">RS ORTHOPEDI – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

service-sports-1.jpg

Sisi rehabilitasi medik menjadi unsur yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari penanganan sport injury. Yang menarik, tak hanya sisi fisik saja, sisi psikologis ternyata juga punya peran penting dalam pemulihan cedera olahrga. Seperti apa?

Secara umum, permasalahan yang terjadi pada sport injury  adalah dikarenakan overused atau latihan yang berlebihan, salah gerak dan benturan saat melakukan kegiatan olahraga. hal tersebut kemudian menimbulkan rasa nyeri yang tidak jarang diikuti dengan bengkak sehingga sesorang tidak dapat melakukan aktivitas olahraga seperti biasanya.

Itu sebabnya,menurut dr. Hasan Wijaya, Sp. KFR, dari sisi rehabilitasi medik, fase pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa nyeri dan bengkak yang terjadi. “Harus ada program rehabilitasi medik yang tepat yang mengatasi  nyeri atau bengkak tersebut,” ujuar dr. Hasan.

Penanganan pada rasa nyeri dan bengkak tersebut dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama adalah dengan obat-obatan dan yang bisa juga dilakukan dengan metode interventional pain management, yakni melakukan injeksi yang biasanya dilakukan dengan guiding USG untuk memastikan penyebaran obat yang dimasukkan. Yang kedua dengan memakai modalitas seperti Ultrasound Diathermy, laser terapi dan electrical stimulasi.

Setelah mengatasi rasa nyeri dan bengkak, fase berikutnya yang dilakukan dalam rehabilitasi medic pada sport injury adalah memastikan bahwa pasien atau atlet dapat bertahap melakukan gerakan-gerakan olahraga seperti sebelumnya, dengan latihan-latihan atau prgra, yang ditetapkan sesua kasus masing-masing “Misal dengan latihan luas gerak sendi dan semacamnya. Karena biasanya, kalau sudah lama tidak dipakai,kekuatan otot biasanya juga menurun. Bisa luas gerak sendinya berkurang. Misal patah, atau ACL, dilakukan operasi jadi agak kaku. Luas gerak sendinya bisa kita lakukan terapi sehingga bisa seperti sbelumnya,” terang dr. Hasan.

Fase berikutnya yang bisa dilakukan setelah kekuatan otot dan luas gerak sendi telah mendekati kondisi awal adalah melatih agar atlet dapt kembali ke kemampuan awalnhya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan latihan-latihan ketangkasan, latihan koordinasi dan latihan reaksi. “Itu fase return to sport. Tiap olahraga berbeda-beda latihannya. Kita sebagai tenaga kesehatan harus tau, karena tidak bisa semua disamakan latihannya.” Tandas dr. Hasan. “Kalau untuk mereka yang hanya melakukan olahraga rekreasi, mungkin yang penting tidak nyeri, bengkak dan kembali ke aktivitas sehari-hari. Kalau mau badminton misalnya, gerak shoulder­­-nya harus bisa enak digerakkan lagi. Tapi kalau sudah atlet professional tidak cukup sampai disitu.”

Yang menarik menurut dr. Hasan selain faktor fisik, rehabilitasi medik juga harus menyentuh sisi psikologis untuk mendapatkan hasil terbaik, khususnya untuk sport injury yang terjadi pada atlet-atlet professional.

  1. Hasan menuturkan, atlet yang mengalami cedera biasanya merasa takut mengalami cedera lagi sehingga menjadi ragu-ragu dan tidak bisa kembali ke level kemampuan sebelumnya. Salah satu caranya adalah dengan tetap berinteraksi dengan klub atau komunitas olahraganya, selama masa recovery. “Diusahakan atlet tersebut harus tetap berinteraksi dengan klubnya, atau teman-temannya. Jangan di rumah atau mess saja,” tandas dr. Hasan. “Memang diberi batasan-batasan untuk aktivitas lari, lompat menendang dan gerakan lainnya. Kita bisa atur program. Tapi interaksi lingkungan itu juga penting.”

Ditambahkan dr. Hasan, khusus penanganan atlet-atlet profesional, dimana Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya banyak menjadi rujukan klub klub profesional untuk penanganan sport injury, diperlukan koordinasi antara tim medis di rumah sakit, dengan pelatih atau manajemen klub. Karena menurut dr. Hasan, rumah sakit tidak dapat bekerja sendiri, sebab tujuannya bukan hanya memulihkan cedera, tapi juga bagaimana agar atlet atau pasien dapat return to sport atau kembali pada kemampuan semula, atau bahkan lebih baik dari sebelum terjadinya cedera. “kita tidak menggantikan pelatih, tapi kita bekerja sama. Karena itu juga berkaitan dengan jadwal main, misalnya. Kadang butuh cepat untuk bisa main lagi, kalau misal tidak ada fraktur, komplikasi dan lainnya pastik kita usahakan. Bisa dengan interventional pain management, dll. Tapi semua tergantung diagnosa. Itu sebabnya komunikasi dengan klub sangat penting,” terangnya.

Peralatan lengkap dan canggih di RSOT

Selama ini, RSOT telah menjadi rujukan bagi berbagai kasus sport injury, termasuk berbagai klub  professional seperti Persebaya Surabaya dan berbagai klub lain dari berbagai cabang olahraga.

Selain memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi sport injury, RSOT juga punya dokter-dokter rehabilitasi medik berpengalaman dan didukung oleh berbagai teknologi dan perlengkapan untuk mendukung proses rehabilitasi medik, termasuk alat-alat electrothermy seperti Ultrasound Iathermy, Short Wave Diathermy, Shock Wave Theraphy, High Intensity Laser, dll. Tak hanya itu, ada juga alat-alat untuk melatih kekuatan, melatih koordinasi, ketangkasan, dll.


macam-macam-vitamin-beserta-manfaatnya.jpg

Cedera umumnya terjadi pada saat melakukan olahraga. Pada olahraga high-impact, seperti sepak bola, futsal, badminton, basket, tenis dan olahraga bela diri, kemungkinan akan terjadinya ACL akan lebih tinggi.

cedera ACL
cedera ACL

Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah urat didalam sendi yang berfungsi untuk menjaga kestabilan sendi lutut. ligament sendiri merupakan jaringan fibrosa dan fungsi utamanya adalah menghubungkan tulang ke tulang lain dan mencegah gerakan sendi yang tidak normal.

Cedera pada ligamen akan memakan waktu lama untuk sembuh. Namun, nutrisi yang baik bisa membantu mempercepat proses penyembuhan. Mengkonsumsi kalori yang cukup dengan diet anti-inflamasi, misalnya, bukan hanya dapat mencegah terjadinya cedera, namun juga dapat mempercepat pemulihan pada saat terjadi cedera.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda. Atlet membutuhkan kalori lebih tinggi dibandingkan orang-orang dengan aktifitas ringan, seperti pegawai kantoran. Kebutuhan kalori atlet juga ditentukan dari jenis olahraga dan intensitasnya. Untuk memperbaiki atau menjaga kesehatan, atlet membutuhkan protein sebesar 15%-20%, 30% lemak, dan 50%-55% karbohidrat dari total kalori yang dibutuhkan.

Pencegahan terhadap cedera ligamen ini menjadi penting, mengingat resikonya cukup massif. Inflamasi atau peradangan dapat memicu terbentuknya radikal bebas. Semakin banyak latihan yang dilakukan seorang atlet, maka semakin banyak pula radikal bebas yang dihasilkan.

Radikal bebas ini dapat merusak sel-sel otot dan memacu inflamasi berikutnya dan peroksidasi lemak. Hal ini menjadi penyebab nyeri otot. Bahkan, radikal bebas juga dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah dan berbagai penyakit. Yang juga perlu menjadi catatan, konsumsi alkohol dan rokok dapat meningkatkan oksidasi radikal bebas yang menghasilkan proses inflamasi, yang dapat memperparah cedera.

KONSUMSI YANG BAIK

Langkah pertama pada penangangan cedera yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi peradangan di wilayah cedera dan mengkonsumsi makanan yang mengandung enzim preteolitik, karena enzim proteolitik mempunyai sifat anti-inflamasi. Beberapa contoh makanan yang kaya enzim proteolitik yaitu nanas dan akar jahe.

Selain enzim proteolitik, vitamin A, C, dan E juga memiliki sifat anti-inflamasi yang sangat baik untuk mengurangi peradangan pada cedera. Vitamin A dapat mempercepat pembentukan produk kolagen, yang merupakan vitamin vital dalam ACL, meniscus, ligamen, dan tendon lainnya.

Vitamin C juga dibutuhkan untuk menghasilkan kolagen dalam tubuh dan ini penting dalam penyembuhan ligament. Vitamin C bukanlah vitamin yang bisa disintesis dari tubuh sendiri. Dengan demikian, perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C agar tubuh memilikinya. Untuk meningkatkan kekuatan kerja dari vitamin C, diperlukan Flavonoid yang dapat membantu mengurangi pembengkakan dengan melindungi sel dari kerusakan oksigen, pembuluh darah dari rupture atau kebocoran. Sementara itu, vitamin E membantu meminimalkan stress oksidatif dan pembengkakan lutut. Makanan yang banyak mengandung vitamin A adalah wortel, plum, apricot, melon, paprika merah, mangga, ubu jarar, dan juga ikan tuna, serta sirip biru. Sementara makanan yang kaya akan vitamin C dan Flavonoid meliputi buah sitrus (jeruk, lemon, jeruk nipis), brokoli, tomat, apel, blueberry, stroberi, bawang merah, dan kol. Untuk vitamin E, bisa kita dapatkan di makanan seperti tahu, bayam, almond, biji bunga matahari, alpukat, ikan, minyak zaitu, dan brokoli.

Mineral yang penting juga untuk mempercepat proses penyembuhan cedera adalah zinc. Zink merupakan mineral yang sangat baik dalam memerangi peradangan dan menjaga sistem kekebalan tubuh agar kuat. Ketika satu bagian tubuh terluka, maka tubuh akan mengalihkan semua semua zinc ke bagian yang cedea untuk melawan peradangan. Dengan demikian, bagian lain dari tubuh akan memiliki definisi zinc. Untuk mencegah kekurangan zinc, penting mengkonsumsi makanan yang kaya zinc seperti tiram, gandum, daging sapi, ayam, bayam, kacang-kacangan (almond, pecan).

Selain vitamin A, C, E, Flavonoid serta mineral Zinc, protein merupakan salah satu zat gizi yang paling berperan penting dalam mempercepat proses penyembuhan cedera. Protein dapat dengan mudah didapat dari makanan seperti daging, telur, ikan, tempe, tahu, dan produk kedelai. Kekurangan protein akan menyebabkan berbagai penyakit di tubuh.

Untuk memastikan penyembuhan yang cepat pada cedera akan memerlukan terapi fisik, jika memungkinkan akan dilakukan tindakan operasi, dan dukungan nutrisi yang tepat untuk mempercepat penyembuhan.

kebutuhan gizi bagi atlet

operasi-arthroscopy.jpg

Permasalahan sendi, baik dilutut, bahu, dan beberapa lokasi sendi lainnya, dapat ditangani dengan teknik arthroscopy yang mempunyai banyak keunggulan, yaitu hasil yang maksimal, luka sayatan yang sangat kecil (hanya sebesar ujung bolpen), dan proses recovery-nya sangat cepat.

arthroscopy bahu
arthroscopy lutut

Siapapun yang mengalami permasalahan sendi, tentu menginginkan penanganan terbaik. Jika pun harus dilakukan pembedahan, pasti banyak yang berharap proses operasi dapat dilakukan dengan cepat, efektif, dan rasa sakit atau nyeri pada saat atau pasca pembedahan dapat ditekan seminimal mungkin.

Untuk itu dunia kedokteran orthopedi, mengenal teknik arthroscopy. Secara harfiah, arthros dapat diartikan sebagai sendi, sementara copy adalah melihat atau mengamati, sehingga arthroscopy dapat diartikan sebagai proses melihat kedalam sendi dengan menggunakan alat khusus.

Arthroscopy dilakukan dengan teknik minimal invasive, yaitu membuat luka atau sayatan yang sangat kecil, sekitar 1 cm atau sekitar sebesar ujung bolpen. Sayatan yang dibuat minimal dua. ”kalau dipergelangan, sayatan yang dibuat bisa lebih kecil, hanya 0,5 cm. Arthroscopy dilakukan dengan membuat minimal dua sayatan, satu untuk endoscopic kamera, dan satu lagi alat untuk mengerjakan diagnosis,” terang dr. Their Effendi, Sp. OT.

Arthoscopy memiliki dua fungsi sekaligus, yakni diagnosa permasalahan sendi, dan melakukan penanganan sekaligus. Terkadang, pada permasalahan sendi, terdapat hal-hal yang tidak dapat terdeteksi dengan alat diagnostic lainnya seperti X-Ray atau USG. Dengan menggunakan teknik arthroscopy dimana menggunakan kamera yang dimasukkan dan mampu menjangkau sendi, masalah yang terjadi dalam sendi dapat terlihat melalui monitor.

Setelah diketahui masalah di dalam sendi, proses arthroscopy biasanya langsung dilanjutkan dengan dilakukan penanganan. Jika sudah ada diagnosa untuk dilakukan tindakan arthroscopy, maka tindakan tersebut akan dilakukan dengan membuat sayatan kecil tanpa harus dilakukan open surgery. “ujar dr. Their. “Tapi ada kalanya, arthroscopy dilakukan hanya untuk mengambil sampel dalam sendi. Misalnya ketika pasien dicurigai ada infeksi atau tumor, maka dokter akan mengambil sampelnya kemudian dicek terlebih dahulu patologinya. Biasanya terdapat dua tahap, namun jika tidak terlihat kecurigaan adanya infeksi atau tumor, maka rata-rata dapat dilakukan dalam satu tahap bersamaan.”

Sendi yang paling sering didiagnosa dan ditangani dengan teknik arthroscopy ini adalah sendi lutut dan disusul dengan sendi bahu. Saat ini, sudah berkembang lagi pada diagnosa dan penanganan keluhan pada sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki atau ankle. ”Sendi pinggul juga bisa, tapi cukup sulit karena letaknya yang sangat dalam, tergantung dari lemak atau otot setiap orang, “ungkapnya. “Di Indonesia, arthroscopy untuk sendi pinggul belum terlalu berkembang. Tapi di Jepang, Korea, Eropa, dan Amerika sudah ada yang mendalami.”

KEUNGGULAN

Teknik arthroscopy memiliki banyak keunggulan dikarenakan luka yang kecil atau minimal invasive, proses penyembuhannya menjadi lebih cepat. Secara kosmetik atau bekas luka pasca operasi akan terlihat lebih baik. “Yang ketiga, dan paling penting adalah efektifitasnya. Bagi kami, para doketr, arthroscopy juga lebih mudah karena bisa menjangkau tempat-tempat yang tidak mungkin bisa terjangkau dengan tindakan open syrgery. Proses operasinya pun juga tergolong cukup singkat. Namun, juga tergantung pada operator atau dokter yang melakukannya, “terang dr. Theri.

Dokter-dokter yang dapat melakukan arthroscopy biasanya merupakan dokter-dokter dengan kualifikasi sport injury specialistic mengingat masalah sendi sangat sering terjadi pada atlet atau masyarakat dengan tingkat instensitas olahraga yang cukup tinggi.

Eperti learning curve, semakin banyak kasus yang ditangani seorang dokter, maka semakin cepat waktu yang diperlukan dalam melakukan tindakan rekontruksi ACL (Anterior Cruciate Ligamen) bisa dilakukan dalam waktu ± 60 menit. Jika tindakan dilakukan diarea bahu memerlukan waktu lebih lama. Karena sendi didalam bahu terdiri dari ball and socket sehingga lebih rumit. Didalam sendi bahu terdapat bola dan mangkuk sehingga gerakannya hanya menekuk dan lurus, “ujarnya. “Saat melakukan arthroscopy, pasien biasanya akan dibius regional, tapi khusus untuk bahu, terpaksa masih harus dibius block atau total.”

Menurut dr. Theri, metode arthroscopy dapat diaplikasikan pada semua orang yang mengalami masalah sendi pada grade awal. Jika yang memiliki permasalahan sendi dalam derajat yang cukup berat maka tindaan yang harus dilakukan bukan lagi arthroscopy, melainkan harus ganti sendi, “terangnya.

Yang juga dapat menjadi catatan, arthroscopy adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan alat khusus berbentuk semacam satu tower da terdiri dari beberapa item, seperti monitor, light source, dan mesin pembersihan atau pengairan, sehingga diperlukan kepabilitas dalam pengoperasiannya dimana RSOT sudah mempunyai alat ini dengan tenaga medis yang sudah terlatih.


images-10.jpeg

Salah satu penyakit neuro degenerative yang kerap dialami para Geriatri adalah Parkinson.  Adalah sebuah kondisi dimana terjadi pengecilan di daerah tertentu di otak, yang akhirnya menimbulkan gangguan sistem saraf pusat. Parkinson adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pergerakan, bahkan dalam kasus yang parah akan menyebabkan ketidakmampuan untuk beraktivitas. Untuk pencegahan Parkinson, orang lanjut usia sangat disarankan untuk tetap aktif bergerak atau beraktivitas.

Gejala Tremor, Kaku, hingga Ketidakseimbangan Tubuh

Parkinson ditandai dengan kerusakan otak di daerah bernama substantia nigra dan basal ganglia, dimana daerah tersebut menghasilkan senyawa dopamin yang berfungsi sebagai neutrotransmiter (penghantar stimulus berupa rangsangan ke sel saraf, baik di otak maupun di otot).

“Supaya seorang manusia bisa bangun dan melakukan gerakan yang lincah dan terkontrol, itu karena adanya senyawa dopamin ini. Jika terjadi kerusakan otak dan terjadi pengecilan, akan terjadi ketidakseimbangan senyawa-senyawa di otak, salah satunya dopamin itu turun. Kalau dopamin turun akhirnya timbul gejala-gejala klinis yang dikenal Parkinson,” jelas  dr. Nita Kurniawati, Sp. S dari RS. Orthopedi dan Traumatologi Surabaya (RSOT).

“Parkinson ditandai dengan empat gejala utama. Pertama adalah tremor atau gerakan gemetar. Awalnya di satu sisi dulu, lama-kelamaan dua sisi kanan dan kiri, bisa tangan atau kaki. Kedua, gerakan menjadi kaku sekali. Misal mau berubah posisi dari tangan menekuk menjadi lurus itu sulit sekali. Ketiga, gerakan menjadi lambat. Ini yang paling banyak dikeluhkan orang-orang. Biasanya terjadi pada saat posisi tidur ke duduk, duduk berdiri itu lama sekali. Gejala keempat, pada fase yang lebih berat adalah posture instability atau ketidakstabilan postur. Penderita tidak bisa berdiri atau jalan tegak / lurus. Rasanya seperti mau jatuh, itu karena ada gangguan ketidakseimbangan,” urai dr. Nita.

Yang juga digaris bawahi dr. Nita adalah mengenai perbedaan parkinson dengan parkinsonism. Dijelaskan dr. Nita, Parkinson murni  disebabkan oleh neuro degenerative. Sementara parkinsonism itu mirip parkinson, tapi dari penyebab lain, yang bisa menyebakan kerusakan daerah di otak, dan akhirnya bisa menimbulkan gejala parkinson. Salah satu contohnya adalah stroke, di mana stroke bisa menimbulkan gejala mirip Parkinson.

“Usia penderita parkinsonism juga mulai bergeser ke usia yang lebih muda karena penderita stroke juga disebabkan oleh lifestyle. Usia 40 tahun sudah ada yang mulai terkena, tapi gejalanya berbeda. Bukan tremor duluan, justru postural instability lebih dulu. Jalan tiba-tiba sering jatuh, tapi kakunya nggak ada, tremornya nggak ada. Nah, ini kita curigai parkinsonism. Untuk penyakit semacam itu , mutlak dilakukan imaging kepala atau MRI (Magnetic Resonance Imaging),” jelas dr. Nita lagi.

Lifestyle Buruk Picu Penurunan Dopamin

Senyawa dopamin yang berfungsi penting dalam pergerakan manusia, bisa menjadi rusak karena banyak hal. “Kerusakan otak itu atau proses penuaan lebih cepat terjadi karena radikal bebas. Radikal bebas bisa muncul karena keracunan, obat-obatan terlarang, dan lifestyle yang kurang bagus.  Lifestyle tidak bagus terlihat dari penampilan fisiknya lebih tua. Begitupun juga otak, mudah mengerut. Jika tidak ada rangsangan dari luar, kemudian orangnya cenderung pasif, diam, tidak ada aktifitas sehari-hari. Jika seperti itu otaknya semakin mengecil,” jelas dr. Nita.

dr. Nita menyarankan agar menerapkan lifestyle yang sehat untuk mencegah kerusakan dopamin. Salah satunya adalah rutin olahraga. “Karena olahraga menghasilkan senyawa untuk melawan radikal bebas. Kemudian untuk dopamin sendiri, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa untuk mencegah supaya perburukan gejala parkinson itu tidak berat, minumlah kopi satu gelas sehari dengan catatan jika tidak ada kontra-indikasi. Jadi kalau tidak ada penyakit lain, kopi boleh dikonsumsi meningkatkan dopamin”.

Terapi Penderita Parkinson

Sampai saat ini, penyakit Parkinson belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun demikian, ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien yaitu melalui terapi penggunaan obat-obatan (medis) dan non-medis. Terapi non medis dilakukan dengan cara bahwa pasien harus tetap melakukan exercise, terus aktif melakukan berbagai aktivitas. Sementara itu, terapi medis adalah dengan penggunaan obat-obatan. “Obat-obatan yang diberikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan atau mengganti dopamin dalam tubuh”.

Jika Parkinson sudah berat dan dengan pengobatan tidak membaik, parkinson dapat dibantu dengan tindakan lewat prosedur Deep Brain Stimulation (DBS), yakni memasang alat di otak untuk stimulasi agar mengeluarkan dopamin itu secara berkala. Atau melalui tindakan Bedah pisau gamma (gamma knife) untuk pasien yang tidak dapat menjalani prosedur DBS, bedah pisau gamma dapat menjadi pilihan. Prosedur ini dilakukan selama 15-40 menit, dengan memfokuskan sinar radiasi kuat ke area otak yang terdampak.

Harus Tetap Aktif di Usia Senja

Parkinson memang tidak memiliki risiko kematian secara langsung. namun, jika pasien tidak dapat beraktivitas karena parkinson. Tidak bisa bangun dari tempat tidur, tidak bisa berdiri, susah makan dan minum sehingga nutrisi terganggu, maka akan berpotensi diikuti penyakit lainnya seperti infeksi paru, infeksi kulit, infeksi saluran kencing, dll. “Jadi parkinsonnya sendiri sebenarnya tidak, tapi komplikasi dari parkinson itu yang menyebabkan kematian,” papar dr. Nita.

“Untuk pencegahan parkinson, orang dengan usia lanjut harus tetap aktif. Walaupun usianya sudah tua, sudah pensiun, tetap harus cari kesibukan supaya tidak mempercepat pengecilan otak dan tetap bisa aktifitas sehari-hari. Karena jika tidak, orang bisa depresi. Pada saat orang depresi, senyawa dopamin, serotonin semua turun, sehingga dalam waktu dekat bisa muncul demensia dan parkinson,” tutupnya


lab1-1200x860.jpg

Apakah PRP itu?

PRP atau platelet rich plasma, adalah salah satu komponen dari darah sendiri yang di proses dan dilakukan aktivasi sehingga menghasilkan faktor anti radang dan faktor pertumbuhan.

Platelet Rich Plasma (PRP) / Trombosit Kaya Plasma digunakan dalam menangani berbagai cedera olahraga karena kemampuannya untuk mempercepat kesembuhan dan meregenerasi pertumbuhan sel. Prosedur PRP ini relatif sederhana yaitu hanya dengan menggunakan darah pasien itu sendiri yang diproses secara medis untuk menghasilkan konsentrat trombosit. Konsentrat ini kemudian disuntikkan secara langsung ke dalam lokasi cedera untuk membantu penyembuhan.

Penyuntikan PRP pada daerah yang nyeri

Apakah PRP aman digunankan?

PRP aman digunakan karena ini bukan obat. Yang digunakan untuk penyuntikan adalah darah pasien sendiri, sehingga tidak akan ada risiko penolakan,alergi, infeksi dan penularan penyakit dari orang lain. Termasuk dalam golongan perawatan tanpa obat-obatan, PRP tidak menyebabkan efek samping keracunan, interaksi dan sistemik.

Proses Terapi PRP pada Cedera Olah Raga 

Prosedur perawatan PRP memerlukan waktu sekitar 50-60 menit dari proses awal hingga akhir. Pertama, pengambilan darah dari siku kemudian dilakukan dalam kondisi steril untuk mencegah kontaminasi. Kemudian darah ditransfer ke dalam tabung sekali-pakai dan diputar dengan kecepatan tinggi secara sentrifugal selama beberapa menit untuk memisahkan darah dan plasma. Kemudian plasma disuntikkan kebagian yang mengalami cedera. Saat diaktifkan pada lokasi cedera, plasma akan mengeluarkan faktor -faktor pertumbuhan yang membantu mengendalikan pembengkakan dan mendorong penyembuhan luka.

Faktor anti radang dan faktor pertumbuhan yang dihasilkan bermanfaat untuk:

  • Untuk mengurangi nyeri sendi dan menurunkan proses radang pada pengapuran sendi (ostheoarthritis)
  • Untuk mempercepat proses penyembuhan patah tulang
  • Cedera muskoloskeletal (robek pada ligament atau tendon, radang tendon/tendinitis akibat sport injury)

Prosedur PRP yang optimal memerlukan 2-3 kali terapi. Tindakan PRP digunakan pada pasien dengan nyeri pada persendian namun bukan untuk yang tingkat lanjut.  Untuk kerusakan sendi tingkat lanjut memerlukan operasi ganti sendi (ostheoarthritis)

Perbedaan injeksi PRP dengan suntikan lainnya ialah

Tindakan PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam proses pembaharuan serta tidak ada penolakan dari tubuh dikarenakan bahan yang tergandung dalam PRP ini berasal dari penderita sendiri. Berbeda dengan suntikan kortikosteroid yang dapat menghilangkan peradangan dan nyeri namun bersifat sementara, serta tidak memperbaiki jaringan yang rusak.

Tahap pemisahan komponen sel darah pada alat Centrifuge
Proses PRP

runners_knee1.jpg

Cedera olahraga dapat teradi pada siapa saa, baik atlet
professional maupun mereka yang melakukan olahraga reaksional atau untuk
sekedar “have fun”. Hati-hati
beberapa olahraga popular seperti joging, tenis, atau lainnya pun memiliki
potensi cedera dengan risiko yang cukup fatal.

RUNNER’S KNEE

Istilah ini cukup popular di kalangan pelari, setiap kali para pelari mengalami rasa sakit di bagian lututnya, selalu diistilahkan dengan Runner’s knee. Secara medis runner’s knee disebut dengan Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS). Cedera ini merupakan sebuah kondisi dimana terjadi iritasi di area tempat tempurung lutut (patella) dan bersentuhan dengan tulang paha.

Pada banyak kakus, runner’s knee sering kali disebabkan karena beban lutut saat berlari, dimana lemahnya otot quadriceps membuat tempurung lutut tidak dapat disangga dengan baik dan kemudian bergerak ke luar jalur. Hamstring yang tegang dan memberikan tekanan lebih besar pada lutut juga membuat potensi terjadinya runner’s knee semakin besar.

Itu sebabnya bagi para pelari, adalah sangat penting melakukan latihan beban untuk menguatkan otot-otot kaki dan melakukan peregangan untuk menghilangkan ketegangan pada otot-otot sehingga cedera runner’s knee dapat dihindari.

Selain lemahnya otot, runner’s knee uga dapat disebabkan karena aspek biomekanis. Beberapa contohnya adalah tempurung lutut dapat memiliki sisi luar yang lebih besar dibanding sisi dalam, tempurung terletak terlalu tinggi di atas alur tulang femoral (tulang paha), ada kecenderungan alami dimana tempurung lutut tersebut berpotensi mengalami dislokasi, dll.

Menurut British Hournal of Sport Medicine seperti yang dikutip oleh dunialari.com, runner’s knee ini banyak terjadi pada pelari –pelari muda, pelari reaksional, dan pelari wanita. Khusus pelari wanita hal tersebut dikarenakan ukuran pinggul wanita yang cenderung lebih lebar sehingga sudut perbandingan antara lutut dan tulang paha cenderung lebih besar dan memberikan stress tambahan pada lutut.

Gejala-gejala yang sering dialami oleh mereka yang mengalami runner’s knee adalah nyeri di sekitar tempurung lutut. Terasa tak mampu menyangga tubuh dan terkadang bersuara jika digerakkan. Yang harus jadi catatan, tanjakan atau permukaan yang tak rata dapat memperparah runner’s knee.

TENNIS ELBOW

Hampir 50 persen petenis pernah mengalami Tennis Elbow yaitu kondisi yang menyebabkan rasa nyeri pada siku, utamanya siku bagian luar, karena tendon yang menghubungkan otot-otot lengan bawah siku rusak. Hal ini kemudian mengakibatkan rasa sakit saat menggerakkan tangan bahkan untuk gerakan-gerakan sederhana seperti mengangkat tangan.

Meskipun dinamakan dengan Tennis Elbow, cedera ini juga bisa terjadi pada semua orang. Pada prinsipnya, Tennis Elbow adalah cedera yang disebabkan oleh kegiatan memutar lengan berulang kali. Keteganan yang berlebihan juga dapat merusak tendon dan membuat robekan kecil yang menyebabkan nyeri setelah beberapa waktu, sebelum penderitanya merasakan geala-gejala lebih lanjut.

Tennis Elbow

hipfracture-300x213.jpg

Seseorang yang telah masuk dalam fase osteoporosis memiliki risiko patah tulang yang tinggi. Bahkan, pada sebuah kasus seseorang dengan osteoporosis dapat mengalami patah tulang punggung hanya karena mobil yang ditumpanginya melewati gundukan jalan.

osteoporosis (pengeroposan tulang)

Secara umum, osteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai oleh menurunnya massa atau kepadatan tulang. Pengukuran massa tulang tersebut dapat dilakukan dengan metode Bone Mass Desity (BMD), Angka 0 pada hasil BMD dapat diartikan bahwa orang tersebut memiliki massa tulang yang normal. Sementara jika angka -1 hingga -2 menunjukkan kondisi osteopenia atau pre-osteoporosis, dimana jika tidak ditangani dengan baik maka sekitar lima hingga sepuluh tahun ke depan dapat dipastikan akan masuk pada osteoporosis.

Mengutip sebuah literatur, bahwa risiko patah akan mengikuti tingkat kepadatan tulangnya. Jika hasil BMD menunjukkan angka -1, maka risiko patah tulangnya meningkat dua kali lipat dibanding orang dengan kepadatan tulang yang normal. Hasil BMD -2 berarti risiko patah tulangnya empat kali lebih besar, begitu seterusnya.

Untuk itu, tingkat awareness terhadap osteoporosis ini sangat penting. Sebab, banyak orang yang tidak merasa mengidap osteoporosis dan baru mengetahuinya setelah terjadinya patah tulang.

Patah tulang karena osteoporosis ini umumnya terjadi di tiga tempat, yakni tulang belakang, tulang pinggul, dan tulang pada pergelangan tangan. Sebab, pada saat terjatuh, ketiga bagian tubuh inilah yang biasa digunakan untuk menyangga badan.

Kasus patah tulang pada ketiga tempat tersebut juga kerap terjadi pada orang tua yang sebagian besar karena terpeleset di kamar mandi dan di anak tangga. Biasanya, terpeleset dengan posisi miring kemudian terkena tulang di bagian pinggul atau posisi terduduk yang mengakibatkan patah tulang belakang. Kejadian paling ringan adalah bertumpu dengan tangan yang mengakibatkan tulang pergelangan tangannya patah.

Penanganan pada fraktur atau patah tulang pada pasien yang mengalami osteoporosis ini lebih sulit dikarenakan sudah porotik atau keropos. Namun, sebagai rumah sakit yang concern di bidang orthopedi dan traumatologi, RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya memiliki banyak dokter ahli dan peralatan penunjang untuk mengatasi hal tersebut.

Di RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya, ada banyak penerapan teknologi yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari Partial Hip Replacement, Total Hip Replacement (ganti tulang pinggul keseluruhan), Teknik Kifoplasti pada kasus patah di tulang belakang yakni dengan penyuntikan semen dengan terlebih dulu memasukkan balon di dalamnya sehingga semen tidak meluber kemana-mana, dan teknik-teknik lainnya. Penerapan teknologi tersebut juga ditunjang dengan peralatan dan tim ahli.

Pentingnya tabungan tulang pada masa mengandung, pertumbuhan, dan menjelang menopause bagi wanita. Dengan tabungan kalsium di masa pertumbuhan hingga usia 35 tahun itu, diharapkan kepadatan tulang kita akan bagus, sehingga juga terhindar dari osteoporosis dan patah tulang karena osteoporosis.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat