Please wait...

dr-Chandra-1200x825.jpg

Meski angkanya tak sebanyak cedera pada lutut dan ankle, dislokasi bahu merupakan salah satu cedera yang cukup banyak terjadi pada olahraga. Masalahnya, cedera ini seringkali disepelekan. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, akan berpotensi mengelami cedera yang sama di masa depan, dengan prosentase berkisar 70%-100%. Atau hampir pasti kan mengalami dislokasi bahu lagi.

Dislokasi bahu merupakan kondisi dimana sendi bola pada lengan atas keluar dari soket bahu. Hal ini dapat terjadi karena adanya trauma dari luar seperti benturan, jatuh dengan tangan menahan badan atau tangan terlentang ke samping, dorongan dari depan atau belakang, dll.

Beberapa olahraga yang cukup riskan terhadap cedera bahu adalah olahraga dengan body contact atau rawan terhadap tabrakan dengn lawan, serta olahraga overhead atau dengan posisi tangan di atas kepala, seperti voli, bulutangkis, basket, renang, dll.

Masalahnya , selama ini masalah dislokasi bahu ini seringkali undertreatment atau sedikit disepelekan, karena dianggap cukup ditangani dengan cara mengembalikan bahu ke posisi semula. Menurtu dr. Gede Chandra, Sp.OT, ada satu yang harus diwaspadai bahwa cedera bahu yang dialami oleh mereka di bawah 20 tahun, memiliki potensi besar untuk mengalami cedera ulang, jika tidak ditangani dengan benar.

“Prosentasenya hingga 70%-100% akan mengalami dislokasi lagi di masa depan. Sebab, bahu pada dasarnya memiliki jaringan yang sangat kuat. Sehingga jika terjadi dislokasi, ada jaringan yang rusak cukup parah pada bahu tersebut, karena pada dasarnya mereka yang berusia muda sendinya masih sangat kuat,” papar dr. Gede. “Kejadian pertama mungkin butuh benturan keras sehingga terjadi dislokasi. Berikutnya mungkin hanya jatuh, sudah dislokasi. Nanti berikutnya, bisa saja menguap dengan tangan direntangkan sudah terjadi dislokasi bahu.”

Sementara itu, dislokasi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun dan tidak mendapat penanganan yang baik, akan memunculkan potensi terjadinya dislokasi bahu kembali di masa depan. Risiko berkisar 30%.

Itu sebabnya, dr. Gede sangat menekankan adanya penanganan yang baik pada dislokasi bahu. Apalagi bagi atlet yang memiliki tuntutan intensitas olahraga yang tinggi. “Jadi bukan hanya ditarik dan dikembalikan ke posisi semula, kemudian selesai,” ujar dr. Gede. “Kalau hanya olahraga rekreasional mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi potensi untuk dislokasi lagi selalu ada.”

PENANGANAN DENGAN ARTHROSCOPY

Ditekankan oleh dr. Gede, penanganan pada dislokasi bahu pada prinsipnya adalah usaha yang dilakukan oleh dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi sport injury untuk memastikan bahwa penderita dapat kembali berolahraga dengan baik dan kompetitif seperti semula, bukan hanya sekedar mengembalikan posisi bahu, namun membuat pasien berolahraga secara baik.

Salah satu penanganan yang dapat diterapkan di RS Orthopedi & Traumatologi (RSOT) Surabaya adalah operasi dengan teknik arthroscopy, yakni operasi minimal invasive dengan luka sayat yang sangat kecil, bahkan kurang dari 1 cm. Teknologi modern ini mengubah paradigma bahwa operasi adalah sesuatu yang menakutkan.

“Penanganan dislokasi bahu bisa dilakukan dengan arthroscopy. Diperbaiki jaringan-jaringan yang robek di sekitar bahu, sehingga bahu bisa utuh seperti semula. Statistiknya bagus. Dari risiko cedera ulang sebesar 70%-100%, bisa turun sampai 4%-20%. Sehingga penanganan arthroscopy memberi harapan yang sangat baik bagi orang-orang yang ingin berolahraga berat pasca dislokasi bahu,” terang dr. Gede. “Arthroscopy dapat mnyelesaikan masalah pada sendi. Selama berhubungan dengan sendi, hampir selalu bisa dengan arthroscopy.”

Selain itu dr. Gede juga menekankan pentingnya rehabilitasi dan kemauan bersabar untung menggunakan bahunya secara bertahap pasca operasi. “Misal untuk satu bulan pertama, gerakan ayunan untuk bahu, berikutnya meningkat lagi, dan seterusnya. Prinsipnya, rehabilitasi bertahap tidak boleh dilupakan.” Ujar dr. Gede. “Orang kadang maunya instan, operasi langsung sembuh. Untuk cedera sendi butuh waktu, karena sendi bagian bergerak, berbeda dengan tilang yang cenderung statis. Jadi cedera pada sendi, termasuk sendi bahu, harus didiamkan sebentar. Atau gerak sedikit dulu baru gerak banyak.” tutup dr. Gede.


download-1200x675.jpg

  1. Pilih Jenis Olahraga yang Tepat

Salah satu cara terbaik untuk menghindari cedera adalah mengetahui kondisi tubuh anda. Usiapun ikut menjadi pertimbangan untuk menentukan olahraga yang sesuai dengan kondisi anda.

  1. Gunakan Peralatan Olahraga yang Tepat

Setiap jenis olahraga memiliki peralatan yang berbeda. Pastikan peralatan sesuai dengan jenis olahraga yang dipilih.

  1. Lakukan Pemanasan dan Pendinginan

Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam pemanasan maupun pendinginan dapat membantu meningkatkan fleksibilitas atau kelenturan otot yang optimal untuk mencegah cedera otot.

  1. Jangan Berlebih

Saat melakukan olahraga, tubuh anda perlu beristirahat. Begitu juga dengan pengaturan waktu anda berolahraga, seberapa intens dan berapa lama durasinya. Tubuh anda bekerja setiap hari, ada baiknya bila rutinitas olahraga anda divariasikan.

  1. Mendapat Bimbingan dari Ahlinya

Bimbingan dan pengawasan dari ahlinya dapat mencegah cedera saat berolahraga, karena mereka bisa membenarkan postur tubuh yang berantakan dan memandu cara pakai alat-alat olahraga agar lebih efektif.

  1. Hubungi Dokter

Bila anda mengalami cedera, pusing, sakit dada, nafas yang tidak normal atau bahkan pingsan segera hubungi dokter anda untuk mendapatkan penanganan dengan segera.


041929500_1535008301-Anda-Kram-Otot-Seperti-yang-Dialami-Anthony-Ginting-Ini-Solusinya-By-Maridav-Shutterstock.jpg

Sebagian besar orang mungkin pernah atau paling tidak familiar dengan istilah kram otot. Apa sebenarnya yang terjadi pada saat kita mengalami kram otot? Apa penyebabnya? Dan bagaimana penanganan yang tepat?

Kram otot merupakan sebuah kondisi dimana otot mengalami kopntraksi kuat atau mengencang dan umumnya terjadi secara tiba-tiba, berlangsung dalam hitungan detik atau menit, dan menimbulkan rasa sakit atau nyeri pada bagian yang mengalami kram.

Kram merupakan salah satu cara tubuh kita untuk berkomunikasi dan memberikan sinyal bahwa kita sedang mengalami situasi kritis atau non-kritis sehingga kita dapat mengambil tindakan pencegahan.

Salah satu hal yang sering menjadi pencetus kram adalah olahraha dengan intensitas yang sangat tinggi atau overused atau tanpa melakukan pemanasan dan pendinginan dengan baik, melakukan gerakan yang salah, dehidrasi, dan kekurangan elektrolit. Selain itu, ada hal-hal lain yang juga bisa menjadi penyebab kram, yakni bertahan dalam posisi tertentu dalam waktu yang cukup lama atau juga bisa disebabkan oleh cuaca panas yang ekstrim. Kram juga bisa jadi merupakan sinyal bahwa tubuh kita sedang kekurangan kalsium atau hipokalsemia. Namun, pada beberapa kasus kram juga tergolong dalam kasus idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya.

Secara medis, kram timbul karena beberapa hal, diantaranya adalah pasokan darah yang tidak memadai, dimana terjadi penyempitan pembuluh darah yang sehingga menganggu distribusi atau aliran darah ke area tertentu. Hal ini umum terjadi pada betis atau kaki ketika sedang melakukan olahraga. itu sebabnya, kram ini biasanya akan hilang setelah berhenti melakukan olahraga.

Selain itu, kram juga disebabkan oleh kompresif tulang saraf di tulang belakang (lumbar stenosis) yang kemudian menyebabkan kram di kaki. Kram jenis ini biasanya akan memburuk ketika kita berjalan dalam waktu yang lama. Dalam kondisi ini, berjalan dalam posisi agak membungkuk seperti gerakan mendorong kereta belanja, dapat meperingan kondisi kram.

PERHATIKAN FAKTOR RESIKO KRAM

Seperti yang telah dijelaskan, kram dapat ditimbulkan oleh bberapa sebab. Namun, di luar itu ada beberapa faktor yang memperkuat risiko terjadinya kram. Yang pertama adalah dehidrasi. Faktor ini seringkali dialami oleh para atlet atau olahragawan yang melakukan olahraga berat dalam waktu yang cukup lama, apalagi dalam cuaca yang panas.

Kedua, faktor usia juga memperbesar risiko terjadinya kram. Hal ini disebabkan karena makin lanjut usia seseorang, maka massa ototnya juga akan semakin lemah. Hal tersebut kemudian menyebabkan otot menjadi lebih mudah mengalami stress dan mempermudah terjadinya kram.

Faktor lain yang memperbesar risiko terjadinya kram otot adalah kehamilan, yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti kurangnya supan mineral atau tekanan otot peredaran darah kaki yang menuju jantung dansaraf di sekitar kaki, akibat membesarnya Rahim dan perut. Kram pada ibu hamil juga sering terjadi karena terlalu lama berdiri, atau denga posisi kaki menyilang dalam waktu yang lama.

Faktor keempat yang menjadi faktor risiko terjadinya kram adalah karena kondisi gangguan medis yang serius. Sebab, boleh jadi terjadinya kram juga merupakan sinyal dari tubuh bahwa kita sedang mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius, seperti diabetes, gangguan saraf, hati dan tiroid.

PENANGANAN

Pada umumnya, kram bisa bisa diatasi dengan penanganan yang sederhana, utamanya jika kita telah mengetahui faktor risiko dan penyebab kram yang kita alami. Jika kram tersebut disebabkan oleh karena intensitas olahraga yang kita lakukan secara berlebihan, maka langkah penanganan paling mudah adalah berhenti berolahraga dan beristirahat.

Yang juga tak kalah penting adalah bersikap tenang, karena panik dan sibuk menggerak-gerakan bagian tubuh yang kram justru akan membuat otot semakin sakit. setelah tenang, kita dapat melakukan pergangan otot. Jika yang mengalami kram adalah bagian kaki, usahakan untuk meluruskan kaki dalam posisi normal. Jika kram tidak terlalu parah, umumnya otot dapat “menyembuhkan dirinya sendiri”. Pastikan bahwa anda beristirahat dan tidak melanjutkan aktifitas, seperti berjalan atau berolahraga. Biarkan otot-otot beristirahat dan pulih sebelum melakukan aktivitas kembali.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah mengompres bagian yang mengalami kram dengan menggunakan air dingin dengan media handuk atau sesuatu yang dingin yang dapt ditempelkan di bagian yang mengalami kram. Bagi yang mengalami kram karena dehidrasi, minum air putih bisa jadi cara yang baik untuk meredakan kram.

Pada kondisi yang serius, kram merupakan sinyal bahwa tubuh mengalami gangguan kesehatan lainnya, kita memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter. Dimana dokter kan menanyakan gejala lain seperti mati rasa, bengkak, dll. Pada umumnya, dokter akan melakukan pemeriksaan tes darah, tes urin dll untuk memastikan penyebab kram yang dialami.


© 2021 PT. SURABAYA ORTHOPEDI AND TRAUMATOLOGY HOSPITAL. All Rights Reserved.

WhatsApp Live Chat