Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

usus-buntu-5.jpg

#Sahabat Ortho,

Jangan abaikan rasa nyeri yang muncul pada bagian perut bawah bagian kanan. Kondisi ini bisa menjadi tanda Anda mengalami usus buntu apalagi jika disertai dengan gejala lain, seperti mual dan muntah setelah nyeri perut, demam, hingga sulit membuang gas dari dalam perut.

Radang usus buntu atau dalam bahasa medis dikenal dengan Apendisitis, adalah peradangan usus buntu, dimana terdapat sebuah kantong berbentuk jari yang menonjol dari usus besar di sisi kanan bawah perut. Radang usus buntu menyebabkan nyeri di perut kanan bawah. Namun, pada kebanyakan orang, nyeri dimulai di sekitar pusar dan kemudian menyebar secara bertahap, seperti nyeri tumpul, lalu kram, dan berakhir nyeri di seluruh perut.

 

Penyebab Usus Buntu

Banyak beredar kabar usus buntu disebabkan oleh terlalu sering mengonsumsi makanan pedas? Nyatanya, hal tersebut hanyalah mitos. Makanan pedas bukan menjadi penyebab seseorang mengalami usus buntu. Penyebab dari usus buntu adalah penyumbatan pada lapisan usus buntu yang menyebabkan infeksi kemungkinan merupakan penyebab radang usus buntu. Bakteri berkembang biak dengan cepat, menyebabkan usus buntu meradang, bengkak dan berisi nanah. Jika tidak segera ditangani, usus buntu bisa pecah dan mengakibatkan keparahan pada seseorang.

Terdapat beberapa faktor penyebab seseorang mengalami penyakit usus buntu, yaitu:

  1. Hambatan pada pintu rongga apendiks.
  2. Penebalan atau pembengkakan jaringan dinding usus buntu akibat adanya infeksi di saluran pencernaan atau di bagian tubuh lainnya.
  3. Kondisi medis tertentu, seperti tumor pada perut atau inflammatory bowel disease.
  4. Tinja atau pertumbuhan parasit yang dapat menyumbat lumen usus buntu Anda.
  5. Trauma atau terjadi cedera pada perut Anda.
  6. Memiliki penyakit infeksi cacing (cacingan).

 

Gejala Usus Buntu yang Perlu Diwaspadai

Sangat perlu bagi kita untuk mengetahui beberapa gejala usus buntu. Gejala yang paling umum muncul adalah nyeri pada perut kanan bawah. Berikut ini gejala yang perlu diwaspadai jika terindikasi usus buntu :

  • Nyeri timbul secara tiba-tiba pada perut bagian kanan bawah dan bisa dirasakan hingga bagian pusar.
  • Nyeri bertambah buruk disaat Anda bergerak, menarik nafas dalam-dalam, batuk maupun bersin.
  • Mual dan muntah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Demam ringan tetapi dapat memburuk seiring perkembangan penyakit tersebut.
  • Sembelit atau diare.
  • Tidak dapat mengeluarkan gas.
  • Terjadi pembengkakan pada perut anda.
  • Ketidaknyamanan pada saat melakukan buang air besar.
  • Perut terasa kembung.

Pengobatan usus buntu biasanya dengan melakukan operasi pengangkatan usus buntu atau yang dikenal dengan istilah Apendektomi. Sebelum operasi dilakukan, penderita biasanya akan diberikan obat antibiotik terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya infeksi, terutama pada usus buntu yang belum pecah, tetapi sudah terbentuk abses (sekumpulan nanah yang terkumpul di satu titik tertentu). Sedangkan pada usus buntu yang ringan, pemberian antibiotik saja sudah cukup untuk mengatasi peradangan tersebut.

 

Kapan harus ke dokter

Jika Anda atau anak Anda memiliki tanda atau gejala tersebut dan terasa sangat mengkhawatirkan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter karena sakit perut yang parah membutuhkan perhatian medis sesegera mungkin. Dokter akan membantu mencari penyebab penyakit Anda dan dilakukan tindakan sesuai kondisi yang Anda rasakan. Bila ingin konsultasi lebih lanjut terkait keluhan yang Anda Rasakan, Sahabat Ortho bisa datang untuk konsultasi dengan dokter spesialis Bedah di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.

 

Informasi Pendaftaran :

RS. ORTHOPEDI & TRAUMATOLOGI SURABAYA
JL. Emerald Mansion TX 10, Citraland – Surabaya
(031) 57431574 / 57431299
IGD : 082337655500 ext 118

 

 

Referensi:

https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-appendicitis

https://www.healthline.com/health/appendicitis

Radang usus buntu. Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/appendicitis. Diakses 8 Mei 2019.

https://www.halodoc.com/artikel/bukan-karena-makanan-pedas-ini-penyebab-usus-buntu

https://www.ayojakarta.com/read/2020/02/05/11577/bukan-sakit-perut-biasa-kenali-gejala-radang-usus-buntu

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543

 


dr.kis-artikel.jpg

Teknologi kesehatan terus berkembang, termasuk untuk tindakan operasi tulang belakang yang dulu identik dengan luka sayatan yang lebar di punggung dan waktu pemulihan yang lama. Kini, dengan teknologi Minimally Invasive Spine Surgery (MISS), semua itu dapat diminimalisir.

Kelainan tulang belakang dapat disebabkan oleh beberapa factor. Trauma atau kecelakaan, infeksi, faktor degeneratif, maupun tumor. Faktor-faktor tersebut akan mengakibatkan ruangan untuk urat atau saraf yang ada di tulang belakang menjadi lebih sempit dan mengakibatkan keluhan-keluhan seperti nyeri pinggang, nyeri tungkai, kesemutan atau tebal/kebas dan jarak jalan yang memendek. “Orang awam biasanya menyebutkan dengan saraf terjepit, tumbuh tulang, atau kecetit” ujar Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp.OT (K), dokter ahli spine dari Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT Surabaya).

Menurut dr. Komang, dari berbagai faktor penyebab masalah tulang belakang di atas, kasus yang paling banyak ditangani dengan metode operasi minimally invasive surgery adalah kasus kelainan tulang belakang yang disebabkan karena faktor degeneratif atau faktor usia. Yang kedua adalah trauma atau kecelakaan dan masalah tulang belakang karena infeksi. Sementara, tumor ganas pada tulang belakang umumnya tidak dapat ditangani dengan operasi minimal invasive ini. Sedangkan tumor jinak tertentu masih bisa.

  1. Komang melanjutkan, metode minimally invasive spine surgery ini memiliki banyak keunggulan disbanding dengan operasi konvensional, khususnya untuk kasus-kasus degeneratif yang umumnya dialami oleh orang lanjut usia. “Operasi dengan metode minimally invasive hanya memerlukan sayatan 8mm sehingga pendarahannya tidak banyak, proses recovery-nya juga lebih singkat. Hanya butuh 1-2 hari tinggal di rumah sakit pasca operasi. Rehabilitasinya juga lebih singkat, bahkan tidak membutuhkan rehab jika bisa Latihan sendiri di rumah,”papar dr. Komang. Sementara, proses tindakan operasi membutuhkan waktu yang relatif sama dengan operasi konvensional, yakni antara 1-3 jam, tergantung kesulitan kasus yang ditangani.

Proses penanganan dan rehabilitasi yang cepat ini memang merupakan hal yang sangat penting pada masalah tulang belakang, karena tulang belakang diciptakan bergerak dan memiliki mobilitas yang tinggi. Tindakan operasi dengan sayatan lebar, termasuk memasang pen, akan membuat tulang belakang menjadi tidak fleksibel dan membutuhkan proses pemulihan yang lama untuk dapat bergerak seperti sebelumnya. Selain itu, tindakan open surgery atau operasi dengan sayatan terbuka akan membuat pendarahan makin banyak dan rasa sakit yang lebih besar.

“Apaabila kalau orang tua, yang dibutuhkan adalah mobilitas secepat mungkin. Kalau lebih lama di rumah sakit, lebh lama recovery-nya. Tiduran terus, maka goal dari operasinya tidak tercapai. Kita butuh sesegera mungkin selesai, segera rehab, sehingga di rumah sakit tidak lama. Apalagi di era pandemi, tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit”, terang dr. Komang.

 

RSOT – 10 Tahun menjadi Center of Minimally Invasive Spine Surgery

Sebagai rumah sakit yang concern pada masalah tulang, sendi, otot, dan saraf tepi, RSOT kini telah menjadi pusat operasi tulang belakang dengan metode minimal invasive. Hampir semua tindakan operasi tulang belakang karena amasalah degeneratif, mulai leher sampai pinggang, dapat dilakukan di RSOT dengan semua peralatan terkini dan para ahli tulang belakang yang ada di rumah sakit ini.

Dijelaskan oleh dr. Komang, RSOT terus melakukan inovasi dengan mengikuti perkembangan teknologi berkaitan dengan operasi tulang belakang. “Sekarang bukan jamannya lagi operasi tulang belakang dengan cara konvensional dengan sayatan lebar. Sekarang eranya full endoscopic surgery dimana semua proses operasi dapat kita lihat dari monitor”, jelas dr. Komang. “Dulu operasi tulang belakang harus melakukan sayatan sekitar 20 cm, lalu ada Micro Endoscopic Disectomy (MED) dengan sayatan 16-18 mm, Sekaran dengan metode minimally invasive surgery, cukup 8 mm”.

Ditambahkan dr. Komang, ada banyak metode minimally invasive surgery yang bisa dilakukan mulai dari Ballon Kyphoplasty atau suntik semen, Microendoscopic Disectomy (MED), Percutaneous Endoscopic Lumbar Disectomy (PELD), Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression (PSLD), pasang rod dan screw pada kasus yang tidak stabil pun dipasang Percutaneous dengan irisan kecil. Secara prinsip, semuanya sama dan menggunakan metode minimally invasive. Hanya saja metode-metode tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penanganan dan disesuaikan dengan patologi pasien.

“Dalam tindakan minimally invasive pada tulang belakang, kita berpedoman jangan merusak terlalu banyak saat melakukan operasi. Dan tujuan operasi ini adalah murni untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, bukan menghilangkan struktur yang sudah rusak karena prose degeneratif”, papar dr. Komang. “Jadi jangan berharap umur 71 jadi umur 17 setelah operasi. Problem pada sendi dan tulang yang kita carikan jalan keluar. Secara quality of life jadi lebih baik. Hidup lebih senang, tidak ada rasa sakit dan Bahagia di hari tua”.

Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp. OT (K)

 


Flyer-Natal-Tetap-Buka-2-1200x1201.jpg

Libur Natal & Tahun Baru
Pelayanan Poliklinik Orthopedi dan Rehabilitasi Medik TETAP BUKA.

Jika Anda ingin konsultasi dan terapi, mohon untuk melakukan pendaftaran / appointment terlebih dahulu

IGD, Farmasi, Radiologi, Laboratorium, dan kamar operasi 24 Jam

Informasi dan pendaftaran (031) 57431574 / 081336621957

IGD ext 118 / 082337655500

RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya
Your Bone and Joint Solution


Give-away-1200x1197.jpg

GIVE AWAY TIME !

Dapatkan saldo OVO total 500.000 untuk 5 pemenang dengan cara:

1. Follow instagram @rsotsurabaya dan like postingan ini
2. Repost postingan ini di instagram story kalian, tag @rsotsurabaya
3. Jawab KUISnya di kolom komentar, tag temanmu sebanyak-banyaknya dan instagram @rsotsurabaya jangan lupa hashtag #rsotsurabayagiveaway

Periode give away: 7 – 17 Desember 2020
Pengumuman : 22 Desember 2020

 


Fr-di-era-covid-1200x1185.jpg

Kondisi gawat darurat sepertipatah tulang bisa terjadi kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun.

 

Jika anda mengalami patah tulang, segera periksakan ke RS Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.

Karena Kami :

  1. RS khusus orthopedi (tulang, sendi dan jaringan lunak disekitarnya)
  2. Poli Orthopedi buka setiap hari bahkan libur nasional tetap buka
  3. Ada 8 dokter spesialis orthopedi dengan berbagai subspesialistik
  4. Kamar operasi khusus untuk kasus orthopedi, tidaktercampur dengan penyakit lain
  5. 5. IGD, ambulans, laboratorium, farmasi, radiologi dan kamr operasi buka 24 jam.

Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya

Jl. Emerald Mansion TX-10 Citraland, Surabaya

(031) 574 32 574 / 0813 3662 1957

IGD : EXT 118 / 0823 3765 5500

 


service-sports-1.jpg

Sisi rehabilitasi medik menjadi unsur yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari penanganan sport injury. Yang menarik, tak hanya sisi fisik saja, sisi psikologis ternyata juga punya peran penting dalam pemulihan cedera olahrga. Seperti apa?

Secara umum, permasalahan yang terjadi pada sport injury  adalah dikarenakan overused atau latihan yang berlebihan, salah gerak dan benturan saat melakukan kegiatan olahraga. hal tersebut kemudian menimbulkan rasa nyeri yang tidak jarang diikuti dengan bengkak sehingga sesorang tidak dapat melakukan aktivitas olahraga seperti biasanya.

Itu sebabnya,menurut dr. Hasan Wijaya, Sp. KFR, dari sisi rehabilitasi medik, fase pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa nyeri dan bengkak yang terjadi. “Harus ada program rehabilitasi medik yang tepat yang mengatasi  nyeri atau bengkak tersebut,” ujuar dr. Hasan.

Penanganan pada rasa nyeri dan bengkak tersebut dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama adalah dengan obat-obatan dan yang bisa juga dilakukan dengan metode interventional pain management, yakni melakukan injeksi yang biasanya dilakukan dengan guiding USG untuk memastikan penyebaran obat yang dimasukkan. Yang kedua dengan memakai modalitas seperti Ultrasound Diathermy, laser terapi dan electrical stimulasi.

Setelah mengatasi rasa nyeri dan bengkak, fase berikutnya yang dilakukan dalam rehabilitasi medic pada sport injury adalah memastikan bahwa pasien atau atlet dapat bertahap melakukan gerakan-gerakan olahraga seperti sebelumnya, dengan latihan-latihan atau prgra, yang ditetapkan sesua kasus masing-masing “Misal dengan latihan luas gerak sendi dan semacamnya. Karena biasanya, kalau sudah lama tidak dipakai,kekuatan otot biasanya juga menurun. Bisa luas gerak sendinya berkurang. Misal patah, atau ACL, dilakukan operasi jadi agak kaku. Luas gerak sendinya bisa kita lakukan terapi sehingga bisa seperti sbelumnya,” terang dr. Hasan.

Fase berikutnya yang bisa dilakukan setelah kekuatan otot dan luas gerak sendi telah mendekati kondisi awal adalah melatih agar atlet dapt kembali ke kemampuan awalnhya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan latihan-latihan ketangkasan, latihan koordinasi dan latihan reaksi. “Itu fase return to sport. Tiap olahraga berbeda-beda latihannya. Kita sebagai tenaga kesehatan harus tau, karena tidak bisa semua disamakan latihannya.” Tandas dr. Hasan. “Kalau untuk mereka yang hanya melakukan olahraga rekreasi, mungkin yang penting tidak nyeri, bengkak dan kembali ke aktivitas sehari-hari. Kalau mau badminton misalnya, gerak shoulder­­-nya harus bisa enak digerakkan lagi. Tapi kalau sudah atlet professional tidak cukup sampai disitu.”

Yang menarik menurut dr. Hasan selain faktor fisik, rehabilitasi medik juga harus menyentuh sisi psikologis untuk mendapatkan hasil terbaik, khususnya untuk sport injury yang terjadi pada atlet-atlet professional.

  1. Hasan menuturkan, atlet yang mengalami cedera biasanya merasa takut mengalami cedera lagi sehingga menjadi ragu-ragu dan tidak bisa kembali ke level kemampuan sebelumnya. Salah satu caranya adalah dengan tetap berinteraksi dengan klub atau komunitas olahraganya, selama masa recovery. “Diusahakan atlet tersebut harus tetap berinteraksi dengan klubnya, atau teman-temannya. Jangan di rumah atau mess saja,” tandas dr. Hasan. “Memang diberi batasan-batasan untuk aktivitas lari, lompat menendang dan gerakan lainnya. Kita bisa atur program. Tapi interaksi lingkungan itu juga penting.”

Ditambahkan dr. Hasan, khusus penanganan atlet-atlet profesional, dimana Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya banyak menjadi rujukan klub klub profesional untuk penanganan sport injury, diperlukan koordinasi antara tim medis di rumah sakit, dengan pelatih atau manajemen klub. Karena menurut dr. Hasan, rumah sakit tidak dapat bekerja sendiri, sebab tujuannya bukan hanya memulihkan cedera, tapi juga bagaimana agar atlet atau pasien dapat return to sport atau kembali pada kemampuan semula, atau bahkan lebih baik dari sebelum terjadinya cedera. “kita tidak menggantikan pelatih, tapi kita bekerja sama. Karena itu juga berkaitan dengan jadwal main, misalnya. Kadang butuh cepat untuk bisa main lagi, kalau misal tidak ada fraktur, komplikasi dan lainnya pastik kita usahakan. Bisa dengan interventional pain management, dll. Tapi semua tergantung diagnosa. Itu sebabnya komunikasi dengan klub sangat penting,” terangnya.

Peralatan lengkap dan canggih di RSOT

Selama ini, RSOT telah menjadi rujukan bagi berbagai kasus sport injury, termasuk berbagai klub  professional seperti Persebaya Surabaya dan berbagai klub lain dari berbagai cabang olahraga.

Selain memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi sport injury, RSOT juga punya dokter-dokter rehabilitasi medik berpengalaman dan didukung oleh berbagai teknologi dan perlengkapan untuk mendukung proses rehabilitasi medik, termasuk alat-alat electrothermy seperti Ultrasound Iathermy, Short Wave Diathermy, Shock Wave Theraphy, High Intensity Laser, dll. Tak hanya itu, ada juga alat-alat untuk melatih kekuatan, melatih koordinasi, ketangkasan, dll.


101003512_834404900417741_3805131799219142656_o.jpg

#sahabatortho , yuk ikuti Online Talk & Discussion dengan topik ” Bagaimana Mencegah dan Mengatasi Patah Tulang di Masa Pandemi ?” bersama narasumber Dr. Komang Agung, dr., Sp.OT (K) dan dr. Tanjung A. Sangkai, Sp.OT. Dengan moderator dr. Henry R. Handoyo, Sp.OT, M. Biomed. .

Jumat, 29 Mei 2020
Pk. 10.00 WIB
Live Zoom Meeting

Daftar sekarang di:
bit.ly/healthtalkrsot
Atau scan barcode pada gambar.

ID meeting & password akan kami kirim melalui email atau nomor WA.

GRATIS dan terbuka untuk umum.


dr-Chandra-1200x825.jpg

Meski angkanya tak sebanyak cedera pada lutut dan ankle, dislokasi bahu merupakan salah satu cedera yang cukup banyak terjadi pada olahraga. Masalahnya, cedera ini seringkali disepelekan. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, akan berpotensi mengelami cedera yang sama di masa depan, dengan prosentase berkisar 70%-100%. Atau hampir pasti kan mengalami dislokasi bahu lagi.

Dislokasi bahu merupakan kondisi dimana sendi bola pada lengan atas keluar dari soket bahu. Hal ini dapat terjadi karena adanya trauma dari luar seperti benturan, jatuh dengan tangan menahan badan atau tangan terlentang ke samping, dorongan dari depan atau belakang, dll.

Beberapa olahraga yang cukup riskan terhadap cedera bahu adalah olahraga dengan body contact atau rawan terhadap tabrakan dengn lawan, serta olahraga overhead atau dengan posisi tangan di atas kepala, seperti voli, bulutangkis, basket, renang, dll.

Masalahnya , selama ini masalah dislokasi bahu ini seringkali undertreatment atau sedikit disepelekan, karena dianggap cukup ditangani dengan cara mengembalikan bahu ke posisi semula. Menurtu dr. Gede Chandra, Sp.OT, ada satu yang harus diwaspadai bahwa cedera bahu yang dialami oleh mereka di bawah 20 tahun, memiliki potensi besar untuk mengalami cedera ulang, jika tidak ditangani dengan benar.

“Prosentasenya hingga 70%-100% akan mengalami dislokasi lagi di masa depan. Sebab, bahu pada dasarnya memiliki jaringan yang sangat kuat. Sehingga jika terjadi dislokasi, ada jaringan yang rusak cukup parah pada bahu tersebut, karena pada dasarnya mereka yang berusia muda sendinya masih sangat kuat,” papar dr. Gede. “Kejadian pertama mungkin butuh benturan keras sehingga terjadi dislokasi. Berikutnya mungkin hanya jatuh, sudah dislokasi. Nanti berikutnya, bisa saja menguap dengan tangan direntangkan sudah terjadi dislokasi bahu.”

Sementara itu, dislokasi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun dan tidak mendapat penanganan yang baik, akan memunculkan potensi terjadinya dislokasi bahu kembali di masa depan. Risiko berkisar 30%.

Itu sebabnya, dr. Gede sangat menekankan adanya penanganan yang baik pada dislokasi bahu. Apalagi bagi atlet yang memiliki tuntutan intensitas olahraga yang tinggi. “Jadi bukan hanya ditarik dan dikembalikan ke posisi semula, kemudian selesai,” ujar dr. Gede. “Kalau hanya olahraga rekreasional mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi potensi untuk dislokasi lagi selalu ada.”

PENANGANAN DENGAN ARTHROSCOPY

Ditekankan oleh dr. Gede, penanganan pada dislokasi bahu pada prinsipnya adalah usaha yang dilakukan oleh dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi sport injury untuk memastikan bahwa penderita dapat kembali berolahraga dengan baik dan kompetitif seperti semula, bukan hanya sekedar mengembalikan posisi bahu, namun membuat pasien berolahraga secara baik.

Salah satu penanganan yang dapat diterapkan di RS Orthopedi & Traumatologi (RSOT) Surabaya adalah operasi dengan teknik arthroscopy, yakni operasi minimal invasive dengan luka sayat yang sangat kecil, bahkan kurang dari 1 cm. Teknologi modern ini mengubah paradigma bahwa operasi adalah sesuatu yang menakutkan.

“Penanganan dislokasi bahu bisa dilakukan dengan arthroscopy. Diperbaiki jaringan-jaringan yang robek di sekitar bahu, sehingga bahu bisa utuh seperti semula. Statistiknya bagus. Dari risiko cedera ulang sebesar 70%-100%, bisa turun sampai 4%-20%. Sehingga penanganan arthroscopy memberi harapan yang sangat baik bagi orang-orang yang ingin berolahraga berat pasca dislokasi bahu,” terang dr. Gede. “Arthroscopy dapat mnyelesaikan masalah pada sendi. Selama berhubungan dengan sendi, hampir selalu bisa dengan arthroscopy.”

Selain itu dr. Gede juga menekankan pentingnya rehabilitasi dan kemauan bersabar untung menggunakan bahunya secara bertahap pasca operasi. “Misal untuk satu bulan pertama, gerakan ayunan untuk bahu, berikutnya meningkat lagi, dan seterusnya. Prinsipnya, rehabilitasi bertahap tidak boleh dilupakan.” Ujar dr. Gede. “Orang kadang maunya instan, operasi langsung sembuh. Untuk cedera sendi butuh waktu, karena sendi bagian bergerak, berbeda dengan tilang yang cenderung statis. Jadi cedera pada sendi, termasuk sendi bahu, harus didiamkan sebentar. Atau gerak sedikit dulu baru gerak banyak.” tutup dr. Gede.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat
MRI Promo Slide 2