Alat diagnostic radiologi CR Long Length Imaging System yang dapat menghasilkan gambar dari tulang belakang mulai dari tulang leher sampai dengan tulang ekor akan tergambar secara utuh (tidak terpotong-potong) dalam 1 film X-Ray, hanya dengan satu kali penyinaran (expose), sehingga paparan radiasi yang diterima pasien jauh lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan peralatan X-Ray konvensional. Pemeriksaan yang menggunakan Long Length Imaging System diantaranya adalah pemeriksaan Scoliosis View dan Scanogram View, yaitu:
Scoliosis View adalah sebuah teknik pemeriksaan radiologi dari tulang leher sampai tulang ekor yang menunjukkan kelainan pada rangka tubuh dan memperlihatkan kelengkungan pada tulang belakang (skoliosis)
Scanogram View adalah sebuah teknik pemeriksaan radiologi dari tulang pinggul sampai pergelangan kaki yang memperlihatkan kelainan pada kaki, biasanya penderita menderita kaki yang tinggi sebelah dan kaki yang berbentuk “O” atau mengalami kelengkungan pada kaki.
Keguanaan atau manfaat Long Length Imaging System antara lain:
Merupakan penunjang diagnosis untuk pemeriksaan tulang belakang yang memiliki akurasi yang baik karena menghasilkan image full spine dengan kualitas detail yang sangat tinggi dan komprehensif
Pengukuran sudut kemiringan/kelengkungan tulang belakang (cobb angle melalui program Computer Radiologi (CR) sehingga ketepatan dan keakuratannya sangat terjamin
Skoliosis atau rotary skoliosis pada pasien yang tinggi besar dapat diambil gambarnya dalam satu film pada satu posisi
Paparan radiasi yang diterima jauh lebih kecil dibandingkan dengan foto X-Ray biasa dan menghemat waktu.
Informasi Pelayanan Hubungi Customer Care RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya Emerald Mansion TX-10 itraland Surabaya 031.57431229/ 081337873131
Dispilin ilmu radiologi adalah “saudara dekat” bagi banyak disiplin ilmu kedokteran lainnya, termasuk kedokteran tulang, sendi, dan jaringan di sekitarnya. Dengan bantuan teknologi radiologi terkini seperti yang ada di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, dokter dapat membuat diagnosa terhadap penyakit dengan lebih tepat, sehingga penanganannya pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Salah satu masalah yang berhubungan dengan tulang, sendi,
dan jaringan sekitarnya yang banyak diderita masyarakat adalah gangguan muskuloskeletal,
yakni sebuah kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan
tendon, serta tulang belakang.
Pada penanganannya, dokter memerlukan
pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi pasien sehingga dapat
melakukan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pada konteks inilah radiologi memegang peranan penting,
dimana terdapat berbagai teknologi radiologi yang dapat diterapkan untuk
memeriksa lebih detail
mengenai kondisi sendi, ligamen, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. “Pasien dengan
nyeri bahu, misalnya. Dengan kasat mata, dokter tidak bisa tahu apakah itu
robek atau radang saja. Nah di situlah pentingnya pemeriksaan radiologi, mulai
dari rontgen, USG, CT Scan, hingga MRI,” ujar dr. Rosy Setiawati, Sp. Rad (K). “Memang tidak semua
pasien dengan keluhan muskuloskeletal harus dilakukan pemeriksaan radiologi,
karena setiap kasus memiliki indikasinya masing-masing, dan dokter memiliki
pengalaman pemeriksaan. Tetapi
pemeriksaan ini banyak digunakan untuk memastikan penyebab keluhan.”
Lebih lanjut dr. Rosy menuturkan, ada beberapa tingkatan
pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan untuk membantu diagnosa pada keluhan
muskuloskeletal. Salah satunya yang merupakan pemeriksaan standar adalah
pemeriksaan rontgen. “Muskuloskeletal
itu berkaitan dengan tulang, jadi tulangnya harus dipastikan baik-baik saja
terlebih dahulu. Jika tidak apa-apa
tapi masih bengkak, misalnya, harus cari tahu lagi dengan alat lain, ultrasound,
CT Scan, MRI, hingga ditemukan masalahnya,” terang dr. Rosy.
Menurut dr. Rosy, memang terdapat banyak pemeriksaan
radiologi yang bisa dilakukan berkaitan dengan masalah muskuloskeletal. Selain
rontgen, salah satu alat yang bisa dipakai adalah ultrasonografi atau biasa
disingkat dengan USG.
Teknik pemeriksaan USG memang bukan teknologi baru.
Namun, seiring dengan perkembangannya, USG kini tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi rahim pada
ibu hamil atau organ-organ lainnya di dalam perut, tetapi juga dapat
digunakan untuk memeriksa struktur jaringan yang berada di permukaan.
“Jadi USG
yang bekerja dengan gelombang suara ini sekarang bukan hanya untuk ibu hamil
saja. Tetapi yang
berkaitan dengan tulang, otot, atau yang berhubungan dengan muskuloskeletal.
Akurasinya cukup tinggi,” jelasnya. “Harga pemeriksaannya juga terjangkau, dan tidak
memakan waktu lama, serta nilai diagnostiknya tinggi. Untuk rumah sakit pun
menguntungkan, karena tidak perlu
ruangan besar, bahkan sekarang monitornya bisa menggunakan layar handphone.”
dr. Rosy tidak menampik bahwa USG juga memiliki kelemahan,
terutama untuk pemeriksaan pada bagian atau struktur jaringan yang dalam. Untuk
itu, radiologi punya banyak pilihan,
tergantung dengan kasus atau diagnosa awal dari dokter yang menangani.
“Ada
tingkatannya, bisa
cukup hanya dengan rontgen,
USG, atau perlu CT Scan, MRI. Jadi kalau diperiksa dengan USG tidak tampak ada
masalah, belum tentu memang tidak ada masalah. Jadi peran radiologi ini sangat
penting dalam penentuan diagnosa dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan
oleh dokter,” ujarnya.
Dokter yang fellowship khusus di muskuloskeletal di Singapura dan Italia ini juga menekankan pentingnya tenaga ahli dalam penerapan pemeriksaan radiologi. “Selain alat yang lengkap dan teknologi terkini seperti yang ada di RSOT, tenaga ahli juga sangat penting. Jadi bagaimana bidang radiologi yang penuh dengan teknologi alat ini dapat dioperasikan oleh ahlinya, sehingga menghasilkan diagnosa yang tepat,” tutupnya.