"> RSOT – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

PRP-therapy-1200x988.jpg

Ada banyak terapi atau tindakan non-operatif yang bisa dilakukan untuk para penderita pengapuran tulang, patah tulang, dan radang tendon, yakni mulai pemberian obat nyeri, berbagai rangkaian rehebalitik medic, hingga penggunakan teknologi Platelet Rich Plasma (PRP).

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan PRP? PRP Adalah satu bagian dari daerah (plasma) yang mengandung sel – sel terbaik berupa platelet, faktor pertumbuhan dan sel- sel terbaik berupa platet, faktor pertumbuhan dan sel-sel induk (yang mempunyai fungsi menyurupai stem cell). Di dalam tubuh kita, proses pembaruan sel dan penyembuhan luka secara alami di lakukan oleh plat, faktor pertumbuhan dan sel-sel induk yang sebagian besar terdapat di dalam PRP. Jadi, metode PRP dapat mempercepat pembahuruan sel dan lebih fokus pada area yang membutuhkan.

Lalu bagaimana proses pengaplikasikan PRP ini dilakukan pada pasien?Proses PRP dimulai dengan pengambilan daerah dari siku, kemudian memasukan daerah tersebut ke tabung tertentu untuk memisahkan plasmanya. Setelah itu, plasmanya disuntikan kembali ke bagian tubuh yang memerlukan.

Selain sangat efektif, PRP Juga sangat efesien karena hanya memerlukan 20-30 menit. Namun untuk mendapatkan hasil yang memaksimal, diperlukan 2 hingga 3x terapi PRP. Plasma yang telah disuntikan bekerja dengan cara merangsang perbaikan sendi dan mengurangi nyeri secara signifikan ketika proses penyembuhannya telah komplet.

Metode PRP ini juga banyak dipilih karena memiliki banyak keuntungan, salah satu yang paling utama adalah karena PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam pembaruan, karenanya hampir dapat di pastikan tidak aka nada penolakan dari tubuh karena bahan di ambil dari tubuh penderita sendiri. Yang perlu jadi catatan,terapi PRP ini hanya dapat digunakan pada pasien dengan nyeri persendian yang belum memasuki tingkat lanjut. Untuk kerusakan sensi tingkat lanjut,memerlukan operasi ganti sendi.

PLATET RICH PLASMA


nyeri-pinggul.jpg

Pada dasarnya,dua faktor penyebab osteoarthritis atau pengapuran sendi, yang pertama adalah faktor dari dalam,dan lainnya yang berasal dari diri sendiri. Faktor-Faktor ini bersifat “given” dan tidak dapat di ubah.

Faktor yang kedua adalah faktor dari luar seperti berat badan,aktifitas fisik seperti olahraga berat,kerja berat yang bisa mempengaruhui”umur pakai sendi”. Hal lain yang termasuk dalam faktor dari luar ini misalnya kecelakaan,atau memiliki penyakit sendi lain,seperti asam urat atau rematik yang kemudian memicu terjadinya pengapuran sendi.

“Secara umum,wanita memiliki resiko dua kali lebih besar terkena pengapuran sendi,utamanya yang sudah di atas 60 tahun. Pertama karena wanita memiliki hormon estrogen, yang pada saat wanita memasuki masa menepouse,hormon tersebut turun drastis. Padah hormon ini adalah  hormon yang protektif melindungi sendi dan tulang,’’ujar dr Gede Chandra Sp.OT. ’’Oleh karena itu,begitu memasuki masa menepouse,wanita sangat rentan terhadap penyakit sendi dan tulang.”

Selain itu di tambahkan oleh Dr Gede Candra semasa hidupnya ,wanita lebih sering terpapar dengan peningkatan berat badan yang drastis. Misalnya saat hamil,dimana seorang wanita bisa mengalami kenaikan berat badan sekitar 15 kg- 20kg. “itu akan memberikan beban kepada sendi dan mengurangi umur pakai sendi,”terangnya.

Gejala awal yang bisanya menyertai pengapuran sendi,dimanapun tempatnya,baik itu pengapuran sendi lutut,tulang belakang,dan panggul adalah rasa nyeri. Gejala lainnya adalah kalau dan kesulitan melakukan aktifitas sehari-hari seperti bejalan,naik dan turun tangga,sholat dll. “Khususnya di sendi panggul di daerah lihat paha,sampai pantat bagian belakang, dan bisa juga menjalar sampai ke lutut,’’jelasnya. “Makanya kalau ada sakit di lutut,jangan lupa sendi di panggul,karena bisa jadi penjalaran dari sana.”

Para penderita pengapuran sendi panggul biasanya juga mengalami kesulitan melakukan aktifitas-aktifitas yang berhubngan dengan menekuk sendi panggul,misalnya duduk,naik tangga,sholat, dll dimana ada tekukan di bagian panggul dan saat ada beban berat ke sendi,misalnya loncat,turun tangga,dll

Untuk itu, Dr Chandra menunturkan, hal yang pertama bisa dilakukan oleh para penderita pengapuran sendi, termasuk, sendi panggul adalah mengurangi beban sendi, misalnya mengurangi berat badan atau aktifitas yang membebani sendi.”Misalnya biasanya suka aerobic, itu kan olahraga high impact untuk sendi panggul,jangan dilakukan lagi,”Ujarnya.

Di RSOT Surabaya,selalu dilakukan penangann multi modal approach. Penanganan pertama di lakukan dengan pemberian obat, kedua dengan fisioterapi, dan ketiga adalah occupational teraphy, yakni memodifikasicara berkerja dan beraktifitas pasien termasuk di dalamnya mengatur diet berat badan.”Pemberian obat sendiri ada obat oral hingga suntik,yakni penggunaan platet rich plasma yang menggunakan darah pasien itu sendiri.”terangnya.

Jika pendekatkan di atas dirasa tidak cukup membantu karena tingkat pengapuran sendi panggulnya sudah masuk dalam fase berat, diaman pasien mengalami nyeri hebat dan sangat menggangu aktifitas,seperti susah bergerak dan berjalan,barulah dilakukan operasi penggantian sendi.

Improvement yang bisa dihasilkan dengan operasi tergolong sangat dramastis. Pasien yang awalnya merasakan sangat sakit di bagian sendinya, sakitnya akan sangat berkurang sehingga aktifitas sehari-harinya bisa berjalan dengan baik lagi.”Memang biasanya kita lakukan pada pasien yang berusia di atas 60 tahun dengan kerusakan sendi yang berat. Prosesnya tidak terlalu lama hanya sekitar 90 menit, dengan masa recovery satu-dua bulan pasca operasi sudah bisa berjalan,”urai Dr Chandra. “Setelah enam bulan bisa olahraga ringan, seperti yoga ringan,jalan kaki, sepeda, renang,masih bisa.”

Kesimpulannya, pada pasien dengan kerusakan sendi berat,penggantian sendi dapat meningkatkan kembali kualitas hidup pasien,membuat pasien bisa melakukan aktifitas sehari-hari tanpa keluhan nyeri.

Pengapuran Sendi Panggul

macam-macam-vitamin-beserta-manfaatnya.jpg

Cedera umumnya terjadi pada saat melakukan olahraga. Pada olahraga high-impact, seperti sepak bola, futsal, badminton, basket, tenis dan olahraga bela diri, kemungkinan akan terjadinya ACL akan lebih tinggi.

cedera ACL
cedera ACL

Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah urat didalam sendi yang berfungsi untuk menjaga kestabilan sendi lutut. ligament sendiri merupakan jaringan fibrosa dan fungsi utamanya adalah menghubungkan tulang ke tulang lain dan mencegah gerakan sendi yang tidak normal.

Cedera pada ligamen akan memakan waktu lama untuk sembuh. Namun, nutrisi yang baik bisa membantu mempercepat proses penyembuhan. Mengkonsumsi kalori yang cukup dengan diet anti-inflamasi, misalnya, bukan hanya dapat mencegah terjadinya cedera, namun juga dapat mempercepat pemulihan pada saat terjadi cedera.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda. Atlet membutuhkan kalori lebih tinggi dibandingkan orang-orang dengan aktifitas ringan, seperti pegawai kantoran. Kebutuhan kalori atlet juga ditentukan dari jenis olahraga dan intensitasnya. Untuk memperbaiki atau menjaga kesehatan, atlet membutuhkan protein sebesar 15%-20%, 30% lemak, dan 50%-55% karbohidrat dari total kalori yang dibutuhkan.

Pencegahan terhadap cedera ligamen ini menjadi penting, mengingat resikonya cukup massif. Inflamasi atau peradangan dapat memicu terbentuknya radikal bebas. Semakin banyak latihan yang dilakukan seorang atlet, maka semakin banyak pula radikal bebas yang dihasilkan.

Radikal bebas ini dapat merusak sel-sel otot dan memacu inflamasi berikutnya dan peroksidasi lemak. Hal ini menjadi penyebab nyeri otot. Bahkan, radikal bebas juga dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah dan berbagai penyakit. Yang juga perlu menjadi catatan, konsumsi alkohol dan rokok dapat meningkatkan oksidasi radikal bebas yang menghasilkan proses inflamasi, yang dapat memperparah cedera.

KONSUMSI YANG BAIK

Langkah pertama pada penangangan cedera yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi peradangan di wilayah cedera dan mengkonsumsi makanan yang mengandung enzim preteolitik, karena enzim proteolitik mempunyai sifat anti-inflamasi. Beberapa contoh makanan yang kaya enzim proteolitik yaitu nanas dan akar jahe.

Selain enzim proteolitik, vitamin A, C, dan E juga memiliki sifat anti-inflamasi yang sangat baik untuk mengurangi peradangan pada cedera. Vitamin A dapat mempercepat pembentukan produk kolagen, yang merupakan vitamin vital dalam ACL, meniscus, ligamen, dan tendon lainnya.

Vitamin C juga dibutuhkan untuk menghasilkan kolagen dalam tubuh dan ini penting dalam penyembuhan ligament. Vitamin C bukanlah vitamin yang bisa disintesis dari tubuh sendiri. Dengan demikian, perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C agar tubuh memilikinya. Untuk meningkatkan kekuatan kerja dari vitamin C, diperlukan Flavonoid yang dapat membantu mengurangi pembengkakan dengan melindungi sel dari kerusakan oksigen, pembuluh darah dari rupture atau kebocoran. Sementara itu, vitamin E membantu meminimalkan stress oksidatif dan pembengkakan lutut. Makanan yang banyak mengandung vitamin A adalah wortel, plum, apricot, melon, paprika merah, mangga, ubu jarar, dan juga ikan tuna, serta sirip biru. Sementara makanan yang kaya akan vitamin C dan Flavonoid meliputi buah sitrus (jeruk, lemon, jeruk nipis), brokoli, tomat, apel, blueberry, stroberi, bawang merah, dan kol. Untuk vitamin E, bisa kita dapatkan di makanan seperti tahu, bayam, almond, biji bunga matahari, alpukat, ikan, minyak zaitu, dan brokoli.

Mineral yang penting juga untuk mempercepat proses penyembuhan cedera adalah zinc. Zink merupakan mineral yang sangat baik dalam memerangi peradangan dan menjaga sistem kekebalan tubuh agar kuat. Ketika satu bagian tubuh terluka, maka tubuh akan mengalihkan semua semua zinc ke bagian yang cedea untuk melawan peradangan. Dengan demikian, bagian lain dari tubuh akan memiliki definisi zinc. Untuk mencegah kekurangan zinc, penting mengkonsumsi makanan yang kaya zinc seperti tiram, gandum, daging sapi, ayam, bayam, kacang-kacangan (almond, pecan).

Selain vitamin A, C, E, Flavonoid serta mineral Zinc, protein merupakan salah satu zat gizi yang paling berperan penting dalam mempercepat proses penyembuhan cedera. Protein dapat dengan mudah didapat dari makanan seperti daging, telur, ikan, tempe, tahu, dan produk kedelai. Kekurangan protein akan menyebabkan berbagai penyakit di tubuh.

Untuk memastikan penyembuhan yang cepat pada cedera akan memerlukan terapi fisik, jika memungkinkan akan dilakukan tindakan operasi, dan dukungan nutrisi yang tepat untuk mempercepat penyembuhan.

kebutuhan gizi bagi atlet

cropped-dreamstime_s_70820775.png

Secara universal, ada tiga tahapan yang harusnya dilakukan saat melakukan olahraga antara lain Warming up, exercise, dan cooling down. Ketiga tahapan tersebut seringkali tidak dipenuhi semuanya. Itu yang menyebabkan risiko cedera menjadi tinggi.

Tiap-tiap tahapan di atas memiliki tujuan masing-masing. Warming Up atau pemanasan misalnya, dilakukan dengan tujuan untuk membuat otot lebih torelable atau lebih lentur saat olahraga telah dilakukan.

Stretching dilakukan terutama pada bagian-bagian tubuh yang akan digunakan untuk melakukan olahraga. Selain itu, pemanasan juga diperlukan untuk menyiapkan irama jantung. Misal awalnya 60 beat langsung jadi 100 beat, itu akan sangat berat untuk jantung.

Proses cooling down juga tak kalah penting. Untuk jantung, misalnya, cooling down juga dibutuhkan agar kerja jantung tidak turun langsung secara drastis.

Proses latihan atau olahraga pun harus mendapat perhatian. Latihan atau olahraga sebaiknya dilakukan secara bertahap. Sebagai awal, kita disarankan untuk memulai dengan 60 persen dari level atau batas maksimal kemampuan. Kalau misal ingin lari 10 km maka harus dimulai dari 6 km dulu. Baru nanti boleh ditambahkan secara bertahap jarak larinya. Kita juga harus menguasai teknik olahraga yang akan kita lakukan dengan baik untuk meminimalisir risiko cedera.


FISIOTERAPI.jpg

Tak kalah penting dengan tahapan medis lainnya, proses rehabilitasi dan fisioterapi juga memiliki peranan yang sangat penting dalam penanganan maupun pencegahan cedera olahraga.

SECARA umum, olahraga dapat dibagi menjadi dua antara lain Olahraga prestasi dan olahraga rekreasional. Keduanya memiliki potensi cedera atau trauma, baik cedera ringan, sedang, maupun berat.

Setiap cedera olahraga memiliki perbedaan dalam hal penanganan, berkaitan dengan tujuan akhirnya. Pada olahraga rekreasional, tujuan akhir Rehabilitasi Medik adalah untuk menghantarkan pasien dapat berolahraga kembali, sementara untuk olahraga prestasi yakni para atlet, fisioterapi dilakukan hingga atlet tersebut dapat berprestasi kembali. Untuk para atlet, penanganan yang dilakukan relatif lebih panjang dan mendalam, karena berkaitan dengan reflek, kekuatan otot, sensor, dan lainnya.

Rehabilitasi medik merupakan elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dari penanganan cedera, termasuk cedera olahraga. Pada cedera sedang dan berat yang memerlukan tindakan medis seperti operasi, sudah masuk pada masa pra-tindakan. Untuk cedera lutut yang sudah cukup lama dan otot pahanya habis, misalnya, hasil operasi akan jauh lebih bagus jika sebelumnya telah dilakukan rehabilitasi untuk memperbaiki otot tersebut.

Program Rehabilitasi Medik pada masa pra-tindakan juga menjadi sangat krusial, karena sebelum tindakan, akan dilakukan edukasi mengenai hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari-hari awal pasca operasi. Pasca operasi, proses rehabilitasi akan konsentrasi pada penanganan nyeri, bengkak, pengembalian kekuatan, dan hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan mobilisasi. Jika sudah maka kita akan melatih motorik, sensor, dan lainnya. Terakhir jika ingin kembali berolahraga, maka kita akan melatih otot-otot yang berkaitan dengan olahraga yang akan dilakukan.

Hal-hal tersebut di atas, merupakan aplikasi dari tahapan-tahapan pemulihan cedera olahraga seperti mengatasi Cedera tanpa dilakukannya tindakan operasi, pemulihan, dan return to sport. Untuk return to sport, tergantung dari kondisi pasien apakah bisa berolahraga kembali, bisa berprestasi atau berkompetisi lagi.

fisioterapi pada cedera olahraga

mengapa-wanita-lebih-rentan-terkena-osteoporosis-pAPp0hAm77.jpg

Penuaan (aging) adalah suatu proses alami yang akan terjadi pada orang seiring bertambahnya usia, ditandai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial. Dalam penurunan kondisi fisik, proses aging pada seseorang bisa mengenai tulang ataupun sendi. Wanita lebih rentan mengalami proses degeneratif ini karena faktor hormonal, sedangkan pada pria lebih banyak dikarenakan faktor usia.

Proses aging atau penuaan pada tulang manusia dibagi jadi dua bagian. Jika mengenai tulang disebut osteoporosis, sedangkan jika mengenai persendian disebut osteoarthritis atau radang sendi.

Menurut Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp. OT (K), ada tiga lokasi yang paling banyak terkenal osteoporosis. Yakni punggung, pergelangan, dan panggul. Sementara osteoarthritis, meski menyerang di lokasi yang berbeda-beda, namun paling banyak terjadi di sendi-sendi penyangga tubuh seperti tulang belakang, tulang panggul, dan lutut.

Wanita juga disebut memiliki risiko mengalami osteoporosis dan radang sendi yang lebih besar dibanding pria. “Penyebab percepatan osteoporis maupun osteoarthritis itu ada tiga, yakni Forty atau usia di atas 40 tahun, Fatty  atau berat badan berlebih, dan Female atau lebih banyak menyerang wanita,” terang dr. Komang. “Biasanya ketika menapouse, wanita tidak bisa mengontrol berat badannya. Faktor-faktor itu yang dapat memperberat kondisi tulang dan sendinya.”

Yang juga harus jadi catatan, proses penuaan atau aging tidak hanya mengubah struktur tulang dan sendi, namun juga membuat massa otot mengecil dan otot menjadi tidak kuat, sehingga menimbulkan risiko jatuh. Tak hanya itu,  osteoporosis dan radang sendi juga bisa menimbulkan keluhan nyeri. “Pada punggung, keluhannya selain di pinggang bisa menyebar sampai ke tungkai pada kakinya. Kebanyakan penderitanya itu menderita nyeri, kemudian bungkuk, dan ada gangguan rasa atau gangguan gerak,” papar Dr. Komang.

osteoarhtritis
osteoporosis

Harus Tetap Aktif Bergerak

Menurut Dr. Komang, gaya hidup di jaman modern saat ini, bisa semakin mempercepat proses degeneratif, jika tidak diimbangi dengan upaya menjaga kesehatan. Beberapa di antaranya adalah merokok dan minum kopi secara berlebihan. Oleh karena itu, dr. Komang menyarankan para lanjut usia untuk tetap aktif bergerak, untuk tetap menjaga kualitas kesehatan. “Merokok itu mempercepat pengeroposan, sedangkan minum kopi berlebihan menyebabkan eksresi (pembuangan kalsium) lewat kencing lebih banyak. Jadi gaya hidup berpengaruh kepada kualitas tulang, sendi, dan otot.”

Ditambahkan oleh dr. Komang, semakin banyak tulang bergerak, semakin bagus kualitas otot dan sendi., termasuk bagi para lanjut usia. “Yang terpenting adalah tetap bergerak dan tetap melakukan pekerjaan, asal jangan sampai terjatuh. Orang lanjut usia mudah terjatuh karena keseimbangannya sudah berkurang, dan kualitas tulang serta sendinya tidak sebagus saat masih muda,” jelasnya.

Tindakan Preventif

Untuk mencegah terjadinya osteoporis maupun osteoarthritis atau radang sendi, hendaknya selalu melakukan olahraga yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh.  Tindakan preventif ini dilakukan sejak awal atau sedini mungkin untuk menghindari risiko kesehatan yang lebih lanjut. “Kalau bukan atlet atau non-profesional, selalu saya sarankan ambil olahraganya yang low impact seperti bersepeda atau berenang,” tuturnya.

Menurut dr. Komang, dengan rutin melakukan latihan atau olahraga, akan membawa banyak kebaikan untuk sistem gerak tubuh. “Kita berjalan, bergerak, bekerja, semua sistim dalam tubuh akan tergerak. Itulah kenapa orang yang bekerja dengan aktifitas, sistim alat geraknya pasti jauh lebih bagus, dibandingkan dengan orang yang kerjanya duduk berjam-jam. Itu bisa mempengaruhi kualitas persendiannya.”

Penanganan Penyakit Degeneratif

RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya memberikan pelayanan medis untuk proses penyembuhan dan perawatan pada penyakit degeneratif seperti osteoporosis dan osteoarthritis pada lansia.

Salah satunya untuk masalah pada tulang belakang yang diakibatkan karena proses degeneratif. Menurut dr, Komang, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa masalah tersebut disebabkan proses degeneratif, bukan karena penyakit lain. “Karena keluhannya bisa sama. Sakit pinggang, dan beberapa keluhan lainnya. Cuma penyebabnya yang beda. Satu karena proses penuaan atau degenerasi, sedangkan yang satu karena penyakit lain. Karena sering pada orang-orang usia lanjut disertai dengan penyakit lain. Bisa infeksi atau kanker,” papar dr. Komang. 

Untuk mencari tahu penyakit yang diderita tersebut merupakan penyakit degenerasi atau bukan, maka bisa dilakukan melalui pemeriksaan lain atau pemeriksaaan tambahan seperti radiologi dan pemeriksaan laboratorium. Hal itu dilakukan untuk menegakkan diagnosis, yang kemudian akan dijadikan dasar untuk  menentukan pilihan tindakanapakah diperlukan prosedur pembedahan atau tidak.

Ditambahkan oleh dr. Komang, untuk penanganan spinal aging, ada dua hal lain yang juga harus dipastikan. Sudah berapa lama sakitnya, dan  sudah pernah diobati atau belum.

“Jika sudah pernah dirawat, diobati, dan tidak kunjung membaik, maka diperlukan tindakan operasi. Tindakan operasi yang akan dilakukan disesuaikan dengan lokasinya di mana. Apakah di tulang atau sendinya? Perlu distabilkan atau tidak. Jika stabil tetapi ada penyempitan, biasanya kita pilih tindakan minimalis. Tapi kalau tulang atau sendinya tidak stabil, maka harus dilakukan tindakan stabilisasi.”

Penanganan Sedini Mungkin

Pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh pasien dengan penyakit degeneratif adalah, kapan harus dilakukan operasi?

“Pertama, jika pengobatan dengan konsep tanpa operasi yang dilakukan gagal. Kedua, jika penyakit degeneratif itu disertai dengan gangguan fungsi misalnya keluhan kencing, buang air besar, jempol atau kaki tidak bisa bergerak, itu harus operasi,” jelas dr. Komang.

Diakui dr. Komang, operasi pada tulang belakang yang sering dilakukan pada lansia akibat proses degeneratif memang bukan perkara mudah. Namun begitu, dr. Komang menjelaskan bahwa risiko-risiko tersebut dapat diminimalisir dengan teknologi dan dokter ahli yang menangani. “Jadi kita harus lihat dari hasil klinisnya apa, pemeriksaan radiologi, hasil laboratorium, sakitnya apa, baru kita customized, disesuaikan dengan kebutuhan pasien, karena alat yang dipasang atau alat yang digunakan berbeda antara pasien A, pasien B, pasien C ,” jelas dr. Komang. “Orang sering keliru, takut operasi tulang belakang misalnya karena takut berisiko lumpuh dan macam-macam. Tidak perlu takut, jika memang itu harus dilakukan. Risiko selalu ada, tapi bagaimana meminimalkan risiko tersebut itu yang terpenting.”


lab1-1200x860.jpg

Apakah PRP itu?

PRP atau platelet rich plasma, adalah salah satu komponen dari darah sendiri yang di proses dan dilakukan aktivasi sehingga menghasilkan faktor anti radang dan faktor pertumbuhan.

Platelet Rich Plasma (PRP) / Trombosit Kaya Plasma digunakan dalam menangani berbagai cedera olahraga karena kemampuannya untuk mempercepat kesembuhan dan meregenerasi pertumbuhan sel. Prosedur PRP ini relatif sederhana yaitu hanya dengan menggunakan darah pasien itu sendiri yang diproses secara medis untuk menghasilkan konsentrat trombosit. Konsentrat ini kemudian disuntikkan secara langsung ke dalam lokasi cedera untuk membantu penyembuhan.

Penyuntikan PRP pada daerah yang nyeri

Apakah PRP aman digunankan?

PRP aman digunakan karena ini bukan obat. Yang digunakan untuk penyuntikan adalah darah pasien sendiri, sehingga tidak akan ada risiko penolakan,alergi, infeksi dan penularan penyakit dari orang lain. Termasuk dalam golongan perawatan tanpa obat-obatan, PRP tidak menyebabkan efek samping keracunan, interaksi dan sistemik.

Proses Terapi PRP pada Cedera Olah Raga 

Prosedur perawatan PRP memerlukan waktu sekitar 50-60 menit dari proses awal hingga akhir. Pertama, pengambilan darah dari siku kemudian dilakukan dalam kondisi steril untuk mencegah kontaminasi. Kemudian darah ditransfer ke dalam tabung sekali-pakai dan diputar dengan kecepatan tinggi secara sentrifugal selama beberapa menit untuk memisahkan darah dan plasma. Kemudian plasma disuntikkan kebagian yang mengalami cedera. Saat diaktifkan pada lokasi cedera, plasma akan mengeluarkan faktor -faktor pertumbuhan yang membantu mengendalikan pembengkakan dan mendorong penyembuhan luka.

Faktor anti radang dan faktor pertumbuhan yang dihasilkan bermanfaat untuk:

  • Untuk mengurangi nyeri sendi dan menurunkan proses radang pada pengapuran sendi (ostheoarthritis)
  • Untuk mempercepat proses penyembuhan patah tulang
  • Cedera muskoloskeletal (robek pada ligament atau tendon, radang tendon/tendinitis akibat sport injury)

Prosedur PRP yang optimal memerlukan 2-3 kali terapi. Tindakan PRP digunakan pada pasien dengan nyeri pada persendian namun bukan untuk yang tingkat lanjut.  Untuk kerusakan sendi tingkat lanjut memerlukan operasi ganti sendi (ostheoarthritis)

Perbedaan injeksi PRP dengan suntikan lainnya ialah

Tindakan PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam proses pembaharuan serta tidak ada penolakan dari tubuh dikarenakan bahan yang tergandung dalam PRP ini berasal dari penderita sendiri. Berbeda dengan suntikan kortikosteroid yang dapat menghilangkan peradangan dan nyeri namun bersifat sementara, serta tidak memperbaiki jaringan yang rusak.

Tahap pemisahan komponen sel darah pada alat Centrifuge
Proses PRP

pencegahan-osteoporosis.jpg

Banyak di antara masyarakat yang tidak menyadari bahwa tulangnya sudah keropos dan baru datang ke rumah sakit dalam kondisi tulang yang retak atau patah. Padahal, dengan tindakan prefentif atau pencegahan, sebenarnya osteoporosis dapat dicegah atau diminimalisir. Apa saja yang bisa dilakukan?

Tulang adalah anggota tubuh yang sangat vital, karena berfungsi untuk menyangga tubuh. Untuk itu, menjaga tulang agar tetap sehat merupakan hal yang sangat krusial. Asupan kalsium yang cukup mutlak diperlukan untuk memastikan bahwa tulang tetap dalam kondisi yang baik.

Berita baiknya, kita diberi kesempatan untuk dapat menabung kalsium hingga sekitar umur 35 tahun. Dengan tabungan kalsium yang cukup, saat memasuki usia 35 tahun ke atas, dimana penyerapan kalsium pada tulang sudah berangsur berkurang, pengeroposan tulang bisa dihindari atau diminimalisir.

”Jadi harus dipastikan bahwa sejak dari kandungan, masa perkembangan, hingga dewasa, asupan kalsium kita tercukupi,” ujar dr. Henry Ricardo Handoyo, Sp. OT., MBiomed ketika ditemui majalah  Orthopedi di ruang praktiknya di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya.

Namun dr. Henry juga meminta masyarakat tidak salah persepsi dengan ajakan untuk menabung kalsium sedari dini. Menurutnya, menabung kalsium bukan berarti mengkonsumsi asupan kalsium secara ekstrim, karena manusia sudah memiliki takaran kebutuhan kalsium per hari. Jika asupan kalsiumnya berlebih, maka akan dibuang lewat air seni atau buang air besar.

”Jadi harus bijak juga. Kalau bisa dibuang saja sih tidak masalah. Tapi kelebihan kalsium mungkin juga menimbulkan efek samping. Misalnya untuk jantung, karena kalsium juga berfungsi untuk kontraksi otot, sehingga estabilitas jantung terlalu meningkat. Mungkin juga berimbas ke ginjal yang jadi terbebani, karena kalsium ini kan diekskresi lewat ginjal,” terangnya. ”Orang dewasa membutuhkan 1.200 mg – 1.300 mg kalsium per hari. Tidak perlu setiap makan dihitung miligram kalsiumnya, nanti malah repot. Intinya, tiap hari minum susu, makan buah, sayur, itu sudah bagus.”

Beberapa makanan yang tinggi akan kalsium yang cukup memenuhi kebutuhan kalsium antara lain ialah susu dan turunannya memiliki kandungan kalsium yang sangat tinggi, seperti yogurt, dan keju yang menurut penelitian memiliki kandungan kalsium paling tinggi.

Sumber kalsium terbaik juga bisa didapat dari buah dan sayur. Ada empat sayuran yang memiliki kalsium tinggi, yakni sawi, bayam, lobak hijau, dan kubis. Sementara dari buah, jeruk, pisang, stroberi, dll.

Menurut dr Henry, selain susu, sumber kalsium terbaik juga bisa didapat dari vitamin D yang merupakan ”best friend” dari kalsium. Beberapa makanan yang mengandung vitamin D adalah ikan-ikan dari laut dalam seperti salmon, tuna, sarden, dll.

REKOMENDASI UNIVERSAL TERHADAP PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS

Dunia kedokteran memiliki rekomendasi  yang bersifat universal berkaitan dengan pencegahan osteoporosis. Ada lima poin yang tertera dalam rekomendasi tersebut:

  • Mencukupi Asupan Kalsium dan Vitamin D

Seperti yan telah dijelaskan di atas, mencukupi asupan kalsium dan vitamin D adalah hal yang sangat mendasar pada pencegahan osteopororosis. Masyarakat juga disarankan meningkatkan kewaspadaan pada kondisi-kondisi tertentu, utamanya bagi wanita yang memasuki masa menopause, dimana pada masa itu akan terjadi pengurangan masa tulang secara masif berkaitan dengan menurunnya hormon estrogen secara signifikan dan berpengaruh pada metabolisme tulang. 

  • Olahraga yang Cukup

Olahraga juga sangat penting dilakukan untuk penguatan otot, karena ototlah yang menggerakkan tulang. Tulang juga baru dapat membentuk sel-selnya atau remodeling jika digerakkan. Untuk pencegahan, olahraga yang bisa dilakukan minimal adalah jalan kaki, yang bisa dilakukan dengan intensitas tiga kali seminggu dengan durasi 30 menit. Mereka yang berusia muda bisa melakukan olahraga yang lebih high impact seperti aerobic, lari, basket, dll. Sementara yang berumur lebih tua disarankan melakukan olahraga yang low impact seperti berjalan, taichi, dll.

  • Mencegah Risiko Jatuh

Olahraga yang dijelaskan di atas, juga berkaitan dengan meminimalisir risiko jatuh. Selain itu, hal-hal non-teknis seperti memastikan kondisi rumah dalam keadaan yang baik (tidak licin, tidak ada kabel berserakan di bawah, dll) juga diperlukan. Sebab, jatuh adalah hal yang benar-benar harus dihindari, apalagi jika sudah masuk dalam fase osteopenia (pra-osteoporosi). Mereka telah masuk fase osteopenia atau osteoporosis memiliki risiko patah tulang yang lebih besar dibanding mereka yang kondisi tulangnya baik.

  • Gaya Hidup Sehat

Ada beberapa kebiasaan yang wajib dihindari untuk mencegah pengeroposan tulang. Beberapa diantaranya adalah tidak merokok dan meminum alkohol, karena keduanya jelas-jelas merusak tulang. Konsumsi terhadap protein yang berlebih, biasanya dari daging-daging juga sebaiknya dihindari, karena akan meningkatkan suasana asam di tubuh. Terlalu banyak kopi dan minuman soda juga tak baik untuk tulang.

  • Periksa Pepadatan Tulang

Hal terakhir yang direkomendasikan sebagai tindakan pencegahan terhadap osteoporosis adalah pemeriksaan Bone Mass Density (BMD) atau pemeriksaan massa kepadatan tulang yang dilakukan dengan alat yang bernama Dexa. Wanita yang telah memasuki menopause, pria berumur sekitar 60 tahun, mereka yang memiliki penyakit yang disebabkan oleh keganasan seperti tumor, kanker, gangguan liver, ginjal, dl disarankan untuk melakukan pemeriksaan BMD.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat