Please wait...

sindrom-text-neck.jpg

Waspadai Sindrom “Text Neck”

Karena Kecanduan Smartphone

Dilansir dari We Are Social, disebutkan pada awal tahun 2020 ada 338,2 juta masyarakat Indonesia yang memiliki smartphone, dengan 160 juta pengguna aktif media sosial (medsos). Bila dibandingkan dengan tahun 2019, maka pada tahun ini ada peningkatan 10 juta orang indonesia yang aktif di medsos. Pengguna aktif smartphone dan media sosial ini bukan hanya pada kalangan anak muda saja, namun dari remaja hingga usia lanjut (16 hingga 64 tahun).

Fenomena masifnya penggunaan smartphone ini cukup mengkhawatirkan, pasalnya, terdapat fakta lain yang muncul akibat banyaknya pengguna smartphone yang mengakibatkan nyeri atau sakit pada kepala, leher, hingga punggung. Kondisi ini kemudian disebut sindrom Text Neck.

Sindrom Text Neck adalah nyeri di leher, otot leher, dan bahu, bahkan mungkin melibatkan degenerasi tulang, persendian, atau cakram tulang belakang di leher. Hal ini menjadi masalah apabila cedera di sekitar leher terjadi berulang kali akibat penggunaan ponsel dalam jangka waktu yang lama.

Gejala Sindrom Text Neck

  • Leher kaku dan sulit bergerak saat menggerakkan leher
  • Nyeri biasanya di bagian leher bawah dan nyeri terasa tumpul atau tajam seperti ditusuk pada kasus yang sudah berat
  • Nyeri menyebar hingga terasa di bahu dan lengan
  • Kelemahan otot-otot bahu
  • Sakit kepala
  • Nyeri lebih terasa saat leher menunduk
  • Nyeri atau kesemutan, kebas, yang menjalar hingga bahu, lengan, tangan dan/atau jari tangan

Akibat dari Text Neck Syndrome

Bila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dapat menyebabkan nyeri leher dan punggung yang kronis, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Pada anak-anak, saat mereka memasuki usia 20-30 tahun akan terjadi perubahan degeneratif pada postur tubuh mereka. Kemungkinan mereka akan memiliki postur tubuh bungkuk pada usia yang relative masih muda.

Bukan hanya itu, sindrom ini juga biasa mengganggu kesehatan mereka yang dapat berakibat anak-anak mengkonsumsi obat-obatan lebih banyak atau bahkan menjalani operasi di usia muda. Kondisi text neck yang menahun juga dapat mengakibatkan bantalan antar ruas tulang belakang keluar dari posisi sebelumnya sehingga menekan saraf. Saraf pada leher berfungsi untuk mengatur nafas, jika saraf tersebut rusak, maka kita akan mengalami kesulitan dalam bernafas.

Bagaimana Mengatasi Text Neck Syndrome

  • Batasi Penggunaan Smartphone

Saat postur seseorang berada dalam posisi tegak, maka kepala akan seimbang dengan leher. Namun saat kepala menunduk, maka kondisi kepala dan leher menjadi tidak seimbang.

  • Posisikan Smartphone Sejajar dengan Mata

Bila terpaksa menggunakan smartphone dalam waktu lama, usahakan posisi smartphone sejajar dengan posisi mata. Sebuah studi mengatakan bahwa berat kepala manusia pada posisi netral sekitar 5-6 kg. pada posisi menunduk dengan sudut 15° berat ini bertambah 20 kg, 30 kg pada posisi menunduk 60°. Dapat dibayangkan berapa berat yang harus ditopang oleh leher setiap harinya saat anda menggunakan smartphone dengan kepala menunduk?

  • Istirahat saat Menggunakan Smartphone

Berilah istirahat pada diri anda sekitar 20-30 menit sekali saat sedang menggunakan smartphone. Letakkan smartphone sekitar 2-3 menit untuk memberikan kesempatan kepada leher, punggung, dan bahu agar dapat berelaksasi.

  • Lakukan Peregangan Otot

Tundukkan dan tengadahkan kepala secara bergantian, lalu tekuk ke kanan dan kiri bergantian. Juga lakukan gerakan memutar bahu searah dan berlawanan arah jarum jam secara bergantian. Dengan peregangan ini diharapkan otot dapat kembali normal dan terhindar dari sindrom text neck.

  • Hubungi Dokter

Bila nyeri leher yang anda rasakan masih terus berlanjut maka saatnya untuk mengunjungi dokter. Semakin cepat anda mendapatkan perawatan dari ahlinya, semakin sedikit resiko atau akibat yang dapat terjadi pada kesehatan anda.


Duduk-benar-1200x1800.jpg

BAGAIMANA POSTUR YANG BAIK UNTUK PUNGGUNG?

POSTUR TUBUH SAAT BERDIRI

Perhatikan hal-hal di bawah ini ketika berdiri :

  • Posisi tubuh tegak
  • Tarik bahu dan perut kearah belakang (jangan berlebihan seperti posisi tegap khas tentara, karena itu bisa menyebabkan gangguan kelengkungan tulang belakang dan kelelahan pada otot)
  • Biarkan tangan menggantung secara alami di sisi tubuh
  • Beri jarak antara kaki kiri dan kanan, kurang lebih selebar bahu

Menjaga kesehatan tulang belakang sangat penting, karena tulang belakang merupakan salah satu struktur utama penopang tubuh. Tulang belakang bisa mengalami beberapa kelainan, seperti scoliosis, kifosis, maupun lordosis. Dari beberapa kelainan tulang belakang itu, ada yang disebabkan karena kelainan genetik, tapi ada juga yang disebabkan karena postur tubuh yang salah. Ya, postur tubuh yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai keluhan. Mulai dari nyeri punggung, sakit leher, dan nyeri bahu. Hal ini berdampak pada kelenturan dan keseimbangan tubuh, serta mempengaruhi proses pernapasan dan pencrnaan. Inilah sebabnya, kita harus menjaga agar postur tubuh selalu dalam posisi yang tepat, agar kesehatan tulang belakang selalu dalam posisi yang tepat, agar kesehatan tulang belakang selalu terjaga.

POSTUR TUBUH SAAT DUDUK

  • Usahakan duduk dengan posisi bokong di bagian paling belakang kursi, karena itu dapat menyangga area punggung dengan baik. Jika diperlukan, anda bisa menyokong area punggung bagian bawah dengan meletakkan bantal kecil.
  • Dekatkan siku dengan tubuh.
  • Hindari menyilangkan kaki, kedua telapak kaki sebaiknya menapak lantai.
  • Atur ketinggian kursi, sehingga sendi pada lutut membentuk siku-siku (90°)
  • Saat duduk di depan komputer, pastikan layar monitor sejajar dengan lengan. Perhatikan juga jarak pandang antara layer dan mata.
  • Saat menyetir, atur posisi kursi mendekat pada kemudi, sehingga lutut tetap menekuk, tetapi kaki dapat mencapai pedal.

POSTUR TUBUH SAAT TIDUR

Tanpa disadari, tidur menghabiskan sepertiga waktu seseorang dalam sehari. Oleh karena itu, posisi tidur yang baik juga tak kalah penting. Perhatikan hal-hal ini :

  • Pastikan bantal berada di bawah kepala, bukan di bawah bahu. Ketebalan bantal juga harus diperhatikan agar kepala tetap berada pada posisi normal.
  • Bisa juga tidur menyamping dengan lutut sedikit ditekuk, tetapi jangan sampai posisi lutut menempel perut. Posisi tersebut bisa menyebabkan nyeri punggung.
  • Hindari posisi tengkurap.
  • Pilih Kasur yang dapat menopang berat badan dengan baik, tidak perlu yang terlalu keras dan jangan yang terlalu empuk.

 

POSTUR TUBUH SAAT MENGANGKAT BENDA

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam mengangkat dan membawa suatu benda yang dapat melindungi punggung anda dan dapat mencegah cedera.

  • Hindari membungkuk setinggi pinggang ketika mengambil sesuatu. Hal ini dapat menciptakan ketegangan pada punggung dan memperbesar resiko cedera.
  • Kaki anda memisah, dengan satu kaki sedikit ke depan dari kaki yang lain. Ini memberikan basis penyangga yang lebar, lebih stabil, lebih bertenaga, dan lebih kuat.
  • Tekuk lutut anda dan berjongkok, jaga punggung anda tetap lurus dan kepala anda juga lurus selama mengangkat. Posisi ini memberikan kekuatan yang lebih untuk otot-otot tungkai dan menjaga keseimbangan punggung anda.

gensingen-brace-1200x1800.jpg

Dengan pendekatan brace yang bersifat asimetric, personal, dan computerize, Gensingen Brace According to dr. Weiss (GBW) menjadi harapan baru bagi penderita scoliosis. Bukan hanya untuk menahan laju pertumbuhan kurva pada tulang belakang, tapi juga untuk mengkoreksi kurva tersebut.

GBW adalah brace yang dikembangkan oleh dr. Weiss di kota Gensingen, Jerman. Brace ini merupakan turunan dari Cheneau Brace yang selama ini dikenal oleh para dokter orthopedi di seluruh dunia sebagai terapi bagi penderita scoliosis. GBW dikembangkan bersama dengan Schroth Best Practice untuk mendapatkan hasil koreksi yang lebih maksimal.

“GBW adalah asymetrical brace dan merupakan support dari Schroth Best Practice yang merupakan specific exercise atau latihan-latihan spesifik untuk scoliosis. Metode specific exercise ini hanya ada beberapa di dunia, tidak banyak. Dan yang sudah banyak riset dan jurnalnya adalah schroth,” ujar dr. Arhwinda ketika ditemui di ruang praktiknya di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya. “Dulu, jika kurva scoliosis diatas 40 persen, sudah indikasi atau harus operasi, tapi dengan perkembangan teknologi, oleh perhimpunan scoliosis  dunia parameter itu ditarik. Diatas 60 persen baru indikasi operasi.”

Dilanjutkan oleh dr. Arhwinda, proses pembuatan GBW untuk penderita scoliosis dilakukan secara terkomputerisasi, baik dari sisi desain maupun manufaktur sehingga bentuk brace yang dihasilkan bisa sangat personal sesuai dengan masing-masing kurva penderita atau bersifat asimetri. Hal ini berbeda dengan brace konvensional yang bentuknya cenderung sama dari atas ke bawah.

Proses pembuatan brace tersebut dimulai dengan proses scanning tubuh pasien. Hasil scan tersebut akan diproses secara komputerisasi dan langsung di-upload ke sistem dan dikirim ke jerman beserta dengan data-data pendukung lainnya yang dibutuhkan, salah satunya adalah foto x-ray scoliosis view.

Proses tersebut dapat dilakukan langsung di RSOT dengan peralatan yang dimiliki oleh rumah sakit khusus tulang dan traumatologi tersebut. Yang menarik, di RSOT proses foto tersebut cukup dilakukan dengan satu kali exposure/foto saja dengan menggunakan Long Length Imaging System. “Kalau nggak pakai alat ini, foto untuk scoliosis view harus dilakukan sampai empat kali foto. Artinya, paparan radiasi yang diterima pasien juga semakin besar”, tandas dr. Arhwinda.

Hasil desain GBW dari jerman didesain oleh teknisi khusus kemudian akan dlikirim ke pabrikan Jakarta dan dimanufaktur dengan komputerisasi, untuk kemudian diteruskan kepada pengguna GBW. Hal lain yang menjadi pembeda GBW ada proses evaluasi, dimana setiap enam bulan sekali akan dilakukan foto ulang untuk mengetahui koreksi kurva. Pada GBW, foto tersebut akan dilakukan tanpa menggunakan brace, sementara pada brace konvensional, foto dilakukan pada pasien dengan tetap menggunakan brace sehingga koreksi yang tampak cenderung tidak sesuai dengan koreksi real yang terjadi pada bulan tersebut.

Proses penggunaan brace tersebut akan dijalankan selama dua tahun. Setelahnya, diharapkan akan terjadi koreksi yang signifikan pada kurva scoliosis pasien,. Setiap tiga bulan, juga akan dilakukan revisi pada GBW sesuai dengan progress yang terjadi pada kurva scoliosis pasien. Seperti penyesuaian padding, bar, dan bagian lain pada GBW.

Untuk semua revisi tersebut dan observasi selama dua tahun, pasien tidak akan dikenakan biaya tambahan, karena sudah termasuk dalam biaya pembelian GBW. “Jadi harga GBW sudah termasuk biaya konsultasi dokter sebanyak delapan kali dalam satu tahun, biaya latihan schroth sebanyak 14 kali dalam satu tahun, dan revisi-revisi pada brace”, tentang dr. Arhwinda.

 

Deteksi dan Penanganan Lebih Awal, Hasil Lebih Maksimal

            “Sepanjang yang saya tau, dengan penggunaan GBW ini, kurva scoliosis pasti dapat 100% terkoreksi atau membaik, cuma tinggal koreksinya seberapa besar. Ada yang bisa bagus banget, bahkan lebih dari 50% terjadi pengurangan kurva, dan itu biasanya terjadi pada kurva-kurva yang besar”, tandas dr. Arhwinda. “Apalagi kalau pasien datang pada usia sebelum 14 tahun atau sebelum haid pertama kali, hasilnya akan baik sekali”.

Tapi bukan berarti mereka yang berusia diatas itu tidak akan mendapatkan hasil yang baik. “Usia 18-20 tahun misalnya, tetap bisa terkoreksi meski tidak signifikan, tapi secara kosmetik akan terlihat hasilnya. Terutama bagian punuk dan tonjolan pinggul”.

Selain itu, RSOT juga mendukung proses perbaikan kurva scoliosis tersebut dengan latihan schroth. RSOT jugatelah beberapa mengadakan latihan schroth yang dikemas dalam Scoliosis Super Camp. Salah satunya adalah event Scoliosis Super Camp yang diadakan januari 2020 lalu dengan mendatangkan langsung trainer schroth dari Ukraina. GBW adalah brace yang sesuai dengan prinsip latihan Schroth Best Practice.


© 2021 PT. SURABAYA ORTHOPEDI AND TRAUMATOLOGY HOSPITAL. All Rights Reserved.

WhatsApp Live Chat