Please wait...

Mengenal Cerebral Palsy, Gangguan Motorik pada Anak

November 18, 2019 by Marketing RSOT Surabaya
Cerebral-Palsy-1400x480-1200x411.jpg
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Salah satu gangguan saraf yang sering terjadi pada anak baru lahir atau dalam masa tumbuh kembang adalah Cerebral Palsy (CP). Secara garis besar, CP adalah gangguan saraf yang disebabkan karena gangguan pada otak dan berakibat pada gangguan gerakan dan koordinasi otot pada anak.

Sistem saraf adalah bagian dari tubuh manusia yang sangat penting dan bertugas mengontrol sistem motorik maupun kognitif manusia. Secara garis besar sistem saraf dibagi mejadi dua bagian yaitu saraf pusat dan saraf tepi. Saraf pusat adalah kumpulan saraf yang berbentuk serabut-serabut dan terjalin jadi satu dan kemudian menjadi bentukan otak dan sumsum tulang belakang. Saraf pusat tersebut terhubung dengan jalinan serabut-serabut panjang ke seluruh tubuh. itulah yang disebut saraf tepi.

Berkaitan dengan anak baru lahir dan dalam masa tumbuh kembang, salah satu gangguan yang cukup sering terjadi adalah Cerebral Palsy (CP). Diungkapkan oleh dr.Nita Kurniawati, Sp.S dari RS Orthopedi & Traumatologi (RSOT) Surabaya, walaupun angka kejadian CP rendah (1-1,5 / 100.000 kelahiran), dampak angka kecacatan yang ditimbulkan sangat tinggi, serta membutuhkan bantuan perawatan yang kompleks. “Kejadian CP kebanyakan terjadi di daerah tertentu. Utamanya yang masih kurang edukasi atau misal yang tingkat risiko kelahirannya tinggi”, ujarnya.

Menurut dr. Nita, CP adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh gangguan otak dan kemudian berakibat pada gangguan gerakan atau koordinasi otot, misalnya kaku atau sulit bergerak, gerakan yang menghentak-hentak, atau bahkan layu atau tanpa tenaga.

CP bisa didapatkan pada bayi baru lahir dimana gangguan saraf tersebut dapat langsung terlihat, maupun anak yang dalam masa tumbuh kembang. “Bisa saja awalnya lahir normal, kemudian dalam masa tumbuh kembangnya terdiagnosis CP. Rentang diagnosis CP adalah bayi baru lahir sampai 2 tahun. Lepas 2-3 tahun lebih jarang terjadi,” ungkap dr.Nita.

Sampai saat ini, penyebab CP memang masih belum dapat dipastikan. Namun ada beberapa hal yang disinyalir dapat menjadi faktor pemicu sehingga anak berisiko terkena CP. Salah satunya adalah terjadinya infeksi pada ibu mengandung, yang kemudian berimbas pada perkembangan janin dan kemudian terlahir dengan gangguan pada saraf.

“Bisa juga karena proses persalinan yang berisiko. Bayi yang terlalu lama dalam kandungan dan ketika lahir dalam kondisi biru, atau kurang oksigen, itu juga bisa jadi CP nantinya. Jadi pastikan melakukan persalinan di dokter atau bidan terlatih dan terjamin sterilitasnya, terangnya. “Selama proses kehamilan juga harus benar-benar dijaga. Asupan gizinya, hindari infeksi, tidak mengkonsumsi sembarang obat, vaksin ibu hamil, semua itu penting untuk memastikan anak terlahir dalam kondisi normal dan tumbuh kembangnya juga baik.”

Pengamatan pada anak selama tumbuh kembang juga sangat penting sehingga diagnosa dan penanganan  dapat dilakukan sedini mungkin. Dr. Nita mengungkapkan, ada beberapa tanda spesifik CP yang harus diperhatikan orang tua pada masa tumbuh kembang anak. Yang paling utama adalah gangguan gerak dan koordinasi otot.

“Gerakan yang muncul tidak wajar atau tidak lazim dia lakukan, misalnya jadi tidak bisa menulis atau mengambil sesuatu, gerakan menjadi kasar atau menghentak-hentak. Selain itu umumnya juga diikuti dengan cara bicara yang terganggu, sulit menelan, tiba-tiba suka mengeluarkan air liur. Atau ngiler, dan kadangkala timbul kejang. Jika menemukan tanda-tanda itu, segera konsultasikan ke dokter, “tegas dr. Nita.

Penanganan pada CP harus dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif, karena menyangkut ilmu pediatri (kesehatan anak), saraf, dan orthopedi (tulang). biasanya akan dilakukan pemeriksaan MRI untuk kepala guna mengetahui adanya penyakit yang sedang berjalan saar ini, misal infeksi otak, stroke otak, atau tumor di otak yang harus segera diatasi.

“Kalau ada penyakit tersebut, itu berarti belum CP. Harus diatasi dulu penyakitnya itu. Tapi kalau semua itu tidak ada, dan ternyata ada bekas infeksi lama, itu yang menyebabkan gejala CP. Penanganan CP sifatnya komprehensif meliputi bidang fisioterapi untuk melatih alat gerak dan mencegah kekakuan sendi, bedah orthopedi khusus untuk tindakan pada pasien CP yang spastik atau kontraktur sendi dan saraf bila ada kejang dan gejala lain. “ujar dr.Nita.

“RSOT memiliki semua dokter ahli untuk penanganan CP. Mulai dokter saraf hingga pediatric orthopedic hingga penanganannya bisa lebih komprehensif.”

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat