Please wait...

side-view-female-swimmer-with-cap-goggles-swimming-water-1-1200x801.jpg

Selain menyehatkan berenang juga sangat menyenangkan untuk dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun, pernahkah sahabat ortho semua mendengar larangan berenang setalah makan dan harus menunggu hingga 1 jam? Tentu saja, kalimat tersebut sering diucapkan oleh para orang tua dengan alasan berenang setelah makan bisa menyebabkan kram. Namun pernyataan tersebut belum tentu benar. Jadi, apakah hal tersebut bisa dikatakan mitos atau fakta ya?

BOLEHKAH BERENANG SETELAH MAKAN?

Menurut ahli fisiologi Latihan dan direktur diet & pusat kebugaran Duke University, Gerald Endress, berenang dengan perut kenyang tidak mempengaruhi kemampuan berenang secara signifikan. Secara biologis, darah memang mengalir ke perut untuk membantu proses pencernaan, tetapi hal tersebut tidak menyebabkan otot kehilangan energi apalagi sampai menyebabkan anda tenggelam. Menurut Roshini Rajapaksa dari New York University School of Medicine, berenang dengan perut yang penuh sehabis makan dapat menyebabkan kram perut jika anda berenang dengan penuh semangat tetapi tidak sampai membuat anda tenggelam.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa berenang setelah makan itu berbahaya. Namun, olahraga yang terlalu kuat dapat menyebabkan aliran darah yang seharusnya mengarah ke pencernaan justru berbalik ke area otot. Hal inilah yang menyebabkan kita merasa mual atau bahkan sampai muntah karena makanan masih dicerna oleh lambung.

Istirahat sejenak setelah makan Ketika anda merasa perut terlalu kenyang. Tunggu beberapa saat hingga anda merasa bahwa perut anda membaik dan sudah siap untuk dibawa berolahraga. Lakukan pemanasan dengan intensitas rendah terlebih dahulu sebelum melakukan olahraga berat seperti berenang agar kita terhindar dari keluhan kram perut. Berenang termasuk olahraga yang dapat diterima oleh tubuh setelah makan, dengan syarat gerakan yang dilakukan masih dalam intensitas wajar sehingga perut tidak kaget dan menyebabkan kram.

GERAKAN PEMANASAN SEBELUM BERENANG UNTUK CEGAH KRAM

Plantar Fascia Stretch

Plantar Fascia Stretch perlu dilakukan untuk menghindari kram. Gerakan ini cukup mudah dilakukan. Kita cukup mencari dinding yang bisa dijadikan sandaran, lalu templekna bagian jari-jari ke dinding tersebut dan berikan tekanan dengan menekuknya ebberapa kali.

Alternative Plantar Fascia Relief

Mirip dengan gerakan plantar fascia stretch, hanya saja gerakan pemanasan ini perlu dikalukan dengan bantuan bola tenis. Caranya, letakkan bola tenis di bagian bawah telapak kaki, lalu gerak-gerakkan bola dengan telapakkaki. Pastikan posisi telapak kaki tidak lemas dan meregang, sehingga jari-jari kaki menjadi terangkat.

Gastrocnemius Stretch

Gastrocnemius Stretch merupakan gerakan terakhir yang tak kalah penting untuk dilakukan. Untuk melakukannya, kamu perlu berdiri dengan satu kaki di depan dan kaki yang satunya di belakang lurus, hingga tumit menyentuh lantai. Tahan posisi selama beberapa hitungan dan lakukan beberapa kali.

Jika sahabat ortho memiliki keluhan kram atau keluhan seputar tulang, otot dan sendi segera konsultasikan ke dokter spesialis orthopedi dan traumatologi di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.

Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya

-Your Bone and Joint Solution-

Informasi dan Pendaftaran :

9031) 574 31 574 / 574 31 299

Whatsapp 0813 3662 1957 / 0813 3787 3131

IGD        :
(031) 574 31 574 /574 31 299 ext  118

Whatsapp 0823 3765 5500

 

Referensi :

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2730869/berenang-setelah-makan-bikin-kram-benarkah

https://hellosehat.com/kebugaran/kelenturan/pemanasan-pendinginan-berenang/

https://www.physioproperth.com.au/resources/exercises/leg-stretches/gastrocnemius-stretch/

https://www.medicalnewstoday.com/articles/fat-injections-could-treat-foot-pain-in-plantar-fasciitis

 

Gambar :

https://www.freepik.com/free-photo/side-view-female-swimmer-with-cap-goggles-swimming-water_10296634.htm#query=swimming&position=1&from_view=search


runner-heel-carousel.jpg

Cedera adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga.

Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didaptkan pada saat olahraga. bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle  atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.

Menurut dr. Theri Effendi, Sp.OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligamen dan jaringan lunak lainnya seperti meniscus (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan dan cedera otot di sekitar lutut seperti harmstring, quadriceps dll. Cedera yang yang sering terjadi pada lutut adalah Cedera Anterior Cruciate Ligaments (ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulang paha dengan tulang kering di sendi lutut.

Sementara di daerah ankle, yang paling sering terjadi adalah ankle sprain, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan kesleo. Pada ankle, ligamen yang paling lemah dan sering cedar adalah anterior ligamen. Selain itu, cedera pada ankle yang sering terjadi adalah pada tendon achilles, yang merupakan tendon terbesar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitif overused atau dilakukan dengan intensitas yang sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang. hal tersebut dapat mengakibatkan fraktur atau patah tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan stress fracture.

“Cedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga high impact dan cenderung banyak body contact-nya. Seperti sepakbola, basket, dll.” Terang dr. Theri. “Cedera olahraga paling banyak disebabkan karena body contact, tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dan jatuh pada posisi yang tidak benar, atau melakukan gerakan memutar seperti pivot (gerakan memutar secara tiba-tiba dengan berporos pada salah satu kaki, red) itu juga paling sering me nyebabkan cedera pada lutut dan ankle.

Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga semakin banyak digemari, termasuk olahrga urban sport, seperti running. Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. “Salah satunya yang sedang in  adalah olahraga lari. Merasa mau event, persiapan kurang, tapi ingin sampai finish. Jarak yang diambil pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,” papar dr. Theri. “Nutrisi juga harus juga diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yag kurang saat olahraga.”

JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT LAKUKAN RICE

Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat olahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. “Yang pertama harus dilakukana adalah Rest (istirahat), jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,” ujar dr. Theri.

Kemudian, langkah berikutnya adalah teknik Ice, yakni  icing, compressing dan elevating. Icing adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.

“kalau cedera itu sebenarnya, ada kerusakan jaringan di dalam, termasuk di dalamnya pemb uluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya perdarahannya akan semakin banyak,’ papar dr. Theri “Kalau dikasih es, kontraksi, perdarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.”

Proses elevating juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. “Kalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kencang, tapi juga tidak terlalu kendor,” katanya. “Kalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.”

PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT

Seiring dengan tren olahraga, oenanganan pada sport injury di Indonesia juga terus berkembang. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub-spesialis sport injury.

RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan perlatan modern. Salah satunya adalah dengan arthroscopy, teknik operasi minimal invasive dengan luka sayatan kecil bahkan kurang dari 1 cm dan proses recovery  yang sangat cepat.

Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehabilitasi medic dari dokter fisioterapis yang memiliki program dan standart of procedure (SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya dan berbagai klub professional lainnya.

“Target pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tau, kapan bisa mulai latihan lagi, kapan bisa tanding lagi dan seterusnya,” papar dr. Theri. “Sebab, dalam penanganan sport injury di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahrga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pensiun.” tutup dr. Theri.


keseleo-terkilir-dooktersehat-1.jpg

Keseleo pada pergelangan kaki sering sekali terjadi saat kita melakukan aktivitas sehari-hari. Keseleo pada pergelangan kaki atau yang lebih dikenal dengan ankle sprain adalah cedera pada satu atau lebih ligament (jaringan penghubung antara tulang). tingkat keparahan cedera yang terjadi dapat bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung dari berat ringannya cedera pada ligamen tersebut.

Ankle Sprain dapat disebabkan oleh karena jatuh, diman pergelangan kaki terpuntir ke dalam atau keluar. Kejadian ankle sprain lebih banyak pada kasus orang yang sedang olahraga, menggunakan sepatu yang sesuai dengan bentuk kakinya dan berjalan atau berlari pada permukaan tanah yang tidak rata/bergelombang. Kejadian ankle sprain yang berulang dapat menyebabkan pergelangan kaki menjadi tidak stabil dan hal tersebut dapat meningkatkan resiko terjadinya ankle sprain yang berulang di kemudian hari, dan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan tulang rawan sendi pergelangan kaki.

Sprain dibagi menjadi 3 derajat, berdasar berat kerusakan yang terjadi pada ligament,

  1. Derajat 1 (Ringan)

Ligamen mengalami robekan mikroskopik (stretched), iasanyha ditandai dengan pembekakan dan nyeri ringan di sekitar pergelangan kaki.

  1. Derajat 2 (Sedang)

Ligamen mengalami robekan parsial. Nyeri dan pembengkakan yang dirasakan lebih berat dari derajat 1 namun lebih ringan dari derajat 3.

  1. Derajat 3 (berat)

Ligamen mengalami robekan total. Pembengkakan dan nyeri yang terjadi cukup berat dan dapat disertai instabilitas pada ankle atau patah tulang. gejala yang dirasakan adalah nyeri, bengkak, memar instabilitas (bila terjadi robekan total pada ligament atau disertai dislokasi dari sendi pergelangan kaki). Bila terjadi robekan ligament yang cukup berat, pasien terkadang akan mendengar suara “pop”, yaitu suara putus/robeknya ligament tersebut.

Bila terjadi kesleo pada pergelangan kaki, penanganan pertama yang dapat dilakukan PRICE adalah Protection, Rest, Ice, Compression and Elevation. Protection dan Rest adalah melindungi dan mengistirahatkan kaki yang cedera. Ice adalah kompres dengan air dingin selama 20-30 menit sebanyak 3-4 kali sehari. Compression dapat dilakukan dengan melakukan balutan dengan elastic bandage arau ankle brace / ankle splint. Sementara Elevation adalah elevasi tungkai agar dapat mengurangi pembengkakan. Jika saat berjalan terasa nyeri, dapat menggunakan tongkat atau walker. Namun bila bengkak atau nyeri yang terjadi cukup berat, sebaiknya segera periksakan ke dokter spesialis Orthopedi dan Traumatologi, agar dapat dilakukan pemeriksaan yang lebuh detail, baik pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan radiologis (X-Ray, USG, MRI). Kami tidak menyrankan melakukan pemijatan di daerah yang mengalami cedera, karena pemiatan dapat memperparah kerusakan yang sudah terjadi akibat cedera awal dan tentu juga dapat menghambat proses penyembuhan pada jaringan tersebut.

Hampir seluruh kasus ankle sprain dapat ditangani tanpa pembedahan. Bahkan robekan yang cukup beratpun, bila dilakukan penanganan dengan tepat, akan sembuh dengan abaik. Secara umum, tata laksana kesleo pada sendi pergelangan kaki, dibagi menjadi 3 tahap, yaitu fase 1 yang menkankan pada istirahat, dan melindungi pergelangan kaki (brace, splint, cast) dan mengurangi pembengkakan dengan kompres dingin dan elevasi tungkai. Pada fase 2, tatalaksana ditekankan pada lingkup gerak sendi, kekuatan dan fleksibilitas sendi pergelangan kaki. Pada fase 3, latihan ditekankan untuk kembali ke aktifitas sehari-hari atau aktifitas olahraga.

Apabila nyeri dirasa cukup hebat, anda dapat mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi nyeri sesuai dosis, yaitu golongan obat NSAIDs (Non Streroidal Anti Inflamatory Drugs). Rehablititasi pada ankle sprain juga porsi penting untuk mencegah kekakuan, meningkatkan kekuatan sendi pergelangan kaki, dan mencegah terjadinya masalah kronis pergelangan kaki, sperti stabilitas dan osteoarthritis.

Terapi pembedahan pada ankle sprain sangat jarfang dilakukan jika cedera gagal membaik dengan terapi non-operatif (biasanya dilakukan observasi selama 6 bulan sejak kejadian cedera), dan apabila terdapat ketidakstabilan sendi pergelangan kaki meskipun sudah dilakukan rehabilitasi dan terapi tanpa pembedahan lainnya. Pilihan pembedahan yang dapat dilakukan adalah dengan arthroskopi atau mini-open technique yang akan dikerjakan oleh dokter spesialis orthopedi dan traumatologi. Ligamen yang cedera akan direkonstruksi dengan memakai augmentasi atau graft yang berasal dari tendon pasien sendiri.

Cara terbaik untuk mencegah kesleo pergalangan kaki adalah dengan tetap menjaga kekuatan otot di sekitar sendi, menjaga keseimbangan dan fleksibilitas pergelangan kaki. Apabila melakukan aktifitas fisik, lakukan pemanasan dan peregangan terlebih dahulu, berlari atau bekerja di permukaan tanah yang tidak rata, gunakan sepatu yang nyaman sesuai dengan aktifitas, istirahat atau hentikan aktifitas apabila anda merasakan kelelahan atau nyeri pada pergelangan kaki anda.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2021

WhatsApp Live Chat