Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

dr.-Theri-edit.jpg

Dokter spesialis orthopedi dan traumatologi Surabaya hand upper limb and microsurgery merupakan dokter spesialis orthopedi yang menangani konsultasi, pemeriksaan, tindakan operasi, dan rehabilitasi pada pasien yang mengalami cedera pada area tangan hingga bahu. Dokter orthopedi akan menentukan rencana pengobatan sesuai dengan keluhan pasien.

Sebagai contoh, Ketika terjadi kerusakan besar pada bagian jari misalnya jari tangan terputus, dibutuhkan bedah mikro atau microsurgery untuk merekonstruksi atau menyambung Kembali komponen kecil yang rusak. Untuk melakukan tindakan microsurgery, diperlukan keahlian dan ketelitian yang sangat tinggi saat operasi, dokter ahli hand upper limb and microsurgery sudah terlatih untuk mengenali komponen-komponen kecil pada tangan dan memperbaikinya secara detail.

Dokter spesialis orthopedi dan traumatologi ahli hand upper limb and microsurgery bisa menangani pasien dari berbagai usia. Kondisi yang bisa ditangani oleh dokter spesialis orthopedi dan traumatologi ahli upper limb and microsurgery, meliputi :

  1. Cacat lahir pada area tangan
  2. Osteoarthritis atau rheumatoid arthritis pada pergelangan tangan atau bahu yang menyebabkan kerusakan dan perubahan struktur jaringan tangan
  3. Cedera yang menyebabkan jari/jemari atau tangan terputus total
  4. Carpal Tunnel Syndrom (CTS)
  5. Cedera saraf atau tendon tangan
  6. Kista ganglion di pergelangan tangan
  7. Tumor tangan
  8. Tennis elbow

Tindakan yang dilakukan oleh dokter orthopedi dan traumatology ahli hand upper limb and microsurgery adalah :

  1. Pemeriksaan fisik dan tes penunjang untuk memastikan diagnosis
  2. Operasi dan perbaikan pada tulang, sendi, otot, ligamen, tendon, saraf, serta pembuluh darah di area tangan untuk mengembalikan fungsinya.
  3. Pemasangan gips pada patah tulang tangan
  4. Penggantian sendi pada area tangan
  5. Tindakan amputasi jika kerusakan tidak memungkinkan untuk diperbaiki
  6. Pemberian terapi obat-obatan, termasuk pemberian antibiotik dan pereda nyeri
  7. Perencanaan terapi pemulihan tangan agar pasien bisa beraktivitas seperti semula

Kapan harus menemui dokter spesialis orthopedi dan traumatology ahli hand upper limb and microsurgery?

Anda sangat dianjurkan menemui dokter spesialis orthopedi dan traumatologi ahli hand upper limb and microsurgery jika anda mengalami :

  1. Nyeri otot, sendi, atau tulang di area tangan yang menetap dan tidak membaik setelah beberapa hari
  2. Perubahan bentuk tangan atau jari yang disertai keluhan nyeri atau kaku
  3. Cedera fisik yang menimbulkan nyeri, luka terbuka, kesulitan bergerak, atau disertai patah tulang di area tangan.
  4. Pembengkakan sendi, otot atau jaringan lunak tangan yang disertai nyeri dan panas jika disentuh
  5. Cacat pada tangan yang muncul sejak lahir
  6. Infeksi yang menyebabkan luka terbuka atau abses pada tangan
  7. Kesemutan dan mati rasa di area tangan
  8. Tangan lemah dan tidak bisa digunakan seperti biasa
  9. Luka yang sangat dalam pada jari atau jari terpotong

Jika anda mengalami cedera atau keluhan pada area tangan bahu, jangan khawatir !

Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi Surabaya memiliki dokter spesialis orthopedi dan traumatologi subspesialis hand upper limb and microsurgery ;

Theri Effendi, Sp.OT (K) Hand Upper Limb and Microsurgery

Jadwal Praktek :

Senin dan Kamis   : 17.00 – 19.00

Selasa dan Jumat  : 15.00 – 17.00

Rabu dan Sabtu     : 13.00 – 15.00

Minggu                    : By Appointment

Appointment :

(031) 574 31 574 / 574 31 299

Whatsapp : 0813 3662 1957 / 0813 3787 3131

 

Referensi :

https://www.alodokter.com/ketahui-peran-dokter-ortopedi-ahli-hand-and-microsurgery-di-sini

What Is an Orthopedic Doctor and How Can They Help You? (2020), from: https://www.healthline.com/find-care/articles/orthopedists/what-is-an-orthopedic-doctor#insurance-coverage   


parkinson-1.jpeg

 

Salah satu penyakit neuro degenerative yang kerap dialami para Geriatri adalah Parkinson. Sebuah kondisi di mana terjadi pengecilan di daerah tertentu di otak, yang akhirnya menimbulkan gangguan sistem saraf pusat. Parkinson menyebabkan gangguan pada pergerakan, bahkan dalam kasus yang parah akan menyebabkan ketidakmampuan untuk beraktivitas. Untuk pencegahan Parkinson, orang lanjut usia sangat disarankan untuk tetap aktif bergerak atau beraktivitas

 

Gejala Tremor, Kaku, hingga Ketidakseimbangan Tubuh

Parkinson ditandai dengan kerusakan otak di daerah substantia nigra dan basal ganglia, di mana daerah tersebut menghasilkan senyawa dopamin yang berfungsi sebagai neutrotransmiter (penghantar stimulus berupa rangsangan ke sel saraf, baik di otak maupun di otot).

“Supaya seorang manusia bisa bangun dan melakukan gerakan yang lincah dan terkontrol, itu karena adanya senyawa dopamin ini. Jika terjadi kerusakan otak dan terjadi pengecilan, akan terjadi ketidakseimbangan senyawa-senyawa di otak, salah satunya dopamin itu turun. Kalau dopamin turun akhirnya timbul gejala-gejala klinis yang dikenal Parkinson,” jelas  dr. Nita Kurniawati, Sp. S dari RS. Orthopedi dan Traumatologi Surabaya (RSOT).

“Parkinson ditandai dengan empat gejala utama. Pertama adalah tremor atau gerakan gemetar. Pada umumnya di awali terjadi pada satu sisi yang lambat laun menyerang kedua sisi kanan dan kiri. Kedua, gerakan menjadi sangat kaku. Misalnya kesulitan mengubah posisi dari tangan menekuk menjadi lurus. Ketiga, gerakan menjadi lambat. Ini merupakan gejala yang paling banyak dikeluhkan oleh penderita Parkinson. Biasanya terjadi pada saat posisi tidur ke duduk, duduk berdiri yang membutuhkan waktu lebih lama dari lazimnya. Gejala keempat, merupakan fase yang lebih berat yaitu posture instability atau ketidakstabilan postur. Penderita tidak bisa berdiri atau jalan tegak / lurus. Rasanya seperti mau jatuh, itu karena ada gangguan ketidakseimbangan,” urai dr. Nita.

Yang juga digaris bawahi dr. Nita adalah mengenai perbedaan parkinson dengan parkinsonism. Dijelaskan dr. Nita, Parkinson murni  disebabkan oleh neuro degenerative. Sementara parkinsonism itu mirip parkinson, tapi dari penyebab lain, yang bisa menyebakan kerusakan daerah di otak, dan akhirnya bisa menimbulkan gejala parkinson. Salah satu contohnya adalah stroke, di mana stroke bisa menimbulkan gejala mirip Parkinson.

“Usia penderita parkinsonism juga mulai bergeser ke usia yang lebih muda karena penderita stroke juga disebabkan oleh lifestyle. Usia 40 tahun sudah ada yang mulai terkena, tapi gejalanya berbeda. Bukan tremor duluan, justru postural instability lebih dulu. Jalan tiba-tiba sering jatuh, tapi kakunya nggak ada, tremornya nggak ada. Nah, ini kita curigai parkinsonism. Untuk penyakit semacam itu , mutlak dilakukan imaging kepala atau MRI (Magnetic Resonance Imaging),” jelas dr. Nita lagi.

 

Lifestyle Buruk Picu Penurunan Dopamin

Senyawa dopamin yang berfungsi penting dalam pergerakan manusia, bisa menjadi rusak karena banyak hal. “Kerusakan otak itu atau proses penuaan lebih cepat terjadi karena radikal bebas. Radikal bebas bisa muncul karena keracunan, obat-obatan terlarang, dan lifestyle yang kurang bagus.  Lifestyle tidak bagus terlihat dari penampilan fisiknya lebih tua. Begitupun juga otak, mudah mengerut. Jika tidak ada rangsangan dari luar, kemudian orangnya cenderung pasif, diam, tidak ada aktifitas sehari-hari. Jika seperti itu otaknya semakin mengecil,” jelas dr. Nita.

  1. Nita menyarankan agar menerapkan lifestyle yang sehat untuk mencegah kerusakan dopamin. Salah satunya adalah rutin olahraga. “Karena olahraga menghasilkan senyawa untuk melawan radikal bebas. Kemudian untuk dopamin sendiri, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa untuk mencegah supaya perburukan gejala parkinson itu tidak berat, minumlah kopi satu gelas sehari dengan catatan jika tidak ada kontra-indikasi. Jadi kalau tidak ada penyakit lain, kopi boleh dikonsumsi meningkatkan dopamin”.

 

Terapi Penderita Parkinson

Sampai saat ini, penyakit Parkinson belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun demikian, ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien yaitu melalui terapi penggunaan obat-obatan (medis) dan non-medis. Terapi non medis dilakukan dengan cara bahwa pasien harus tetap melakukan exercise, terus aktif melakukan berbagai aktivitas. Sementara itu, terapi medis adalah dengan penggunaan obat-obatan. “Obat-obatan yang diberikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan atau mengganti dopamin dalam tubuh”.

Jika Parkinson sudah berat dan dengan pengobatan tidak membaik, parkinson dapat dibantu dengan tindakan lewat prosedur Deep Brain Stimulation (DBS), yakni memasang alat di otak untuk stimulasi agar mengeluarkan dopamin itu secara berkala. Atau melalui tindakan Bedah pisau gamma (gamma knife) untuk pasien yang tidak dapat menjalani prosedur DBS, bedah pisau gamma dapat menjadi pilihan. Prosedur ini dilakukan selama 15-40 menit, dengan memfokuskan sinar radiasi kuat ke area otak yang terdampak.

 

Harus Tetap Aktif di Usia Senja

Parkinson memang tidak memiliki risiko kematian secara langsung. Namun, pasien tidak dapat beraktivitas karena Parkinson ini. Seperti tidak bisa bangun dari tempat tidur, tidak bisa berdiri, susah makan dan minum sehingga nutrisi terganggu, maka akan berpotensi diikuti penyakit lainnya seperti infeksi paru, infeksi kulit, infeksi saluran kencing, dll. “Jadi parkinsonnya sendiri sebenarnya tidak, tapi komplikasi dari parkinson itu yang menyebabkan kematian,” papar dr. Nita.

“Untuk pencegahan parkinson, orang dengan usia lanjut harus tetap aktif. Walaupun usianya sudah tua, sudah pensiun, tetap harus cari kesibukan supaya tidak mempercepat pengecilan otak dan tetap bisa aktifitas sehari-hari. Karena jika tidak, orang bisa depresi. Pada saat orang depresi, senyawa dopamin, serotonin semua turun, sehingga dalam waktu dekat bisa muncul demensia dan parkinson,” tutupnya

 

 

Nita Kurniawati, Sp.S

(Dokter Spesialis Saraf)

JADWAL PRAKTEK :

Senin    16.00-18.00

Rabu    17.00-18.00

 

ORTHOPEDI & TRAUMATOLOGI SURABAYA
Emerald Mansion TX 10, Citraland – Surabaya

(031) 57431574 / 57431299
IGD : 082337655500 ext 118


download-1200x675.jpg

  1. Pilih Jenis Olahraga yang Tepat

Salah satu cara terbaik untuk menghindari cedera adalah mengetahui kondisi tubuh anda. Usiapun ikut menjadi pertimbangan untuk menentukan olahraga yang sesuai dengan kondisi anda.

  1. Gunakan Peralatan Olahraga yang Tepat

Setiap jenis olahraga memiliki peralatan yang berbeda. Pastikan peralatan sesuai dengan jenis olahraga yang dipilih.

  1. Lakukan Pemanasan dan Pendinginan

Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam pemanasan maupun pendinginan dapat membantu meningkatkan fleksibilitas atau kelenturan otot yang optimal untuk mencegah cedera otot.

  1. Jangan Berlebih

Saat melakukan olahraga, tubuh anda perlu beristirahat. Begitu juga dengan pengaturan waktu anda berolahraga, seberapa intens dan berapa lama durasinya. Tubuh anda bekerja setiap hari, ada baiknya bila rutinitas olahraga anda divariasikan.

  1. Mendapat Bimbingan dari Ahlinya

Bimbingan dan pengawasan dari ahlinya dapat mencegah cedera saat berolahraga, karena mereka bisa membenarkan postur tubuh yang berantakan dan memandu cara pakai alat-alat olahraga agar lebih efektif.

  1. Hubungi Dokter

Bila anda mengalami cedera, pusing, sakit dada, nafas yang tidak normal atau bahkan pingsan segera hubungi dokter anda untuk mendapatkan penanganan dengan segera.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2021

WhatsApp Live Chat