RSOT Surabaya Proudly Present:
MRI OF WEIGHT BEARING & DYNAMIC ACTUAL MOVEMENT
“An Ideal Musculosceletal Imaging”
Diagnostic Breakthrough for Joint, Spine, and Sport Injury
Narasumber :
1. Dr. Komang Agung Irianto, dr., Sp.OT (K) Spine (RSOT Surabaya)
2. Dr. Rosy Setiawati, dr. Sp.Rad (K) MSK, CCD (RSOT Surabaya)
3. Prof Mikael Boesen, MD. PhD (Esaote)
Moderator :
Giacomo Pedretti (Esaote)
Pelaksanaan :
Jumat, 4 Juni 2021
Pkl 18.30 s/d 21.15 WIB
Melalui : Go to Webinar
Registrasi :
https://bit.ly/webinarilmiahrsot
atau scan barcode pada gambar
Contact Person :
Ns. Elya Puji Rahayu, S.Kep (0857-8591-8206)
Fasilitas :
E-Certificate
3 SKP IDI
Materi
GRATIS !
Bagi setiap orang tua,tumbuh kembang sang buah hati
selalu menjadi momen yang sangat dinanti. Setiap detail perubahan kemauan
kognitif mulai merangkak,berjalan,atau pertumbuhan fisik dari tinggi badan dan
berat badan menjadi saat yang membahagiakan. Pertanyaannya,pada umur anak anda
sekarang,normalkah tingkat tumbuh kembangnya?
Pada prisipnya, tumbuh kembang anak dapat dibagi
menjadi dua,yang pertama adalah ukuran tubuh dan yang kedua adalah yang
berkaitan dengan kemampuan kognitif sang anak.
Dari sisi ukuran fisik,kita dapat mrngetahui tumbuh
kembang anak dari beberapa parameter, seperti pertumbuhan tinggi dan berat
badan,jumlah gigi,lingkar kepala,lingkar dada dan beberapa hal lainnya.
Sementara ditilik dari kemampuan koognitif,kita dapat mengukur dari kemampuan
merangkak,berjalan,dan beberapa kemampuan lain yang berkaitan dengan saraf motorik
lainnya.
“Kita dapat melihat skala perkembangan anak dengan
parameter motorik dasar,motorik
halus,personal sosial,dan bahasanya,”ujar dr Haryson Tondy Winoto,MSi.Med.Sp.A
ketika di temui majalah Orthocare di ruang prakteknya. “ Misalnya anak umur 3
bulan tapi belum bisa tengkurap. Kita perlu observasi apakah anak tersebut memiliki
kelainan pada stuktur tulangnya,terlalu kurus dan gemuk,atau kemungkinan
lainnya.”
Lebih lanjut dr Haryson menjelaskan,pada orang tua hendaknya
mengetahui apakah sang buah hati mengalami keterlambatan tumbuh kembang atau
tida”jika memang dirasa ada keterlambatan tubuh kembang, misalnya belum bisa
berjalan atau tidak bisa berbicara dengan baik dan lancar pada umur-umur yang
semestinya sudah bisa,segera konsultasikan ke dokter untuk diagnosa
penyebabnya.”tegas dr Haryson.” Kebanyakan orang tua biasanya cenderung
menunggu jika mengetahui keterlambatan tumbuh kembang anaknya,atau ada yang
mungkin merasa malu untuk mengkonsultasikan. Kalau sudah parah baru di bawa ke
dokter.”
Kalau kebanyakan orang tua mengeluhkan keterlambatan
tumbuh kembang anak,adakah anak yang tumbuh kembang dan berkembang lebih cepat
dari waktunya? Menurut dr.Haryson, hal tersebut bisa saja terjadi. Namun
sepanjang tidak mengganggu stuktur orangnya, hal tersebut tidak perlu terlalu
di khawatirkan.” Yang menjadi salah satu, misalnya kita ambil contoh yang
ekstrim, umur 3 bulan sudah bisa berdiri, itu kan sangat ekstrim. Kita
khawatirkan justru stuktur tulangnya belum sempurna sehingga belom bisa
menopang berat tubuh. yang di khawatirkan tulangnya akan malah bermasalah dalam
waktu panjang.
PENTINGNYA STIMULASI DARI ORANG TUA
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tunbuh
dan berkembang secara sempurna. Untuk itu banyak cara dilakukan, termasuk salah satunya memberikan
berbagai suplemen yang di percaya dapat membantu tumbuh kembang sang buah hati.
Menurut dr.Haryson, memberikan suplemen kepada anak
dapat di lakukan sepanjang tidak terlalu berlebihan. Namun, dr Haryson
mengingatkan,stimulus yang di berikan oleh orang tua jauh lebih penting di
bandingkan dengan memberikan suplemen.
“Stimulasi yang di berikan orang tua sejak dari bayi lahir sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak. Terumata ASI yang paling bagus untuk bayi, tapi juga mendekatkan hubungan ibu dengan anaknya.’ujarnya. “Bisa juga misalnya dengan pijat bayi yang dapat melatih gerakan motorik anak.”
Lebih jauh dr
Haryson juga menekankan pentingnya peran orang tua untuk terus mendampingi tumbuh
kembang anak. Kesibukan para orang tua dan teknologi kerap menjadi masalah
tersediri.
“Dampingi anak saat menonto TV sembari di beri pengertian mengenai acara yang iya tonton akan sangat baik untuk tumbuh kembangnya. Usahakan anak jangan terlalu sering main game,karena anak membuat emosi anak cenderung tidak stabil dan mudah marah .’’ tutupnya.
Dispilin ilmu radiologi adalah “saudara dekat” bagi banyak disiplin ilmu kedokteran lainnya, termasuk kedokteran tulang, sendi, dan jaringan di sekitarnya. Dengan bantuan teknologi radiologi terkini seperti yang ada di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, dokter dapat membuat diagnosa terhadap penyakit dengan lebih tepat, sehingga penanganannya pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Salah satu masalah yang berhubungan dengan tulang, sendi,
dan jaringan sekitarnya yang banyak diderita masyarakat adalah gangguan muskuloskeletal,
yakni sebuah kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan
tendon, serta tulang belakang.
Pada penanganannya, dokter memerlukan
pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi pasien sehingga dapat
melakukan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pada konteks inilah radiologi memegang peranan penting,
dimana terdapat berbagai teknologi radiologi yang dapat diterapkan untuk
memeriksa lebih detail
mengenai kondisi sendi, ligamen, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. “Pasien dengan
nyeri bahu, misalnya. Dengan kasat mata, dokter tidak bisa tahu apakah itu
robek atau radang saja. Nah di situlah pentingnya pemeriksaan radiologi, mulai
dari rontgen, USG, CT Scan, hingga MRI,” ujar dr. Rosy Setiawati, Sp. Rad (K). “Memang tidak semua
pasien dengan keluhan muskuloskeletal harus dilakukan pemeriksaan radiologi,
karena setiap kasus memiliki indikasinya masing-masing, dan dokter memiliki
pengalaman pemeriksaan. Tetapi
pemeriksaan ini banyak digunakan untuk memastikan penyebab keluhan.”
Lebih lanjut dr. Rosy menuturkan, ada beberapa tingkatan
pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan untuk membantu diagnosa pada keluhan
muskuloskeletal. Salah satunya yang merupakan pemeriksaan standar adalah
pemeriksaan rontgen. “Muskuloskeletal
itu berkaitan dengan tulang, jadi tulangnya harus dipastikan baik-baik saja
terlebih dahulu. Jika tidak apa-apa
tapi masih bengkak, misalnya, harus cari tahu lagi dengan alat lain, ultrasound,
CT Scan, MRI, hingga ditemukan masalahnya,” terang dr. Rosy.
Menurut dr. Rosy, memang terdapat banyak pemeriksaan
radiologi yang bisa dilakukan berkaitan dengan masalah muskuloskeletal. Selain
rontgen, salah satu alat yang bisa dipakai adalah ultrasonografi atau biasa
disingkat dengan USG.
Teknik pemeriksaan USG memang bukan teknologi baru.
Namun, seiring dengan perkembangannya, USG kini tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi rahim pada
ibu hamil atau organ-organ lainnya di dalam perut, tetapi juga dapat
digunakan untuk memeriksa struktur jaringan yang berada di permukaan.
“Jadi USG
yang bekerja dengan gelombang suara ini sekarang bukan hanya untuk ibu hamil
saja. Tetapi yang
berkaitan dengan tulang, otot, atau yang berhubungan dengan muskuloskeletal.
Akurasinya cukup tinggi,” jelasnya. “Harga pemeriksaannya juga terjangkau, dan tidak
memakan waktu lama, serta nilai diagnostiknya tinggi. Untuk rumah sakit pun
menguntungkan, karena tidak perlu
ruangan besar, bahkan sekarang monitornya bisa menggunakan layar handphone.”
dr. Rosy tidak menampik bahwa USG juga memiliki kelemahan,
terutama untuk pemeriksaan pada bagian atau struktur jaringan yang dalam. Untuk
itu, radiologi punya banyak pilihan,
tergantung dengan kasus atau diagnosa awal dari dokter yang menangani.
“Ada
tingkatannya, bisa
cukup hanya dengan rontgen,
USG, atau perlu CT Scan, MRI. Jadi kalau diperiksa dengan USG tidak tampak ada
masalah, belum tentu memang tidak ada masalah. Jadi peran radiologi ini sangat
penting dalam penentuan diagnosa dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan
oleh dokter,” ujarnya.
Dokter yang fellowship khusus di muskuloskeletal di Singapura dan Italia ini juga menekankan pentingnya tenaga ahli dalam penerapan pemeriksaan radiologi. “Selain alat yang lengkap dan teknologi terkini seperti yang ada di RSOT, tenaga ahli juga sangat penting. Jadi bagaimana bidang radiologi yang penuh dengan teknologi alat ini dapat dioperasikan oleh ahlinya, sehingga menghasilkan diagnosa yang tepat,” tutupnya.