Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

terapi-ultrasound.jpg

Disiplin ilmu radiologi adalah “saudara dekat” bagi banyak disiplin ilmu kedokteran lainnya, termasuk kedokteran tulang, sendi, dan jaringan disekitarnya. Dengan bantuan teknologi radiologi terkini seperti yang ada di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, dokter dapat membuat diagnosa terhadap penyakit dengan lebih tepat, sehingga penanganannya pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.

SALAH satu masalah yang berhubungan dengan tulang, sendi, dan jaringan sekitarnya yang banyak diderita masyarakat adalah gangguan muskuloskeletal, yakni sebuah kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligament, otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang.

Pada penanganannya, dokter memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi pasien sehingga dapat melakukan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pada konteks inilah radiologi memegang peranan penting, dimana terdapat berbagai teknologi radiologi yang dapat diterapkan untuk memeriksa lebih detail mengenai kondisi sendi, ligament, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. “Pasien dengan nyeri bahu, misalnya. Dengan kasat mata, dokter tidak bisa tahu apakah itu robek atau radang saja. Nah, disitulah pentingnya pemeriksaan radiologi, mulai dari rontgen, USG, CT Scan, hingga MRI”, ujar Dr. Rosy Setiawati, dr., Sp. Rad (K). “Memang tidak semua pasien dengan keluhan muskuloskeletal harus dilakukan pemeriksaan radiologi, karena setiap kasus memiliki indikasinya masing-masing, dan dokter memiliki pengalaman pemeriksaan. Tetapi pemeriksaan ini banyak digunakan untuk memastikan penyebab keluhan”.

Lebih lanjut dr. Rosy menuturkan, ada beberapa tingkatan pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan untuk membantu diagnosa pada keluhan musculoskeletal. Salah satunya yang merupakan pemeriksaan standar adalah pemeriksaan rontgen. “Muskuloskeletal itu berkaitan dengan tulang, jadi tulangnya harus dipastikan baik-baik saja terlebih dahulu. Jika tidak apa-apa tapi masih bengkak, misalnya harus cari tahu lagi dengan alat lain, ultrasound, CT Scan, MRI, hingga ditemukan masalahnya,” terangnya dr. Rosy.

Menurut dr. Rosy, memang terdapat banyak pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan berkaitan dengan masalah muskuloskeletal. Selain rontgen, salah satu alat yang bisa dipakai adalah ultrasonografi atau biasa disingkat USG.

Teknik pemeriksaan USG memang bukan teknologi baru. Namun, seiring dengan perkembangannya, USG kini tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi rahim pada ibu hamil atau organ-organ lainnya di dalam perut, tetapi juga dapat digunakan untuk memeriksa struktur jaringan yang berada di permukaan.

“Jadi USG yang bekerja dengan gelombang suara ini sekarang bukan hanya untuk ibu hamil saja. Tetapi yang berkaitan dengan tulang, otot, atau yang berkaitan dengan muskuloskeletal. Akurasinya cukup tinggi,”jelasnya. “Harga pemeriksaannya juga terjangkau, dan tidak memakan waktu lama, serta nilai diagnostiknya tinggi. Untuk rumah sakit pun menguntungkan, karena tak perlu ruangan besar, bahkan sekarang monitornya bisa menggunakan layar handphone.”

dr. Rosy tidak menampik bahwa USG juga memiliki kelemahan, terutama untuk pemeriksaan pada bagian atau struktur jaringan yang dalam. Untuk itu, radiologi punya banyak pilihan, tergantung dengan kasus atau diagnosa awal dari dokter yang menangani.

“Ada tingkatannya, bisa cukup hanya dengan rontgen, USG, atau perlu CT Scan, MRI. Jadi kalau diperiksa dengan USG tidak tampak ada masalah, belum tentu memang tidak ada masalah. Jadi peran radiologi ini sangat penting dalam penentuan diagnosa dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh dokter,” ujarnya.

Dokter yang mengikuti fellowship khusus muskuloskeletal di Singapura dan Italia ini juga menekankan pentingnya tenaga ahli dalam penerapan pemeriksaan radiologi. “Selain alat yang lengkap dan teknologi terkini seperti yang ada di RSOT, tenaga ahli juga sangat penting. Jadi bagaimana bidang radiologi yang penuh dengan teknologi alat ini dapat dioperasikan oleh ahlinya, sehingga menghasilkan diagnosa yang tepat,” tutupnya.


Promo-Kartini-1200x601.jpg

Dapatkan harga special dalam rangka HARI KARTINI sebesar 21% untuk Paket pemeriksaan USG Payudara/Perut serta Paket Layanan Swab PCR dan Potongan 10% untuk :

  1. Paket MCU (Menopause)
  2. Paket Vaksin HPV (Gardasi)
  3. Paket Deteksi Tumor Ovarium
  4. Paket Deteksi Tumor Payudara

 

Periode promo mulai 12 April 2021 s/d 30 April 2021.

 

Layanan Informasi :
Customer Care
(031) 574 31 574 / 574 31 299 ext 108

0813.3787.3131

 

Salam Sehat,

RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya


stetoskop.jpg

Ingin mendapatkan informasi awal mengenai permasalahan tulang ? Majalah Orthocare memberi Anda kesempatan untuk bertanya langsung kepada ahlinya, yakni para dokter dan tenaga ahli di RSOT Surabaya. Kirim pertanyaan seputar tulang ke email: RSOT@surabayaorthopedi.com dengan subject “Konsultasi RSOT”.

QUESTION :

  • Halo dok, adik perempuan saya yang berusia tahun menderita Celebral Palsy, hingga sekarang adik saya tidak dapat melakukan apa-apa, bahkan duduk sekalipun. Kakinya menyilang dengan tangan yang selalu menguncup dan badannya selalu kaku dan kejang dalam waktu tertentu. Adik saya sempat melakukan fisioterapi selama beberapa saat tapi tidak menimbulkan hasil. Apa ada fisioterapi yang dapat membuat adik saya dapat duduk ataupun agar tulangnya tidak kaku? Lalu adakah solusi agar kejang pada adik saya berkurang.

Terima kasih dok.

ASIYAH, SURABAYA

 

ANSWER :

Dear Asiyah,

Pada pasien Celebral Palsy (CP), perkembangan motorik (kemampuan untuk bisa duduk, berjalan, melakukan kegiatan fisik lainnya) ditentukan oleh lokasi dan luasnya kerusakan jaringan otak yang sudah terjadi.

Potensi penderita CP untuk dapat bergerak (duduk, jalan) ditentukan oleh beberapa faktor:

  1. Keseimbangan dan koordinasi
  2. Kekuatan secara menyeluruh
  3. Faktor fisik: tulang, otot

Prognosis jelek untuk prediksi kemampuan duduk adalah bila usia 5 tahun atau lebih, penderita masih belum dapat duduk mandiri.

Fisioterapi akan sangat bermanfaat agar kaku sendi yang diderita adik Asiyah tidak bertambah parah. Solusi untuk kejang harus dievaluasi lebih lanjut. Kami menganjurkan Asiyah dibawa menemui dokter spesialisi saraf agar Asiyah juga berkonsultasi dengan ahli saraf untuk masalah kejangnya.

Semoga jawaban ini dapat membantu.

 

 

QUESTION :

  • Dok, saya Nadine berusia 24 tahun. Tiga bulan terakhir bahu kiri saya terasa panas seperti terbakar. Terkadang hal tersebut hilang lalu muncul lagi. Seorang teman memberitahu saya bahwa itu karena saya berada diruangan ber-AC dan selalu dalam posisi duduk dalam bekerja. Apakah itu benar, dok? Lantas bagaimana solusinya karena hal tersebut sangat mengganggu saya. Terima kasih.

NADINE, BANYUWANGI

 

ANSWER :

Yth, Nadine

Rasa panas seperti terbakar pada bahu bisa disebabakan oleh banyak hal. Mulai dari kelainan kulit, alergi, hingga saraf terjepit. Bila disebabkan oleh saraf terjepit, maka posisi duduk berjam-jam sambil menunduk menatap layar komputer bisa memperberat keluhan. Ini karena saraf yang mempersarafi bahu berasal dari leher. Bila leher tidak berada dalam posisi yang ergonomis dalam bekerja, maka bisa timbul keluhan seperti yang anda rasakan. Seringkali disertai juga oleh rasa pegal pada belakang leher dan bahu.

Ruangan ber-AC biasanya tidak memperberat gejala saraf terjepit, kecuali bila penyebabnya bukan saraf terjepit, melainkan alergi terhadap udara dingin dan kering.

Untuk lebih jelasnya, sebaiknya Anda menemui dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, sehingga penyebab keluhan anda bisa ditemukan dan diobati.

Semoga bermanfaat.

 

QUESTION :

  • Dok, saya Ponco berusia 35 tahun. Lima tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan dan diharuskan memakai pen pada bahu saya. Dokter yang menangani saya mengatakan selang waktu 5 tahun pen tersebut harus segera dilepas. Tapi, hingga sekarang saya masih belum melakukannya karena tidak ada keluhan apapun. Apakah saya harus melepasnya atau pen tersebut dapat dibiarkan?

Terima kasih

PONCO, SURABAYA

 

ANSWER :

Yth, Sdr. Ponco

Pen  merupakan benda asing (logam) yang ditanam di dalam tubuh dengan tujuan mempertahankan posisi tulang yang patah agar dapat tersambung dalam posisi yang baik. Pen terbuat dari logam yang sudah didesain agar bisa ditanam di dalam tubuh. Ia memiliki lapisan pelindung yang mencegah tubuh bereaksi berlebihan terhadap logam, sehingga dapat berada di dalam tubuh dalam waktu yang cukup lama sampai tulang tersambung kembali.

Apabila tulang sudah tersambung dan sembuh seperti sediakala, maka pen sudah tidak lagi dibutuhkan fungsinya. Pen juga merupakan benda asing, yang tidak didesain untuk selamanya ada dalam tubuh seseorang. Sehingga, mengingat fungsi pen yang sudah tidak lagi dibutuhkan saat tulang sudah menyambung dan sifat alaminya sebagai benda asing yang tidak selamanya bisa berada di dalam tubuh, maka sebaiknya pen tersebut dilepas.

 

Semoga bermanfaat.


makanansehat1-1612955976129.jpeg

Menjadi insan yang sehat tak hanya bersumber dari olahraga rutin. Asupan makanan dan minuman yang sehat juga menambah kualitas lutut. Agar tidak salah pilih, panduan dari dr. Their Effendi,Sp.OT dapat membantu memilih sajian yang tak hanya nikmat, tapi juga sehata untuk lutut.

 

BUAH BERRY

Keluarga buah Berry tentu nikmat disantap. Tapi, tahukah anda kandungan resveratrol pada buah Berry bermanfaat bagi sendi, termasuk mengurangi peradangan bagi sendi? Resveratrol ini ditemukan pada buah Cranberry, Mulberry, Blueberry, hingga Anggur Merah atau Redberry. Hal ini dipublikasikan pada Journal of Agriculture and Food Chemistry.

Radang yang dibiarkan dalam waktu yang lama dapat membahayakan sendi. Buah-buah Berry dapat menghambat peradangan. Disamping itu, kandungan flavanoid di dalamnya juga telah terbukti sebagai anti oksidan yang melindungi sel endotel dri radikal bebas.

 

WHOLE GRAIN

Padi, gandum, beras merah, dan jagung termasuk dalam deretan biji-bijian whole grain. Olahan menu dari whole grain selain mengandung serat yang tinggi, kandungan mineral tembaga yang membantu kesehatan sendi serta tulang. Dikutip dari American Journal of Clinical Nutrition, whole grain mengandung choline dan betaine yang dapat  mencegah terjadinya pembengkakakn sendi atau inflamasi.

 

SUSU & OLAHANNYA

Bukan hanya susu high calcium, Anda juga dapat mengonsumsi olahan makanan berbahan susu seperti keju dan yoghurt. Keduanya juga mengandung kalsium, zinc, magnesium, vitamin dan mineral yang sangat penting untuk pembentukan dan kepadatan tulang. Manfaat plus-nya, Anda juga bisa terhindar dari risiko osteoporosis bila mengonsumsi susu secara rutin.

 

IKAN TUNA & SALMON

Tuna dan Salmon sama-sama khas dengan tekstur lembutnya. Kduanya mengandung asam lemak esensial dan asam lemak Omega-3 yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan lemak harian. Asam lemak Omega-3 inilah yang dapat mengurangi peradangan. Rasa nyeri sendi pun berkurang.


DSC00973-1200x675.jpg

Latihan Spesifik dengan Metode Super Schroth,

Datangkan trainer dari Ukraina

Setelah Scoliosis Summer Camp, Juni 2019 lalu, RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya kembali menggelar Scoliosis Super Camp, 19-22 Januari 2020 lalu. Berbeda dengan sebelumnya, Scoliosis Super Camp memberikan materi latihan dengan metode power schroth yang lebih spesifik, yang diharapkan dapat mengoreksi atau memperbaiki kelengkungan pada scoliosis.

SEBAGAI rumah sakit khusus tulang dan traumatologi, RSOT sangat concern terhadap masalah skoliosis. Hal tersebut juga menjadi dasar RSOT menggelar Scoliosis Super Camp, Desember 2019 lalu, setelah tahun lalu juga telah menggelar Scoliosis Summer Camp pada Juli 2019.

Scolisosis Super Camp tahun ini langsung mendatangkan trainer dari Ukraina untuk mengajarkan Teknik latihan Power Schroth. “Metode Schroth sebenarnya sudah berumur 100 tahun. Sudah mengalami berbagai pengembangan dan penyempurnaan, hingga sekarang yang dipakai adalah Power Schroth,” ujar dr. Arhwinda,Sp.KFR. “Power Schroth adalah latihan dengan full power atau kekuatan, melatih otot-otot bekerja dengan maksimal. Latihan ini specific exercise untuk skoliosis dimana bisa mengoreksi atau memperbaiki kelengkungan karena kita menumbuhkan otot yang lemah. Karena prinsipnya, pada skoliosis terjadi imbalances otot atau ototnya tidak seimbang.”

Lebih lanjut dr. Arhwinda menerangkan, pada Scoliosis Super Camp ini, latihan ditekankan pasa satu sisi yang kurang berkembang, sehingga nantinya diharapkan ototnya bisa balance atau seimbang. Latihan Power Schroth ini juga sangat penting untuk membantu pernafasan. Karena pada skoliosis, menjaga kapasitas paru tetap bagus sampai lanjut usia adalah hal yang sangat penting dan sangat ditekankan.

“Karena penderita skoliosis ini umumnya akan merasakan gangguan pada pernafasan. Jadi kalau tidak punya pola nafas yang betul, masa tuanya akan terganggu. Kalau masih anak-anak mungkin belum terasa,” ungkapnya.

Dalam Scoliosis Super Camp ini, setiap peserta di screening terlebih dahulu untuk memastikan kondisi masing-masing. Tidak hanya dari hasil rontgen, tapi juga betul-betul mencermati dari klinis fisik peserta. Dari situ, trainer Scoliosis Super Camp akan menentukan materi latihan untuk masing-masing peserta. “Jadi satu per satu peserta akan mendapatkan latihan yang spesifik dan berbeda-beda,” ujar dr. Arhwinda.

Ditambahkan bagian Pemasaran RSOT Scoliosis Super Camp 2020 ini diikuti oleh puluhan peserta yang dibagi dalam dua sesi latihan, yakni sesi pagi dan sore. Pesertanya berasal dari berbagai kota di Indonesia dengan rentang umur mulai 10 tahun hingga 70 tahunan. Peserta manula bisa mengikuti pelatohan ini, asal masih bisa mandiri, dan tidak menggunakan alat bantu gerak.

Salah satu peserta yang mengikuti Scoliosis Super Camp adalah Eliana 13 tahun, yang berasal dari Semarang. Eliana juga sempat mengikuti Scoliosis Super Camp tahun lalu. “Saya ikut Scoliosis Super Camp setelah direkomendasikan oleh dokter yang menangani Eliana,” ujar Renny, ibunda dari Eliana.

Diceritakan oleh Renny, dirinya baru mengetahui bahwa Eliana menderita skoliosis ketika Eliana berada di kelas dua SD. Saat berkonsultasi dengan dokter, Eliana disarankan untuk melakukan terapi dan melakukan olahraga renang. “Tapi makin lama derajat skoliosisnya semakin besar. Sampai pernah ikut chiropractic, tapi kok ngeri juga karena pernah ada kasus yang sampai meninggal. Akhirnya berhenti,” kenang Renny. “Juga pernah mau pakai brace yang flesibel. Sudah periksa, katanya disuruh balik setahun lagi, sembari kumpulin uang karena harganya lumayan mahal. Sekitar 28juta. Tahun depannya kita balik lagi, ternyata sudah nggak bisa dipasang brace itu, karena derajatnya semakin  bertambah. Katanya jalan satu-satunya adalah operasi. Namanya orang tua, saya nggak tega. Kami tempuh jalan lainnya, mulai ikut yoga skoliosis, dan lainnya. Tapi tidak cukup membantu.”

Renny dan Eliana akhirnya kembali ke dokter semula dengan harapan dapat tetap dibuatkan brace , seperti rencana awal. “Akhirnya bisa dibuatkan, dan sampai sekarang, Eliana sudah enam bulan ini memakai brace, dan memang perbaikannya nampak.

Keikutsertaan dalam Scoliosis Summer Camp dan Scoliosis Super Camp adalah usaha Renny dan Eliana untuk memaksimalkan perawatan skoliosis Eliana. “Tadinya nggak mau ikut karena kita pikir paling sama aja, paling gerakannya nambah sedikit-sedikit. Tapi dapat informasi kalau ada gerakan baru untuk skoliosis yang derajatnya besar. Jadi akhirnya memutuskan ikut,” terang Renny.

Peserta lain yang juga ikut dalam Scoliosis Super Camp adalah Wahyu Mujayanti, 47tahun, asal Madiun. Ini merupakan pelatihan skoliosis pertama yang diikuti Wahyu. “Saya ikut Scoliosis Super Camp ini direkomendasikan oleh dokter rehab medik saya di Madiun. Menurut Wahyu, acara Scoliosis Super Camp ini sangat bagus dan membantunya mengatasi masalah pernafasan yang sering dialaminya. “Karena pelatihan yang pernah saya ikuti lebih focus ke skoliosisnya. Sementara saya selama ini sering agak sesak,” ujar karyawati sebuah bank ini.

 


Badminton.jpg

  • QUESTION

Selamat siang, dok.

Sebelumnya terima kasih sudah diberi kesempatan untuk bertanya lewat rubrik konsultasi majalah Orthocare ini. Nama saya Eko, 30 tahun. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai ayah saya. Beliau sudah berumur hampir 60 tahun. Tapi sampai saat ini masih sangat aktif berolah raga bulutangkis, yang sudah jadi rutinitas beliau sejak muda.

Masalahnya, saat ini saya sering khawatir karena usia beliau sudah cukup sepuh. Tapi intensitas bulutangkisnya masih sangat sering. Seminggu, bisa dua sampai tiga kali beliau masih berlatih. Yang ingin saya tanyakan, apakah intensitas tersebut tidak berbahaya bagi orang seusia beliau. Gerakan-gerakan apa yang harus dihindari dan bagaimana batas amannya saat bermain bulutangkis? Karena keluarga sudah meminta beliau untuk mengurangi intensitas bermain, tapi beliau tidak mau, karena memang sudah hobi.

Terima kasih jawabannya

Eko, Surabaya

 

  • ANSWER

Yth Tn. Eko

Olahraga memang bisa dilakukan oleh kalangan usia berapapun, baik tua maupun muda. Seberapa tinggi intensitas olahraga yang diperbolehkan tidak semata-mata bergantung pada usia. Usia boleh saja hampir 60 tahun, tapi selama fisik masih mendukung dan tidak ada keluhan yang dirasakan, maka olahraga tersebut boleh dilakukan.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa semakin kita menua, akan semakin menurun kemampuan fisik kita. Organ-organ tubuh tidak akan luput dari proses penuaan. Sehingga tetap harus lebih berhati-hati bila memasuki usia di atas 50 tahun.

Olahraga yang dianjurkan untuk kalangan usia di atas 50 tahun adalah olahraga low impact, non-kontak, dengan intensitas ringan-sedang. Misalnya jalan kaki, sepeda, berenang, yoga dan jogging.

Badminton memang termasuk olahraga high impact. Sehingga, apabila masih tetap ingin melakukan olahraga ini, disarankan untuk mengurangi intensitas, frekuensi, dan durasinya. Misalnya, badminton 2-3 kali seminggu, maksimal 1 jam, dan sebisa mungkin mengurangi gerakan-gerakan yang eksplosif.

Juga untuk diwaspadai, karena badminton termasuk olahraga overhead, dimana tangan dan siku sering berada lebih tinggi dari bahu, maka rawan mengalami cedera bahu. Untuk menghindarinya, lakukan pemanasan dan peregangan yang cukup, utamanya bahu, selama 10-15 menit sebelum olahraga.

Salam,

dr. Gede Chandra, Sp.OT

 

 

Bagi Anda yang ingin mendapatkan informasi awal mengenai keluhan-keluhan seputar kesehatan tulang dan sendi, dapat mengirimkan pertanyaan kepada para dokter ahli di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya melalui rubrik Konsultasi. Kirim pertanyaan Anda ke email: rsot@surabayaorthopedi.com Subjek/judul: “TANYA DOKTER”


pertolongan-pertama-cedera.jpeg

Tips penanganan awal saat cedera olahraga dengan menggunakan PRICE :

  1. PROTECTION

Melindungi area yang mengalami cedera. Gunakan brace atau penyangga, elastic bandage.

  1. REST (ISTIRAHAT)

Saat timbul cedera, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan aktivitas olahraga sesegera mungkin. Minimal 48-72 jam.

  1. ICE (ES)

Gunakan es yang dibalut kain untuk mengompres area yang cedera. Bisa juga menggunakan air dingin yang diletakkan padaa botol kaca. Lakukan secara rutin 15-20 menit setiap tiga jam selama masa akut, yakni 49-72 jam. Jangan gunakan air hangat, karena akan menambah pembengkakan.

  1. COMPRESSION (PENEKANAN)

Lakukan balutan pada area yang cedera untuk mengurangi pembengkakan. Gunakan elastic bandage. Jangan terlalu kendor dan jangan terlalu kencang. Balutan yang terlalu kendor tidak akan memberikan efek apa-apa pada cedera, sementara balutan yang terlalu kencang akan menimbulkan nyeri dan bengkak.

  1. ELEVATION (PENINGGIAN)

Saat tidur atau istirahat, posisikan kaki yang cedera sedikit lebih tinggi dari jantung agar pembengkakan bisa berkurang, bisa dengan bantal, handuk, dll. Tujuannya adalah untuk mengurangi nyeri dan mengurangi aliran darah kebagian tersebut yang menambah parah inflamasi (peradangan) yang terjadi.

 

Selain keempat pertolongan pertama tadi, ada empat   hal juga yang harus dihindari saat terjadi cedera olahraga yaitu HARM ( Heat, Alcohol, Running, dan Massage ).

  1. HEAT

Hindari kompres atau merendam bagian yang cedera dengan air hangat.

  1. ALCOHOL

Jangan meminum alkohol karena berisiko meningkatkan pendarahan dan pembengkakan.

  1. RUNNING

Hentikan aktivitas yang akan memperparah kerusakan ligament, termasuk lari dan olahraga lainnya.

  1. MASSAGE

Jangan dipijat, karena akan menambah risiko pembengkakan dan pendarahan.


lari.jpg

CEDERA adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga.

Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didapatkan pada saat berolahraga. Bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.

Menurut dr. Theri Efendi, Sp. OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligament dan jaringan lunak lainnya seperti meniscus (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan, dan cedera otot di sekitar lutut seperti hamstring, quadriceps, dll. Cedera yang serig terjadi pada lutut adalah cedera Anterior Cruciate Ligaments (ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulamg paha dengan tulang kering di sendi lutut.

Sementara di daerah ankle, yang paling sering terjadi adalah sprain ankle, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan keseleo. Pada ankle, ligamen yang paling lemah dan sering cedera adalah anterior ligament. Selain itu, cedera pada ankle yang sering terjadi adalah pada tendon achilles, yang merupakan tendon besar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari, dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitive, overused atau dilakukan dengan intensitas sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan stress fracture.

“Cedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga high impact dan cenderung banyak body contact-nya. Seperti sepak bola, basket, dll”, terang dr. theri. “Cedera olahraga paling banyak disebabkan karena body contact, tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dengan jatuh posisi tidak betul, atau melakukan Gerakan memutar seperti pivot (Gerakan berputar secara tiba-tiba dengan berporors salah satu kaki, red) itu juga paling sering menyebabkan cedera pada lutut dan ankle.”

Untuk itu, dr Theri menekankan pentingnya pemanasan dan pendinginan untuk menghindari cedera. Meski dr. Theri tidak memungkiri, bahwa cedera pun dapat terjadi pada saat warming-up dan cooling down. “Itu sebabnya, kita harus tahu batasan atau kemampuan kita sendiri. Latihan sejak dini dan rutin juga diperlukan, agar otot lebih kuat dan siap untuk diajak berolahraga. Pemanasan dan pendinginan dengan baik tetap harus dilakukan sebelum dan sesudah berolahraga,” urainya.

Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga makin banyak digemari, termasuk olahraga urban sport, seperti running. Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. “Salah satunya yang sedang in adalah olahraga lari. Merasa mau event, persiapan kurang, tapi ingin sampai finish. Jarak yang diambil yang pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,” papar dr. Theri, “Nutrisi juga harus diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk menunjang olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yang kurang saat berolahraga.”

 

JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT, LAKUKAN RICE

Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat berolahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. “Yang pertama harus dilakukan adalah Rest (istirahat). Jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,” ujar dr. Theri.

Kemudian, Langkah berikutnya adalah Teknik ICE, yakni icing, compressing, dan elevating. Icing adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri, salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.

“Kalau cedera itu sebenarnya ada kerusakan jaringan di dalam, kerusakan jaringan lunak di dalam, termasuk di dalamnya pembuluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya pendarahannya akan semakin banyak,” papar dr. Theri. “Kalau dikasih es, kontraksi, pendarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres alcohol juga tidak betul. Penanganan dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.”

Proses elevating juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki dapat digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. “Kalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kecang, tapi juga tidak terlalu kendor,” katanya. “Kalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.”

 

PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT

Seiring dengan tren olahraga, penanganan pada sport injury di Indonesia juga terus berkembang,. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub spesialisasi sport injury.

RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan peralatan modern. Salah satunya adalah arthroscopy, Teknik operasi minimal invasive dengan luka yang sangat kecil bahkan kurang dari 1cm dan prosesnya recovery yang sangat cepat.

Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehab medik dari dokter dan fisioterapis yang memiliki program dan Standart Of  Procedure (SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini, RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya, dan berbagai klub professional lainnya.

“Target pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tahu, kapan mulai bisa Latihan lagia, kapan bisa tanding lagi, dan seterusnya,” papar dr. Theri. “Sebab, dalam penanganan sport injury di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahraga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pension,” tutup dr. Theri.


dr.-Theri-1200x1195.jpeg

Saat berolahraga maupun beraktivitas sehari – hari dapat berisiko terjadinya cedera. Masih banyak orang yang belum menyadari pentingnya penanganan cedera dengan tepat, misalnya sudah tahu cedera namun tetap melanjutkan aktivitas. Atau salah dalam penanganan cedera misalnya pergi ke tukang urut. Hal tersebut justru akan menimbulkan dampak cedera yang lebih serius.
Lalu bagaimana sebaiknya yang dilakukan jika mengalami cedera ?
Yuk ikuti Online Discussion dengan topik

“Waspada ! Jangan Salah Penanganan Cedera.”

Narasumber : dr. Theri Efendi, Sp.OT (K)
Hari /tanggal : Sabtu, 6 Maret 2021
Pukul : 10.00 WIB
Live Zoom dan Youtube
Daftar sekarang di:
bit.ly/healthtalkrsot
atau scan barcode pada gambar

ID meeting dan password akan dikirim melalui email.
Dapatkan doorprize menarik dari PT. Novell Pharmaceutical Laboratories !

Gratis dan terbuka untuk umum !
Ikuti Instagram & Youtube kami : @rsotsurabaya


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat