Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

images-10.jpeg

Salah satu penyakit neuro degenerative yang kerap dialami para Geriatri adalah Parkinson.  Adalah sebuah kondisi dimana terjadi pengecilan di daerah tertentu di otak, yang akhirnya menimbulkan gangguan sistem saraf pusat. Parkinson adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pergerakan, bahkan dalam kasus yang parah akan menyebabkan ketidakmampuan untuk beraktivitas. Untuk pencegahan Parkinson, orang lanjut usia sangat disarankan untuk tetap aktif bergerak atau beraktivitas.

Gejala Tremor, Kaku, hingga Ketidakseimbangan Tubuh

Parkinson ditandai dengan kerusakan otak di daerah bernama substantia nigra dan basal ganglia, dimana daerah tersebut menghasilkan senyawa dopamin yang berfungsi sebagai neutrotransmiter (penghantar stimulus berupa rangsangan ke sel saraf, baik di otak maupun di otot).

“Supaya seorang manusia bisa bangun dan melakukan gerakan yang lincah dan terkontrol, itu karena adanya senyawa dopamin ini. Jika terjadi kerusakan otak dan terjadi pengecilan, akan terjadi ketidakseimbangan senyawa-senyawa di otak, salah satunya dopamin itu turun. Kalau dopamin turun akhirnya timbul gejala-gejala klinis yang dikenal Parkinson,” jelas  dr. Nita Kurniawati, Sp. S dari RS. Orthopedi dan Traumatologi Surabaya (RSOT).

“Parkinson ditandai dengan empat gejala utama. Pertama adalah tremor atau gerakan gemetar. Awalnya di satu sisi dulu, lama-kelamaan dua sisi kanan dan kiri, bisa tangan atau kaki. Kedua, gerakan menjadi kaku sekali. Misal mau berubah posisi dari tangan menekuk menjadi lurus itu sulit sekali. Ketiga, gerakan menjadi lambat. Ini yang paling banyak dikeluhkan orang-orang. Biasanya terjadi pada saat posisi tidur ke duduk, duduk berdiri itu lama sekali. Gejala keempat, pada fase yang lebih berat adalah posture instability atau ketidakstabilan postur. Penderita tidak bisa berdiri atau jalan tegak / lurus. Rasanya seperti mau jatuh, itu karena ada gangguan ketidakseimbangan,” urai dr. Nita.

Yang juga digaris bawahi dr. Nita adalah mengenai perbedaan parkinson dengan parkinsonism. Dijelaskan dr. Nita, Parkinson murni  disebabkan oleh neuro degenerative. Sementara parkinsonism itu mirip parkinson, tapi dari penyebab lain, yang bisa menyebakan kerusakan daerah di otak, dan akhirnya bisa menimbulkan gejala parkinson. Salah satu contohnya adalah stroke, di mana stroke bisa menimbulkan gejala mirip Parkinson.

“Usia penderita parkinsonism juga mulai bergeser ke usia yang lebih muda karena penderita stroke juga disebabkan oleh lifestyle. Usia 40 tahun sudah ada yang mulai terkena, tapi gejalanya berbeda. Bukan tremor duluan, justru postural instability lebih dulu. Jalan tiba-tiba sering jatuh, tapi kakunya nggak ada, tremornya nggak ada. Nah, ini kita curigai parkinsonism. Untuk penyakit semacam itu , mutlak dilakukan imaging kepala atau MRI (Magnetic Resonance Imaging),” jelas dr. Nita lagi.

Lifestyle Buruk Picu Penurunan Dopamin

Senyawa dopamin yang berfungsi penting dalam pergerakan manusia, bisa menjadi rusak karena banyak hal. “Kerusakan otak itu atau proses penuaan lebih cepat terjadi karena radikal bebas. Radikal bebas bisa muncul karena keracunan, obat-obatan terlarang, dan lifestyle yang kurang bagus.  Lifestyle tidak bagus terlihat dari penampilan fisiknya lebih tua. Begitupun juga otak, mudah mengerut. Jika tidak ada rangsangan dari luar, kemudian orangnya cenderung pasif, diam, tidak ada aktifitas sehari-hari. Jika seperti itu otaknya semakin mengecil,” jelas dr. Nita.

dr. Nita menyarankan agar menerapkan lifestyle yang sehat untuk mencegah kerusakan dopamin. Salah satunya adalah rutin olahraga. “Karena olahraga menghasilkan senyawa untuk melawan radikal bebas. Kemudian untuk dopamin sendiri, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa untuk mencegah supaya perburukan gejala parkinson itu tidak berat, minumlah kopi satu gelas sehari dengan catatan jika tidak ada kontra-indikasi. Jadi kalau tidak ada penyakit lain, kopi boleh dikonsumsi meningkatkan dopamin”.

Terapi Penderita Parkinson

Sampai saat ini, penyakit Parkinson belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun demikian, ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien yaitu melalui terapi penggunaan obat-obatan (medis) dan non-medis. Terapi non medis dilakukan dengan cara bahwa pasien harus tetap melakukan exercise, terus aktif melakukan berbagai aktivitas. Sementara itu, terapi medis adalah dengan penggunaan obat-obatan. “Obat-obatan yang diberikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan atau mengganti dopamin dalam tubuh”.

Jika Parkinson sudah berat dan dengan pengobatan tidak membaik, parkinson dapat dibantu dengan tindakan lewat prosedur Deep Brain Stimulation (DBS), yakni memasang alat di otak untuk stimulasi agar mengeluarkan dopamin itu secara berkala. Atau melalui tindakan Bedah pisau gamma (gamma knife) untuk pasien yang tidak dapat menjalani prosedur DBS, bedah pisau gamma dapat menjadi pilihan. Prosedur ini dilakukan selama 15-40 menit, dengan memfokuskan sinar radiasi kuat ke area otak yang terdampak.

Harus Tetap Aktif di Usia Senja

Parkinson memang tidak memiliki risiko kematian secara langsung. namun, jika pasien tidak dapat beraktivitas karena parkinson. Tidak bisa bangun dari tempat tidur, tidak bisa berdiri, susah makan dan minum sehingga nutrisi terganggu, maka akan berpotensi diikuti penyakit lainnya seperti infeksi paru, infeksi kulit, infeksi saluran kencing, dll. “Jadi parkinsonnya sendiri sebenarnya tidak, tapi komplikasi dari parkinson itu yang menyebabkan kematian,” papar dr. Nita.

“Untuk pencegahan parkinson, orang dengan usia lanjut harus tetap aktif. Walaupun usianya sudah tua, sudah pensiun, tetap harus cari kesibukan supaya tidak mempercepat pengecilan otak dan tetap bisa aktifitas sehari-hari. Karena jika tidak, orang bisa depresi. Pada saat orang depresi, senyawa dopamin, serotonin semua turun, sehingga dalam waktu dekat bisa muncul demensia dan parkinson,” tutupnya


lab1-1200x860.jpg

Apakah PRP itu?

PRP atau platelet rich plasma, adalah salah satu komponen dari darah sendiri yang di proses dan dilakukan aktivasi sehingga menghasilkan faktor anti radang dan faktor pertumbuhan.

Platelet Rich Plasma (PRP) / Trombosit Kaya Plasma digunakan dalam menangani berbagai cedera olahraga karena kemampuannya untuk mempercepat kesembuhan dan meregenerasi pertumbuhan sel. Prosedur PRP ini relatif sederhana yaitu hanya dengan menggunakan darah pasien itu sendiri yang diproses secara medis untuk menghasilkan konsentrat trombosit. Konsentrat ini kemudian disuntikkan secara langsung ke dalam lokasi cedera untuk membantu penyembuhan.

Penyuntikan PRP pada daerah yang nyeri

Apakah PRP aman digunankan?

PRP aman digunakan karena ini bukan obat. Yang digunakan untuk penyuntikan adalah darah pasien sendiri, sehingga tidak akan ada risiko penolakan,alergi, infeksi dan penularan penyakit dari orang lain. Termasuk dalam golongan perawatan tanpa obat-obatan, PRP tidak menyebabkan efek samping keracunan, interaksi dan sistemik.

Proses Terapi PRP pada Cedera Olah Raga 

Prosedur perawatan PRP memerlukan waktu sekitar 50-60 menit dari proses awal hingga akhir. Pertama, pengambilan darah dari siku kemudian dilakukan dalam kondisi steril untuk mencegah kontaminasi. Kemudian darah ditransfer ke dalam tabung sekali-pakai dan diputar dengan kecepatan tinggi secara sentrifugal selama beberapa menit untuk memisahkan darah dan plasma. Kemudian plasma disuntikkan kebagian yang mengalami cedera. Saat diaktifkan pada lokasi cedera, plasma akan mengeluarkan faktor -faktor pertumbuhan yang membantu mengendalikan pembengkakan dan mendorong penyembuhan luka.

Faktor anti radang dan faktor pertumbuhan yang dihasilkan bermanfaat untuk:

  • Untuk mengurangi nyeri sendi dan menurunkan proses radang pada pengapuran sendi (ostheoarthritis)
  • Untuk mempercepat proses penyembuhan patah tulang
  • Cedera muskoloskeletal (robek pada ligament atau tendon, radang tendon/tendinitis akibat sport injury)

Prosedur PRP yang optimal memerlukan 2-3 kali terapi. Tindakan PRP digunakan pada pasien dengan nyeri pada persendian namun bukan untuk yang tingkat lanjut.  Untuk kerusakan sendi tingkat lanjut memerlukan operasi ganti sendi (ostheoarthritis)

Perbedaan injeksi PRP dengan suntikan lainnya ialah

Tindakan PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam proses pembaharuan serta tidak ada penolakan dari tubuh dikarenakan bahan yang tergandung dalam PRP ini berasal dari penderita sendiri. Berbeda dengan suntikan kortikosteroid yang dapat menghilangkan peradangan dan nyeri namun bersifat sementara, serta tidak memperbaiki jaringan yang rusak.

Tahap pemisahan komponen sel darah pada alat Centrifuge
Proses PRP

pencegahan-osteoporosis.jpg

Banyak di antara masyarakat yang tidak menyadari bahwa tulangnya sudah keropos dan baru datang ke rumah sakit dalam kondisi tulang yang retak atau patah. Padahal, dengan tindakan prefentif atau pencegahan, sebenarnya osteoporosis dapat dicegah atau diminimalisir. Apa saja yang bisa dilakukan?

Tulang adalah anggota tubuh yang sangat vital, karena berfungsi untuk menyangga tubuh. Untuk itu, menjaga tulang agar tetap sehat merupakan hal yang sangat krusial. Asupan kalsium yang cukup mutlak diperlukan untuk memastikan bahwa tulang tetap dalam kondisi yang baik.

Berita baiknya, kita diberi kesempatan untuk dapat menabung kalsium hingga sekitar umur 35 tahun. Dengan tabungan kalsium yang cukup, saat memasuki usia 35 tahun ke atas, dimana penyerapan kalsium pada tulang sudah berangsur berkurang, pengeroposan tulang bisa dihindari atau diminimalisir.

”Jadi harus dipastikan bahwa sejak dari kandungan, masa perkembangan, hingga dewasa, asupan kalsium kita tercukupi,” ujar dr. Henry Ricardo Handoyo, Sp. OT., MBiomed ketika ditemui majalah  Orthopedi di ruang praktiknya di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya.

Namun dr. Henry juga meminta masyarakat tidak salah persepsi dengan ajakan untuk menabung kalsium sedari dini. Menurutnya, menabung kalsium bukan berarti mengkonsumsi asupan kalsium secara ekstrim, karena manusia sudah memiliki takaran kebutuhan kalsium per hari. Jika asupan kalsiumnya berlebih, maka akan dibuang lewat air seni atau buang air besar.

”Jadi harus bijak juga. Kalau bisa dibuang saja sih tidak masalah. Tapi kelebihan kalsium mungkin juga menimbulkan efek samping. Misalnya untuk jantung, karena kalsium juga berfungsi untuk kontraksi otot, sehingga estabilitas jantung terlalu meningkat. Mungkin juga berimbas ke ginjal yang jadi terbebani, karena kalsium ini kan diekskresi lewat ginjal,” terangnya. ”Orang dewasa membutuhkan 1.200 mg – 1.300 mg kalsium per hari. Tidak perlu setiap makan dihitung miligram kalsiumnya, nanti malah repot. Intinya, tiap hari minum susu, makan buah, sayur, itu sudah bagus.”

Beberapa makanan yang tinggi akan kalsium yang cukup memenuhi kebutuhan kalsium antara lain ialah susu dan turunannya memiliki kandungan kalsium yang sangat tinggi, seperti yogurt, dan keju yang menurut penelitian memiliki kandungan kalsium paling tinggi.

Sumber kalsium terbaik juga bisa didapat dari buah dan sayur. Ada empat sayuran yang memiliki kalsium tinggi, yakni sawi, bayam, lobak hijau, dan kubis. Sementara dari buah, jeruk, pisang, stroberi, dll.

Menurut dr Henry, selain susu, sumber kalsium terbaik juga bisa didapat dari vitamin D yang merupakan ”best friend” dari kalsium. Beberapa makanan yang mengandung vitamin D adalah ikan-ikan dari laut dalam seperti salmon, tuna, sarden, dll.

REKOMENDASI UNIVERSAL TERHADAP PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS

Dunia kedokteran memiliki rekomendasi  yang bersifat universal berkaitan dengan pencegahan osteoporosis. Ada lima poin yang tertera dalam rekomendasi tersebut:

  • Mencukupi Asupan Kalsium dan Vitamin D

Seperti yan telah dijelaskan di atas, mencukupi asupan kalsium dan vitamin D adalah hal yang sangat mendasar pada pencegahan osteopororosis. Masyarakat juga disarankan meningkatkan kewaspadaan pada kondisi-kondisi tertentu, utamanya bagi wanita yang memasuki masa menopause, dimana pada masa itu akan terjadi pengurangan masa tulang secara masif berkaitan dengan menurunnya hormon estrogen secara signifikan dan berpengaruh pada metabolisme tulang. 

  • Olahraga yang Cukup

Olahraga juga sangat penting dilakukan untuk penguatan otot, karena ototlah yang menggerakkan tulang. Tulang juga baru dapat membentuk sel-selnya atau remodeling jika digerakkan. Untuk pencegahan, olahraga yang bisa dilakukan minimal adalah jalan kaki, yang bisa dilakukan dengan intensitas tiga kali seminggu dengan durasi 30 menit. Mereka yang berusia muda bisa melakukan olahraga yang lebih high impact seperti aerobic, lari, basket, dll. Sementara yang berumur lebih tua disarankan melakukan olahraga yang low impact seperti berjalan, taichi, dll.

  • Mencegah Risiko Jatuh

Olahraga yang dijelaskan di atas, juga berkaitan dengan meminimalisir risiko jatuh. Selain itu, hal-hal non-teknis seperti memastikan kondisi rumah dalam keadaan yang baik (tidak licin, tidak ada kabel berserakan di bawah, dll) juga diperlukan. Sebab, jatuh adalah hal yang benar-benar harus dihindari, apalagi jika sudah masuk dalam fase osteopenia (pra-osteoporosi). Mereka telah masuk fase osteopenia atau osteoporosis memiliki risiko patah tulang yang lebih besar dibanding mereka yang kondisi tulangnya baik.

  • Gaya Hidup Sehat

Ada beberapa kebiasaan yang wajib dihindari untuk mencegah pengeroposan tulang. Beberapa diantaranya adalah tidak merokok dan meminum alkohol, karena keduanya jelas-jelas merusak tulang. Konsumsi terhadap protein yang berlebih, biasanya dari daging-daging juga sebaiknya dihindari, karena akan meningkatkan suasana asam di tubuh. Terlalu banyak kopi dan minuman soda juga tak baik untuk tulang.

  • Periksa Pepadatan Tulang

Hal terakhir yang direkomendasikan sebagai tindakan pencegahan terhadap osteoporosis adalah pemeriksaan Bone Mass Density (BMD) atau pemeriksaan massa kepadatan tulang yang dilakukan dengan alat yang bernama Dexa. Wanita yang telah memasuki menopause, pria berumur sekitar 60 tahun, mereka yang memiliki penyakit yang disebabkan oleh keganasan seperti tumor, kanker, gangguan liver, ginjal, dl disarankan untuk melakukan pemeriksaan BMD.


Kaki-O.jpg

Bayi gemuk memang lucu dan menggemaskan. Tapi dibalik kelucuan itu, orang tua juga harus waspada terhadap risiko-risiko yang mengikuti berat badan berlebihan pada anak tersebut. Salah satunya blount disease. Apa itu?

Penyakit blount disease merupakan gangguan yang terjadi pada tulang pada masa pertumbuhan, yang disebabkan oleh adanya beban mekanik pada tulang. beban tulang pada lutut yang cukup besar akan membuat kaki anak berbentuk O dan pada gilirannya akan menyebabkan deviasi atau penyimpangan gaya berjalan, dan kerusakan dini pada sendi lutut.

Dr. Anggitadewi, Sp.OT dari Rumah Sakit Orthopedi & Traumatologi Surabaya (RSOT) menuturkan, faktoe obesitas atau berat badan berlebih ini memang menjadi salah satu penetus utama dari blount disease. Sebab ketika anak obesitas terdapat tekanan pada kaki sebagai penyangga, sehingga dalam taraf dan waktu tertentu akan membuat kaki menjadi melengkung, ataun bisa disebut kaki O. Selain itu ada beberapa hal lainnya juga yang disinyalir menjadi pemicu blount disease diantaranya adalah faktor genetik.

bentuk kaki normal dan kaki O
bentuk kaki normal dan kaki O

“Biasanya orang tua baru sadar ketika anaknya sudah bisa berjalan. Dan dilihat kokj makin melengkung, seperti kaki O”, tutur dr. Anggi. “Untuk itu penting sekali untuk menjaga berat badan ideal anak. Jadi anggapan bahwa makin gemuk anak itu makin luu karena dianggap gizinya sangat tercukupi, itu perlu dikoreksi juga. Artinya harus ideal”.

Dokter yang concern dibidang pediatric orthopedic atau tulang khusus anak ini juga menekankan pentingnya awareness dari orang tua mengenai kondisi anak, karena anak memang cenderung belum dapat secara mandiri memberikan informasi – informasi mengenai perubahan yang terjadi pada tubuh dan dirinya.

Menurut dr. Anggi, penanganan pada blount disease akan jauh lebih mudah jika dilakukan di fase-fase awal. Artinya blount disease  telah dapat terdiagnosa pada usia balita. Dengan begitu tindakan-tindakan yang dilakukan akan lebih terintegrasi untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimak, bahkan dapat dilakukan tindakan non-operatif.

“jika datang lebih awal, misalnya saat balita dan belum sekolah, kita bisa melakukan tindakan koreksi menggunakan gips dan terapi-terapi lainnya yang dilakukan bersama dengan dokter rehabilitasi medic, sehingga diharapkan pembengkokan tulangnya dapat diatasi tanpa operasi. Jadi penanganannya akan sangat tergantung  dari tingkat derajat lengkung tulangnya dan mulai kapan dilakukan penanganan,” jelas dr.Anggi. “Jika sudah sekolah agak kurang efektif dengan treatment gips karena akan makan waktu cukup lama. Jalan yang cepat adalah operasi, yakni osteotomy atau pemotongan tulang yang membuat anatomi tulang pada anak menjadi melengkung”.

Dr. Anggi melanjutkan, derajat lengkung kaki pada blount disease memang bervariasi tergantung dengan progresifitasnya. Itu sebabnya ada kasus-kasus yang terjadi di masyarajat dimana blount disease ini baru diketahui saat telah dewasa, misalnya ketika hendak mendaftar menjadi TNI atau pekerjaan lain yang menuntut kesehatan dan postur tubuh yang baik.

Pada kasus tersebut, secara visual mungkin tidak terlalu tampak atau mengganggu, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan karena blount disease ini juga berpotensimengakibatkan pengapuran dini pada sendi lutut, sehingga dikhawatirkan seseorang dengan blount disease akan lebih cepat berpotensi terkena pengapuran sendi lutut.

TINGKATKAN AWARENESS TENTANG OBESITAS DAN BLOUNT DISEASE

  • Lakukan pengecekan secara rutin terhadap berat badan anak. Pastikan sang buah hati memiliki berat badan yang ideal dengan menggunakan indeks berat badan ideal yang bisa Anda konsultasikan dengan dokter
  • Ikutlah berperan aktif dalam mengubah stigma di masyarakat bahwa anak yang gendut = lucu. Karena ada berbagai risiko penyakit yang mengikuti anak obesitas. Blount disease  adalah hanya salah satu diantaranya
  • Selalu amati dengan seksama mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada anak pada masa tumbuh kembang anak
  • Segera konsultasikan pada dokter jika terjadi hal-hal yang dirasa berbeda pada masa tumbuh kembang anak.

hipfracture-300x213.jpg

Seseorang yang telah masuk dalam fase osteoporosis memiliki risiko patah tulang yang tinggi. Bahkan, pada sebuah kasus seseorang dengan osteoporosis dapat mengalami patah tulang punggung hanya karena mobil yang ditumpanginya melewati gundukan jalan.

osteoporosis (pengeroposan tulang)

Secara umum, osteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai oleh menurunnya massa atau kepadatan tulang. Pengukuran massa tulang tersebut dapat dilakukan dengan metode Bone Mass Desity (BMD), Angka 0 pada hasil BMD dapat diartikan bahwa orang tersebut memiliki massa tulang yang normal. Sementara jika angka -1 hingga -2 menunjukkan kondisi osteopenia atau pre-osteoporosis, dimana jika tidak ditangani dengan baik maka sekitar lima hingga sepuluh tahun ke depan dapat dipastikan akan masuk pada osteoporosis.

Mengutip sebuah literatur, bahwa risiko patah akan mengikuti tingkat kepadatan tulangnya. Jika hasil BMD menunjukkan angka -1, maka risiko patah tulangnya meningkat dua kali lipat dibanding orang dengan kepadatan tulang yang normal. Hasil BMD -2 berarti risiko patah tulangnya empat kali lebih besar, begitu seterusnya.

Untuk itu, tingkat awareness terhadap osteoporosis ini sangat penting. Sebab, banyak orang yang tidak merasa mengidap osteoporosis dan baru mengetahuinya setelah terjadinya patah tulang.

Patah tulang karena osteoporosis ini umumnya terjadi di tiga tempat, yakni tulang belakang, tulang pinggul, dan tulang pada pergelangan tangan. Sebab, pada saat terjatuh, ketiga bagian tubuh inilah yang biasa digunakan untuk menyangga badan.

Kasus patah tulang pada ketiga tempat tersebut juga kerap terjadi pada orang tua yang sebagian besar karena terpeleset di kamar mandi dan di anak tangga. Biasanya, terpeleset dengan posisi miring kemudian terkena tulang di bagian pinggul atau posisi terduduk yang mengakibatkan patah tulang belakang. Kejadian paling ringan adalah bertumpu dengan tangan yang mengakibatkan tulang pergelangan tangannya patah.

Penanganan pada fraktur atau patah tulang pada pasien yang mengalami osteoporosis ini lebih sulit dikarenakan sudah porotik atau keropos. Namun, sebagai rumah sakit yang concern di bidang orthopedi dan traumatologi, RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya memiliki banyak dokter ahli dan peralatan penunjang untuk mengatasi hal tersebut.

Di RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya, ada banyak penerapan teknologi yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari Partial Hip Replacement, Total Hip Replacement (ganti tulang pinggul keseluruhan), Teknik Kifoplasti pada kasus patah di tulang belakang yakni dengan penyuntikan semen dengan terlebih dulu memasukkan balon di dalamnya sehingga semen tidak meluber kemana-mana, dan teknik-teknik lainnya. Penerapan teknologi tersebut juga ditunjang dengan peralatan dan tim ahli.

Pentingnya tabungan tulang pada masa mengandung, pertumbuhan, dan menjelang menopause bagi wanita. Dengan tabungan kalsium di masa pertumbuhan hingga usia 35 tahun itu, diharapkan kepadatan tulang kita akan bagus, sehingga juga terhindar dari osteoporosis dan patah tulang karena osteoporosis.


Komunitas-CTEV-22.jpg
22/Jan/2020

Komunitas CTEV
Komunitas CTEV

Rs. Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya meresmikan komunitas CTEV,
Minggu (22/7) di Hotel four Point Surabaya. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi
wadah berbagi pegalaman, pengetahuan, dan saling mendukung serta berbagi
semangat antar para orang yang memiliki anak dengan masalah kaki bengkok.

Angka kelahiran bayi dengan kelainan Congenital Taliper Equinovarus (CTEV)
atau kaki bengkok di Indonesia masih tergolong tinggi. Survei yang dilakukan
Kementerian Kesehatan pada tahun 2014 di 13 rumah sakit di sembilan provinsi
menyebutkan, dari 231 anak yang terlahir dengan kelainan bawaan atau kongenital,
22,3 persen di antaranya adalah kelainan kaki bengkok atau CTEV.

Rs. Orthopedi dan Traumatologi, sebagai rumah sakit yang fokus pada
permasalahan tulang dan sendi, berinisiatif untuk membentuk komunitas yang berisi
para orang tua yang memiliki permasalahan yang sama pada anak-anak mereka. Bagi
RSOT, komunitas ini menjadi penting, karena proses penyembuhan pada anak-anak
CTEV tidak hanya bergantung sepenuhnya pada proses medis, namun juga kesiapan
mental dari para orang tua.

”Ibu dan Bapak, jangan menyerah. Tetap Semangat. Kami tahu ini tidak mudah,
merawat dan membesarkan anak-anak yang spesial ini. Tapi ketahuilah Anda tidak
sendiri,” ujar dr. Anggita Dewi, Sp. OT, dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi
pediatric orthopedic atau tulang anak yang biasa menangani masalah CTEV. ”Semoga
komunitas ini bisa membantu, bapak ibu bisa saling bercerita dan berbagai
pengalaman dengan para orang tua lainnya yang memiliki anak-anak yang juga sama
spesialnya.”

Pada persemian tersebut, setidaknya terdapat 18 orang tua yang bergabung
dalam komunitas tersebut. RSOT juga meminta dukungan berbagai pihak untuk
memberikan perhatian lebih kepada anak-anak dengan CTEV. Selain para donatur,
RSOT juga secara khusus membuka kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota
Surabaya, di mana puskesmas-puskesmas dapat memberikan rekomendasi
penanganan ke RSOT jika ditemukan pasien RSOT. ”Mari kita viralkan komunitas ini,
sehingga lebih banyak lagi yang bisa terbantu,” ujar dr. dr. Sindrawati, Sp. PA,
Direktur PT. Surabaya Orthopedi dan Traumatologi Hospital.

Komunitas CTEV
Komunitas CTEV

RSOT juga menjalin kerja sama dengan Rumah Singgah Pasien IZI yang siap
membantu menyediakan tempat tinggal sementara dan berbagai fasilitas lainnya
untuk penanganan pasien CTEV dari luar kota.

Kepala Rumah Singgah Pasien (RSP) IZI II Jawa Timur Hengky Asmarakandi
menuturkan, khusus bagi pasien anak seperti pasien CTEV, pihaknya tidak hanya
memberikan fasilitas pada pasien, namun juga fasilitas untuk dua orang
pendamping. ”Selain tempat tinggal, kami juga sediakan transportasi, dan makanan
sehari-hari. Semuanya gratis,” ujar Hengky. ”Kalau kondisi pasien tidak
memungkinkan, kami juga siap menjemput ke kota asal pasien.”

Di Surabaya, IZI memiliki dua rumah singgah, yakni di Jl. Pucang Adi No. 15, dan
Jl. Luntas No. 15 yang berdekatan dengan lokasi RSOT.

Dukungan juga datang dari para donatur yang peduli dengan anak-anak spesial
dengan CTEV. Salah satunya adalah dari dr. Dion. Dia bahkan mengajak serta
keluarga besarnya untuk memberikan bantuan kepada komunitas ini. ”Sebab CTEV
ini bisa disembuhkan. Sayang sekali kalau tidak ditangani dengan baik,” ujarnya.

Komunitas ini dibuka secara resmi oleh Direktur RSOT dr. Gwendolin Mustika
Dewi dan ditandai dengan pemukulan gong. Sebagai bentuk apresiasi kepada para
pihak yang mendukung komunitas ini, dr. Gwendolin juga memberikan plakat
penghargaan kepada masing-masing pihak pendukung.

Komunitas CTEV
Komunitas CTEV

HARU DAN SEMANGAT JADI SATU

Selama acara peresmian Komunitas CTEV ini, banyak cerita haru yang
diungkapkan oleh para orang tua yang memiliki anak-anak istimewa dengan CTEV.
Alih-alih memunculkan kesedihan, pengalaman-pengalaman yang diungkapkan para
orang tua tersebut justru menjadi penyemangat untuk menyembuhkan sang buah
hatu dan mengembalikan harapan dan masa depan mereka.

Salah satu pengalaman diungkapkan oleh Nayla, ibunda dari Mikayla. Nayla
menuturkan, pada masa kandungannya berumur empat bulan, dokter sudah
menyampaikan bahwa bayinya mempunyai kondisi khusus. ”Itu sebabnya saya sudah
siap. Selama masa kehamilan, saya terus cari tahu tentang CTEV. Dan begitu lahiran
di rumah sakit ibu dan anak, saya nggak pulang dan langsung boyongan ke RSOT,”
kenang Nayla.

Setelah serangkaian pemeriksanaan, Mikayla akhirnya menjalani operasi saat
berumur dua bulan. ”Sekarang Milayla sudah umur tujuh bulan. Sekarang pakai
sepatu khusus yang harus dipakai selama 12 ham sehari,” ujarnya. ”Saya sangat
berterima kasih pada dr. Anggie yang menangani Mikayla. Beliau sangat kooperatif.
Bahkan suatu waktu, saya telpon beliau jam 12 malam meminta agar Mikayla
diperiksa, dan beliau dengan sabar melayani dan mau datang ke rumah sakit.”

Cerita mengharukan lainnya juga datang dari Ruri Vidiastuti.
Dua hari setelah melahirkan, puteranya yang bernama Rafan diketahui mengalami CTEV.
”Saya shock sekali waktu itu. Apa kesalahan saya sehingga anak saya seperti ini.
Padahal anak pertama saya normal” tuturnya.

”Tapi setelah menjalani penanganan di RSOT, saya jadi lebih tenang. Rafan sudah
dioperasi dua minggu lalu dan sekarang sudah bisa pakai sepatu,” ungkap Ruri
dengan wajah haru bercampur bahagia.

#RSOTSurabaya #RSOTSby #CTEV #KomunitasCTEV #Orthopedi


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat