"> CEDERA OLAH RAGA – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

macam-macam-vitamin-beserta-manfaatnya.jpg

Cedera umumnya terjadi pada saat melakukan olahraga. Pada olahraga high-impact, seperti sepak bola, futsal, badminton, basket, tenis dan olahraga bela diri, kemungkinan akan terjadinya ACL akan lebih tinggi.

cedera ACL
cedera ACL

Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah urat didalam sendi yang berfungsi untuk menjaga kestabilan sendi lutut. ligament sendiri merupakan jaringan fibrosa dan fungsi utamanya adalah menghubungkan tulang ke tulang lain dan mencegah gerakan sendi yang tidak normal.

Cedera pada ligamen akan memakan waktu lama untuk sembuh. Namun, nutrisi yang baik bisa membantu mempercepat proses penyembuhan. Mengkonsumsi kalori yang cukup dengan diet anti-inflamasi, misalnya, bukan hanya dapat mencegah terjadinya cedera, namun juga dapat mempercepat pemulihan pada saat terjadi cedera.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda. Atlet membutuhkan kalori lebih tinggi dibandingkan orang-orang dengan aktifitas ringan, seperti pegawai kantoran. Kebutuhan kalori atlet juga ditentukan dari jenis olahraga dan intensitasnya. Untuk memperbaiki atau menjaga kesehatan, atlet membutuhkan protein sebesar 15%-20%, 30% lemak, dan 50%-55% karbohidrat dari total kalori yang dibutuhkan.

Pencegahan terhadap cedera ligamen ini menjadi penting, mengingat resikonya cukup massif. Inflamasi atau peradangan dapat memicu terbentuknya radikal bebas. Semakin banyak latihan yang dilakukan seorang atlet, maka semakin banyak pula radikal bebas yang dihasilkan.

Radikal bebas ini dapat merusak sel-sel otot dan memacu inflamasi berikutnya dan peroksidasi lemak. Hal ini menjadi penyebab nyeri otot. Bahkan, radikal bebas juga dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah dan berbagai penyakit. Yang juga perlu menjadi catatan, konsumsi alkohol dan rokok dapat meningkatkan oksidasi radikal bebas yang menghasilkan proses inflamasi, yang dapat memperparah cedera.

KONSUMSI YANG BAIK

Langkah pertama pada penangangan cedera yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi peradangan di wilayah cedera dan mengkonsumsi makanan yang mengandung enzim preteolitik, karena enzim proteolitik mempunyai sifat anti-inflamasi. Beberapa contoh makanan yang kaya enzim proteolitik yaitu nanas dan akar jahe.

Selain enzim proteolitik, vitamin A, C, dan E juga memiliki sifat anti-inflamasi yang sangat baik untuk mengurangi peradangan pada cedera. Vitamin A dapat mempercepat pembentukan produk kolagen, yang merupakan vitamin vital dalam ACL, meniscus, ligamen, dan tendon lainnya.

Vitamin C juga dibutuhkan untuk menghasilkan kolagen dalam tubuh dan ini penting dalam penyembuhan ligament. Vitamin C bukanlah vitamin yang bisa disintesis dari tubuh sendiri. Dengan demikian, perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C agar tubuh memilikinya. Untuk meningkatkan kekuatan kerja dari vitamin C, diperlukan Flavonoid yang dapat membantu mengurangi pembengkakan dengan melindungi sel dari kerusakan oksigen, pembuluh darah dari rupture atau kebocoran. Sementara itu, vitamin E membantu meminimalkan stress oksidatif dan pembengkakan lutut. Makanan yang banyak mengandung vitamin A adalah wortel, plum, apricot, melon, paprika merah, mangga, ubu jarar, dan juga ikan tuna, serta sirip biru. Sementara makanan yang kaya akan vitamin C dan Flavonoid meliputi buah sitrus (jeruk, lemon, jeruk nipis), brokoli, tomat, apel, blueberry, stroberi, bawang merah, dan kol. Untuk vitamin E, bisa kita dapatkan di makanan seperti tahu, bayam, almond, biji bunga matahari, alpukat, ikan, minyak zaitu, dan brokoli.

Mineral yang penting juga untuk mempercepat proses penyembuhan cedera adalah zinc. Zink merupakan mineral yang sangat baik dalam memerangi peradangan dan menjaga sistem kekebalan tubuh agar kuat. Ketika satu bagian tubuh terluka, maka tubuh akan mengalihkan semua semua zinc ke bagian yang cedea untuk melawan peradangan. Dengan demikian, bagian lain dari tubuh akan memiliki definisi zinc. Untuk mencegah kekurangan zinc, penting mengkonsumsi makanan yang kaya zinc seperti tiram, gandum, daging sapi, ayam, bayam, kacang-kacangan (almond, pecan).

Selain vitamin A, C, E, Flavonoid serta mineral Zinc, protein merupakan salah satu zat gizi yang paling berperan penting dalam mempercepat proses penyembuhan cedera. Protein dapat dengan mudah didapat dari makanan seperti daging, telur, ikan, tempe, tahu, dan produk kedelai. Kekurangan protein akan menyebabkan berbagai penyakit di tubuh.

Untuk memastikan penyembuhan yang cepat pada cedera akan memerlukan terapi fisik, jika memungkinkan akan dilakukan tindakan operasi, dan dukungan nutrisi yang tepat untuk mempercepat penyembuhan.

kebutuhan gizi bagi atlet

operasi-arthroscopy.jpg

Permasalahan sendi, baik dilutut, bahu, dan beberapa lokasi sendi lainnya, dapat ditangani dengan teknik arthroscopy yang mempunyai banyak keunggulan, yaitu hasil yang maksimal, luka sayatan yang sangat kecil (hanya sebesar ujung bolpen), dan proses recovery-nya sangat cepat.

arthroscopy bahu
arthroscopy lutut

Siapapun yang mengalami permasalahan sendi, tentu menginginkan penanganan terbaik. Jika pun harus dilakukan pembedahan, pasti banyak yang berharap proses operasi dapat dilakukan dengan cepat, efektif, dan rasa sakit atau nyeri pada saat atau pasca pembedahan dapat ditekan seminimal mungkin.

Untuk itu dunia kedokteran orthopedi, mengenal teknik arthroscopy. Secara harfiah, arthros dapat diartikan sebagai sendi, sementara copy adalah melihat atau mengamati, sehingga arthroscopy dapat diartikan sebagai proses melihat kedalam sendi dengan menggunakan alat khusus.

Arthroscopy dilakukan dengan teknik minimal invasive, yaitu membuat luka atau sayatan yang sangat kecil, sekitar 1 cm atau sekitar sebesar ujung bolpen. Sayatan yang dibuat minimal dua. ”kalau dipergelangan, sayatan yang dibuat bisa lebih kecil, hanya 0,5 cm. Arthroscopy dilakukan dengan membuat minimal dua sayatan, satu untuk endoscopic kamera, dan satu lagi alat untuk mengerjakan diagnosis,” terang dr. Their Effendi, Sp. OT.

Arthoscopy memiliki dua fungsi sekaligus, yakni diagnosa permasalahan sendi, dan melakukan penanganan sekaligus. Terkadang, pada permasalahan sendi, terdapat hal-hal yang tidak dapat terdeteksi dengan alat diagnostic lainnya seperti X-Ray atau USG. Dengan menggunakan teknik arthroscopy dimana menggunakan kamera yang dimasukkan dan mampu menjangkau sendi, masalah yang terjadi dalam sendi dapat terlihat melalui monitor.

Setelah diketahui masalah di dalam sendi, proses arthroscopy biasanya langsung dilanjutkan dengan dilakukan penanganan. Jika sudah ada diagnosa untuk dilakukan tindakan arthroscopy, maka tindakan tersebut akan dilakukan dengan membuat sayatan kecil tanpa harus dilakukan open surgery. “ujar dr. Their. “Tapi ada kalanya, arthroscopy dilakukan hanya untuk mengambil sampel dalam sendi. Misalnya ketika pasien dicurigai ada infeksi atau tumor, maka dokter akan mengambil sampelnya kemudian dicek terlebih dahulu patologinya. Biasanya terdapat dua tahap, namun jika tidak terlihat kecurigaan adanya infeksi atau tumor, maka rata-rata dapat dilakukan dalam satu tahap bersamaan.”

Sendi yang paling sering didiagnosa dan ditangani dengan teknik arthroscopy ini adalah sendi lutut dan disusul dengan sendi bahu. Saat ini, sudah berkembang lagi pada diagnosa dan penanganan keluhan pada sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki atau ankle. ”Sendi pinggul juga bisa, tapi cukup sulit karena letaknya yang sangat dalam, tergantung dari lemak atau otot setiap orang, “ungkapnya. “Di Indonesia, arthroscopy untuk sendi pinggul belum terlalu berkembang. Tapi di Jepang, Korea, Eropa, dan Amerika sudah ada yang mendalami.”

KEUNGGULAN

Teknik arthroscopy memiliki banyak keunggulan dikarenakan luka yang kecil atau minimal invasive, proses penyembuhannya menjadi lebih cepat. Secara kosmetik atau bekas luka pasca operasi akan terlihat lebih baik. “Yang ketiga, dan paling penting adalah efektifitasnya. Bagi kami, para doketr, arthroscopy juga lebih mudah karena bisa menjangkau tempat-tempat yang tidak mungkin bisa terjangkau dengan tindakan open syrgery. Proses operasinya pun juga tergolong cukup singkat. Namun, juga tergantung pada operator atau dokter yang melakukannya, “terang dr. Theri.

Dokter-dokter yang dapat melakukan arthroscopy biasanya merupakan dokter-dokter dengan kualifikasi sport injury specialistic mengingat masalah sendi sangat sering terjadi pada atlet atau masyarakat dengan tingkat instensitas olahraga yang cukup tinggi.

Eperti learning curve, semakin banyak kasus yang ditangani seorang dokter, maka semakin cepat waktu yang diperlukan dalam melakukan tindakan rekontruksi ACL (Anterior Cruciate Ligamen) bisa dilakukan dalam waktu ± 60 menit. Jika tindakan dilakukan diarea bahu memerlukan waktu lebih lama. Karena sendi didalam bahu terdiri dari ball and socket sehingga lebih rumit. Didalam sendi bahu terdapat bola dan mangkuk sehingga gerakannya hanya menekuk dan lurus, “ujarnya. “Saat melakukan arthroscopy, pasien biasanya akan dibius regional, tapi khusus untuk bahu, terpaksa masih harus dibius block atau total.”

Menurut dr. Theri, metode arthroscopy dapat diaplikasikan pada semua orang yang mengalami masalah sendi pada grade awal. Jika yang memiliki permasalahan sendi dalam derajat yang cukup berat maka tindaan yang harus dilakukan bukan lagi arthroscopy, melainkan harus ganti sendi, “terangnya.

Yang juga dapat menjadi catatan, arthroscopy adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan alat khusus berbentuk semacam satu tower da terdiri dari beberapa item, seperti monitor, light source, dan mesin pembersihan atau pengairan, sehingga diperlukan kepabilitas dalam pengoperasiannya dimana RSOT sudah mempunyai alat ini dengan tenaga medis yang sudah terlatih.


runners_knee1.jpg

Cedera olahraga dapat teradi pada siapa saa, baik atlet
professional maupun mereka yang melakukan olahraga reaksional atau untuk
sekedar “have fun”. Hati-hati
beberapa olahraga popular seperti joging, tenis, atau lainnya pun memiliki
potensi cedera dengan risiko yang cukup fatal.

RUNNER’S KNEE

Istilah ini cukup popular di kalangan pelari, setiap kali para pelari mengalami rasa sakit di bagian lututnya, selalu diistilahkan dengan Runner’s knee. Secara medis runner’s knee disebut dengan Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS). Cedera ini merupakan sebuah kondisi dimana terjadi iritasi di area tempat tempurung lutut (patella) dan bersentuhan dengan tulang paha.

Pada banyak kakus, runner’s knee sering kali disebabkan karena beban lutut saat berlari, dimana lemahnya otot quadriceps membuat tempurung lutut tidak dapat disangga dengan baik dan kemudian bergerak ke luar jalur. Hamstring yang tegang dan memberikan tekanan lebih besar pada lutut juga membuat potensi terjadinya runner’s knee semakin besar.

Itu sebabnya bagi para pelari, adalah sangat penting melakukan latihan beban untuk menguatkan otot-otot kaki dan melakukan peregangan untuk menghilangkan ketegangan pada otot-otot sehingga cedera runner’s knee dapat dihindari.

Selain lemahnya otot, runner’s knee uga dapat disebabkan karena aspek biomekanis. Beberapa contohnya adalah tempurung lutut dapat memiliki sisi luar yang lebih besar dibanding sisi dalam, tempurung terletak terlalu tinggi di atas alur tulang femoral (tulang paha), ada kecenderungan alami dimana tempurung lutut tersebut berpotensi mengalami dislokasi, dll.

Menurut British Hournal of Sport Medicine seperti yang dikutip oleh dunialari.com, runner’s knee ini banyak terjadi pada pelari –pelari muda, pelari reaksional, dan pelari wanita. Khusus pelari wanita hal tersebut dikarenakan ukuran pinggul wanita yang cenderung lebih lebar sehingga sudut perbandingan antara lutut dan tulang paha cenderung lebih besar dan memberikan stress tambahan pada lutut.

Gejala-gejala yang sering dialami oleh mereka yang mengalami runner’s knee adalah nyeri di sekitar tempurung lutut. Terasa tak mampu menyangga tubuh dan terkadang bersuara jika digerakkan. Yang harus jadi catatan, tanjakan atau permukaan yang tak rata dapat memperparah runner’s knee.

TENNIS ELBOW

Hampir 50 persen petenis pernah mengalami Tennis Elbow yaitu kondisi yang menyebabkan rasa nyeri pada siku, utamanya siku bagian luar, karena tendon yang menghubungkan otot-otot lengan bawah siku rusak. Hal ini kemudian mengakibatkan rasa sakit saat menggerakkan tangan bahkan untuk gerakan-gerakan sederhana seperti mengangkat tangan.

Meskipun dinamakan dengan Tennis Elbow, cedera ini juga bisa terjadi pada semua orang. Pada prinsipnya, Tennis Elbow adalah cedera yang disebabkan oleh kegiatan memutar lengan berulang kali. Keteganan yang berlebihan juga dapat merusak tendon dan membuat robekan kecil yang menyebabkan nyeri setelah beberapa waktu, sebelum penderitanya merasakan geala-gejala lebih lanjut.

Tennis Elbow

Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat