Please wait...

stetoskop.jpg

Ingin mendapatkan informasi awal mengenai permasalahan tulang ? Majalah Orthocare memberi Anda kesempatan untuk bertanya langsung kepada ahlinya, yakni para dokter dan tenaga ahli di RSOT Surabaya. Kirim pertanyaan seputar tulang ke email: RSOT@surabayaorthopedi.com dengan subject “Konsultasi RSOT”.

QUESTION :

  • Halo dok, adik perempuan saya yang berusia tahun menderita Celebral Palsy, hingga sekarang adik saya tidak dapat melakukan apa-apa, bahkan duduk sekalipun. Kakinya menyilang dengan tangan yang selalu menguncup dan badannya selalu kaku dan kejang dalam waktu tertentu. Adik saya sempat melakukan fisioterapi selama beberapa saat tapi tidak menimbulkan hasil. Apa ada fisioterapi yang dapat membuat adik saya dapat duduk ataupun agar tulangnya tidak kaku? Lalu adakah solusi agar kejang pada adik saya berkurang.

Terima kasih dok.

ASIYAH, SURABAYA

 

ANSWER :

Dear Asiyah,

Pada pasien Celebral Palsy (CP), perkembangan motorik (kemampuan untuk bisa duduk, berjalan, melakukan kegiatan fisik lainnya) ditentukan oleh lokasi dan luasnya kerusakan jaringan otak yang sudah terjadi.

Potensi penderita CP untuk dapat bergerak (duduk, jalan) ditentukan oleh beberapa faktor:

  1. Keseimbangan dan koordinasi
  2. Kekuatan secara menyeluruh
  3. Faktor fisik: tulang, otot

Prognosis jelek untuk prediksi kemampuan duduk adalah bila usia 5 tahun atau lebih, penderita masih belum dapat duduk mandiri.

Fisioterapi akan sangat bermanfaat agar kaku sendi yang diderita adik Asiyah tidak bertambah parah. Solusi untuk kejang harus dievaluasi lebih lanjut. Kami menganjurkan Asiyah dibawa menemui dokter spesialisi saraf agar Asiyah juga berkonsultasi dengan ahli saraf untuk masalah kejangnya.

Semoga jawaban ini dapat membantu.

 

 

QUESTION :

  • Dok, saya Nadine berusia 24 tahun. Tiga bulan terakhir bahu kiri saya terasa panas seperti terbakar. Terkadang hal tersebut hilang lalu muncul lagi. Seorang teman memberitahu saya bahwa itu karena saya berada diruangan ber-AC dan selalu dalam posisi duduk dalam bekerja. Apakah itu benar, dok? Lantas bagaimana solusinya karena hal tersebut sangat mengganggu saya. Terima kasih.

NADINE, BANYUWANGI

 

ANSWER :

Yth, Nadine

Rasa panas seperti terbakar pada bahu bisa disebabakan oleh banyak hal. Mulai dari kelainan kulit, alergi, hingga saraf terjepit. Bila disebabkan oleh saraf terjepit, maka posisi duduk berjam-jam sambil menunduk menatap layar komputer bisa memperberat keluhan. Ini karena saraf yang mempersarafi bahu berasal dari leher. Bila leher tidak berada dalam posisi yang ergonomis dalam bekerja, maka bisa timbul keluhan seperti yang anda rasakan. Seringkali disertai juga oleh rasa pegal pada belakang leher dan bahu.

Ruangan ber-AC biasanya tidak memperberat gejala saraf terjepit, kecuali bila penyebabnya bukan saraf terjepit, melainkan alergi terhadap udara dingin dan kering.

Untuk lebih jelasnya, sebaiknya Anda menemui dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, sehingga penyebab keluhan anda bisa ditemukan dan diobati.

Semoga bermanfaat.

 

QUESTION :

  • Dok, saya Ponco berusia 35 tahun. Lima tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan dan diharuskan memakai pen pada bahu saya. Dokter yang menangani saya mengatakan selang waktu 5 tahun pen tersebut harus segera dilepas. Tapi, hingga sekarang saya masih belum melakukannya karena tidak ada keluhan apapun. Apakah saya harus melepasnya atau pen tersebut dapat dibiarkan?

Terima kasih

PONCO, SURABAYA

 

ANSWER :

Yth, Sdr. Ponco

Pen  merupakan benda asing (logam) yang ditanam di dalam tubuh dengan tujuan mempertahankan posisi tulang yang patah agar dapat tersambung dalam posisi yang baik. Pen terbuat dari logam yang sudah didesain agar bisa ditanam di dalam tubuh. Ia memiliki lapisan pelindung yang mencegah tubuh bereaksi berlebihan terhadap logam, sehingga dapat berada di dalam tubuh dalam waktu yang cukup lama sampai tulang tersambung kembali.

Apabila tulang sudah tersambung dan sembuh seperti sediakala, maka pen sudah tidak lagi dibutuhkan fungsinya. Pen juga merupakan benda asing, yang tidak didesain untuk selamanya ada dalam tubuh seseorang. Sehingga, mengingat fungsi pen yang sudah tidak lagi dibutuhkan saat tulang sudah menyambung dan sifat alaminya sebagai benda asing yang tidak selamanya bisa berada di dalam tubuh, maka sebaiknya pen tersebut dilepas.

 

Semoga bermanfaat.


Badminton.jpg

  • QUESTION

Selamat siang, dok.

Sebelumnya terima kasih sudah diberi kesempatan untuk bertanya lewat rubrik konsultasi majalah Orthocare ini. Nama saya Eko, 30 tahun. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai ayah saya. Beliau sudah berumur hampir 60 tahun. Tapi sampai saat ini masih sangat aktif berolah raga bulutangkis, yang sudah jadi rutinitas beliau sejak muda.

Masalahnya, saat ini saya sering khawatir karena usia beliau sudah cukup sepuh. Tapi intensitas bulutangkisnya masih sangat sering. Seminggu, bisa dua sampai tiga kali beliau masih berlatih. Yang ingin saya tanyakan, apakah intensitas tersebut tidak berbahaya bagi orang seusia beliau. Gerakan-gerakan apa yang harus dihindari dan bagaimana batas amannya saat bermain bulutangkis? Karena keluarga sudah meminta beliau untuk mengurangi intensitas bermain, tapi beliau tidak mau, karena memang sudah hobi.

Terima kasih jawabannya

Eko, Surabaya

 

  • ANSWER

Yth Tn. Eko

Olahraga memang bisa dilakukan oleh kalangan usia berapapun, baik tua maupun muda. Seberapa tinggi intensitas olahraga yang diperbolehkan tidak semata-mata bergantung pada usia. Usia boleh saja hampir 60 tahun, tapi selama fisik masih mendukung dan tidak ada keluhan yang dirasakan, maka olahraga tersebut boleh dilakukan.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa semakin kita menua, akan semakin menurun kemampuan fisik kita. Organ-organ tubuh tidak akan luput dari proses penuaan. Sehingga tetap harus lebih berhati-hati bila memasuki usia di atas 50 tahun.

Olahraga yang dianjurkan untuk kalangan usia di atas 50 tahun adalah olahraga low impact, non-kontak, dengan intensitas ringan-sedang. Misalnya jalan kaki, sepeda, berenang, yoga dan jogging.

Badminton memang termasuk olahraga high impact. Sehingga, apabila masih tetap ingin melakukan olahraga ini, disarankan untuk mengurangi intensitas, frekuensi, dan durasinya. Misalnya, badminton 2-3 kali seminggu, maksimal 1 jam, dan sebisa mungkin mengurangi gerakan-gerakan yang eksplosif.

Juga untuk diwaspadai, karena badminton termasuk olahraga overhead, dimana tangan dan siku sering berada lebih tinggi dari bahu, maka rawan mengalami cedera bahu. Untuk menghindarinya, lakukan pemanasan dan peregangan yang cukup, utamanya bahu, selama 10-15 menit sebelum olahraga.

Salam,

dr. Gede Chandra, Sp.OT

 

 

Bagi Anda yang ingin mendapatkan informasi awal mengenai keluhan-keluhan seputar kesehatan tulang dan sendi, dapat mengirimkan pertanyaan kepada para dokter ahli di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya melalui rubrik Konsultasi. Kirim pertanyaan Anda ke email: rsot@surabayaorthopedi.com Subjek/judul: “TANYA DOKTER”


lari.jpg

CEDERA adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga.

Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didapatkan pada saat berolahraga. Bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.

Menurut dr. Theri Efendi, Sp. OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligament dan jaringan lunak lainnya seperti meniscus (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan, dan cedera otot di sekitar lutut seperti hamstring, quadriceps, dll. Cedera yang serig terjadi pada lutut adalah cedera Anterior Cruciate Ligaments (ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulamg paha dengan tulang kering di sendi lutut.

Sementara di daerah ankle, yang paling sering terjadi adalah sprain ankle, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan keseleo. Pada ankle, ligamen yang paling lemah dan sering cedera adalah anterior ligament. Selain itu, cedera pada ankle yang sering terjadi adalah pada tendon achilles, yang merupakan tendon besar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari, dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitive, overused atau dilakukan dengan intensitas sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan stress fracture.

“Cedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga high impact dan cenderung banyak body contact-nya. Seperti sepak bola, basket, dll”, terang dr. theri. “Cedera olahraga paling banyak disebabkan karena body contact, tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dengan jatuh posisi tidak betul, atau melakukan Gerakan memutar seperti pivot (Gerakan berputar secara tiba-tiba dengan berporors salah satu kaki, red) itu juga paling sering menyebabkan cedera pada lutut dan ankle.”

Untuk itu, dr Theri menekankan pentingnya pemanasan dan pendinginan untuk menghindari cedera. Meski dr. Theri tidak memungkiri, bahwa cedera pun dapat terjadi pada saat warming-up dan cooling down. “Itu sebabnya, kita harus tahu batasan atau kemampuan kita sendiri. Latihan sejak dini dan rutin juga diperlukan, agar otot lebih kuat dan siap untuk diajak berolahraga. Pemanasan dan pendinginan dengan baik tetap harus dilakukan sebelum dan sesudah berolahraga,” urainya.

Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga makin banyak digemari, termasuk olahraga urban sport, seperti running. Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. “Salah satunya yang sedang in adalah olahraga lari. Merasa mau event, persiapan kurang, tapi ingin sampai finish. Jarak yang diambil yang pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,” papar dr. Theri, “Nutrisi juga harus diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk menunjang olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yang kurang saat berolahraga.”

 

JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT, LAKUKAN RICE

Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat berolahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. “Yang pertama harus dilakukan adalah Rest (istirahat). Jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,” ujar dr. Theri.

Kemudian, Langkah berikutnya adalah Teknik ICE, yakni icing, compressing, dan elevating. Icing adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri, salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.

“Kalau cedera itu sebenarnya ada kerusakan jaringan di dalam, kerusakan jaringan lunak di dalam, termasuk di dalamnya pembuluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya pendarahannya akan semakin banyak,” papar dr. Theri. “Kalau dikasih es, kontraksi, pendarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres alcohol juga tidak betul. Penanganan dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.”

Proses elevating juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki dapat digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. “Kalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kecang, tapi juga tidak terlalu kendor,” katanya. “Kalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.”

 

PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT

Seiring dengan tren olahraga, penanganan pada sport injury di Indonesia juga terus berkembang,. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub spesialisasi sport injury.

RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan peralatan modern. Salah satunya adalah arthroscopy, Teknik operasi minimal invasive dengan luka yang sangat kecil bahkan kurang dari 1cm dan prosesnya recovery yang sangat cepat.

Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehab medik dari dokter dan fisioterapis yang memiliki program dan Standart Of  Procedure (SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini, RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya, dan berbagai klub professional lainnya.

“Target pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tahu, kapan mulai bisa Latihan lagia, kapan bisa tanding lagi, dan seterusnya,” papar dr. Theri. “Sebab, dalam penanganan sport injury di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahraga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pension,” tutup dr. Theri.


© 2021 PT. SURABAYA ORTHOPEDI AND TRAUMATOLOGY HOSPITAL. All Rights Reserved.

WhatsApp Live Chat