Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

IMG_2923-1200x800.jpg

Dispilin ilmu radiologi adalah “saudara dekat” bagi banyak disiplin ilmu kedokteran lainnya, termasuk kedokteran tulang, sendi, dan jaringan di sekitarnya. Dengan bantuan teknologi radiologi terkini seperti yang ada di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, dokter dapat membuat diagnosa terhadap penyakit dengan lebih tepat, sehingga penanganannya pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Salah satu masalah yang berhubungan dengan tulang, sendi, dan jaringan sekitarnya yang banyak diderita masyarakat adalah gangguan muskuloskeletal, yakni sebuah kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang.

Pada penanganannya, dokter memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi pasien sehingga dapat melakukan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pada konteks inilah radiologi memegang peranan penting, dimana terdapat berbagai teknologi radiologi yang dapat diterapkan untuk memeriksa lebih detail mengenai kondisi sendi, ligamen, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. “Pasien dengan nyeri bahu, misalnya. Dengan kasat mata, dokter tidak bisa tahu apakah itu robek atau radang saja. Nah di situlah pentingnya pemeriksaan radiologi, mulai dari rontgen, USG, CT Scan, hingga MRI,” ujar dr. Rosy Setiawati, Sp. Rad (K). “Memang tidak semua pasien dengan keluhan muskuloskeletal harus dilakukan pemeriksaan radiologi, karena setiap kasus memiliki indikasinya masing-masing, dan dokter memiliki pengalaman pemeriksaan. Tetapi pemeriksaan ini banyak digunakan untuk memastikan penyebab keluhan.”

Lebih lanjut dr. Rosy menuturkan, ada beberapa tingkatan pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan untuk membantu diagnosa pada keluhan muskuloskeletal. Salah satunya yang merupakan pemeriksaan standar adalah pemeriksaan rontgen. “Muskuloskeletal itu berkaitan dengan tulang, jadi tulangnya harus dipastikan baik-baik saja terlebih dahulu. Jika tidak apa-apa tapi masih bengkak, misalnya, harus cari tahu lagi dengan alat lain, ultrasound, CT Scan, MRI, hingga ditemukan masalahnya,” terang dr. Rosy.

Menurut dr. Rosy, memang terdapat banyak pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan berkaitan dengan masalah muskuloskeletal. Selain rontgen, salah satu alat yang bisa dipakai adalah ultrasonografi atau biasa disingkat dengan USG.

Teknik pemeriksaan USG memang bukan teknologi baru. Namun, seiring dengan perkembangannya, USG kini tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi rahim pada ibu hamil atau organ-organ lainnya di dalam perut, tetapi juga dapat digunakan untuk memeriksa struktur jaringan yang berada di permukaan.

“Jadi USG yang bekerja dengan gelombang suara ini sekarang bukan hanya untuk ibu hamil saja. Tetapi yang berkaitan dengan tulang, otot, atau yang berhubungan dengan muskuloskeletal. Akurasinya cukup tinggi,” jelasnya. “Harga pemeriksaannya juga terjangkau, dan tidak memakan waktu lama, serta nilai diagnostiknya tinggi. Untuk rumah sakit pun menguntungkan, karena tidak perlu ruangan besar, bahkan sekarang monitornya bisa menggunakan layar handphone.”

dr. Rosy tidak menampik bahwa USG juga memiliki kelemahan, terutama untuk pemeriksaan pada bagian atau struktur jaringan yang dalam. Untuk itu, radiologi punya banyak pilihan, tergantung dengan kasus atau diagnosa awal dari dokter yang menangani.

“Ada tingkatannya, bisa cukup hanya dengan rontgen, USG, atau perlu CT Scan, MRI. Jadi kalau diperiksa dengan USG tidak tampak ada masalah, belum tentu memang tidak ada masalah. Jadi peran radiologi ini sangat penting dalam penentuan diagnosa dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh dokter,” ujarnya.

Dokter yang fellowship khusus di muskuloskeletal di Singapura dan Italia ini juga menekankan pentingnya tenaga ahli dalam penerapan pemeriksaan radiologi. “Selain alat yang lengkap dan teknologi terkini seperti yang ada di RSOT, tenaga ahli juga sangat penting. Jadi bagaimana bidang radiologi yang penuh dengan teknologi alat ini dapat dioperasikan oleh ahlinya, sehingga menghasilkan diagnosa yang tepat,” tutupnya.

USG Muskuloskeletal oleh dr. Rosy, Sp.Rad


1-Main.jpg
15/Nov/2019

Dalam rangka merayakan HUT ke-9,
RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya mengadakan kegiatan *CHARITY RUN FOR CTEV*.
Dalam kegiatan ini, kami menggalang dana untuk penanganan anak yg terlahir dengan kaki bengkok (CTEV) dari keluarga tidak mampu.

Kami mengajak para Runners untuk ikut bergabung dan bersama-sama dengan kami membantu mereka agar dapat berdiri dan berjalan dengan normal.

_*LET’S RUN TO HELP THEM WALK !!*_

#RSOT #rsorthopedisurabaya #orthopedicrun #funrun #eventsurabaya #e100 #charityrunforctev #ctev #kakipengkor #surabaya


scoliosis-1200x675.jpg
15/Nov/2019

Jangan sepelekan anak kecil yang berjalan miring atau mempunyai pundak yang asimetris. Karena dua
hal tersebut merupakan gejala awal pembengkokan tulang belakang atau disebut juga skoliosis
.

Mengapa manusia bisa berdiri tegak ?

Hal ini disebabkan karena memiliki tulang belakang. Tugas tulang
belakang sungguh berat yakni menopang dua pertiga dari berat badan dan si sisi lain harus melakukan
banyak gerakan tubuh.

Lantas bagaimana jika tulang penyangga manusia tersebut bengkok?

Skoliosis atau pembengkokan tulang belakang ke arah samping yang melebihi 10 derajat. Scoliosis akan
tampak seperti benjolan (punuk) pada bagian punggung sebelah atas, bawah, kiri, atau kanan. Ciri-ciri
lain tampak ketika penderita berdiri tegak badan akan tampak lebih condong ke satu sisi, kaki panjang
sebelah, dan bahu yang asimetris. Skoliosis dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga
dewasa.

Masih banyak orang yang asing dengan penyakit ini. Namun, meskipun terdengar mengerikan, penyakit
skoliosis dapat dicegah agar tidak semakin parah atau semakin bengkok jika dikenali sejak dini.

Penyebab Skoliosis ?

Terdapat tiga penyebab atau faktor pemicu skoliosis, diantaranya genetik yakni terdapat riwayat
skoliosis pada keluarga penderita, kelianan saraf/ otot, serta cidera atau infeksi tulang belakang. Namun,
kejadian yang lebih sering ditemui pada kasus skoliosis adalah faktor idiopatik atau belum diketahui
pasti penyebabnya.

Pengaruh gaya hidup terhadap skoliosis ?

Bagi penderita skoliosis, gaya hidup juga mempengaruhi bertambah parah atau tidaknya pembengkokan
pada tulang belakang. Postur duduk yang kurang baik yakni melengkung dan sering membawa tas berat
di satu sisi akan membuat tulang belakang semakin bengkok.

Yang harus diingat adalah membawa tas yang terlalu berat tidak akan mengakibatkan skoliosis kecuali
bagi anda yang memiliki riwayat keluarga terkena skoliosis.

Penanganan skoliosis ?

Apabila anggota keluarga anda terkena skoliosis, maka sebaiknya anda menemui dokter spesialis
orthopedi, khususnya ahli tulang belakang. Di RS. Orthopedi & Traumatologi (RSOT) Surabaya sendiri
telah menyediakan layanan sub spesialistik khusus tulang belakang.

Sebelum dilakukan penanganan, biasanya dokter di RSOT akan melakukan observasi atau pengamatan
dalam jangka waktu 3-6 bulan untuk mengetahui apakah skloliosis yang dialami penderita termasuk ke
dalam skoliosis progresif atau tulang mengalami bengkok terus-menerus atau tidak.

Setelah observasi barulah diketahui apakah scoliosis tergolong scoliosis ringan atau scoliosis tingkat
berat. Untuk scoliosis ringan maka akan dilakukan penanganan non-bedah yakni dengan physical therapy dan pemasangan brace atau penyangga tulang belakang. Selain itu pasien skoliosis ringan dapat
pula melakukan olahraga berenang agar kondisinya tidak bertambah buruk. Untuk skoliosis tingkat berat
yakni ketika sudut bengkok di atas 40 derajat, maka perlu dilakukan tindakan operasi dengan
pemasangan pen pada tulang belakang guna mengembalikan tulang belakang pada posisi semula.

“RSOT telah melakukan screening ke sekolah-sekolah untuk mendeteksi kelainan tulang belakang secara
dini. Karena biasanya justru orang-orang di sekitar penderita yang memberitahu ada yang berbeda
dengan postur tubuhnya. Untuk itulah sebaiknya para orang tua peka dan memperhatikan pertumbuhan
anaknya serta mengenal ciri-ciri skoliosis agar tidak semakin parah” Ujar dr.Carlos Gracia, Sp.OT.

artikel terkait deteksi dini skoliosis, klik disini.

dr. CarlosGraciaBinti, Sp.OT (K)
dr. CarlosGraciaBinti, Sp.OT (K)

#RSOTSby
#RSOTSurabaya
#RSOrthopedi&Traumatologi
#RSOrthopedi&TraumatologiSurabaya


knee-injury-1.jpg
15/Nov/2019

ACL (Anterior Cruciate Ligament)

Lutut terdiri dari berbagai struktur, yaitu tulang, ligamen, bantalan sendi, tempurung, dll. Dari struktur tersebut, bagian yang paling sering mengalami cedera olahraga adalah ligamen atau pengikat sendi yang berbentuk urat. Dari ligamen yang ada di lutut yang paling sering mengalami cedera saat berolahraga adalah ACL.


  • Penyebab Cedera ACL
  • Tanda-Tanda Cedera ACL
  • Penanganan Cedera ACL
  • Rekonstruksi ACL
  • Proses Rehabilitasi
Penyebab Cedera ACL

Cedera ACL biasanya terjadi karena gerakan yang bersifat melintir badan atau pivot, serta deselerasi atau berhenti dengan cepat dan diikuti memutar badan. Cedera ACL juga bisa terjadi karena salah tumpuan mendarat setelah melakukan jumping, atau gerakan cutting.

“Olahraga yang biasanya banyak melakukan cuttingdeseleration, jumping dan pivot ini biasanya basket dan sepakbola. Tiba-tiba lari kencang, kemudian berhenti tajam dan memutar arah. Itu sangat berpotensi mengakibatkan cedera ACL”

Tanda-Tanda Cedera ACL

Cedera ACL saat berolahraga biasanya ditandai dengan tiga hal, seperti nyeri yang tajam pada lutut, diikuti bunyi, dan tidak bisa berdiri.

Penderita cedera ACL akan merasa lututnya goyang ketika melakukan gerakan memutar atau berubah arah, sebab pengikat atau ligamennya ada yang putus”

Penanganan Cedera ACL

Cedera ACL adalah cedera yang bisa ditangani dengan cukup mudah. Pada dasarnya, penanganan cedera ACL akan sangat tergantung pada ekspektasi penderitanya. Bagi mereka yang ingin melakukan kembali olahraga, apalagi olahraga kompetitif, akan dianjurkan untuk melakukan tindakan operasi rekonstruksi ligamen. Sebab, jika salah satu ligamen ini mengalami kerusakan, termasuk putus, hal tersebut akan mengganggu kestabilan lutut.

Rekonstruksi ACL

Rekontruksi ACL ini merupakan penggantian ACL dengan urat lain yang diambil dari urat hamstring. “Secara kekuatan, otot hamstring ini 90-95% memiliki kekuatan yang sama dengan ACL”

RSOT sendiri sudah lumayan sering melakukan penanganan ACL ini, dengan intensitas satu hingga dua kasus setiap bulan.

Proses Rehabilitasi

Proses Rehabilitasi ini pada umumnya memakan waktu selama sembilan bulan, hingga pasien bisa melakukan olahraga yang kompetitif.

“Untuk olahraga ringan, satu hingga dua bulan pasca operasi sudah bisa bersepeda, tiga bulan sudah bisa joging, enam bulan sudah mulai bisa basket dan melakukan teknik shooting tapi hindari kontak, pada bulan ke sembilan baru bisa main game atau pertandingan.”



Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat