Tips penanganan awal saat cedera olahraga dengan menggunakan PRICE :
PROTECTION
Melindungi area yang mengalami cedera. Gunakan brace atau penyangga, elastic bandage.
REST (ISTIRAHAT)
Saat timbul cedera, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan aktivitas olahraga sesegera mungkin. Minimal 48-72 jam.
ICE (ES)
Gunakan es yang dibalut kain untuk mengompres area yang cedera. Bisa juga menggunakan air dingin yang diletakkan padaa botol kaca. Lakukan secara rutin 15-20 menit setiap tiga jam selama masa akut, yakni 49-72 jam. Jangan gunakan air hangat, karena akan menambah pembengkakan.
COMPRESSION (PENEKANAN)
Lakukan balutan pada area yang cedera untuk mengurangi pembengkakan. Gunakan elastic bandage. Jangan terlalu kendor dan jangan terlalu kencang. Balutan yang terlalu kendor tidak akan memberikan efek apa-apa pada cedera, sementara balutan yang terlalu kencang akan menimbulkan nyeri dan bengkak.
ELEVATION (PENINGGIAN)
Saat tidur atau istirahat, posisikan kaki yang cedera sedikit lebih tinggi dari jantung agar pembengkakan bisa berkurang, bisa dengan bantal, handuk, dll. Tujuannya adalah untuk mengurangi nyeri dan mengurangi aliran darah kebagian tersebut yang menambah parah inflamasi (peradangan) yang terjadi.
Selain keempat pertolongan pertama tadi, ada empat hal juga yang harus dihindari saat terjadi cedera olahraga yaitu HARM ( Heat, Alcohol, Running, dan Massage ).
HEAT
Hindari kompres atau merendam bagian yang cedera dengan air hangat.
ALCOHOL
Jangan meminum alkohol karena berisiko meningkatkan pendarahan dan pembengkakan.
RUNNING
Hentikan aktivitas yang akan memperparah kerusakan ligament, termasuk lari dan olahraga lainnya.
MASSAGE
Jangan dipijat, karena akan menambah risiko pembengkakan dan pendarahan.
Kelainan bentuk tulang belakang pada anak bisa terjadi pada berbagai tahap perkembangan,semasa bayi,ataupun di masa balita dan kanak-kanak. Bagaimana cara mendeteksi secara dini kelainan bentuk punggung buah hati kita?
3 kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang wajib dikenal oleh orang tua :
Kifosis
Kifosis adalah kelainan bentuk tulang belakang di mana tulang belakang bagian atas membungkuk lebih dari 40 derajat. Dari samping, orangtua akan bisa mengamati bahwa punggung anak terlihat bungkuk/sangkuk (Bahasa Jawa). Selain karena bawaan lahir, kifosis pada balita bisa terjadi karena berbagai sebab seperti :
Masalah metabolic
Kondisi neuromuscular
Brittle bone disease, kondisi yang membuat tulang sangat mudah patah.
Penyakit
Tumor tulang belakang
Infeksi TBC tulang belakang
Kebiasaan duduk sambil membungkuk saat belajar atau bermain gawai juga dapat membuat postur tubuh anak berubah menjadi sangkuk (kifosis postural). Kifosis pada balita bisa dikenali dari gejala seperti, kepala cenderung lebih condong ke depan dibanding bagian tubuh kita, bagian belakang atas terlihat lebih menonjol.
Hiperlordosis
Hiperlordosis atau swayback adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak dimana area bawah tulang belakang melengkung ke arah dalam secara berlebihan. Penyebabnya antara lain :
Kelainan neuromuscular, misal cerebral palsy.
Achondroplasia : Gangguan pertumbuhan tulang.
Discitis : Peradangan pada ruang di antara tulang belakang akibat infeksi.
Trauma
3. Scoliosis
Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang melengkung ke samping seperti huruf C atau S, dengan sudut lebih dari 10 derajat (pengukuran derajat pada xray tulang belakang)
Penyebab :
Sebagian kecil kasus scoliosis disebabkan oleh cerebral palsy atau distrofi otot, tapi mayoritas lainnya tidak diketahui secara pasti penyebabnya (idiopatik). Scoliosis juga disebabkan, karena cacat bawaan lahir dimana ruas-ruas tulang belakang tidak tumbuh sempurna.
Gejala umum scoliosis pada balita dan anak di antaranya adalah :
Bahu miring dan tidak sejajar, dengan satu tulang belikat terlihat lebih menonjol.
Rusuk yang terlihat lebih menonjol pada satu sisi.
Tinggi dan posisi pinggul yang tidak sejajar.
Besar payudara tidak sama.
Faktor resiko apa saja yang harus diwaspadai :
Usia puber, Anak perempuan usia 8-13 tahun, anak laki-laki usia 9-14 tahun. Rentang usia ini adalah masa dimana anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan yang pesat. Oleh karena itu skrining scoliosis di sekolah-sekolah dilakukan untuk kelompok usia ini, tujuannya dalah mendeteksi adanya gejala idiopatic adolescent scoliosis sedini mungkin.
Scoliosis lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
Riwayat keluarga : ibu, nenek juga penderita scoliosis. Bakat menderita scoliosis bisa diturunkan di keluarga. Meskipun demikian, belum tentu bakat tersebut diturunkan ke semua anak dalam satu keluarga. Scoliosis juga bisa terjadi walau tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga.
Kelainan bentuk tulang belakang pada balita dan anak bisa ditangani dengan latihan postur,pemakaian brace, atau prosedur operasi, tergantung dengan tingkat keparahannya. Makin cepat mendapat penanganan, biasanya hasilnya akan makin baik.
Apa yang bisa terjadi bila tidak mendapat penanganan yang tepat :
Anak mudah mengeluh sakit punggung. Keluhan sakit akan makin meningkat seiring pertambahan usia.
Scoliosis berat dapat menyebabkan anak mudah sesak saat beraktifitas. Fungsi paru terganggu.
Tidak percaya diri karena diolok-olok teman.
4 HAL YANG BISA DILAKUKAN ORANGTUA :
K : Kembangkan kebiasaan duduk yang baik. Batasi pemakaian gawai.
A : Ajak anak berolahraga diluar ruangan. Belajar renang akan sangat membantu mengubah postur tubuh.
K : Kenali sejak dini tanda dan gejala kelainan bentuk punggung.
I : Ikuti saran dan petunjuk dokter bila anak telah mendapatkan pemeriksaan
Nyeri pinggang merupakan permasalahan yang sering terjadi pada kelompok usia dewasa. Menurut penelitian, sekitar 80% penduduk usia dewasa, pernah mengalami nyeri punggung atau nyeri pinggang (low back pain) dalam kehidupannya. Bagaimana teknologi penanganan terkini mengatasi nyeri pinggang?
Secara umum, nyeri punggung dan nyeri pinggang atau low back pain dapaat disebabkan oleh ketegangan pada pinggang bawah, arthritis (radang sendi), penyakit degeneratif pada tulang belakang, kesejajaran dan stabilitas tulang belakang yang tidak tepat, hernia pada diskus, radiculopathy atau sciatica (nyeri dari punggung menjalar ke tungkai), stenosis pada tulang belakang, dan penyebab lain yang berhubungan dengan system musculoskeletal.
Sebagian besar keluhan nyeri pinggang tersebut umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan dan fisisoterapi. Operasi tulang belakang biasanya direkomendasikan hanya pada kondisi nyeri punggung hebat dan jika masa perawatan non-bedah seperti pengobatan dan terapi fisioterapi belum meredakan gejala nyeri yang disebabkan oleh masalah punggung.
Pada masa sebelumnya, operasi tulang belakang secara tradisional dilakukan sebagai “operasi terbuka”. Ini berarti area yang akan dioperasi dibuka dengan sayatan Panjang untuk memungkinkan ahli bedah melihat dan mengakses anatomi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi telah memungkinkan mengobati penyakit pada tulang belakang dengan Teknik bedah invasif minimal atau Minimally Invasive Surgery (MIS).
Ada beberapa tindakan MIS yang dapat dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi, tergantung dari diagnosa yang diberikan oleh dokter ahli bedah tulang, antara lain :
Percutaneous Posterior Pedicle Screw Fixation (Pasang pen tanpa buka)
Tindakan-tindakan atau prosedur MIS diatas dapat digunakan untuk menangani kondisi seperti :
Penyakit degeneratif pada tulang belakang
Diskus yang mengalami hernia
Stenosis pada tulang belakang
Deformitas tulang belakang seperti scoliosis
Infeksi tulang belakang
Ketidakstabilan tulang belakang termasuk spondylolisthesis
Fraktur kompresi vertebrata
Tumor tulang belakang
Berbagai jenis tindakan minimal invasive surgery memiliki Teknik masing-masing, namun semuanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh tindakan operasi konvensional, seperti sayatan operasi yang sangat kecil dan beberapa milimeter saja, lebih aman, dan masa pemulihan yang lebih cepat. Karena hanya membutuhkan sayatan kecil (beberapa milimeter), tindakan minimal invasive ini juga memberikan keunggulan berupa :
Secara kosmetik lebih baik karena sayatan kulit yang lebih kecil (hanya beberapa milimeter)
Lebih sedikit kehilangan darah akibat operasi
Mengurangi resiko kerusakan otot, karena pemotongan otot sedikit atau bahkan tidak diperlukan
Mengurangi resiko infeksi dan nyeri pasca operasi
Pemulihan lebih cepat dari operasi konvensional dan tidak membutuhkan terapi rehabilitasi medik yang terlalu lama
Mengurangi ketergantungan pada obat nyeri setelah operasi
Meskipun demikian, seperti halnya prosedur pembedahan lain, tetap ada resiko seperti reaksi alergi/efek samping obat anestesi, kehilangan darah yang tidak terduga selama prosedur, dan infeksi lokal area sayatan.
TIPS PENANGANAN MANDIRI NYERI PUNGGUNG DI RUMAH
Meski RSOT tidak termasuk rumah sakit rujukan COVID-19, namun banyak masyarakat yang beberapa bulan terakhir ini takut untuk pergi ke rumah sakit. Untuk itu, ada beberapa tips yang dapat dilakukan pasien yang mengalami nyeri punggung bawah pada saat di rumah.
Jangan terlalu banyak beristirahat atau berdiam di tempat
Bergerak aktif
Lakukan terapi kompres es
Lakukan peregangan
Perhatikan pola makan dan jaga berat badan anda
Memperbaiki postur tubuh anda, terutama saat duduk lama
Kapan anda harus memeriksa diri ke dokter?
Saat anda mulai merasakan kelemahan pada kaki anda
Inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil)
Nyeri yang tidak tertahankan
Demam
Menggigil
Mati rasa
Tips untuk mencegah sakit punggung saat bekerja dari rumah selama pandemic COVID-19 :
Lakukan peregangan sederhana setiap 1-2jam
Hindari postur tubuh yang buruk
Istirahat cukup
Ganti kursi yang lebih ergonomis untuk tubuh anda
Tiga latihan dasar :
Jika membutuhkan latihan atau terapi untuk tulang belakang, bisa anda konsultasikan dengan dokter rehabilitasi medik di RS Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.