Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

parkinson-1.jpeg

 

Salah satu penyakit neuro degenerative yang kerap dialami para Geriatri adalah Parkinson. Sebuah kondisi di mana terjadi pengecilan di daerah tertentu di otak, yang akhirnya menimbulkan gangguan sistem saraf pusat. Parkinson menyebabkan gangguan pada pergerakan, bahkan dalam kasus yang parah akan menyebabkan ketidakmampuan untuk beraktivitas. Untuk pencegahan Parkinson, orang lanjut usia sangat disarankan untuk tetap aktif bergerak atau beraktivitas

 

Gejala Tremor, Kaku, hingga Ketidakseimbangan Tubuh

Parkinson ditandai dengan kerusakan otak di daerah substantia nigra dan basal ganglia, di mana daerah tersebut menghasilkan senyawa dopamin yang berfungsi sebagai neutrotransmiter (penghantar stimulus berupa rangsangan ke sel saraf, baik di otak maupun di otot).

“Supaya seorang manusia bisa bangun dan melakukan gerakan yang lincah dan terkontrol, itu karena adanya senyawa dopamin ini. Jika terjadi kerusakan otak dan terjadi pengecilan, akan terjadi ketidakseimbangan senyawa-senyawa di otak, salah satunya dopamin itu turun. Kalau dopamin turun akhirnya timbul gejala-gejala klinis yang dikenal Parkinson,” jelas  dr. Nita Kurniawati, Sp. S dari RS. Orthopedi dan Traumatologi Surabaya (RSOT).

“Parkinson ditandai dengan empat gejala utama. Pertama adalah tremor atau gerakan gemetar. Pada umumnya di awali terjadi pada satu sisi yang lambat laun menyerang kedua sisi kanan dan kiri. Kedua, gerakan menjadi sangat kaku. Misalnya kesulitan mengubah posisi dari tangan menekuk menjadi lurus. Ketiga, gerakan menjadi lambat. Ini merupakan gejala yang paling banyak dikeluhkan oleh penderita Parkinson. Biasanya terjadi pada saat posisi tidur ke duduk, duduk berdiri yang membutuhkan waktu lebih lama dari lazimnya. Gejala keempat, merupakan fase yang lebih berat yaitu posture instability atau ketidakstabilan postur. Penderita tidak bisa berdiri atau jalan tegak / lurus. Rasanya seperti mau jatuh, itu karena ada gangguan ketidakseimbangan,” urai dr. Nita.

Yang juga digaris bawahi dr. Nita adalah mengenai perbedaan parkinson dengan parkinsonism. Dijelaskan dr. Nita, Parkinson murni  disebabkan oleh neuro degenerative. Sementara parkinsonism itu mirip parkinson, tapi dari penyebab lain, yang bisa menyebakan kerusakan daerah di otak, dan akhirnya bisa menimbulkan gejala parkinson. Salah satu contohnya adalah stroke, di mana stroke bisa menimbulkan gejala mirip Parkinson.

“Usia penderita parkinsonism juga mulai bergeser ke usia yang lebih muda karena penderita stroke juga disebabkan oleh lifestyle. Usia 40 tahun sudah ada yang mulai terkena, tapi gejalanya berbeda. Bukan tremor duluan, justru postural instability lebih dulu. Jalan tiba-tiba sering jatuh, tapi kakunya nggak ada, tremornya nggak ada. Nah, ini kita curigai parkinsonism. Untuk penyakit semacam itu , mutlak dilakukan imaging kepala atau MRI (Magnetic Resonance Imaging),” jelas dr. Nita lagi.

 

Lifestyle Buruk Picu Penurunan Dopamin

Senyawa dopamin yang berfungsi penting dalam pergerakan manusia, bisa menjadi rusak karena banyak hal. “Kerusakan otak itu atau proses penuaan lebih cepat terjadi karena radikal bebas. Radikal bebas bisa muncul karena keracunan, obat-obatan terlarang, dan lifestyle yang kurang bagus.  Lifestyle tidak bagus terlihat dari penampilan fisiknya lebih tua. Begitupun juga otak, mudah mengerut. Jika tidak ada rangsangan dari luar, kemudian orangnya cenderung pasif, diam, tidak ada aktifitas sehari-hari. Jika seperti itu otaknya semakin mengecil,” jelas dr. Nita.

  1. Nita menyarankan agar menerapkan lifestyle yang sehat untuk mencegah kerusakan dopamin. Salah satunya adalah rutin olahraga. “Karena olahraga menghasilkan senyawa untuk melawan radikal bebas. Kemudian untuk dopamin sendiri, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa untuk mencegah supaya perburukan gejala parkinson itu tidak berat, minumlah kopi satu gelas sehari dengan catatan jika tidak ada kontra-indikasi. Jadi kalau tidak ada penyakit lain, kopi boleh dikonsumsi meningkatkan dopamin”.

 

Terapi Penderita Parkinson

Sampai saat ini, penyakit Parkinson belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun demikian, ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien yaitu melalui terapi penggunaan obat-obatan (medis) dan non-medis. Terapi non medis dilakukan dengan cara bahwa pasien harus tetap melakukan exercise, terus aktif melakukan berbagai aktivitas. Sementara itu, terapi medis adalah dengan penggunaan obat-obatan. “Obat-obatan yang diberikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan atau mengganti dopamin dalam tubuh”.

Jika Parkinson sudah berat dan dengan pengobatan tidak membaik, parkinson dapat dibantu dengan tindakan lewat prosedur Deep Brain Stimulation (DBS), yakni memasang alat di otak untuk stimulasi agar mengeluarkan dopamin itu secara berkala. Atau melalui tindakan Bedah pisau gamma (gamma knife) untuk pasien yang tidak dapat menjalani prosedur DBS, bedah pisau gamma dapat menjadi pilihan. Prosedur ini dilakukan selama 15-40 menit, dengan memfokuskan sinar radiasi kuat ke area otak yang terdampak.

 

Harus Tetap Aktif di Usia Senja

Parkinson memang tidak memiliki risiko kematian secara langsung. Namun, pasien tidak dapat beraktivitas karena Parkinson ini. Seperti tidak bisa bangun dari tempat tidur, tidak bisa berdiri, susah makan dan minum sehingga nutrisi terganggu, maka akan berpotensi diikuti penyakit lainnya seperti infeksi paru, infeksi kulit, infeksi saluran kencing, dll. “Jadi parkinsonnya sendiri sebenarnya tidak, tapi komplikasi dari parkinson itu yang menyebabkan kematian,” papar dr. Nita.

“Untuk pencegahan parkinson, orang dengan usia lanjut harus tetap aktif. Walaupun usianya sudah tua, sudah pensiun, tetap harus cari kesibukan supaya tidak mempercepat pengecilan otak dan tetap bisa aktifitas sehari-hari. Karena jika tidak, orang bisa depresi. Pada saat orang depresi, senyawa dopamin, serotonin semua turun, sehingga dalam waktu dekat bisa muncul demensia dan parkinson,” tutupnya

 

 

Nita Kurniawati, Sp.S

(Dokter Spesialis Saraf)

JADWAL PRAKTEK :

Senin    16.00-18.00

Rabu    17.00-18.00

 

ORTHOPEDI & TRAUMATOLOGI SURABAYA
Emerald Mansion TX 10, Citraland – Surabaya

(031) 57431574 / 57431299
IGD : 082337655500 ext 118


WhatsApp-Image-2021-05-17-at-10.19.11.jpeg

RSOT Surabaya Proudly Present:
MRI OF WEIGHT BEARING & DYNAMIC ACTUAL MOVEMENT
“An Ideal Musculosceletal Imaging”
Diagnostic Breakthrough for Joint, Spine, and Sport Injury

Narasumber :
1. Dr. Komang Agung Irianto, dr., Sp.OT (K) Spine (RSOT Surabaya)
2. Dr. Rosy Setiawati, dr. Sp.Rad (K) MSK, CCD (RSOT Surabaya)
3. Prof Mikael Boesen, MD. PhD (Esaote)

Moderator :
Giacomo Pedretti (Esaote)

Pelaksanaan :
Jumat, 4 Juni 2021
Pkl 18.30 s/d 21.15 WIB
Melalui : Go to Webinar

Registrasi :
https://bit.ly/webinarilmiahrsot
atau scan barcode pada gambar

Contact Person :
Ns. Elya Puji Rahayu, S.Kep (0857-8591-8206)

Fasilitas :
E-Certificate
3 SKP IDI
Materi
GRATIS !


menyiasati-tumbuh-kembang-anak_m_5552.jpeg

Bagi setiap orang tua,tumbuh kembang sang buah hati selalu menjadi momen yang sangat dinanti. Setiap detail perubahan kemauan kognitif mulai merangkak,berjalan,atau pertumbuhan fisik dari tinggi badan dan berat badan menjadi saat yang membahagiakan. Pertanyaannya,pada umur anak anda sekarang,normalkah tingkat tumbuh kembangnya?

Pada prisipnya, tumbuh kembang anak dapat dibagi menjadi dua,yang pertama adalah ukuran tubuh dan yang kedua adalah yang berkaitan dengan kemampuan kognitif sang anak.

Dari sisi ukuran fisik,kita dapat mrngetahui tumbuh kembang anak dari beberapa parameter, seperti pertumbuhan tinggi dan berat badan,jumlah gigi,lingkar kepala,lingkar dada dan beberapa hal lainnya. Sementara ditilik dari kemampuan koognitif,kita dapat mengukur dari kemampuan merangkak,berjalan,dan beberapa kemampuan lain yang berkaitan dengan saraf motorik lainnya.

“Kita dapat melihat skala perkembangan anak dengan parameter motorik  dasar,motorik halus,personal sosial,dan bahasanya,”ujar dr Haryson Tondy Winoto,MSi.Med.Sp.A ketika di temui majalah Orthocare di ruang prakteknya. “ Misalnya anak umur 3 bulan tapi belum bisa tengkurap. Kita perlu observasi apakah anak tersebut memiliki kelainan pada stuktur tulangnya,terlalu kurus dan gemuk,atau kemungkinan lainnya.”

Lebih lanjut dr Haryson  menjelaskan,pada orang tua hendaknya mengetahui apakah sang buah hati mengalami keterlambatan tumbuh kembang atau tida”jika memang dirasa ada keterlambatan tubuh kembang, misalnya belum bisa berjalan atau tidak bisa berbicara dengan baik dan lancar pada umur-umur yang semestinya sudah bisa,segera konsultasikan ke dokter untuk diagnosa penyebabnya.”tegas dr Haryson.” Kebanyakan orang tua biasanya cenderung menunggu jika mengetahui keterlambatan tumbuh kembang anaknya,atau ada yang mungkin merasa malu untuk mengkonsultasikan. Kalau sudah parah baru di bawa ke dokter.”

Kalau kebanyakan orang tua mengeluhkan keterlambatan tumbuh kembang anak,adakah anak yang tumbuh kembang dan berkembang lebih cepat dari waktunya? Menurut dr.Haryson, hal tersebut bisa saja terjadi. Namun sepanjang tidak mengganggu stuktur orangnya, hal tersebut tidak perlu terlalu di khawatirkan.” Yang menjadi salah satu, misalnya kita ambil contoh yang ekstrim, umur 3 bulan sudah bisa berdiri, itu kan sangat ekstrim. Kita khawatirkan justru stuktur tulangnya belum sempurna sehingga belom bisa menopang berat tubuh. yang di khawatirkan tulangnya akan malah bermasalah dalam waktu panjang.

PENTINGNYA STIMULASI DARI ORANG TUA

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tunbuh dan berkembang secara sempurna. Untuk itu banyak cara  dilakukan, termasuk salah satunya memberikan berbagai suplemen yang di percaya dapat membantu tumbuh kembang sang buah hati.

Menurut dr.Haryson, memberikan suplemen kepada anak dapat di lakukan sepanjang tidak terlalu berlebihan. Namun, dr Haryson mengingatkan,stimulus yang di berikan oleh orang tua jauh lebih penting di bandingkan dengan memberikan suplemen.

“Stimulasi yang di berikan orang tua sejak dari bayi lahir sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak. Terumata ASI yang paling bagus untuk bayi, tapi juga mendekatkan hubungan ibu dengan anaknya.’ujarnya. “Bisa juga misalnya dengan pijat bayi yang dapat melatih gerakan motorik  anak.”

Lebih jauh  dr Haryson juga menekankan pentingnya peran orang tua untuk terus mendampingi tumbuh kembang anak. Kesibukan para orang tua dan teknologi kerap menjadi masalah tersediri.

“Dampingi anak saat menonto TV sembari di beri pengertian mengenai acara yang iya tonton akan sangat baik untuk  tumbuh kembangnya. Usahakan anak jangan terlalu sering main game,karena anak membuat emosi anak cenderung tidak stabil dan mudah marah .’’ tutupnya.

Pentingnya Stimulasi Dari Orangtua

IMG_2923-1200x800.jpg

Dispilin ilmu radiologi adalah “saudara dekat” bagi banyak disiplin ilmu kedokteran lainnya, termasuk kedokteran tulang, sendi, dan jaringan di sekitarnya. Dengan bantuan teknologi radiologi terkini seperti yang ada di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, dokter dapat membuat diagnosa terhadap penyakit dengan lebih tepat, sehingga penanganannya pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Salah satu masalah yang berhubungan dengan tulang, sendi, dan jaringan sekitarnya yang banyak diderita masyarakat adalah gangguan muskuloskeletal, yakni sebuah kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang.

Pada penanganannya, dokter memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi pasien sehingga dapat melakukan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pada konteks inilah radiologi memegang peranan penting, dimana terdapat berbagai teknologi radiologi yang dapat diterapkan untuk memeriksa lebih detail mengenai kondisi sendi, ligamen, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. “Pasien dengan nyeri bahu, misalnya. Dengan kasat mata, dokter tidak bisa tahu apakah itu robek atau radang saja. Nah di situlah pentingnya pemeriksaan radiologi, mulai dari rontgen, USG, CT Scan, hingga MRI,” ujar dr. Rosy Setiawati, Sp. Rad (K). “Memang tidak semua pasien dengan keluhan muskuloskeletal harus dilakukan pemeriksaan radiologi, karena setiap kasus memiliki indikasinya masing-masing, dan dokter memiliki pengalaman pemeriksaan. Tetapi pemeriksaan ini banyak digunakan untuk memastikan penyebab keluhan.”

Lebih lanjut dr. Rosy menuturkan, ada beberapa tingkatan pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan untuk membantu diagnosa pada keluhan muskuloskeletal. Salah satunya yang merupakan pemeriksaan standar adalah pemeriksaan rontgen. “Muskuloskeletal itu berkaitan dengan tulang, jadi tulangnya harus dipastikan baik-baik saja terlebih dahulu. Jika tidak apa-apa tapi masih bengkak, misalnya, harus cari tahu lagi dengan alat lain, ultrasound, CT Scan, MRI, hingga ditemukan masalahnya,” terang dr. Rosy.

Menurut dr. Rosy, memang terdapat banyak pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan berkaitan dengan masalah muskuloskeletal. Selain rontgen, salah satu alat yang bisa dipakai adalah ultrasonografi atau biasa disingkat dengan USG.

Teknik pemeriksaan USG memang bukan teknologi baru. Namun, seiring dengan perkembangannya, USG kini tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi rahim pada ibu hamil atau organ-organ lainnya di dalam perut, tetapi juga dapat digunakan untuk memeriksa struktur jaringan yang berada di permukaan.

“Jadi USG yang bekerja dengan gelombang suara ini sekarang bukan hanya untuk ibu hamil saja. Tetapi yang berkaitan dengan tulang, otot, atau yang berhubungan dengan muskuloskeletal. Akurasinya cukup tinggi,” jelasnya. “Harga pemeriksaannya juga terjangkau, dan tidak memakan waktu lama, serta nilai diagnostiknya tinggi. Untuk rumah sakit pun menguntungkan, karena tidak perlu ruangan besar, bahkan sekarang monitornya bisa menggunakan layar handphone.”

dr. Rosy tidak menampik bahwa USG juga memiliki kelemahan, terutama untuk pemeriksaan pada bagian atau struktur jaringan yang dalam. Untuk itu, radiologi punya banyak pilihan, tergantung dengan kasus atau diagnosa awal dari dokter yang menangani.

“Ada tingkatannya, bisa cukup hanya dengan rontgen, USG, atau perlu CT Scan, MRI. Jadi kalau diperiksa dengan USG tidak tampak ada masalah, belum tentu memang tidak ada masalah. Jadi peran radiologi ini sangat penting dalam penentuan diagnosa dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh dokter,” ujarnya.

Dokter yang fellowship khusus di muskuloskeletal di Singapura dan Italia ini juga menekankan pentingnya tenaga ahli dalam penerapan pemeriksaan radiologi. “Selain alat yang lengkap dan teknologi terkini seperti yang ada di RSOT, tenaga ahli juga sangat penting. Jadi bagaimana bidang radiologi yang penuh dengan teknologi alat ini dapat dioperasikan oleh ahlinya, sehingga menghasilkan diagnosa yang tepat,” tutupnya.

USG Muskuloskeletal oleh dr. Rosy, Sp.Rad


1-Main.jpg
22/Jul/2021

Dalam rangka merayakan HUT ke-9,
RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya mengadakan kegiatan *CHARITY RUN FOR CTEV*.
Dalam kegiatan ini, kami menggalang dana untuk penanganan anak yg terlahir dengan kaki bengkok (CTEV) dari keluarga tidak mampu.

Kami mengajak para Runners untuk ikut bergabung dan bersama-sama dengan kami membantu mereka agar dapat berdiri dan berjalan dengan normal.

_*LET’S RUN TO HELP THEM WALK !!*_

#RSOT #rsorthopedisurabaya #orthopedicrun #funrun #eventsurabaya #e100 #charityrunforctev #ctev #kakipengkor #surabaya


scoliosis-1200x675.jpg
22/Jul/2021

Jangan sepelekan anak kecil yang berjalan miring atau mempunyai pundak yang asimetris. Karena dua
hal tersebut merupakan gejala awal pembengkokan tulang belakang atau disebut juga skoliosis
.

Mengapa manusia bisa berdiri tegak ?

Hal ini disebabkan karena memiliki tulang belakang. Tugas tulang
belakang sungguh berat yakni menopang dua pertiga dari berat badan dan si sisi lain harus melakukan
banyak gerakan tubuh.

Lantas bagaimana jika tulang penyangga manusia tersebut bengkok?

Skoliosis atau pembengkokan tulang belakang ke arah samping yang melebihi 10 derajat. Scoliosis akan
tampak seperti benjolan (punuk) pada bagian punggung sebelah atas, bawah, kiri, atau kanan. Ciri-ciri
lain tampak ketika penderita berdiri tegak badan akan tampak lebih condong ke satu sisi, kaki panjang
sebelah, dan bahu yang asimetris. Skoliosis dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga
dewasa.

Masih banyak orang yang asing dengan penyakit ini. Namun, meskipun terdengar mengerikan, penyakit
skoliosis dapat dicegah agar tidak semakin parah atau semakin bengkok jika dikenali sejak dini.

Penyebab Skoliosis ?

Terdapat tiga penyebab atau faktor pemicu skoliosis, diantaranya genetik yakni terdapat riwayat
skoliosis pada keluarga penderita, kelianan saraf/ otot, serta cidera atau infeksi tulang belakang. Namun,
kejadian yang lebih sering ditemui pada kasus skoliosis adalah faktor idiopatik atau belum diketahui
pasti penyebabnya.

Pengaruh gaya hidup terhadap skoliosis ?

Bagi penderita skoliosis, gaya hidup juga mempengaruhi bertambah parah atau tidaknya pembengkokan
pada tulang belakang. Postur duduk yang kurang baik yakni melengkung dan sering membawa tas berat
di satu sisi akan membuat tulang belakang semakin bengkok.

Yang harus diingat adalah membawa tas yang terlalu berat tidak akan mengakibatkan skoliosis kecuali
bagi anda yang memiliki riwayat keluarga terkena skoliosis.

Penanganan skoliosis ?

Apabila anggota keluarga anda terkena skoliosis, maka sebaiknya anda menemui dokter spesialis
orthopedi, khususnya ahli tulang belakang. Di RS. Orthopedi & Traumatologi (RSOT) Surabaya sendiri
telah menyediakan layanan sub spesialistik khusus tulang belakang.

Sebelum dilakukan penanganan, biasanya dokter di RSOT akan melakukan observasi atau pengamatan
dalam jangka waktu 3-6 bulan untuk mengetahui apakah skloliosis yang dialami penderita termasuk ke
dalam skoliosis progresif atau tulang mengalami bengkok terus-menerus atau tidak.

Setelah observasi barulah diketahui apakah scoliosis tergolong scoliosis ringan atau scoliosis tingkat
berat. Untuk scoliosis ringan maka akan dilakukan penanganan non-bedah yakni dengan physical therapy dan pemasangan brace atau penyangga tulang belakang. Selain itu pasien skoliosis ringan dapat
pula melakukan olahraga berenang agar kondisinya tidak bertambah buruk. Untuk skoliosis tingkat berat
yakni ketika sudut bengkok di atas 40 derajat, maka perlu dilakukan tindakan operasi dengan
pemasangan pen pada tulang belakang guna mengembalikan tulang belakang pada posisi semula.

“RSOT telah melakukan screening ke sekolah-sekolah untuk mendeteksi kelainan tulang belakang secara
dini. Karena biasanya justru orang-orang di sekitar penderita yang memberitahu ada yang berbeda
dengan postur tubuhnya. Untuk itulah sebaiknya para orang tua peka dan memperhatikan pertumbuhan
anaknya serta mengenal ciri-ciri skoliosis agar tidak semakin parah” Ujar dr.Carlos Gracia, Sp.OT.

artikel terkait deteksi dini skoliosis, klik disini.

dr. CarlosGraciaBinti, Sp.OT (K)
dr. CarlosGraciaBinti, Sp.OT (K)

#RSOTSby
#RSOTSurabaya
#RSOrthopedi&Traumatologi
#RSOrthopedi&TraumatologiSurabaya


knee-injury-1.jpg
22/Jul/2021

ACL (Anterior Cruciate Ligament)

Lutut terdiri dari berbagai struktur, yaitu tulang, ligamen, bantalan sendi, tempurung, dll. Dari struktur tersebut, bagian yang paling sering mengalami cedera olahraga adalah ligamen atau pengikat sendi yang berbentuk urat. Dari ligamen yang ada di lutut yang paling sering mengalami cedera saat berolahraga adalah ACL.


  • Penyebab Cedera ACL
  • Tanda-Tanda Cedera ACL
  • Penanganan Cedera ACL
  • Rekonstruksi ACL
  • Proses Rehabilitasi
Penyebab Cedera ACL

Cedera ACL biasanya terjadi karena gerakan yang bersifat melintir badan atau pivot, serta deselerasi atau berhenti dengan cepat dan diikuti memutar badan. Cedera ACL juga bisa terjadi karena salah tumpuan mendarat setelah melakukan jumping, atau gerakan cutting.

“Olahraga yang biasanya banyak melakukan cuttingdeseleration, jumping dan pivot ini biasanya basket dan sepakbola. Tiba-tiba lari kencang, kemudian berhenti tajam dan memutar arah. Itu sangat berpotensi mengakibatkan cedera ACL”

Tanda-Tanda Cedera ACL

Cedera ACL saat berolahraga biasanya ditandai dengan tiga hal, seperti nyeri yang tajam pada lutut, diikuti bunyi, dan tidak bisa berdiri.

Penderita cedera ACL akan merasa lututnya goyang ketika melakukan gerakan memutar atau berubah arah, sebab pengikat atau ligamennya ada yang putus”

Penanganan Cedera ACL

Cedera ACL adalah cedera yang bisa ditangani dengan cukup mudah. Pada dasarnya, penanganan cedera ACL akan sangat tergantung pada ekspektasi penderitanya. Bagi mereka yang ingin melakukan kembali olahraga, apalagi olahraga kompetitif, akan dianjurkan untuk melakukan tindakan operasi rekonstruksi ligamen. Sebab, jika salah satu ligamen ini mengalami kerusakan, termasuk putus, hal tersebut akan mengganggu kestabilan lutut.

Rekonstruksi ACL

Rekontruksi ACL ini merupakan penggantian ACL dengan urat lain yang diambil dari urat hamstring. “Secara kekuatan, otot hamstring ini 90-95% memiliki kekuatan yang sama dengan ACL”

RSOT sendiri sudah lumayan sering melakukan penanganan ACL ini, dengan intensitas satu hingga dua kasus setiap bulan.

Proses Rehabilitasi

Proses Rehabilitasi ini pada umumnya memakan waktu selama sembilan bulan, hingga pasien bisa melakukan olahraga yang kompetitif.

“Untuk olahraga ringan, satu hingga dua bulan pasca operasi sudah bisa bersepeda, tiga bulan sudah bisa joging, enam bulan sudah mulai bisa basket dan melakukan teknik shooting tapi hindari kontak, pada bulan ke sembilan baru bisa main game atau pertandingan.”



Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat