yang bekerja dengan posisi mengangkat, mendorong, dengan posisi yang tidak benar, atlet yang salah dalam melakukan gerakan, dan lainnya. Prinsipnya, kesalahan postur yang dilakukan terus menerus sangat berpotensi untuk terjadinya nyeri punggung atau pinggang bawah”,tegas dr. Nyoman Dewi, Sp.KFR dari Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya (RSOT) Surabaya. “Selain itu, nyeri pinggang juga bisa diakibatkan faktor organnya, misal ada tumor, masalah di ginjal, rematik, osteoporosis, scoliosis atau karena kehamilan sehingga postur tubuhnya jadi berubah”.

Selain low back pain, menurut dr. Nyoman, upper back pain yang melibatkan tulang cervical atau sekitar leher, dewasa ini juga meningkat karena tren pemakaian smartphone yang masif yang membuat orang berada  dalam posisi menunduk dalam waktu yang lama.

Penanganan dengan Teknologi Fisisoterapi

Menurut dr. Nyoman, ada berbagai tahapan pada penanganan yang umumnya dilakukan kepada mereka yang menderita nyeri punggung, “Tentu kita periksa dulu. Apakah nyerinya karena trauma, atau karena organ lainnya. Kita tanya juga apakah sifat nyerinya menetap atau kadang-kadang. Intensitasnya gimana, apakah kalau bekerja tambah sakit, kalau tidur hilang, dan sebagainya”,ujar dr. Nyoman.

Lebih lanjut dr. Nyoman menuturkan, setelah diagnosa, barulah ditentukan program terapi atau program rehab medik yang cocok untuk pasien tersebut. Mulai dari latihan-latihan exercise yang disesuaikan dengan kondisi pasien, hingga penggunaan modalitas atau alat-alat dengan metode terkini yang dimiliki oleh RSOT.

RSOT sebagai rumah sakit yang concern terhadap permasalahan tulang, menurut dr. Nyoman, memang memiliki peralatan yang lengkap dan terkini dalam bidang fisioterapi dan reham medik. “Disini kami punya laser high intensity dan low intensity untuk kasus-kasus akut dan kronis, radial shock wave therapy, dll”, ujarnya.

RSOT juga memiliki berbagai modalitas untuk mendukung terapi exercise atau latihan, seperti latihan peregangan, latihan koreksi postur dan latihan lainnya pada penderita nyeri punggung untuk mengurangi nyeri dan peradangan.”Latihan-latihan tersebut dibuat sesuai dengan kondisi pasien dan diajarkan agar pasien dapat melakukan secara mandiri di rumah untuk home exercise program”, terang dr. Nyoman.

dr. Nyoman menegaskan, jika program-program rehab medik tersebut dilakukan dengan benar dan konsisten, termasuk menggunakan alat-alat bantu yang dianjurkan oleh dokter, harapan untuk sembuh cukup besar.”Operasi adalah option terakhir. Jika memang latihan-latihan, obat anti nyeri dan tindakan konservatif lainnya sudah tidak membantu”, ungkap dr. Nyoman. “Kecuali kalau sudah menyangkut saraf, seperti saraf terjepit, harus operasi untuk membebaskan sarafnya.”

Untuk itu, dr. Nyoman juga menekankan pencegahan nyeri punggung dengan \penerapan gaya hidup yang baik. Terutama memperhatikan posisi atau postur yang sering kita lakukan sehari-hari.

“Yang bekerja di depan computer dan harus duduk lama, pastikan posisi duduknya benar, punggung lurus 90 derajat. Monitor juga harus sejajar dengan mata kita supaya punggung tidak membungkuk dan leher tidak menunduk.” ujar dr. Nyoman. “ Pekerjaan yang banyak mengangkat atau mendorong, juga beresiko tinggi menyebabkan tekanan diskus tulang belakang dan penjepitan saraf. Prinsipnya usahakan semua postur kita benar. Lakukan peregangan sesering mungkin.”


cover-bentuk-punggung.jpg

Kelainan bentuk tulang belakang pada anak bisa terjadi pada berbagai tahap perkembangan,semasa bayi,ataupun di masa balita dan kanak-kanak. Bagaimana cara mendeteksi secara dini kelainan bentuk punggung buah hati kita?

3 kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang wajib dikenal oleh orang tua :

  1. Kifosis

Kifosis adalah kelainan bentuk tulang belakang di mana tulang belakang bagian atas membungkuk lebih dari 40 derajat. Dari samping, orangtua akan bisa mengamati bahwa punggung anak terlihat bungkuk/sangkuk (Bahasa Jawa). Selain karena bawaan lahir, kifosis pada balita bisa terjadi karena berbagai sebab seperti :

  • Masalah metabolic
  • Kondisi neuromuscular
  • Brittle bone disease, kondisi yang membuat tulang sangat mudah patah.
  • Penyakit
  • Tumor tulang belakang
  • Infeksi TBC tulang belakang

Kebiasaan duduk sambil membungkuk saat belajar atau bermain gawai juga dapat membuat postur tubuh anak berubah menjadi sangkuk (kifosis postural). Kifosis pada balita bisa dikenali dari gejala seperti, kepala cenderung lebih condong ke depan dibanding bagian tubuh kita, bagian belakang atas terlihat lebih menonjol.

 

  1. Hiperlordosis

Hiperlordosis atau swayback adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak dimana area bawah tulang belakang melengkung ke arah dalam secara berlebihan. Penyebabnya antara lain :

  • Kelainan neuromuscular, misal cerebral palsy.
  • Achondroplasia : Gangguan pertumbuhan tulang.
  • Discitis : Peradangan pada ruang di antara tulang belakang akibat infeksi.
  • Trauma

 

3. Scoliosis

Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang melengkung ke samping seperti huruf C atau S, dengan sudut lebih dari 10 derajat (pengukuran derajat pada xray tulang belakang)

 

Penyebab :

Sebagian kecil kasus scoliosis disebabkan oleh cerebral palsy atau distrofi otot, tapi mayoritas lainnya tidak diketahui secara pasti penyebabnya (idiopatik). Scoliosis juga disebabkan, karena cacat bawaan lahir dimana ruas-ruas tulang belakang tidak tumbuh sempurna.

 

Gejala umum scoliosis pada balita dan anak di antaranya adalah :

  • Bahu miring dan tidak sejajar, dengan satu tulang belikat terlihat lebih menonjol.
  • Rusuk yang terlihat lebih menonjol pada satu sisi.
  • Tinggi dan posisi pinggul yang tidak sejajar.
  • Besar payudara tidak sama.

 

Faktor resiko apa saja yang harus diwaspadai :

  • Usia puber, Anak perempuan usia 8-13 tahun, anak laki-laki usia 9-14 tahun. Rentang usia ini adalah masa dimana anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan yang pesat. Oleh karena itu skrining scoliosis di sekolah-sekolah dilakukan untuk kelompok usia ini, tujuannya dalah mendeteksi adanya gejala idiopatic adolescent scoliosis sedini mungkin.
  • Scoliosis lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
  • Riwayat keluarga : ibu, nenek juga penderita scoliosis. Bakat menderita scoliosis bisa diturunkan di keluarga. Meskipun demikian, belum tentu bakat tersebut diturunkan ke semua anak dalam satu keluarga. Scoliosis juga bisa terjadi walau tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga.

 

Kelainan bentuk tulang belakang pada balita dan anak bisa ditangani dengan latihan postur,pemakaian brace, atau prosedur operasi, tergantung dengan tingkat keparahannya. Makin cepat mendapat penanganan, biasanya hasilnya akan makin baik.

 

Apa yang bisa terjadi bila tidak mendapat penanganan yang tepat :

  1. Anak mudah mengeluh sakit punggung. Keluhan sakit akan makin meningkat seiring pertambahan usia.
  2. Scoliosis berat dapat menyebabkan anak mudah sesak saat beraktifitas. Fungsi paru terganggu.
  3. Tidak percaya diri karena diolok-olok teman.

 

4 HAL YANG BISA DILAKUKAN ORANGTUA :

K : Kembangkan kebiasaan duduk yang baik. Batasi pemakaian gawai.

A : Ajak anak berolahraga diluar ruangan. Belajar renang akan sangat membantu mengubah postur tubuh.

K : Kenali sejak dini tanda dan gejala kelainan bentuk punggung.

I  : Ikuti saran dan petunjuk dokter bila anak telah mendapatkan pemeriksaan


097448500_1499922622-Ciri-Sakit-Pinggang-yang-Disebabkan-Batu-Ginjal.jpg

Nyeri pinggang merupakan permasalahan yang sering terjadi pada kelompok usia dewasa. Menurut penelitian, sekitar 80% penduduk usia dewasa, pernah mengalami nyeri punggung atau nyeri pinggang (low back pain) dalam kehidupannya. Bagaimana teknologi penanganan terkini mengatasi nyeri pinggang?

 

Secara umum, nyeri punggung dan nyeri pinggang atau low back pain dapaat disebabkan oleh ketegangan pada pinggang bawah, arthritis (radang sendi), penyakit degeneratif pada tulang belakang, kesejajaran dan stabilitas tulang belakang yang tidak tepat, hernia pada diskus, radiculopathy atau sciatica (nyeri dari punggung menjalar ke tungkai), stenosis pada tulang belakang, dan penyebab lain yang berhubungan dengan system musculoskeletal.

Sebagian besar keluhan nyeri pinggang tersebut umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan dan fisisoterapi. Operasi tulang belakang biasanya direkomendasikan hanya pada kondisi nyeri punggung hebat dan jika masa perawatan non-bedah seperti pengobatan dan terapi fisioterapi belum meredakan gejala nyeri yang disebabkan oleh masalah punggung.

Pada masa sebelumnya, operasi tulang belakang secara tradisional dilakukan sebagai “operasi terbuka”. Ini berarti area yang akan dioperasi dibuka dengan sayatan Panjang untuk memungkinkan ahli bedah melihat dan mengakses anatomi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi telah memungkinkan mengobati penyakit pada tulang belakang dengan Teknik bedah invasif minimal atau Minimally Invasive Surgery (MIS).

Ada beberapa tindakan MIS yang dapat dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi, tergantung dari diagnosa yang diberikan oleh dokter ahli bedah tulang, antara lain :

  • PSLD (Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression)
  • PELD ( Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy)
  • MED ( Microendoscopic Discectomy)
  • Ballon Kyphoplasty (Suntik Cement)
  • Percutaneous Posterior Pedicle Screw Fixation (Pasang pen tanpa buka)

 

Tindakan-tindakan atau prosedur MIS diatas dapat digunakan untuk menangani kondisi seperti :

  • Penyakit degeneratif pada tulang belakang
  • Diskus yang mengalami hernia
  • Stenosis pada tulang belakang
  • Deformitas tulang belakang seperti scoliosis
  • Infeksi tulang belakang
  • Ketidakstabilan tulang belakang termasuk spondylolisthesis
  • Fraktur kompresi vertebrata
  • Tumor tulang belakang

Berbagai jenis tindakan minimal invasive surgery memiliki Teknik masing-masing, namun semuanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh tindakan operasi konvensional, seperti sayatan operasi yang sangat kecil dan beberapa milimeter saja, lebih aman, dan masa pemulihan yang lebih cepat. Karena hanya membutuhkan sayatan kecil (beberapa milimeter), tindakan minimal invasive ini juga memberikan keunggulan berupa :

  • Secara kosmetik lebih baik karena sayatan kulit yang lebih kecil (hanya beberapa milimeter)
  • Lebih sedikit kehilangan darah akibat operasi
  • Mengurangi resiko kerusakan otot, karena pemotongan otot sedikit atau bahkan tidak diperlukan
  • Mengurangi resiko infeksi dan nyeri pasca operasi
  • Pemulihan lebih cepat dari operasi konvensional dan tidak membutuhkan terapi rehabilitasi medik yang terlalu lama
  • Mengurangi ketergantungan pada obat nyeri setelah operasi

Meskipun demikian, seperti halnya prosedur pembedahan lain, tetap ada resiko seperti reaksi alergi/efek samping obat anestesi, kehilangan darah yang tidak terduga selama prosedur, dan infeksi lokal area sayatan.

TIPS PENANGANAN MANDIRI NYERI PUNGGUNG DI RUMAH

Meski RSOT tidak termasuk rumah sakit rujukan COVID-19, namun banyak masyarakat yang beberapa bulan terakhir ini takut untuk pergi ke rumah sakit. Untuk itu, ada beberapa tips yang dapat dilakukan pasien yang mengalami nyeri punggung bawah pada saat di rumah.

  1. Jangan terlalu banyak beristirahat atau berdiam di tempat
  2. Bergerak aktif
  3. Lakukan terapi kompres es
  4. Lakukan peregangan
  5. Perhatikan pola makan dan jaga berat badan anda
  6. Memperbaiki postur tubuh anda, terutama saat duduk lama

Kapan anda harus memeriksa diri ke dokter?

  1. Saat anda mulai merasakan kelemahan pada kaki anda
  2. Inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil)
  3. Nyeri yang tidak tertahankan
  4. Demam
  5. Menggigil
  6. Mati rasa

Tips untuk mencegah sakit punggung saat bekerja dari rumah selama pandemic COVID-19 :

  1. Lakukan peregangan sederhana setiap 1-2jam
  2. Hindari postur tubuh yang buruk
  3. Istirahat cukup
  4. Ganti kursi yang lebih ergonomis untuk tubuh anda

 

 

Tiga latihan dasar :

 

Jika membutuhkan latihan atau terapi untuk tulang belakang, bisa anda konsultasikan dengan dokter rehabilitasi medik di RS Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.


dr.kis-artikel.jpg

Teknologi kesehatan terus berkembang, termasuk untuk tindakan operasi tulang belakang yang dulu identik dengan luka sayatan yang lebar di punggung dan waktu pemulihan yang lama. Kini, dengan teknologi Minimally Invasive Spine Surgery (MISS), semua itu dapat diminimalisir.

Kelainan tulang belakang dapat disebabkan oleh beberapa factor. Trauma atau kecelakaan, infeksi, faktor degeneratif, maupun tumor. Faktor-faktor tersebut akan mengakibatkan ruangan untuk urat atau saraf yang ada di tulang belakang menjadi lebih sempit dan mengakibatkan keluhan-keluhan seperti nyeri pinggang, nyeri tungkai, kesemutan atau tebal/kebas dan jarak jalan yang memendek. “Orang awam biasanya menyebutkan dengan saraf terjepit, tumbuh tulang, atau kecetit” ujar Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp.OT (K), dokter ahli spine dari Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT Surabaya).

Menurut dr. Komang, dari berbagai faktor penyebab masalah tulang belakang di atas, kasus yang paling banyak ditangani dengan metode operasi minimally invasive surgery adalah kasus kelainan tulang belakang yang disebabkan karena faktor degeneratif atau faktor usia. Yang kedua adalah trauma atau kecelakaan dan masalah tulang belakang karena infeksi. Sementara, tumor ganas pada tulang belakang umumnya tidak dapat ditangani dengan operasi minimal invasive ini. Sedangkan tumor jinak tertentu masih bisa.

  1. Komang melanjutkan, metode minimally invasive spine surgery ini memiliki banyak keunggulan disbanding dengan operasi konvensional, khususnya untuk kasus-kasus degeneratif yang umumnya dialami oleh orang lanjut usia. “Operasi dengan metode minimally invasive hanya memerlukan sayatan 8mm sehingga pendarahannya tidak banyak, proses recovery-nya juga lebih singkat. Hanya butuh 1-2 hari tinggal di rumah sakit pasca operasi. Rehabilitasinya juga lebih singkat, bahkan tidak membutuhkan rehab jika bisa Latihan sendiri di rumah,”papar dr. Komang. Sementara, proses tindakan operasi membutuhkan waktu yang relatif sama dengan operasi konvensional, yakni antara 1-3 jam, tergantung kesulitan kasus yang ditangani.

Proses penanganan dan rehabilitasi yang cepat ini memang merupakan hal yang sangat penting pada masalah tulang belakang, karena tulang belakang diciptakan bergerak dan memiliki mobilitas yang tinggi. Tindakan operasi dengan sayatan lebar, termasuk memasang pen, akan membuat tulang belakang menjadi tidak fleksibel dan membutuhkan proses pemulihan yang lama untuk dapat bergerak seperti sebelumnya. Selain itu, tindakan open surgery atau operasi dengan sayatan terbuka akan membuat pendarahan makin banyak dan rasa sakit yang lebih besar.

“Apaabila kalau orang tua, yang dibutuhkan adalah mobilitas secepat mungkin. Kalau lebih lama di rumah sakit, lebh lama recovery-nya. Tiduran terus, maka goal dari operasinya tidak tercapai. Kita butuh sesegera mungkin selesai, segera rehab, sehingga di rumah sakit tidak lama. Apalagi di era pandemi, tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit”, terang dr. Komang.

 

RSOT – 10 Tahun menjadi Center of Minimally Invasive Spine Surgery

Sebagai rumah sakit yang concern pada masalah tulang, sendi, otot, dan saraf tepi, RSOT kini telah menjadi pusat operasi tulang belakang dengan metode minimal invasive. Hampir semua tindakan operasi tulang belakang karena amasalah degeneratif, mulai leher sampai pinggang, dapat dilakukan di RSOT dengan semua peralatan terkini dan para ahli tulang belakang yang ada di rumah sakit ini.

Dijelaskan oleh dr. Komang, RSOT terus melakukan inovasi dengan mengikuti perkembangan teknologi berkaitan dengan operasi tulang belakang. “Sekarang bukan jamannya lagi operasi tulang belakang dengan cara konvensional dengan sayatan lebar. Sekarang eranya full endoscopic surgery dimana semua proses operasi dapat kita lihat dari monitor”, jelas dr. Komang. “Dulu operasi tulang belakang harus melakukan sayatan sekitar 20 cm, lalu ada Micro Endoscopic Disectomy (MED) dengan sayatan 16-18 mm, Sekaran dengan metode minimally invasive surgery, cukup 8 mm”.

Ditambahkan dr. Komang, ada banyak metode minimally invasive surgery yang bisa dilakukan mulai dari Ballon Kyphoplasty atau suntik semen, Microendoscopic Disectomy (MED), Percutaneous Endoscopic Lumbar Disectomy (PELD), Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression (PSLD), pasang rod dan screw pada kasus yang tidak stabil pun dipasang Percutaneous dengan irisan kecil. Secara prinsip, semuanya sama dan menggunakan metode minimally invasive. Hanya saja metode-metode tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penanganan dan disesuaikan dengan patologi pasien.

“Dalam tindakan minimally invasive pada tulang belakang, kita berpedoman jangan merusak terlalu banyak saat melakukan operasi. Dan tujuan operasi ini adalah murni untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, bukan menghilangkan struktur yang sudah rusak karena prose degeneratif”, papar dr. Komang. “Jadi jangan berharap umur 71 jadi umur 17 setelah operasi. Problem pada sendi dan tulang yang kita carikan jalan keluar. Secara quality of life jadi lebih baik. Hidup lebih senang, tidak ada rasa sakit dan Bahagia di hari tua”.

Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp. OT (K)

 


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat