Saat berolahraga maupun beraktivitas sehari – hari dapat berisiko terjadinya cedera. Masih banyak orang yang belum menyadari pentingnya penanganan cedera dengan tepat, misalnya sudah tahu cedera namun tetap melanjutkan aktivitas. Atau salah dalam penanganan cedera misalnya pergi ke tukang urut. Hal tersebut justru akan menimbulkan dampak cedera yang lebih serius.
Lalu bagaimana sebaiknya yang dilakukan jika mengalami cedera ?
Yuk ikuti Online Discussion dengan topik
“Waspada ! Jangan Salah Penanganan Cedera.”
Narasumber : dr. Theri Efendi, Sp.OT (K)
Hari /tanggal : Sabtu, 6 Maret 2021
Pukul : 10.00 WIB
Live Zoom dan Youtube
Daftar sekarang di:
bit.ly/healthtalkrsot
atau scan barcode pada gambar
ID meeting dan password akan dikirim melalui email.
Dapatkan doorprize menarik dari PT. Novell Pharmaceutical Laboratories !
Gratis dan terbuka untuk umum !
Ikuti Instagram & Youtube kami : @rsotsurabaya
Dilansir dari We Are Social, disebutkan pada awal tahun 2020 ada 338,2 juta masyarakat Indonesia yang memiliki smartphone, dengan 160 juta pengguna aktif media sosial (medsos). Bila dibandingkan dengan tahun 2019, maka pada tahun ini ada peningkatan 10 juta orang indonesia yang aktif di medsos. Pengguna aktif smartphone dan media sosial ini bukan hanya pada kalangan anak muda saja, namun dari remaja hingga usia lanjut (16 hingga 64 tahun).
Fenomena masifnya penggunaan smartphone ini cukup mengkhawatirkan, pasalnya, terdapat fakta lain yang muncul akibat banyaknya pengguna smartphone yang mengakibatkan nyeri atau sakit pada kepala, leher, hingga punggung. Kondisi ini kemudian disebut sindrom Text Neck.
Sindrom Text Neck adalah nyeri di leher, otot leher, dan bahu, bahkan mungkin melibatkan degenerasi tulang, persendian, atau cakram tulang belakang di leher. Hal ini menjadi masalah apabila cedera di sekitar leher terjadi berulang kali akibat penggunaan ponsel dalam jangka waktu yang lama.
Gejala Sindrom Text Neck
Leher kaku dan sulit bergerak saat menggerakkan leher
Nyeri biasanya di bagian leher bawah dan nyeri terasa tumpul atau tajam seperti ditusuk pada kasus yang sudah berat
Nyeri menyebar hingga terasa di bahu dan lengan
Kelemahan otot-otot bahu
Sakit kepala
Nyeri lebih terasa saat leher menunduk
Nyeri atau kesemutan, kebas, yang menjalar hingga bahu, lengan, tangan dan/atau jari tangan
Akibat dari Text Neck Syndrome
Bila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dapat menyebabkan nyeri leher dan punggung yang kronis, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Pada anak-anak, saat mereka memasuki usia 20-30 tahun akan terjadi perubahan degeneratif pada postur tubuh mereka. Kemungkinan mereka akan memiliki postur tubuh bungkuk pada usia yang relative masih muda.
Bukan hanya itu, sindrom ini juga biasa mengganggu kesehatan mereka yang dapat berakibat anak-anak mengkonsumsi obat-obatan lebih banyak atau bahkan menjalani operasi di usia muda. Kondisi text neck yang menahun juga dapat mengakibatkan bantalan antar ruas tulang belakang keluar dari posisi sebelumnya sehingga menekan saraf. Saraf pada leher berfungsi untuk mengatur nafas, jika saraf tersebut rusak, maka kita akan mengalami kesulitan dalam bernafas.
Bagaimana Mengatasi Text Neck Syndrome
Batasi Penggunaan Smartphone
Saat postur seseorang berada dalam posisi tegak, maka kepala akan seimbang dengan leher. Namun saat kepala menunduk, maka kondisi kepala dan leher menjadi tidak seimbang.
Posisikan Smartphone Sejajar dengan Mata
Bila terpaksa menggunakan smartphone dalam waktu lama, usahakan posisi smartphone sejajar dengan posisi mata. Sebuah studi mengatakan bahwa berat kepala manusia pada posisi netral sekitar 5-6 kg. pada posisi menunduk dengan sudut 15° berat ini bertambah 20 kg, 30 kg pada posisi menunduk 60°. Dapat dibayangkan berapa berat yang harus ditopang oleh leher setiap harinya saat anda menggunakan smartphone dengan kepala menunduk?
Istirahat saat Menggunakan Smartphone
Berilah istirahat pada diri anda sekitar 20-30 menit sekali saat sedang menggunakan smartphone. Letakkan smartphone sekitar 2-3 menit untuk memberikan kesempatan kepada leher, punggung, dan bahu agar dapat berelaksasi.
Lakukan Peregangan Otot
Tundukkan dan tengadahkan kepala secara bergantian, lalu tekuk ke kanan dan kiri bergantian. Juga lakukan gerakan memutar bahu searah dan berlawanan arah jarum jam secara bergantian. Dengan peregangan ini diharapkan otot dapat kembali normal dan terhindar dari sindrom text neck.
Hubungi Dokter
Bila nyeri leher yang anda rasakan masih terus berlanjut maka saatnya untuk mengunjungi dokter. Semakin cepat anda mendapatkan perawatan dari ahlinya, semakin sedikit resiko atau akibat yang dapat terjadi pada kesehatan anda.
Kelainan bentuk tulang belakang pada anak bisa terjadi pada berbagai tahap perkembangan,semasa bayi,ataupun di masa balita dan kanak-kanak. Bagaimana cara mendeteksi secara dini kelainan bentuk punggung buah hati kita?
3 kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang wajib dikenal oleh orang tua :
Kifosis
Kifosis adalah kelainan bentuk tulang belakang di mana tulang belakang bagian atas membungkuk lebih dari 40 derajat. Dari samping, orangtua akan bisa mengamati bahwa punggung anak terlihat bungkuk/sangkuk (Bahasa Jawa). Selain karena bawaan lahir, kifosis pada balita bisa terjadi karena berbagai sebab seperti :
Masalah metabolic
Kondisi neuromuscular
Brittle bone disease, kondisi yang membuat tulang sangat mudah patah.
Penyakit
Tumor tulang belakang
Infeksi TBC tulang belakang
Kebiasaan duduk sambil membungkuk saat belajar atau bermain gawai juga dapat membuat postur tubuh anak berubah menjadi sangkuk (kifosis postural). Kifosis pada balita bisa dikenali dari gejala seperti, kepala cenderung lebih condong ke depan dibanding bagian tubuh kita, bagian belakang atas terlihat lebih menonjol.
Hiperlordosis
Hiperlordosis atau swayback adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak dimana area bawah tulang belakang melengkung ke arah dalam secara berlebihan. Penyebabnya antara lain :
Kelainan neuromuscular, misal cerebral palsy.
Achondroplasia : Gangguan pertumbuhan tulang.
Discitis : Peradangan pada ruang di antara tulang belakang akibat infeksi.
Trauma
3. Scoliosis
Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang pada anak yang melengkung ke samping seperti huruf C atau S, dengan sudut lebih dari 10 derajat (pengukuran derajat pada xray tulang belakang)
Penyebab :
Sebagian kecil kasus scoliosis disebabkan oleh cerebral palsy atau distrofi otot, tapi mayoritas lainnya tidak diketahui secara pasti penyebabnya (idiopatik). Scoliosis juga disebabkan, karena cacat bawaan lahir dimana ruas-ruas tulang belakang tidak tumbuh sempurna.
Gejala umum scoliosis pada balita dan anak di antaranya adalah :
Bahu miring dan tidak sejajar, dengan satu tulang belikat terlihat lebih menonjol.
Rusuk yang terlihat lebih menonjol pada satu sisi.
Tinggi dan posisi pinggul yang tidak sejajar.
Besar payudara tidak sama.
Faktor resiko apa saja yang harus diwaspadai :
Usia puber, Anak perempuan usia 8-13 tahun, anak laki-laki usia 9-14 tahun. Rentang usia ini adalah masa dimana anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan yang pesat. Oleh karena itu skrining scoliosis di sekolah-sekolah dilakukan untuk kelompok usia ini, tujuannya dalah mendeteksi adanya gejala idiopatic adolescent scoliosis sedini mungkin.
Scoliosis lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
Riwayat keluarga : ibu, nenek juga penderita scoliosis. Bakat menderita scoliosis bisa diturunkan di keluarga. Meskipun demikian, belum tentu bakat tersebut diturunkan ke semua anak dalam satu keluarga. Scoliosis juga bisa terjadi walau tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga.
Kelainan bentuk tulang belakang pada balita dan anak bisa ditangani dengan latihan postur,pemakaian brace, atau prosedur operasi, tergantung dengan tingkat keparahannya. Makin cepat mendapat penanganan, biasanya hasilnya akan makin baik.
Apa yang bisa terjadi bila tidak mendapat penanganan yang tepat :
Anak mudah mengeluh sakit punggung. Keluhan sakit akan makin meningkat seiring pertambahan usia.
Scoliosis berat dapat menyebabkan anak mudah sesak saat beraktifitas. Fungsi paru terganggu.
Tidak percaya diri karena diolok-olok teman.
4 HAL YANG BISA DILAKUKAN ORANGTUA :
K : Kembangkan kebiasaan duduk yang baik. Batasi pemakaian gawai.
A : Ajak anak berolahraga diluar ruangan. Belajar renang akan sangat membantu mengubah postur tubuh.
K : Kenali sejak dini tanda dan gejala kelainan bentuk punggung.
I : Ikuti saran dan petunjuk dokter bila anak telah mendapatkan pemeriksaan