Please wait...

lab1-1200x860.jpg

Apakah PRP itu?

PRP atau platelet rich plasma, adalah salah satu komponen dari darah sendiri yang di proses dan dilakukan aktivasi sehingga menghasilkan faktor anti radang dan faktor pertumbuhan.

Platelet Rich Plasma (PRP) / Trombosit Kaya Plasma digunakan dalam menangani berbagai cedera olahraga karena kemampuannya untuk mempercepat kesembuhan dan meregenerasi pertumbuhan sel. Prosedur PRP ini relatif sederhana yaitu hanya dengan menggunakan darah pasien itu sendiri yang diproses secara medis untuk menghasilkan konsentrat trombosit. Konsentrat ini kemudian disuntikkan secara langsung ke dalam lokasi cedera untuk membantu penyembuhan.

Penyuntikan PRP pada daerah yang nyeri

Apakah PRP aman digunankan?

PRP aman digunakan karena ini bukan obat. Yang digunakan untuk penyuntikan adalah darah pasien sendiri, sehingga tidak akan ada risiko penolakan,alergi, infeksi dan penularan penyakit dari orang lain. Termasuk dalam golongan perawatan tanpa obat-obatan, PRP tidak menyebabkan efek samping keracunan, interaksi dan sistemik.

Proses Terapi PRP pada Cedera Olah Raga 

Prosedur perawatan PRP memerlukan waktu sekitar 50-60 menit dari proses awal hingga akhir. Pertama, pengambilan darah dari siku kemudian dilakukan dalam kondisi steril untuk mencegah kontaminasi. Kemudian darah ditransfer ke dalam tabung sekali-pakai dan diputar dengan kecepatan tinggi secara sentrifugal selama beberapa menit untuk memisahkan darah dan plasma. Kemudian plasma disuntikkan kebagian yang mengalami cedera. Saat diaktifkan pada lokasi cedera, plasma akan mengeluarkan faktor -faktor pertumbuhan yang membantu mengendalikan pembengkakan dan mendorong penyembuhan luka.

Faktor anti radang dan faktor pertumbuhan yang dihasilkan bermanfaat untuk:

  • Untuk mengurangi nyeri sendi dan menurunkan proses radang pada pengapuran sendi (ostheoarthritis)
  • Untuk mempercepat proses penyembuhan patah tulang
  • Cedera muskoloskeletal (robek pada ligament atau tendon, radang tendon/tendinitis akibat sport injury)

Prosedur PRP yang optimal memerlukan 2-3 kali terapi. Tindakan PRP digunakan pada pasien dengan nyeri pada persendian namun bukan untuk yang tingkat lanjut.  Untuk kerusakan sendi tingkat lanjut memerlukan operasi ganti sendi (ostheoarthritis)

Perbedaan injeksi PRP dengan suntikan lainnya ialah

Tindakan PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam proses pembaharuan serta tidak ada penolakan dari tubuh dikarenakan bahan yang tergandung dalam PRP ini berasal dari penderita sendiri. Berbeda dengan suntikan kortikosteroid yang dapat menghilangkan peradangan dan nyeri namun bersifat sementara, serta tidak memperbaiki jaringan yang rusak.

Tahap pemisahan komponen sel darah pada alat Centrifuge
Proses PRP

operasi-arthroscopy.jpg

Sayatan Operasi Sebesar Luka Kecil

Pemasalahan sendi, baik di lutut, bahu, dan beberapa lokasi sendi lainnya, dapat didiagnosa dan ditangani dengan arthroscopy yang punya banyak keunggulan seperti hasil yang maksimal, luka sayatan yang sangat kecil, hingga proses recovery yang sangat cepat.

SIAPA pun yang mengalami permasalahan sendi, tentu menginginkan penanganan terbaik. Jika pun harus dilakukan pembedahan, pasti banyak yang berharap proses operasi dapat dilakukan dengan cepat, efektif, dan rasa sakit atau nyeri pada saat atau pasca pembedahan dapat ditekan seminimal mungkin.

Untuk itu dunia kedokteran orthopedi, mengenal teknik arthroscopy. Secara harfiah, arthros dapat diartikan sebagai sendi, sementara copy adalah melihat atau mengamati, sehingga arthroscopy dapat diartikan sebagai proses melihat ke dalam sendi dengan menggunakan alat khusus.

Arthroscopy dilakukan dengan teknik minimal invasive yaitu membuat luka atau sayatan yang sangat kecil sekitar 1 cm atau sekitar sebesar ujung bolpen. Sayatan yang dibuat minimal dua. ”Kalau di pergelangan, sayatan yang dibuat bisa lebih kecil, hanya 0,5 cm. Arthroscopy dilakukan dengan membuat minimal dua sayatan, satu untuk endoscopic kamera, dan satu lagi alat untuk mengerjakan diagnosis,” terang dr. Theri Effendi, Sp.OT.

Arthroscopy memiliki dua fungsi sekaligus, yakni diagnosa permasalahan sendi, dan melakukan penanganan sekaligus. Terkadang, pada permasalah sendi, terdapat hal-hal yang tidak dapat terdeteksi dengan alat diagnostik lainnya seperti X-Ray atau USG. Dengan menggunakan teknik arthroscopy dimana menggunakan kamera yang dimasukkan dan mampu menjangkau sendi, masalah yang terjadi dalam sendi dapat terlihat melalui monitor.

Setelah diketahui masalah di dalam sendi, proses arthroscopy biasanya langsung dilanjutkan dengan dilakukan penanganan. Jika sudah ada diagnosa untuk dilakukan tindakan arthroscopy maka tindakan tersebut akan dilakukan dengan membuat sayatan kecil tanpa harus dilakukan open surgery,” ujar dr. Theri. ”Tapi ada kalanya, arthroscopy dilakukan hanya untuk mengambil sampel dalam sendi. Misalnya ketika pasien dicurigai ada infeksi atau tumor, maka dokter akan mengambil sampelnya kemudian dicek terlebih dahulu patologinya. Biasanya terdapat dua tahap namun jika tidak terlihat kecurigaan adanya infeksi atau tumor maka rata-rata dapat dilakuan dalam satu tahap bersamaan.

Sendi yang paling sering didiagnosa dan ditangani dengan teknik arthroscopy ini adalah sendi lutut dan disusul dengan sendi bahu. Saat ini, sudah berkembang lagi pada diagnosa dan penanganan keluhan pada sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki atau ankle. ”Sendi pinggul juga bisa, tapi cukup sulit karena letaknya yang sangat dalam, tergantung dari lemak atau otot setiap orang” ungkapnya. “Di Indonesia arthroscopy untuk sendi pinggul belum terlalu berkembang. Tapi di Jepang, Korea, Eropa dan Amerika sudah ada yang mendalami.”

KEUNGGULAN

Teknik arthroscopy memiliki banyak keunggulan dikarena luka yang kecil atau minimal invasive, proses penyembuhannya menjadi lebih cepat. Secara kosmetik atau bekas luka pasca operasi akan terlihat lebih baik. ”Yang ketiga, dan paling penting adalah efektifitasnya. Bagi kami, para dokter, arthroscopy juga lebih mudah karena bisa menjangkau tempat- tempat yang tidak mungkin bisa terjangkau dengan tindakan open surgery. proses operasinya pun juga tergolong cukup singkat. Namun, juga tergantung pada operator atau dokter yang melakukannya,” terang dr. Theri.

Dokter-dokter yang dapat melakukan arthroscopy biasanya merupakan dokter-dokter dengan kualifikasi sport injury specialistic mengingat masalah sendi sangat sering terjadi pada atlet atau masyarakat dengan tingkat intensitas olahraga yang cukup tinggi.

”Seperti learning curve, misalnya semakin banyak kasus yang ditangani seorang dokter, maka semakin cepat. Untuk rekonstruksi ACL (baca halaman 2, red) bisa dilakukan dalam waktu -+ 60 menit. Kalau di bahu agak lebih lama, karena lebih rumit dan sendi di bahu termasuk ball and socket karena terdapat bola dan juga terdapat mangkuk didalamnya maka gerakan sendinya ke segala arah. Beda dengan lutut yang gerakannya menekuk dan lurus saja,” ujarnya. ”Saat melakukan Arthroscopy, pasien biasanya akan dibius regional, tapi khusus untuk bahu, terpaksa masih harus dibius block atau total.”

Menurut dr. Theri, metode arthroscopy dapat diaplikasikan pada semua orang yang mengalami masalah sendi pada grade awal. jika yang memiliki permasalahan sendi dalam derajat yang cukup berat maka tindakan yang harus dilakukan bukan lagi arthroscopy, melainkan harus operasi ganti sendi,” terangnya.

Yang juga dapat menjadi catatan, arthroscopy adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan alat khusus berbentuk semacam satu tower dan terdiri dari beberapa item, seperti monitor, light source, mesin pembersihan atau pengairan, sehingga diperlukan kapabilitas dalam pengoperasiannya dimana di RSOT sudah mempunyai alat ini dengan tenaga medis yang sudah terlatih,”tukasnya.


© 2021 PT. SURABAYA ORTHOPEDI AND TRAUMATOLOGY HOSPITAL. All Rights Reserved.

WhatsApp Live Chat