Please wait...

KOREKSI KURVA SKOLIOSIS HINGGA 50 PERSEN

gensingen-brace-1200x1800.jpg

Dengan pendekatan brace yang bersifat asimetric, personal, dan computerize, Gensingen Brace According to dr. Weiss (GBW) menjadi harapan baru bagi penderita scoliosis. Bukan hanya untuk menahan laju pertumbuhan kurva pada tulang belakang, tapi juga untuk mengkoreksi kurva tersebut.

GBW adalah brace yang dikembangkan oleh dr. Weiss di kota Gensingen, Jerman. Brace ini merupakan turunan dari Cheneau Brace yang selama ini dikenal oleh para dokter orthopedi di seluruh dunia sebagai terapi bagi penderita scoliosis. GBW dikembangkan bersama dengan Schroth Best Practice untuk mendapatkan hasil koreksi yang lebih maksimal.

“GBW adalah asymetrical brace dan merupakan support dari Schroth Best Practice yang merupakan specific exercise atau latihan-latihan spesifik untuk scoliosis. Metode specific exercise ini hanya ada beberapa di dunia, tidak banyak. Dan yang sudah banyak riset dan jurnalnya adalah schroth,” ujar dr. Arhwinda ketika ditemui di ruang praktiknya di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya. “Dulu, jika kurva scoliosis diatas 40 persen, sudah indikasi atau harus operasi, tapi dengan perkembangan teknologi, oleh perhimpunan scoliosis  dunia parameter itu ditarik. Diatas 60 persen baru indikasi operasi.”

Dilanjutkan oleh dr. Arhwinda, proses pembuatan GBW untuk penderita scoliosis dilakukan secara terkomputerisasi, baik dari sisi desain maupun manufaktur sehingga bentuk brace yang dihasilkan bisa sangat personal sesuai dengan masing-masing kurva penderita atau bersifat asimetri. Hal ini berbeda dengan brace konvensional yang bentuknya cenderung sama dari atas ke bawah.

Proses pembuatan brace tersebut dimulai dengan proses scanning tubuh pasien. Hasil scan tersebut akan diproses secara komputerisasi dan langsung di-upload ke sistem dan dikirim ke jerman beserta dengan data-data pendukung lainnya yang dibutuhkan, salah satunya adalah foto x-ray scoliosis view.

Proses tersebut dapat dilakukan langsung di RSOT dengan peralatan yang dimiliki oleh rumah sakit khusus tulang dan traumatologi tersebut. Yang menarik, di RSOT proses foto tersebut cukup dilakukan dengan satu kali exposure/foto saja dengan menggunakan Long Length Imaging System. “Kalau nggak pakai alat ini, foto untuk scoliosis view harus dilakukan sampai empat kali foto. Artinya, paparan radiasi yang diterima pasien juga semakin besar”, tandas dr. Arhwinda.

Hasil desain GBW dari jerman didesain oleh teknisi khusus kemudian akan dlikirim ke pabrikan Jakarta dan dimanufaktur dengan komputerisasi, untuk kemudian diteruskan kepada pengguna GBW. Hal lain yang menjadi pembeda GBW ada proses evaluasi, dimana setiap enam bulan sekali akan dilakukan foto ulang untuk mengetahui koreksi kurva. Pada GBW, foto tersebut akan dilakukan tanpa menggunakan brace, sementara pada brace konvensional, foto dilakukan pada pasien dengan tetap menggunakan brace sehingga koreksi yang tampak cenderung tidak sesuai dengan koreksi real yang terjadi pada bulan tersebut.

Proses penggunaan brace tersebut akan dijalankan selama dua tahun. Setelahnya, diharapkan akan terjadi koreksi yang signifikan pada kurva scoliosis pasien,. Setiap tiga bulan, juga akan dilakukan revisi pada GBW sesuai dengan progress yang terjadi pada kurva scoliosis pasien. Seperti penyesuaian padding, bar, dan bagian lain pada GBW.

Untuk semua revisi tersebut dan observasi selama dua tahun, pasien tidak akan dikenakan biaya tambahan, karena sudah termasuk dalam biaya pembelian GBW. “Jadi harga GBW sudah termasuk biaya konsultasi dokter sebanyak delapan kali dalam satu tahun, biaya latihan schroth sebanyak 14 kali dalam satu tahun, dan revisi-revisi pada brace”, tentang dr. Arhwinda.

 

Deteksi dan Penanganan Lebih Awal, Hasil Lebih Maksimal

            “Sepanjang yang saya tau, dengan penggunaan GBW ini, kurva scoliosis pasti dapat 100% terkoreksi atau membaik, cuma tinggal koreksinya seberapa besar. Ada yang bisa bagus banget, bahkan lebih dari 50% terjadi pengurangan kurva, dan itu biasanya terjadi pada kurva-kurva yang besar”, tandas dr. Arhwinda. “Apalagi kalau pasien datang pada usia sebelum 14 tahun atau sebelum haid pertama kali, hasilnya akan baik sekali”.

Tapi bukan berarti mereka yang berusia diatas itu tidak akan mendapatkan hasil yang baik. “Usia 18-20 tahun misalnya, tetap bisa terkoreksi meski tidak signifikan, tapi secara kosmetik akan terlihat hasilnya. Terutama bagian punuk dan tonjolan pinggul”.

Selain itu, RSOT juga mendukung proses perbaikan kurva scoliosis tersebut dengan latihan schroth. RSOT jugatelah beberapa mengadakan latihan schroth yang dikemas dalam Scoliosis Super Camp. Salah satunya adalah event Scoliosis Super Camp yang diadakan januari 2020 lalu dengan mendatangkan langsung trainer schroth dari Ukraina. GBW adalah brace yang sesuai dengan prinsip latihan Schroth Best Practice.

Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat