Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

Badminton.jpg

  • QUESTION

Selamat siang, dok.

Sebelumnya terima kasih sudah diberi kesempatan untuk bertanya lewat rubrik konsultasi majalah Orthocare ini. Nama saya Eko, 30 tahun. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai ayah saya. Beliau sudah berumur hampir 60 tahun. Tapi sampai saat ini masih sangat aktif berolah raga bulutangkis, yang sudah jadi rutinitas beliau sejak muda.

Masalahnya, saat ini saya sering khawatir karena usia beliau sudah cukup sepuh. Tapi intensitas bulutangkisnya masih sangat sering. Seminggu, bisa dua sampai tiga kali beliau masih berlatih. Yang ingin saya tanyakan, apakah intensitas tersebut tidak berbahaya bagi orang seusia beliau. Gerakan-gerakan apa yang harus dihindari dan bagaimana batas amannya saat bermain bulutangkis? Karena keluarga sudah meminta beliau untuk mengurangi intensitas bermain, tapi beliau tidak mau, karena memang sudah hobi.

Terima kasih jawabannya

Eko, Surabaya

 

  • ANSWER

Yth Tn. Eko

Olahraga memang bisa dilakukan oleh kalangan usia berapapun, baik tua maupun muda. Seberapa tinggi intensitas olahraga yang diperbolehkan tidak semata-mata bergantung pada usia. Usia boleh saja hampir 60 tahun, tapi selama fisik masih mendukung dan tidak ada keluhan yang dirasakan, maka olahraga tersebut boleh dilakukan.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa semakin kita menua, akan semakin menurun kemampuan fisik kita. Organ-organ tubuh tidak akan luput dari proses penuaan. Sehingga tetap harus lebih berhati-hati bila memasuki usia di atas 50 tahun.

Olahraga yang dianjurkan untuk kalangan usia di atas 50 tahun adalah olahraga low impact, non-kontak, dengan intensitas ringan-sedang. Misalnya jalan kaki, sepeda, berenang, yoga dan jogging.

Badminton memang termasuk olahraga high impact. Sehingga, apabila masih tetap ingin melakukan olahraga ini, disarankan untuk mengurangi intensitas, frekuensi, dan durasinya. Misalnya, badminton 2-3 kali seminggu, maksimal 1 jam, dan sebisa mungkin mengurangi gerakan-gerakan yang eksplosif.

Juga untuk diwaspadai, karena badminton termasuk olahraga overhead, dimana tangan dan siku sering berada lebih tinggi dari bahu, maka rawan mengalami cedera bahu. Untuk menghindarinya, lakukan pemanasan dan peregangan yang cukup, utamanya bahu, selama 10-15 menit sebelum olahraga.

Salam,

dr. Gede Chandra, Sp.OT

 

 

Bagi Anda yang ingin mendapatkan informasi awal mengenai keluhan-keluhan seputar kesehatan tulang dan sendi, dapat mengirimkan pertanyaan kepada para dokter ahli di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya melalui rubrik Konsultasi. Kirim pertanyaan Anda ke email: rsot@surabayaorthopedi.com Subjek/judul: “TANYA DOKTER”


keseleo-terkilir-dooktersehat-1.jpg

Keseleo pada pergelangan kaki sering sekali terjadi saat kita melakukan aktivitas sehari-hari. Keseleo pada pergelangan kaki atau yang lebih dikenal dengan ankle sprain adalah cedera pada satu atau lebih ligament (jaringan penghubung antara tulang). tingkat keparahan cedera yang terjadi dapat bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung dari berat ringannya cedera pada ligamen tersebut.

Ankle Sprain dapat disebabkan oleh karena jatuh, diman pergelangan kaki terpuntir ke dalam atau keluar. Kejadian ankle sprain lebih banyak pada kasus orang yang sedang olahraga, menggunakan sepatu yang sesuai dengan bentuk kakinya dan berjalan atau berlari pada permukaan tanah yang tidak rata/bergelombang. Kejadian ankle sprain yang berulang dapat menyebabkan pergelangan kaki menjadi tidak stabil dan hal tersebut dapat meningkatkan resiko terjadinya ankle sprain yang berulang di kemudian hari, dan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan tulang rawan sendi pergelangan kaki.

Sprain dibagi menjadi 3 derajat, berdasar berat kerusakan yang terjadi pada ligament,

  1. Derajat 1 (Ringan)

Ligamen mengalami robekan mikroskopik (stretched), iasanyha ditandai dengan pembekakan dan nyeri ringan di sekitar pergelangan kaki.

  1. Derajat 2 (Sedang)

Ligamen mengalami robekan parsial. Nyeri dan pembengkakan yang dirasakan lebih berat dari derajat 1 namun lebih ringan dari derajat 3.

  1. Derajat 3 (berat)

Ligamen mengalami robekan total. Pembengkakan dan nyeri yang terjadi cukup berat dan dapat disertai instabilitas pada ankle atau patah tulang. gejala yang dirasakan adalah nyeri, bengkak, memar instabilitas (bila terjadi robekan total pada ligament atau disertai dislokasi dari sendi pergelangan kaki). Bila terjadi robekan ligament yang cukup berat, pasien terkadang akan mendengar suara “pop”, yaitu suara putus/robeknya ligament tersebut.

Bila terjadi kesleo pada pergelangan kaki, penanganan pertama yang dapat dilakukan PRICE adalah Protection, Rest, Ice, Compression and Elevation. Protection dan Rest adalah melindungi dan mengistirahatkan kaki yang cedera. Ice adalah kompres dengan air dingin selama 20-30 menit sebanyak 3-4 kali sehari. Compression dapat dilakukan dengan melakukan balutan dengan elastic bandage arau ankle brace / ankle splint. Sementara Elevation adalah elevasi tungkai agar dapat mengurangi pembengkakan. Jika saat berjalan terasa nyeri, dapat menggunakan tongkat atau walker. Namun bila bengkak atau nyeri yang terjadi cukup berat, sebaiknya segera periksakan ke dokter spesialis Orthopedi dan Traumatologi, agar dapat dilakukan pemeriksaan yang lebuh detail, baik pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan radiologis (X-Ray, USG, MRI). Kami tidak menyrankan melakukan pemijatan di daerah yang mengalami cedera, karena pemiatan dapat memperparah kerusakan yang sudah terjadi akibat cedera awal dan tentu juga dapat menghambat proses penyembuhan pada jaringan tersebut.

Hampir seluruh kasus ankle sprain dapat ditangani tanpa pembedahan. Bahkan robekan yang cukup beratpun, bila dilakukan penanganan dengan tepat, akan sembuh dengan abaik. Secara umum, tata laksana kesleo pada sendi pergelangan kaki, dibagi menjadi 3 tahap, yaitu fase 1 yang menkankan pada istirahat, dan melindungi pergelangan kaki (brace, splint, cast) dan mengurangi pembengkakan dengan kompres dingin dan elevasi tungkai. Pada fase 2, tatalaksana ditekankan pada lingkup gerak sendi, kekuatan dan fleksibilitas sendi pergelangan kaki. Pada fase 3, latihan ditekankan untuk kembali ke aktifitas sehari-hari atau aktifitas olahraga.

Apabila nyeri dirasa cukup hebat, anda dapat mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi nyeri sesuai dosis, yaitu golongan obat NSAIDs (Non Streroidal Anti Inflamatory Drugs). Rehablititasi pada ankle sprain juga porsi penting untuk mencegah kekakuan, meningkatkan kekuatan sendi pergelangan kaki, dan mencegah terjadinya masalah kronis pergelangan kaki, sperti stabilitas dan osteoarthritis.

Terapi pembedahan pada ankle sprain sangat jarfang dilakukan jika cedera gagal membaik dengan terapi non-operatif (biasanya dilakukan observasi selama 6 bulan sejak kejadian cedera), dan apabila terdapat ketidakstabilan sendi pergelangan kaki meskipun sudah dilakukan rehabilitasi dan terapi tanpa pembedahan lainnya. Pilihan pembedahan yang dapat dilakukan adalah dengan arthroskopi atau mini-open technique yang akan dikerjakan oleh dokter spesialis orthopedi dan traumatologi. Ligamen yang cedera akan direkonstruksi dengan memakai augmentasi atau graft yang berasal dari tendon pasien sendiri.

Cara terbaik untuk mencegah kesleo pergalangan kaki adalah dengan tetap menjaga kekuatan otot di sekitar sendi, menjaga keseimbangan dan fleksibilitas pergelangan kaki. Apabila melakukan aktifitas fisik, lakukan pemanasan dan peregangan terlebih dahulu, berlari atau bekerja di permukaan tanah yang tidak rata, gunakan sepatu yang nyaman sesuai dengan aktifitas, istirahat atau hentikan aktifitas apabila anda merasakan kelelahan atau nyeri pada pergelangan kaki anda.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat