Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

097448500_1499922622-Ciri-Sakit-Pinggang-yang-Disebabkan-Batu-Ginjal.jpg

Nyeri pinggang merupakan permasalahan yang sering terjadi pada kelompok usia dewasa. Menurut penelitian, sekitar 80% penduduk usia dewasa, pernah mengalami nyeri punggung atau nyeri pinggang (low back pain) dalam kehidupannya. Bagaimana teknologi penanganan terkini mengatasi nyeri pinggang?

 

Secara umum, nyeri punggung dan nyeri pinggang atau low back pain dapaat disebabkan oleh ketegangan pada pinggang bawah, arthritis (radang sendi), penyakit degeneratif pada tulang belakang, kesejajaran dan stabilitas tulang belakang yang tidak tepat, hernia pada diskus, radiculopathy atau sciatica (nyeri dari punggung menjalar ke tungkai), stenosis pada tulang belakang, dan penyebab lain yang berhubungan dengan system musculoskeletal.

Sebagian besar keluhan nyeri pinggang tersebut umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan dan fisisoterapi. Operasi tulang belakang biasanya direkomendasikan hanya pada kondisi nyeri punggung hebat dan jika masa perawatan non-bedah seperti pengobatan dan terapi fisioterapi belum meredakan gejala nyeri yang disebabkan oleh masalah punggung.

Pada masa sebelumnya, operasi tulang belakang secara tradisional dilakukan sebagai “operasi terbuka”. Ini berarti area yang akan dioperasi dibuka dengan sayatan Panjang untuk memungkinkan ahli bedah melihat dan mengakses anatomi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi telah memungkinkan mengobati penyakit pada tulang belakang dengan Teknik bedah invasif minimal atau Minimally Invasive Surgery (MIS).

Ada beberapa tindakan MIS yang dapat dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi, tergantung dari diagnosa yang diberikan oleh dokter ahli bedah tulang, antara lain :

  • PSLD (Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression)
  • PELD ( Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy)
  • MED ( Microendoscopic Discectomy)
  • Ballon Kyphoplasty (Suntik Cement)
  • Percutaneous Posterior Pedicle Screw Fixation (Pasang pen tanpa buka)

 

Tindakan-tindakan atau prosedur MIS diatas dapat digunakan untuk menangani kondisi seperti :

  • Penyakit degeneratif pada tulang belakang
  • Diskus yang mengalami hernia
  • Stenosis pada tulang belakang
  • Deformitas tulang belakang seperti scoliosis
  • Infeksi tulang belakang
  • Ketidakstabilan tulang belakang termasuk spondylolisthesis
  • Fraktur kompresi vertebrata
  • Tumor tulang belakang

Berbagai jenis tindakan minimal invasive surgery memiliki Teknik masing-masing, namun semuanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh tindakan operasi konvensional, seperti sayatan operasi yang sangat kecil dan beberapa milimeter saja, lebih aman, dan masa pemulihan yang lebih cepat. Karena hanya membutuhkan sayatan kecil (beberapa milimeter), tindakan minimal invasive ini juga memberikan keunggulan berupa :

  • Secara kosmetik lebih baik karena sayatan kulit yang lebih kecil (hanya beberapa milimeter)
  • Lebih sedikit kehilangan darah akibat operasi
  • Mengurangi resiko kerusakan otot, karena pemotongan otot sedikit atau bahkan tidak diperlukan
  • Mengurangi resiko infeksi dan nyeri pasca operasi
  • Pemulihan lebih cepat dari operasi konvensional dan tidak membutuhkan terapi rehabilitasi medik yang terlalu lama
  • Mengurangi ketergantungan pada obat nyeri setelah operasi

Meskipun demikian, seperti halnya prosedur pembedahan lain, tetap ada resiko seperti reaksi alergi/efek samping obat anestesi, kehilangan darah yang tidak terduga selama prosedur, dan infeksi lokal area sayatan.

TIPS PENANGANAN MANDIRI NYERI PUNGGUNG DI RUMAH

Meski RSOT tidak termasuk rumah sakit rujukan COVID-19, namun banyak masyarakat yang beberapa bulan terakhir ini takut untuk pergi ke rumah sakit. Untuk itu, ada beberapa tips yang dapat dilakukan pasien yang mengalami nyeri punggung bawah pada saat di rumah.

  1. Jangan terlalu banyak beristirahat atau berdiam di tempat
  2. Bergerak aktif
  3. Lakukan terapi kompres es
  4. Lakukan peregangan
  5. Perhatikan pola makan dan jaga berat badan anda
  6. Memperbaiki postur tubuh anda, terutama saat duduk lama

Kapan anda harus memeriksa diri ke dokter?

  1. Saat anda mulai merasakan kelemahan pada kaki anda
  2. Inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil)
  3. Nyeri yang tidak tertahankan
  4. Demam
  5. Menggigil
  6. Mati rasa

Tips untuk mencegah sakit punggung saat bekerja dari rumah selama pandemic COVID-19 :

  1. Lakukan peregangan sederhana setiap 1-2jam
  2. Hindari postur tubuh yang buruk
  3. Istirahat cukup
  4. Ganti kursi yang lebih ergonomis untuk tubuh anda

 

 

Tiga latihan dasar :

 

Jika membutuhkan latihan atau terapi untuk tulang belakang, bisa anda konsultasikan dengan dokter rehabilitasi medik di RS Orthopedi dan Traumatologi Surabaya.


dr.kis-artikel.jpg

Teknologi kesehatan terus berkembang, termasuk untuk tindakan operasi tulang belakang yang dulu identik dengan luka sayatan yang lebar di punggung dan waktu pemulihan yang lama. Kini, dengan teknologi Minimally Invasive Spine Surgery (MISS), semua itu dapat diminimalisir.

Kelainan tulang belakang dapat disebabkan oleh beberapa factor. Trauma atau kecelakaan, infeksi, faktor degeneratif, maupun tumor. Faktor-faktor tersebut akan mengakibatkan ruangan untuk urat atau saraf yang ada di tulang belakang menjadi lebih sempit dan mengakibatkan keluhan-keluhan seperti nyeri pinggang, nyeri tungkai, kesemutan atau tebal/kebas dan jarak jalan yang memendek. “Orang awam biasanya menyebutkan dengan saraf terjepit, tumbuh tulang, atau kecetit” ujar Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp.OT (K), dokter ahli spine dari Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT Surabaya).

Menurut dr. Komang, dari berbagai faktor penyebab masalah tulang belakang di atas, kasus yang paling banyak ditangani dengan metode operasi minimally invasive surgery adalah kasus kelainan tulang belakang yang disebabkan karena faktor degeneratif atau faktor usia. Yang kedua adalah trauma atau kecelakaan dan masalah tulang belakang karena infeksi. Sementara, tumor ganas pada tulang belakang umumnya tidak dapat ditangani dengan operasi minimal invasive ini. Sedangkan tumor jinak tertentu masih bisa.

  1. Komang melanjutkan, metode minimally invasive spine surgery ini memiliki banyak keunggulan disbanding dengan operasi konvensional, khususnya untuk kasus-kasus degeneratif yang umumnya dialami oleh orang lanjut usia. “Operasi dengan metode minimally invasive hanya memerlukan sayatan 8mm sehingga pendarahannya tidak banyak, proses recovery-nya juga lebih singkat. Hanya butuh 1-2 hari tinggal di rumah sakit pasca operasi. Rehabilitasinya juga lebih singkat, bahkan tidak membutuhkan rehab jika bisa Latihan sendiri di rumah,”papar dr. Komang. Sementara, proses tindakan operasi membutuhkan waktu yang relatif sama dengan operasi konvensional, yakni antara 1-3 jam, tergantung kesulitan kasus yang ditangani.

Proses penanganan dan rehabilitasi yang cepat ini memang merupakan hal yang sangat penting pada masalah tulang belakang, karena tulang belakang diciptakan bergerak dan memiliki mobilitas yang tinggi. Tindakan operasi dengan sayatan lebar, termasuk memasang pen, akan membuat tulang belakang menjadi tidak fleksibel dan membutuhkan proses pemulihan yang lama untuk dapat bergerak seperti sebelumnya. Selain itu, tindakan open surgery atau operasi dengan sayatan terbuka akan membuat pendarahan makin banyak dan rasa sakit yang lebih besar.

“Apaabila kalau orang tua, yang dibutuhkan adalah mobilitas secepat mungkin. Kalau lebih lama di rumah sakit, lebh lama recovery-nya. Tiduran terus, maka goal dari operasinya tidak tercapai. Kita butuh sesegera mungkin selesai, segera rehab, sehingga di rumah sakit tidak lama. Apalagi di era pandemi, tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit”, terang dr. Komang.

 

RSOT – 10 Tahun menjadi Center of Minimally Invasive Spine Surgery

Sebagai rumah sakit yang concern pada masalah tulang, sendi, otot, dan saraf tepi, RSOT kini telah menjadi pusat operasi tulang belakang dengan metode minimal invasive. Hampir semua tindakan operasi tulang belakang karena amasalah degeneratif, mulai leher sampai pinggang, dapat dilakukan di RSOT dengan semua peralatan terkini dan para ahli tulang belakang yang ada di rumah sakit ini.

Dijelaskan oleh dr. Komang, RSOT terus melakukan inovasi dengan mengikuti perkembangan teknologi berkaitan dengan operasi tulang belakang. “Sekarang bukan jamannya lagi operasi tulang belakang dengan cara konvensional dengan sayatan lebar. Sekarang eranya full endoscopic surgery dimana semua proses operasi dapat kita lihat dari monitor”, jelas dr. Komang. “Dulu operasi tulang belakang harus melakukan sayatan sekitar 20 cm, lalu ada Micro Endoscopic Disectomy (MED) dengan sayatan 16-18 mm, Sekaran dengan metode minimally invasive surgery, cukup 8 mm”.

Ditambahkan dr. Komang, ada banyak metode minimally invasive surgery yang bisa dilakukan mulai dari Ballon Kyphoplasty atau suntik semen, Microendoscopic Disectomy (MED), Percutaneous Endoscopic Lumbar Disectomy (PELD), Percutaneous Stenoscopic Lumbar Decompression (PSLD), pasang rod dan screw pada kasus yang tidak stabil pun dipasang Percutaneous dengan irisan kecil. Secara prinsip, semuanya sama dan menggunakan metode minimally invasive. Hanya saja metode-metode tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penanganan dan disesuaikan dengan patologi pasien.

“Dalam tindakan minimally invasive pada tulang belakang, kita berpedoman jangan merusak terlalu banyak saat melakukan operasi. Dan tujuan operasi ini adalah murni untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, bukan menghilangkan struktur yang sudah rusak karena prose degeneratif”, papar dr. Komang. “Jadi jangan berharap umur 71 jadi umur 17 setelah operasi. Problem pada sendi dan tulang yang kita carikan jalan keluar. Secara quality of life jadi lebih baik. Hidup lebih senang, tidak ada rasa sakit dan Bahagia di hari tua”.

Dr. Komang Agung I. S., dr., Sp. OT (K)

 


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat