">TRAUMA CENTER – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

protein.jpg

Cedera olahraga merupakan suatu hal yang tidak diharapkan dari seorang atlet olahraga saar menjalani pertandingan maupun saat latihan. Cedera pada atlet haruslah cepat ditangani dengan benar, agar tidak terjadi hal yang fatal. Hal yang sering terjadi pada atlet kebnayakan adalah cedera yang walnya tidak dirasa, namun lama kelamaan sakitnya akan memberat hingga memerlukan tindakan operasi. Pada artikel ini akan dibahas jenis makanan yang dapt mempercepat pemulihan cedera agar dapat berktivitas kembali saperti semula.

  1. Makanan Tinggi Protein

Protein merupakan zat pembangun yang dibtuhkan tubuh untuk mengganti sel-sel yang rusak. Mengkonsumsi makanan tinggi protein dapat mengurangi inflamasi/peradangan serta mengembalikan massa otot yang hilang. Makanan tinggi protein antara lain, daging sapi, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, susu dan produk olahan susu.

  1. Makanan Tinggi Serat

Pada seseorang yang mengalami cedera, aktivitas fisik yang dilakukan akan berkurang, sehingga diperlukan makanan tinggi serat untuk melancarkan pencernaan guna mencegah terjadinya sembelit. Begitupula jika kita mengkonsumsi makan tinggi serat agar asam lemak yang di hasilkan dari makanan sumber protein tidak menumpuk yang dapat menyebabkan kandungan lemak di dalam tubuh meningkat dan berbahaya bagi kesehtan tubuh. makanan yang tinggi serat terdapat pada sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian.

  1. Vitamin C

Vitamin C bermanfaat dalam proses penyembuhan selain fungsi antioksidan, merupakan komponenutama jaringan ikat (connective tissue), meningkatkan pertumbuhan fibroblast  dan chondrocyte (produksi jaringan ikat dan kartilago).

Makanan tinggi vitamin C yaitu paprika merah dan kuning, jeruk, mangga, tomat, papaya, berry, kiwi dan sayuran berdaun gelap.

  1. Makanan Tinggi Kalsium dan Vitamin D

Kalsium penting untuk perbaikan kepadatan tulang dan kontraksi otot normal. Untuk membentuk penyerapan kalsium, dibutuhkan vitamin D. Makanan tinggi vitamin D seperti kuning telur, jamur, susu, ikan salmon, tuna.

  1. Seng (Zn)

Seng (Zn) komponen penting dalam membantu penyembuhan luka dan pertumbuhan jaringan. Kekurangan seng (Zn) dalam makanan menunda penyembuhan luka. Makanan yang mengandung seng (Zn) didapat pada kerang, ikan, daging sapi, ayam, legume, kacang-kacangan.

  1. Magnesium

Magnesium berperan penting dalam pembentukan tulang dan meningkatkan kekuatan tulang. Magnesium dapat ditemukan pada alpukat, kacang mete, kacang tanah, almond, kacang merah, kacang polong.

Pada dasarnya, setiap olahraga yang dilakukan memiliki kebutuhan akan asupan gizi yang cukup. Namun, ada baiknya anda mngkonsumsi asupan yang cocok dengan aktivitas olahraga yang biasa anda laukan. Apa saja? Berikut diantaranya :

  1. Basket

Makanan yang dianjurkan untuk olahraga basket adalah makanan yang mengandung perpaduan antara karbohidrat dan protein, seperti paduan nasi dan ayam, atau sandwich atau rotis daging. Tapi makanan berat sperti ini disarankan dikonsumsi sekitar 2 jam sebelum main. Jika kurang dari itu, akan berpotensi menimbulkan kram perut.

Sebelum pertandingan dimulai, juga disarankan untuk mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran.

  1. Running

Sama dengan basket, asupan yang disarankan untuk dikonsumsi beberapa jam sebelum melakukan olahraga lari adalah karebohidrat. Hal ini dikarenakan karbohidrat lebih mudah dicerna dan dapat diandalkan sebagai sumber energy saat berolahraga. Berbeda dengan  lemak yang membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Jika ingin melakukan sprint, ada baiknya anda mengkonsumsi asupan yang menjaga perut tetap ringan. Anda bisa mengkonsumsiselai kacang, madu, pisang atau susu cokelat.

  1. Sepak Bola

Sepakbola adalah salah satu olahraga dengan durasi yang cukup panjang. Untuk itu, diperlukan strategi asupan untuk menjaga stamina anda tetap prima sepanjang pertandingan.

Pada masa istirahat half-time,  anda bisa mngkonsumsi telur rebus yang mengandung banyak protein dan dapat membantu tubuh memperbaiki jaringan yang rusak dan menjadi bahan bakar otot-otot tubuh.

 


service-sports-1.jpg

Sisi rehabilitasi medik menjadi unsur yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari penanganan sport injury. Yang menarik, tak hanya sisi fisik saja, sisi psikologis ternyata juga punya peran penting dalam pemulihan cedera olahrga. Seperti apa?

Secara umum, permasalahan yang terjadi pada sport injury  adalah dikarenakan overused atau latihan yang berlebihan, salah gerak dan benturan saat melakukan kegiatan olahraga. hal tersebut kemudian menimbulkan rasa nyeri yang tidak jarang diikuti dengan bengkak sehingga sesorang tidak dapat melakukan aktivitas olahraga seperti biasanya.

Itu sebabnya,menurut dr. Hasan Wijaya, Sp. KFR, dari sisi rehabilitasi medik, fase pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa nyeri dan bengkak yang terjadi. “Harus ada program rehabilitasi medik yang tepat yang mengatasi  nyeri atau bengkak tersebut,” ujuar dr. Hasan.

Penanganan pada rasa nyeri dan bengkak tersebut dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama adalah dengan obat-obatan dan yang bisa juga dilakukan dengan metode interventional pain management, yakni melakukan injeksi yang biasanya dilakukan dengan guiding USG untuk memastikan penyebaran obat yang dimasukkan. Yang kedua dengan memakai modalitas seperti Ultrasound Diathermy, laser terapi dan electrical stimulasi.

Setelah mengatasi rasa nyeri dan bengkak, fase berikutnya yang dilakukan dalam rehabilitasi medic pada sport injury adalah memastikan bahwa pasien atau atlet dapat bertahap melakukan gerakan-gerakan olahraga seperti sebelumnya, dengan latihan-latihan atau prgra, yang ditetapkan sesua kasus masing-masing “Misal dengan latihan luas gerak sendi dan semacamnya. Karena biasanya, kalau sudah lama tidak dipakai,kekuatan otot biasanya juga menurun. Bisa luas gerak sendinya berkurang. Misal patah, atau ACL, dilakukan operasi jadi agak kaku. Luas gerak sendinya bisa kita lakukan terapi sehingga bisa seperti sbelumnya,” terang dr. Hasan.

Fase berikutnya yang bisa dilakukan setelah kekuatan otot dan luas gerak sendi telah mendekati kondisi awal adalah melatih agar atlet dapt kembali ke kemampuan awalnhya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan latihan-latihan ketangkasan, latihan koordinasi dan latihan reaksi. “Itu fase return to sport. Tiap olahraga berbeda-beda latihannya. Kita sebagai tenaga kesehatan harus tau, karena tidak bisa semua disamakan latihannya.” Tandas dr. Hasan. “Kalau untuk mereka yang hanya melakukan olahraga rekreasi, mungkin yang penting tidak nyeri, bengkak dan kembali ke aktivitas sehari-hari. Kalau mau badminton misalnya, gerak shoulder­­-nya harus bisa enak digerakkan lagi. Tapi kalau sudah atlet professional tidak cukup sampai disitu.”

Yang menarik menurut dr. Hasan selain faktor fisik, rehabilitasi medik juga harus menyentuh sisi psikologis untuk mendapatkan hasil terbaik, khususnya untuk sport injury yang terjadi pada atlet-atlet professional.

  1. Hasan menuturkan, atlet yang mengalami cedera biasanya merasa takut mengalami cedera lagi sehingga menjadi ragu-ragu dan tidak bisa kembali ke level kemampuan sebelumnya. Salah satu caranya adalah dengan tetap berinteraksi dengan klub atau komunitas olahraganya, selama masa recovery. “Diusahakan atlet tersebut harus tetap berinteraksi dengan klubnya, atau teman-temannya. Jangan di rumah atau mess saja,” tandas dr. Hasan. “Memang diberi batasan-batasan untuk aktivitas lari, lompat menendang dan gerakan lainnya. Kita bisa atur program. Tapi interaksi lingkungan itu juga penting.”

Ditambahkan dr. Hasan, khusus penanganan atlet-atlet profesional, dimana Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya banyak menjadi rujukan klub klub profesional untuk penanganan sport injury, diperlukan koordinasi antara tim medis di rumah sakit, dengan pelatih atau manajemen klub. Karena menurut dr. Hasan, rumah sakit tidak dapat bekerja sendiri, sebab tujuannya bukan hanya memulihkan cedera, tapi juga bagaimana agar atlet atau pasien dapat return to sport atau kembali pada kemampuan semula, atau bahkan lebih baik dari sebelum terjadinya cedera. “kita tidak menggantikan pelatih, tapi kita bekerja sama. Karena itu juga berkaitan dengan jadwal main, misalnya. Kadang butuh cepat untuk bisa main lagi, kalau misal tidak ada fraktur, komplikasi dan lainnya pastik kita usahakan. Bisa dengan interventional pain management, dll. Tapi semua tergantung diagnosa. Itu sebabnya komunikasi dengan klub sangat penting,” terangnya.

Peralatan lengkap dan canggih di RSOT

Selama ini, RSOT telah menjadi rujukan bagi berbagai kasus sport injury, termasuk berbagai klub  professional seperti Persebaya Surabaya dan berbagai klub lain dari berbagai cabang olahraga.

Selain memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi sport injury, RSOT juga punya dokter-dokter rehabilitasi medik berpengalaman dan didukung oleh berbagai teknologi dan perlengkapan untuk mendukung proses rehabilitasi medik, termasuk alat-alat electrothermy seperti Ultrasound Iathermy, Short Wave Diathermy, Shock Wave Theraphy, High Intensity Laser, dll. Tak hanya itu, ada juga alat-alat untuk melatih kekuatan, melatih koordinasi, ketangkasan, dll.


dr-Chandra-1200x825.jpg

Meski angkanya tak sebanyak cedera pada lutut dan ankle, dislokasi bahu merupakan salah satu cedera yang cukup banyak terjadi pada olahraga. Masalahnya, cedera ini seringkali disepelekan. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, akan berpotensi mengelami cedera yang sama di masa depan, dengan prosentase berkisar 70%-100%. Atau hampir pasti kan mengalami dislokasi bahu lagi.

Dislokasi bahu merupakan kondisi dimana sendi bola pada lengan atas keluar dari soket bahu. Hal ini dapat terjadi karena adanya trauma dari luar seperti benturan, jatuh dengan tangan menahan badan atau tangan terlentang ke samping, dorongan dari depan atau belakang, dll.

Beberapa olahraga yang cukup riskan terhadap cedera bahu adalah olahraga dengan body contact atau rawan terhadap tabrakan dengn lawan, serta olahraga overhead atau dengan posisi tangan di atas kepala, seperti voli, bulutangkis, basket, renang, dll.

Masalahnya , selama ini masalah dislokasi bahu ini seringkali undertreatment atau sedikit disepelekan, karena dianggap cukup ditangani dengan cara mengembalikan bahu ke posisi semula. Menurtu dr. Gede Chandra, Sp.OT, ada satu yang harus diwaspadai bahwa cedera bahu yang dialami oleh mereka di bawah 20 tahun, memiliki potensi besar untuk mengalami cedera ulang, jika tidak ditangani dengan benar.

“Prosentasenya hingga 70%-100% akan mengalami dislokasi lagi di masa depan. Sebab, bahu pada dasarnya memiliki jaringan yang sangat kuat. Sehingga jika terjadi dislokasi, ada jaringan yang rusak cukup parah pada bahu tersebut, karena pada dasarnya mereka yang berusia muda sendinya masih sangat kuat,” papar dr. Gede. “Kejadian pertama mungkin butuh benturan keras sehingga terjadi dislokasi. Berikutnya mungkin hanya jatuh, sudah dislokasi. Nanti berikutnya, bisa saja menguap dengan tangan direntangkan sudah terjadi dislokasi bahu.”

Sementara itu, dislokasi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun dan tidak mendapat penanganan yang baik, akan memunculkan potensi terjadinya dislokasi bahu kembali di masa depan. Risiko berkisar 30%.

Itu sebabnya, dr. Gede sangat menekankan adanya penanganan yang baik pada dislokasi bahu. Apalagi bagi atlet yang memiliki tuntutan intensitas olahraga yang tinggi. “Jadi bukan hanya ditarik dan dikembalikan ke posisi semula, kemudian selesai,” ujar dr. Gede. “Kalau hanya olahraga rekreasional mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi potensi untuk dislokasi lagi selalu ada.”

PENANGANAN DENGAN ARTHROSCOPY

Ditekankan oleh dr. Gede, penanganan pada dislokasi bahu pada prinsipnya adalah usaha yang dilakukan oleh dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi sport injury untuk memastikan bahwa penderita dapat kembali berolahraga dengan baik dan kompetitif seperti semula, bukan hanya sekedar mengembalikan posisi bahu, namun membuat pasien berolahraga secara baik.

Salah satu penanganan yang dapat diterapkan di RS Orthopedi & Traumatologi (RSOT) Surabaya adalah operasi dengan teknik arthroscopy, yakni operasi minimal invasive dengan luka sayat yang sangat kecil, bahkan kurang dari 1 cm. Teknologi modern ini mengubah paradigma bahwa operasi adalah sesuatu yang menakutkan.

“Penanganan dislokasi bahu bisa dilakukan dengan arthroscopy. Diperbaiki jaringan-jaringan yang robek di sekitar bahu, sehingga bahu bisa utuh seperti semula. Statistiknya bagus. Dari risiko cedera ulang sebesar 70%-100%, bisa turun sampai 4%-20%. Sehingga penanganan arthroscopy memberi harapan yang sangat baik bagi orang-orang yang ingin berolahraga berat pasca dislokasi bahu,” terang dr. Gede. “Arthroscopy dapat mnyelesaikan masalah pada sendi. Selama berhubungan dengan sendi, hampir selalu bisa dengan arthroscopy.”

Selain itu dr. Gede juga menekankan pentingnya rehabilitasi dan kemauan bersabar untung menggunakan bahunya secara bertahap pasca operasi. “Misal untuk satu bulan pertama, gerakan ayunan untuk bahu, berikutnya meningkat lagi, dan seterusnya. Prinsipnya, rehabilitasi bertahap tidak boleh dilupakan.” Ujar dr. Gede. “Orang kadang maunya instan, operasi langsung sembuh. Untuk cedera sendi butuh waktu, karena sendi bagian bergerak, berbeda dengan tilang yang cenderung statis. Jadi cedera pada sendi, termasuk sendi bahu, harus didiamkan sebentar. Atau gerak sedikit dulu baru gerak banyak.” tutup dr. Gede.


download-1200x675.jpg

  1. Pilih Jenis Olahraga yang Tepat

Salah satu cara terbaik untuk menghindari cedera adalah mengetahui kondisi tubuh anda. Usiapun ikut menjadi pertimbangan untuk menentukan olahraga yang sesuai dengan kondisi anda.

  1. Gunakan Peralatan Olahraga yang Tepat

Setiap jenis olahraga memiliki peralatan yang berbeda. Pastikan peralatan sesuai dengan jenis olahraga yang dipilih.

  1. Lakukan Pemanasan dan Pendinginan

Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam pemanasan maupun pendinginan dapat membantu meningkatkan fleksibilitas atau kelenturan otot yang optimal untuk mencegah cedera otot.

  1. Jangan Berlebih

Saat melakukan olahraga, tubuh anda perlu beristirahat. Begitu juga dengan pengaturan waktu anda berolahraga, seberapa intens dan berapa lama durasinya. Tubuh anda bekerja setiap hari, ada baiknya bila rutinitas olahraga anda divariasikan.

  1. Mendapat Bimbingan dari Ahlinya

Bimbingan dan pengawasan dari ahlinya dapat mencegah cedera saat berolahraga, karena mereka bisa membenarkan postur tubuh yang berantakan dan memandu cara pakai alat-alat olahraga agar lebih efektif.

  1. Hubungi Dokter

Bila anda mengalami cedera, pusing, sakit dada, nafas yang tidak normal atau bahkan pingsan segera hubungi dokter anda untuk mendapatkan penanganan dengan segera.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat