Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

mengapa-wanita-lebih-rentan-terkena-osteoporosis-pAPp0hAm77.jpg

Penuaan (aging) adalah suatu proses alami yang akan terjadi pada orang seiring bertambahnya usia, ditandai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial. Dalam penurunan kondisi fisik, proses aging pada seseorang bisa mengenai tulang ataupun sendi. Wanita lebih rentan mengalami proses degeneratif ini karena faktor hormonal, sedangkan pada pria lebih banyak dikarenakan faktor usia.

Proses aging atau penuaan pada tulang manusia dibagi jadi dua bagian. Jika mengenai tulang disebut osteoporosis, sedangkan jika mengenai persendian disebut osteoarthritis atau radang sendi.

Menurut Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp. OT (K), ada tiga lokasi yang paling banyak terkenal osteoporosis. Yakni punggung, pergelangan, dan panggul. Sementara osteoarthritis, meski menyerang di lokasi yang berbeda-beda, namun paling banyak terjadi di sendi-sendi penyangga tubuh seperti tulang belakang, tulang panggul, dan lutut.

Wanita juga disebut memiliki risiko mengalami osteoporosis dan radang sendi yang lebih besar dibanding pria. “Penyebab percepatan osteoporis maupun osteoarthritis itu ada tiga, yakni Forty atau usia di atas 40 tahun, Fatty  atau berat badan berlebih, dan Female atau lebih banyak menyerang wanita,” terang dr. Komang. “Biasanya ketika menapouse, wanita tidak bisa mengontrol berat badannya. Faktor-faktor itu yang dapat memperberat kondisi tulang dan sendinya.”

Yang juga harus jadi catatan, proses penuaan atau aging tidak hanya mengubah struktur tulang dan sendi, namun juga membuat massa otot mengecil dan otot menjadi tidak kuat, sehingga menimbulkan risiko jatuh. Tak hanya itu,  osteoporosis dan radang sendi juga bisa menimbulkan keluhan nyeri. “Pada punggung, keluhannya selain di pinggang bisa menyebar sampai ke tungkai pada kakinya. Kebanyakan penderitanya itu menderita nyeri, kemudian bungkuk, dan ada gangguan rasa atau gangguan gerak,” papar Dr. Komang.

osteoarhtritis
osteoporosis

Harus Tetap Aktif Bergerak

Menurut Dr. Komang, gaya hidup di jaman modern saat ini, bisa semakin mempercepat proses degeneratif, jika tidak diimbangi dengan upaya menjaga kesehatan. Beberapa di antaranya adalah merokok dan minum kopi secara berlebihan. Oleh karena itu, dr. Komang menyarankan para lanjut usia untuk tetap aktif bergerak, untuk tetap menjaga kualitas kesehatan. “Merokok itu mempercepat pengeroposan, sedangkan minum kopi berlebihan menyebabkan eksresi (pembuangan kalsium) lewat kencing lebih banyak. Jadi gaya hidup berpengaruh kepada kualitas tulang, sendi, dan otot.”

Ditambahkan oleh dr. Komang, semakin banyak tulang bergerak, semakin bagus kualitas otot dan sendi., termasuk bagi para lanjut usia. “Yang terpenting adalah tetap bergerak dan tetap melakukan pekerjaan, asal jangan sampai terjatuh. Orang lanjut usia mudah terjatuh karena keseimbangannya sudah berkurang, dan kualitas tulang serta sendinya tidak sebagus saat masih muda,” jelasnya.

Tindakan Preventif

Untuk mencegah terjadinya osteoporis maupun osteoarthritis atau radang sendi, hendaknya selalu melakukan olahraga yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh.  Tindakan preventif ini dilakukan sejak awal atau sedini mungkin untuk menghindari risiko kesehatan yang lebih lanjut. “Kalau bukan atlet atau non-profesional, selalu saya sarankan ambil olahraganya yang low impact seperti bersepeda atau berenang,” tuturnya.

Menurut dr. Komang, dengan rutin melakukan latihan atau olahraga, akan membawa banyak kebaikan untuk sistem gerak tubuh. “Kita berjalan, bergerak, bekerja, semua sistim dalam tubuh akan tergerak. Itulah kenapa orang yang bekerja dengan aktifitas, sistim alat geraknya pasti jauh lebih bagus, dibandingkan dengan orang yang kerjanya duduk berjam-jam. Itu bisa mempengaruhi kualitas persendiannya.”

Penanganan Penyakit Degeneratif

RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya memberikan pelayanan medis untuk proses penyembuhan dan perawatan pada penyakit degeneratif seperti osteoporosis dan osteoarthritis pada lansia.

Salah satunya untuk masalah pada tulang belakang yang diakibatkan karena proses degeneratif. Menurut dr, Komang, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa masalah tersebut disebabkan proses degeneratif, bukan karena penyakit lain. “Karena keluhannya bisa sama. Sakit pinggang, dan beberapa keluhan lainnya. Cuma penyebabnya yang beda. Satu karena proses penuaan atau degenerasi, sedangkan yang satu karena penyakit lain. Karena sering pada orang-orang usia lanjut disertai dengan penyakit lain. Bisa infeksi atau kanker,” papar dr. Komang. 

Untuk mencari tahu penyakit yang diderita tersebut merupakan penyakit degenerasi atau bukan, maka bisa dilakukan melalui pemeriksaan lain atau pemeriksaaan tambahan seperti radiologi dan pemeriksaan laboratorium. Hal itu dilakukan untuk menegakkan diagnosis, yang kemudian akan dijadikan dasar untuk  menentukan pilihan tindakanapakah diperlukan prosedur pembedahan atau tidak.

Ditambahkan oleh dr. Komang, untuk penanganan spinal aging, ada dua hal lain yang juga harus dipastikan. Sudah berapa lama sakitnya, dan  sudah pernah diobati atau belum.

“Jika sudah pernah dirawat, diobati, dan tidak kunjung membaik, maka diperlukan tindakan operasi. Tindakan operasi yang akan dilakukan disesuaikan dengan lokasinya di mana. Apakah di tulang atau sendinya? Perlu distabilkan atau tidak. Jika stabil tetapi ada penyempitan, biasanya kita pilih tindakan minimalis. Tapi kalau tulang atau sendinya tidak stabil, maka harus dilakukan tindakan stabilisasi.”

Penanganan Sedini Mungkin

Pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh pasien dengan penyakit degeneratif adalah, kapan harus dilakukan operasi?

“Pertama, jika pengobatan dengan konsep tanpa operasi yang dilakukan gagal. Kedua, jika penyakit degeneratif itu disertai dengan gangguan fungsi misalnya keluhan kencing, buang air besar, jempol atau kaki tidak bisa bergerak, itu harus operasi,” jelas dr. Komang.

Diakui dr. Komang, operasi pada tulang belakang yang sering dilakukan pada lansia akibat proses degeneratif memang bukan perkara mudah. Namun begitu, dr. Komang menjelaskan bahwa risiko-risiko tersebut dapat diminimalisir dengan teknologi dan dokter ahli yang menangani. “Jadi kita harus lihat dari hasil klinisnya apa, pemeriksaan radiologi, hasil laboratorium, sakitnya apa, baru kita customized, disesuaikan dengan kebutuhan pasien, karena alat yang dipasang atau alat yang digunakan berbeda antara pasien A, pasien B, pasien C ,” jelas dr. Komang. “Orang sering keliru, takut operasi tulang belakang misalnya karena takut berisiko lumpuh dan macam-macam. Tidak perlu takut, jika memang itu harus dilakukan. Risiko selalu ada, tapi bagaimana meminimalkan risiko tersebut itu yang terpenting.”


pencegahan-osteoporosis.jpg

Banyak di antara masyarakat yang tidak menyadari bahwa tulangnya sudah keropos dan baru datang ke rumah sakit dalam kondisi tulang yang retak atau patah. Padahal, dengan tindakan prefentif atau pencegahan, sebenarnya osteoporosis dapat dicegah atau diminimalisir. Apa saja yang bisa dilakukan?

Tulang adalah anggota tubuh yang sangat vital, karena berfungsi untuk menyangga tubuh. Untuk itu, menjaga tulang agar tetap sehat merupakan hal yang sangat krusial. Asupan kalsium yang cukup mutlak diperlukan untuk memastikan bahwa tulang tetap dalam kondisi yang baik.

Berita baiknya, kita diberi kesempatan untuk dapat menabung kalsium hingga sekitar umur 35 tahun. Dengan tabungan kalsium yang cukup, saat memasuki usia 35 tahun ke atas, dimana penyerapan kalsium pada tulang sudah berangsur berkurang, pengeroposan tulang bisa dihindari atau diminimalisir.

”Jadi harus dipastikan bahwa sejak dari kandungan, masa perkembangan, hingga dewasa, asupan kalsium kita tercukupi,” ujar dr. Henry Ricardo Handoyo, Sp. OT., MBiomed ketika ditemui majalah  Orthopedi di ruang praktiknya di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya.

Namun dr. Henry juga meminta masyarakat tidak salah persepsi dengan ajakan untuk menabung kalsium sedari dini. Menurutnya, menabung kalsium bukan berarti mengkonsumsi asupan kalsium secara ekstrim, karena manusia sudah memiliki takaran kebutuhan kalsium per hari. Jika asupan kalsiumnya berlebih, maka akan dibuang lewat air seni atau buang air besar.

”Jadi harus bijak juga. Kalau bisa dibuang saja sih tidak masalah. Tapi kelebihan kalsium mungkin juga menimbulkan efek samping. Misalnya untuk jantung, karena kalsium juga berfungsi untuk kontraksi otot, sehingga estabilitas jantung terlalu meningkat. Mungkin juga berimbas ke ginjal yang jadi terbebani, karena kalsium ini kan diekskresi lewat ginjal,” terangnya. ”Orang dewasa membutuhkan 1.200 mg – 1.300 mg kalsium per hari. Tidak perlu setiap makan dihitung miligram kalsiumnya, nanti malah repot. Intinya, tiap hari minum susu, makan buah, sayur, itu sudah bagus.”

Beberapa makanan yang tinggi akan kalsium yang cukup memenuhi kebutuhan kalsium antara lain ialah susu dan turunannya memiliki kandungan kalsium yang sangat tinggi, seperti yogurt, dan keju yang menurut penelitian memiliki kandungan kalsium paling tinggi.

Sumber kalsium terbaik juga bisa didapat dari buah dan sayur. Ada empat sayuran yang memiliki kalsium tinggi, yakni sawi, bayam, lobak hijau, dan kubis. Sementara dari buah, jeruk, pisang, stroberi, dll.

Menurut dr Henry, selain susu, sumber kalsium terbaik juga bisa didapat dari vitamin D yang merupakan ”best friend” dari kalsium. Beberapa makanan yang mengandung vitamin D adalah ikan-ikan dari laut dalam seperti salmon, tuna, sarden, dll.

REKOMENDASI UNIVERSAL TERHADAP PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS

Dunia kedokteran memiliki rekomendasi  yang bersifat universal berkaitan dengan pencegahan osteoporosis. Ada lima poin yang tertera dalam rekomendasi tersebut:

  • Mencukupi Asupan Kalsium dan Vitamin D

Seperti yan telah dijelaskan di atas, mencukupi asupan kalsium dan vitamin D adalah hal yang sangat mendasar pada pencegahan osteopororosis. Masyarakat juga disarankan meningkatkan kewaspadaan pada kondisi-kondisi tertentu, utamanya bagi wanita yang memasuki masa menopause, dimana pada masa itu akan terjadi pengurangan masa tulang secara masif berkaitan dengan menurunnya hormon estrogen secara signifikan dan berpengaruh pada metabolisme tulang. 

  • Olahraga yang Cukup

Olahraga juga sangat penting dilakukan untuk penguatan otot, karena ototlah yang menggerakkan tulang. Tulang juga baru dapat membentuk sel-selnya atau remodeling jika digerakkan. Untuk pencegahan, olahraga yang bisa dilakukan minimal adalah jalan kaki, yang bisa dilakukan dengan intensitas tiga kali seminggu dengan durasi 30 menit. Mereka yang berusia muda bisa melakukan olahraga yang lebih high impact seperti aerobic, lari, basket, dll. Sementara yang berumur lebih tua disarankan melakukan olahraga yang low impact seperti berjalan, taichi, dll.

  • Mencegah Risiko Jatuh

Olahraga yang dijelaskan di atas, juga berkaitan dengan meminimalisir risiko jatuh. Selain itu, hal-hal non-teknis seperti memastikan kondisi rumah dalam keadaan yang baik (tidak licin, tidak ada kabel berserakan di bawah, dll) juga diperlukan. Sebab, jatuh adalah hal yang benar-benar harus dihindari, apalagi jika sudah masuk dalam fase osteopenia (pra-osteoporosi). Mereka telah masuk fase osteopenia atau osteoporosis memiliki risiko patah tulang yang lebih besar dibanding mereka yang kondisi tulangnya baik.

  • Gaya Hidup Sehat

Ada beberapa kebiasaan yang wajib dihindari untuk mencegah pengeroposan tulang. Beberapa diantaranya adalah tidak merokok dan meminum alkohol, karena keduanya jelas-jelas merusak tulang. Konsumsi terhadap protein yang berlebih, biasanya dari daging-daging juga sebaiknya dihindari, karena akan meningkatkan suasana asam di tubuh. Terlalu banyak kopi dan minuman soda juga tak baik untuk tulang.

  • Periksa Pepadatan Tulang

Hal terakhir yang direkomendasikan sebagai tindakan pencegahan terhadap osteoporosis adalah pemeriksaan Bone Mass Density (BMD) atau pemeriksaan massa kepadatan tulang yang dilakukan dengan alat yang bernama Dexa. Wanita yang telah memasuki menopause, pria berumur sekitar 60 tahun, mereka yang memiliki penyakit yang disebabkan oleh keganasan seperti tumor, kanker, gangguan liver, ginjal, dl disarankan untuk melakukan pemeriksaan BMD.


operasi-arthroscopy.jpg

Sayatan Operasi Sebesar Luka Kecil

Pemasalahan sendi, baik di lutut, bahu, dan beberapa lokasi sendi lainnya, dapat didiagnosa dan ditangani dengan arthroscopy yang punya banyak keunggulan seperti hasil yang maksimal, luka sayatan yang sangat kecil, hingga proses recovery yang sangat cepat.

SIAPA pun yang mengalami permasalahan sendi, tentu menginginkan penanganan terbaik. Jika pun harus dilakukan pembedahan, pasti banyak yang berharap proses operasi dapat dilakukan dengan cepat, efektif, dan rasa sakit atau nyeri pada saat atau pasca pembedahan dapat ditekan seminimal mungkin.

Untuk itu dunia kedokteran orthopedi, mengenal teknik arthroscopy. Secara harfiah, arthros dapat diartikan sebagai sendi, sementara copy adalah melihat atau mengamati, sehingga arthroscopy dapat diartikan sebagai proses melihat ke dalam sendi dengan menggunakan alat khusus.

Arthroscopy dilakukan dengan teknik minimal invasive yaitu membuat luka atau sayatan yang sangat kecil sekitar 1 cm atau sekitar sebesar ujung bolpen. Sayatan yang dibuat minimal dua. ”Kalau di pergelangan, sayatan yang dibuat bisa lebih kecil, hanya 0,5 cm. Arthroscopy dilakukan dengan membuat minimal dua sayatan, satu untuk endoscopic kamera, dan satu lagi alat untuk mengerjakan diagnosis,” terang dr. Theri Effendi, Sp.OT.

Arthroscopy memiliki dua fungsi sekaligus, yakni diagnosa permasalahan sendi, dan melakukan penanganan sekaligus. Terkadang, pada permasalah sendi, terdapat hal-hal yang tidak dapat terdeteksi dengan alat diagnostik lainnya seperti X-Ray atau USG. Dengan menggunakan teknik arthroscopy dimana menggunakan kamera yang dimasukkan dan mampu menjangkau sendi, masalah yang terjadi dalam sendi dapat terlihat melalui monitor.

Setelah diketahui masalah di dalam sendi, proses arthroscopy biasanya langsung dilanjutkan dengan dilakukan penanganan. Jika sudah ada diagnosa untuk dilakukan tindakan arthroscopy maka tindakan tersebut akan dilakukan dengan membuat sayatan kecil tanpa harus dilakukan open surgery,” ujar dr. Theri. ”Tapi ada kalanya, arthroscopy dilakukan hanya untuk mengambil sampel dalam sendi. Misalnya ketika pasien dicurigai ada infeksi atau tumor, maka dokter akan mengambil sampelnya kemudian dicek terlebih dahulu patologinya. Biasanya terdapat dua tahap namun jika tidak terlihat kecurigaan adanya infeksi atau tumor maka rata-rata dapat dilakuan dalam satu tahap bersamaan.

Sendi yang paling sering didiagnosa dan ditangani dengan teknik arthroscopy ini adalah sendi lutut dan disusul dengan sendi bahu. Saat ini, sudah berkembang lagi pada diagnosa dan penanganan keluhan pada sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki atau ankle. ”Sendi pinggul juga bisa, tapi cukup sulit karena letaknya yang sangat dalam, tergantung dari lemak atau otot setiap orang” ungkapnya. “Di Indonesia arthroscopy untuk sendi pinggul belum terlalu berkembang. Tapi di Jepang, Korea, Eropa dan Amerika sudah ada yang mendalami.”

KEUNGGULAN

Teknik arthroscopy memiliki banyak keunggulan dikarena luka yang kecil atau minimal invasive, proses penyembuhannya menjadi lebih cepat. Secara kosmetik atau bekas luka pasca operasi akan terlihat lebih baik. ”Yang ketiga, dan paling penting adalah efektifitasnya. Bagi kami, para dokter, arthroscopy juga lebih mudah karena bisa menjangkau tempat- tempat yang tidak mungkin bisa terjangkau dengan tindakan open surgery. proses operasinya pun juga tergolong cukup singkat. Namun, juga tergantung pada operator atau dokter yang melakukannya,” terang dr. Theri.

Dokter-dokter yang dapat melakukan arthroscopy biasanya merupakan dokter-dokter dengan kualifikasi sport injury specialistic mengingat masalah sendi sangat sering terjadi pada atlet atau masyarakat dengan tingkat intensitas olahraga yang cukup tinggi.

”Seperti learning curve, misalnya semakin banyak kasus yang ditangani seorang dokter, maka semakin cepat. Untuk rekonstruksi ACL (baca halaman 2, red) bisa dilakukan dalam waktu -+ 60 menit. Kalau di bahu agak lebih lama, karena lebih rumit dan sendi di bahu termasuk ball and socket karena terdapat bola dan juga terdapat mangkuk didalamnya maka gerakan sendinya ke segala arah. Beda dengan lutut yang gerakannya menekuk dan lurus saja,” ujarnya. ”Saat melakukan Arthroscopy, pasien biasanya akan dibius regional, tapi khusus untuk bahu, terpaksa masih harus dibius block atau total.”

Menurut dr. Theri, metode arthroscopy dapat diaplikasikan pada semua orang yang mengalami masalah sendi pada grade awal. jika yang memiliki permasalahan sendi dalam derajat yang cukup berat maka tindakan yang harus dilakukan bukan lagi arthroscopy, melainkan harus operasi ganti sendi,” terangnya.

Yang juga dapat menjadi catatan, arthroscopy adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan alat khusus berbentuk semacam satu tower dan terdiri dari beberapa item, seperti monitor, light source, mesin pembersihan atau pengairan, sehingga diperlukan kapabilitas dalam pengoperasiannya dimana di RSOT sudah mempunyai alat ini dengan tenaga medis yang sudah terlatih,”tukasnya.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat