Ada banyak terapi atau tindakan non-operatif yang bisa dilakukan untuk para penderita pengapuran tulang, patah tulang, dan radang tendon, yakni mulai pemberian obat nyeri, berbagai rangkaian rehebalitik medic, hingga penggunakan teknologi Platelet Rich Plasma (PRP).
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan PRP? PRP Adalah satu bagian dari daerah (plasma) yang mengandung sel – sel terbaik berupa platelet, faktor pertumbuhan dan sel- sel terbaik berupa platet, faktor pertumbuhan dan sel-sel induk (yang mempunyai fungsi menyurupai stem cell). Di dalam tubuh kita, proses pembaruan sel dan penyembuhan luka secara alami di lakukan oleh plat, faktor pertumbuhan dan sel-sel induk yang sebagian besar terdapat di dalam PRP. Jadi, metode PRP dapat mempercepat pembahuruan sel dan lebih fokus pada area yang membutuhkan.
Lalu bagaimana proses pengaplikasikan PRP ini dilakukan pada
pasien?Proses PRP dimulai dengan pengambilan daerah dari siku, kemudian
memasukan daerah tersebut ke tabung tertentu untuk memisahkan plasmanya.
Setelah itu, plasmanya disuntikan kembali ke bagian tubuh yang memerlukan.
Selain sangat efektif, PRP Juga sangat efesien karena hanya
memerlukan 20-30 menit. Namun untuk mendapatkan hasil yang memaksimal,
diperlukan 2 hingga 3x terapi PRP. Plasma yang telah disuntikan bekerja dengan
cara merangsang perbaikan sendi dan mengurangi nyeri secara signifikan ketika
proses penyembuhannya telah komplet.
Metode PRP ini juga banyak dipilih karena memiliki banyak keuntungan, salah satu yang paling utama adalah karena PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam pembaruan, karenanya hampir dapat di pastikan tidak aka nada penolakan dari tubuh karena bahan di ambil dari tubuh penderita sendiri. Yang perlu jadi catatan,terapi PRP ini hanya dapat digunakan pada pasien dengan nyeri persendian yang belum memasuki tingkat lanjut. Untuk kerusakan sensi tingkat lanjut,memerlukan operasi ganti sendi.
Pada dasarnya,dua faktor penyebab osteoarthritis atau pengapuran sendi, yang pertama adalah faktor
dari dalam,dan lainnya yang berasal dari diri sendiri. Faktor-Faktor ini
bersifat “given” dan tidak dapat di ubah.
Faktor yang kedua adalah faktor dari luar seperti berat
badan,aktifitas fisik seperti olahraga berat,kerja berat yang bisa
mempengaruhui”umur pakai sendi”. Hal lain yang termasuk dalam faktor dari luar
ini misalnya kecelakaan,atau memiliki penyakit sendi lain,seperti asam urat
atau rematik yang kemudian memicu terjadinya pengapuran sendi.
“Secara umum,wanita memiliki resiko dua kali lebih besar
terkena pengapuran sendi,utamanya yang sudah di atas 60 tahun. Pertama karena
wanita memiliki hormon estrogen, yang pada saat wanita memasuki masa
menepouse,hormon tersebut turun drastis. Padah hormon ini adalah hormon yang protektif melindungi sendi dan
tulang,’’ujar dr Gede Chandra Sp.OT. ’’Oleh karena itu,begitu memasuki masa
menepouse,wanita sangat rentan terhadap penyakit sendi dan tulang.”
Selain itu di tambahkan oleh Dr Gede Candra semasa hidupnya
,wanita lebih sering terpapar dengan peningkatan berat badan yang drastis.
Misalnya saat hamil,dimana seorang wanita bisa mengalami kenaikan berat badan
sekitar 15 kg- 20kg. “itu akan memberikan beban kepada sendi dan mengurangi
umur pakai sendi,”terangnya.
Gejala awal yang bisanya menyertai pengapuran
sendi,dimanapun tempatnya,baik itu pengapuran sendi lutut,tulang belakang,dan
panggul adalah rasa nyeri. Gejala lainnya adalah kalau dan kesulitan melakukan
aktifitas sehari-hari seperti bejalan,naik dan turun tangga,sholat dll.
“Khususnya di sendi panggul di daerah lihat paha,sampai pantat bagian belakang,
dan bisa juga menjalar sampai ke lutut,’’jelasnya. “Makanya kalau ada sakit di
lutut,jangan lupa sendi di panggul,karena bisa jadi penjalaran dari sana.”
Para penderita pengapuran sendi panggul biasanya juga
mengalami kesulitan melakukan aktifitas-aktifitas yang berhubngan dengan
menekuk sendi panggul,misalnya duduk,naik tangga,sholat, dll dimana ada tekukan
di bagian panggul dan saat ada beban berat ke sendi,misalnya loncat,turun
tangga,dll
Untuk itu, Dr Chandra menunturkan, hal yang pertama bisa
dilakukan oleh para penderita pengapuran sendi, termasuk, sendi panggul adalah
mengurangi beban sendi, misalnya mengurangi berat badan atau aktifitas yang
membebani sendi.”Misalnya biasanya suka aerobic, itu kan olahraga high impact untuk sendi panggul,jangan
dilakukan lagi,”Ujarnya.
Di RSOT Surabaya,selalu dilakukan penangann multi modal approach. Penanganan pertama
di lakukan dengan pemberian obat, kedua dengan fisioterapi, dan ketiga adalah occupational teraphy, yakni memodifikasicara berkerja dan beraktifitas pasien
termasuk di dalamnya mengatur diet berat badan.”Pemberian obat sendiri ada obat
oral hingga suntik,yakni penggunaan platet
rich plasma yang menggunakan darah pasien itu sendiri.”terangnya.
Jika pendekatkan di atas dirasa tidak cukup membantu karena
tingkat pengapuran sendi panggulnya sudah masuk dalam fase berat, diaman pasien
mengalami nyeri hebat dan sangat menggangu aktifitas,seperti susah bergerak dan
berjalan,barulah dilakukan operasi penggantian sendi.
Improvement yang bisa dihasilkan dengan operasi tergolong
sangat dramastis. Pasien yang awalnya merasakan sangat sakit di bagian
sendinya, sakitnya akan sangat berkurang sehingga aktifitas sehari-harinya bisa
berjalan dengan baik lagi.”Memang biasanya kita lakukan pada pasien yang
berusia di atas 60 tahun dengan kerusakan sendi yang berat. Prosesnya tidak
terlalu lama hanya sekitar 90 menit, dengan masa recovery satu-dua bulan pasca
operasi sudah bisa berjalan,”urai Dr Chandra. “Setelah enam bulan bisa olahraga
ringan, seperti yoga ringan,jalan kaki, sepeda, renang,masih bisa.”
Kesimpulannya, pada pasien dengan kerusakan sendi berat,penggantian sendi dapat meningkatkan kembali kualitas hidup pasien,membuat pasien bisa melakukan aktifitas sehari-hari tanpa keluhan nyeri.