Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

SCOLIOSIS-1.jpeg

Skoliosis merupakan suatu kondisi dimana tulang belakang mengalami pembengkokan ke samping kanan/kiri yang melibihi 10˚. Skoliosis jarang sekali disadari oleh penderitanya, hal ini dikarenakan apabila sudut kemiringan tulang belakang tidak terlalu parah, maka penderita tidak akan merasakan keluahan yang berarti.

Skoliosis lebih sering terjadi pada anak – anak sebelum pubertas dengan kisaran usia 10 hingga 16 tahun. Anak laki – laki dan perempuan memiliki risiko yang sama untuk mengidap skoliosis ringan, namun anak perempuan lebih rentan untuk mengalami perburukan gejala sehingga memerlukan penanganan yang memadai.

Sakit yang dialami oleh penderita skoliosis sangat beragam, tergantung dari tingkat derajat kemiringannya. Beberapa penderita skoliosis ada yang mengalami rasa sakit yang menjalar dari tulang belakang ke kaki, pinggul, dan bahkan hingga tangan, terutama saat mereka sedang berjalan atau berdiri. Rasa sakit mereda jika mereka brbaring dengan punggung lurus atau pada salah satu sisi tubuh. Sebagian penderita skoliosis ada juga yang mengalami nyeri punggung secara konstan, bagaimanapun posisi mereka. Selain nyeri punggung penderita skoliosis dengan derajat kemiringan yang parah juga bisa mengalami kesulitan bernapas.

Sebagai satu – satunya rumah sakit khusus tulang dan sendi, RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya tergerak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yang dikemas melalui kegiatan Gerakan Masyarakat Sadar Skoliosis.

Sasaran dari kegiatan ini adalah anak usia 9 – 16 tahun. Pada tahun 2018 ada sekitar 1.644 siswa dari tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya telah dilakukan skrining skoliosis. Dari hasil skrining didapatkan 7,5% siswa diduga skoliosis (suspect scoliosis). Melalui kegiatan ini diharapkan para orangtua lebih aware terhadap pertumbuhan tulang anak sehingga apabila terdeteksi skoliosis sejak dini dapat ditangani dengan penanganan yang tepat. Selain skrining skoliosis, siswa atau orangtua dan guru juga diberikan edukasi tentang skoliosis. Edukasi tersebut meliputi tentang apa itu penyakit skoliosis, bagaimana tanda dan gejalanya, penyebab, dan cara menanganinya.

#RSOT #rsorthopedisurabaya #orthopedicsurgeon #surabaya #rumahsakittulang #doktertulang #scoliosis #skoliosis #idiopaticscoliosis #tulangpunggungbengkok #operasiskoliosis #skriningskoliosis #scoliosisawarness #komunitasskoliosis #scolioser

skrining skoliosis
skrining skoliosis dengan mengukur pumb line test
skrining skoliosis
skrining skoliosis denngan skoliometer

Komunitas-CTEV-22.jpg
23/Aug/2019

Komunitas CTEV
Komunitas CTEV

Rs. Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya meresmikan komunitas CTEV,
Minggu (22/7) di Hotel four Point Surabaya. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi
wadah berbagi pegalaman, pengetahuan, dan saling mendukung serta berbagi
semangat antar para orang yang memiliki anak dengan masalah kaki bengkok.

Angka kelahiran bayi dengan kelainan Congenital Taliper Equinovarus (CTEV)
atau kaki bengkok di Indonesia masih tergolong tinggi. Survei yang dilakukan
Kementerian Kesehatan pada tahun 2014 di 13 rumah sakit di sembilan provinsi
menyebutkan, dari 231 anak yang terlahir dengan kelainan bawaan atau kongenital,
22,3 persen di antaranya adalah kelainan kaki bengkok atau CTEV.

Rs. Orthopedi dan Traumatologi, sebagai rumah sakit yang fokus pada
permasalahan tulang dan sendi, berinisiatif untuk membentuk komunitas yang berisi
para orang tua yang memiliki permasalahan yang sama pada anak-anak mereka. Bagi
RSOT, komunitas ini menjadi penting, karena proses penyembuhan pada anak-anak
CTEV tidak hanya bergantung sepenuhnya pada proses medis, namun juga kesiapan
mental dari para orang tua.

”Ibu dan Bapak, jangan menyerah. Tetap Semangat. Kami tahu ini tidak mudah,
merawat dan membesarkan anak-anak yang spesial ini. Tapi ketahuilah Anda tidak
sendiri,” ujar dr. Anggita Dewi, Sp. OT, dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi
pediatric orthopedic atau tulang anak yang biasa menangani masalah CTEV. ”Semoga
komunitas ini bisa membantu, bapak ibu bisa saling bercerita dan berbagai
pengalaman dengan para orang tua lainnya yang memiliki anak-anak yang juga sama
spesialnya.”

Pada persemian tersebut, setidaknya terdapat 18 orang tua yang bergabung
dalam komunitas tersebut. RSOT juga meminta dukungan berbagai pihak untuk
memberikan perhatian lebih kepada anak-anak dengan CTEV. Selain para donatur,
RSOT juga secara khusus membuka kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota
Surabaya, di mana puskesmas-puskesmas dapat memberikan rekomendasi
penanganan ke RSOT jika ditemukan pasien RSOT. ”Mari kita viralkan komunitas ini,
sehingga lebih banyak lagi yang bisa terbantu,” ujar dr. dr. Sindrawati, Sp. PA,
Direktur PT. Surabaya Orthopedi dan Traumatologi Hospital.

Komunitas CTEV
Komunitas CTEV

RSOT juga menjalin kerja sama dengan Rumah Singgah Pasien IZI yang siap
membantu menyediakan tempat tinggal sementara dan berbagai fasilitas lainnya
untuk penanganan pasien CTEV dari luar kota.

Kepala Rumah Singgah Pasien (RSP) IZI II Jawa Timur Hengky Asmarakandi
menuturkan, khusus bagi pasien anak seperti pasien CTEV, pihaknya tidak hanya
memberikan fasilitas pada pasien, namun juga fasilitas untuk dua orang
pendamping. ”Selain tempat tinggal, kami juga sediakan transportasi, dan makanan
sehari-hari. Semuanya gratis,” ujar Hengky. ”Kalau kondisi pasien tidak
memungkinkan, kami juga siap menjemput ke kota asal pasien.”

Di Surabaya, IZI memiliki dua rumah singgah, yakni di Jl. Pucang Adi No. 15, dan
Jl. Luntas No. 15 yang berdekatan dengan lokasi RSOT.

Dukungan juga datang dari para donatur yang peduli dengan anak-anak spesial
dengan CTEV. Salah satunya adalah dari dr. Dion. Dia bahkan mengajak serta
keluarga besarnya untuk memberikan bantuan kepada komunitas ini. ”Sebab CTEV
ini bisa disembuhkan. Sayang sekali kalau tidak ditangani dengan baik,” ujarnya.

Komunitas ini dibuka secara resmi oleh Direktur RSOT dr. Gwendolin Mustika
Dewi dan ditandai dengan pemukulan gong. Sebagai bentuk apresiasi kepada para
pihak yang mendukung komunitas ini, dr. Gwendolin juga memberikan plakat
penghargaan kepada masing-masing pihak pendukung.

Komunitas CTEV
Komunitas CTEV

HARU DAN SEMANGAT JADI SATU

Selama acara peresmian Komunitas CTEV ini, banyak cerita haru yang
diungkapkan oleh para orang tua yang memiliki anak-anak istimewa dengan CTEV.
Alih-alih memunculkan kesedihan, pengalaman-pengalaman yang diungkapkan para
orang tua tersebut justru menjadi penyemangat untuk menyembuhkan sang buah
hatu dan mengembalikan harapan dan masa depan mereka.

Salah satu pengalaman diungkapkan oleh Nayla, ibunda dari Mikayla. Nayla
menuturkan, pada masa kandungannya berumur empat bulan, dokter sudah
menyampaikan bahwa bayinya mempunyai kondisi khusus. ”Itu sebabnya saya sudah
siap. Selama masa kehamilan, saya terus cari tahu tentang CTEV. Dan begitu lahiran
di rumah sakit ibu dan anak, saya nggak pulang dan langsung boyongan ke RSOT,”
kenang Nayla.

Setelah serangkaian pemeriksanaan, Mikayla akhirnya menjalani operasi saat
berumur dua bulan. ”Sekarang Milayla sudah umur tujuh bulan. Sekarang pakai
sepatu khusus yang harus dipakai selama 12 ham sehari,” ujarnya. ”Saya sangat
berterima kasih pada dr. Anggie yang menangani Mikayla. Beliau sangat kooperatif.
Bahkan suatu waktu, saya telpon beliau jam 12 malam meminta agar Mikayla
diperiksa, dan beliau dengan sabar melayani dan mau datang ke rumah sakit.”

Cerita mengharukan lainnya juga datang dari Ruri Vidiastuti.
Dua hari setelah melahirkan, puteranya yang bernama Rafan diketahui mengalami CTEV.
”Saya shock sekali waktu itu. Apa kesalahan saya sehingga anak saya seperti ini.
Padahal anak pertama saya normal” tuturnya.

”Tapi setelah menjalani penanganan di RSOT, saya jadi lebih tenang. Rafan sudah
dioperasi dua minggu lalu dan sekarang sudah bisa pakai sepatu,” ungkap Ruri
dengan wajah haru bercampur bahagia.

#RSOTSurabaya #RSOTSby #CTEV #KomunitasCTEV #Orthopedi


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp chat Live Chat