Setiap harinya terjadi ”aktifitas rahasia” pada tulang kita, yakni
proses pembentukan dan pembongkaran tulang. Secara sederhana, osteoporosis
adalah sebuah kondisi dimana terjadi pengeroposan tulang akibat pembongkaran
tulang terjadi lebih masif dibandingkan dengan proses pembentukan tulang.
Jaringan tulang setidaknya
memiliki dua jenis sel, yakni osteoblas yang bertanggung jawab dalam hal
pembentukan dan pengembangan tulang, dan osteoklas yang memiliki fungsi
kebalikannya: Melakukan pembongkaran tulang. Itu sebabnya, ”perang” antar
keduanya yang terjadi setiap hari sangatlah menentukan bagi kesehatan tulang
manusia. Jika sel
osteoklas lebih sering unggul,
apalagi terjadi pada jangka waktu lama, maka kemungkinan terjadinya
osteoporosis akan sangat besar.
”Jadi kita bisa tahu antara sel pembentuk tulang dan pengurai tulang,” ujar dr.
Arwinda Pusparahaju A., Sp. KFR. ”Osteoporosis itu silent thief. Untuk itu
diperlukan management penanganan yang baik untuk menghindari dan menangani
osteoporosis dan memastikan sel pembentuk yang lebih unggul.”
Berkaitan dengan management tersebut,
dr. Arwinda kembali memberikan analogi mengenai
pembangunan tembok, dimana tak cukup hanya dengan batu bata, pembangunan
tembok juga memerlukan pasir, semen, besi, dll. Begitu juga dengan pencegahan
dan penanganan osteoporosis, dimana terdapat banyak hal yang harus diperhatikan, tidak cukup hanya kalsium saja.
Selain memastikan asupan kalsium
dan vitamin D dalam jumlah yang cukup, paparan sinar matahari juga sangat
diperlukan. Menurut dr. Arwinda, sinar matahari penting untuk mengubah pro
vitamin D3 menjadi vitamin D di kulit.
”Kita ini sudah punya bahan pro
vitamin D3. Matahari-lah yang bisa mengubah menjadi vitamin D,” tegasnya.
”Untuk itu perlu berjemur atau membiarkan kulit kita terpapar sinar matahari.
Jalan saja sambil olahraga, antara jam tujuh sampai sembilan pagi. Jangan
terlalu siang, tapi juga jangan terlalu pagi. Kebiasaan kita yang biasanya olahraga
setelah subuh itu harus diubah.”
Poin penting berikutnya untuk
mejaga kesehatan tulang dan menangani osteoporosis adalah dengan bergerak atau
berolahraga, melatih otot-otot yang menggerakkan tulang. ’Tulang itu baru akan
membentuk sel-selnya atau melakukan remodeling jika ditarik, ditekan,
dipuntir, dan sebagainya. Nah, siapa yang menggerakkan? Otot. Di situlah peran
rahabilitasi medik, membantu melakukan latihan-latihan otot yang kemudian
berpengaruh pada kesehatan tulang,” papar dr. Arwinda.
Exercise atau
latihan yang disarankan untuk kesehatan tulang adalah weight-bearing
exercise atau latihan pembebanan pada tulang dengan menyangga tubuh kita
sendiri dan bersifat endurance atau menambah daya tahan jantung, paru,
dan organ lainnya. Beberapa olahraga yang bisa dipilih seperti jalan kaki atau
joging, yoga, taichi, dll.
dr. Arwinda juga menggarisbawahi
intensitas latihan sebagai salah satu hal penting dalam pembentukan tulang yang
kuat. ”Harus rutin. Disarankan seminggu lima kali, supaya pembentukan tulangnya
masih menang dibanding pembongkaran tulangnya,” ujarnya. ”Tapi jangan over-exercise juga.
Kalau jalan tiap hari masih tidak apa-apa. Tapi kalau olahraga berat, sebaiknya
diberi dua hari libur. Kecuali bisa jaga asupan seperti atlet di pelatnas,
misalnya.”
Dr. Arwinda juga mengingatkan
bahwa osteoporosis juga bisa disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat.
Seperti merokok, minum alkohol, terlalu banyak mengonsumsi soda, dll. Selain
itu, osteoporosis juga dapat dikarenakan faktor genetik atau faktor-faktor yang
tidak bisa diubah seperti gender, umur, ukuran badan, etnis, dll.
Dari segi usia, wanita yang telah
memasuki masa menopause disarankan untuk meningkatkan awareness,
karena saat masuk menopause, hormon estrogen pada wanita yang juga
memiliki manfaat sebagai hormon yang membantu pembentukan tulang, berkurang
secara drastis. Pun bagi mereka yang sudah berusia lanjut, biasanya juga
berkurang kekuatan ototnya, sehingga mengakibatkan mudah jatuh.
”Itu sebabnya, makin tua
seseorang, seharusnya semakin
sering stretching. Dan harus dilakukan dengan benar. Mulai pemanasan,
peregangan, peguatan, dan pendinginan,” ujar dr. Arwinda. ”Jika perlu, kondisi
rumah orang tua juga harus dimodifikasi. Kamar mandi jangan sampai licin, anak
tangga diberi tanda, jangan ada kabel berserakan, dan lainnya. Intinya prevent
to fall, orang tua jangan sampai jatuh.”
Menjaga postur tubuh juga menjadi sesuatu yang penting. Cara berdiri,
cara duduk, cara berjalan juga harus diperhatikan untuk memastikan tulang tidak
tertekan. Jika perlu, penggunaan alat bantu seperti brace atau korset, tongkat, walker,
dan alat lainnya
juga perlu dipertimbangkan.
”Kabar baiknya, dengan exercise
yang baik dan benar. kekuatan otot bisa meningkat, postur membaik,
keseimbangan meningkat, sehingga aktifitas fisik juga meningkat,” ujar dr.
Arwinda
Dunia kedokteran juga terus
melakukan inovasi bagi para penderita osteoporosis, termasuk pada obat-obatan,
dimana untuk menjaga tulang tetap dalam kondisi baik, dapat diberi obat anti
pembongkaran. ”Sekarang sudah ada yang dosis minumnya seminggu atau bahkan
sebulan sekali, sehingga tingkat kepatuhan minum obatnya dapat lebih ditingkatkan,”
tutup dr. Arwinda.