Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

runners_knee1.jpg

Cedera olahraga dapat teradi pada siapa saa, baik atlet
professional maupun mereka yang melakukan olahraga reaksional atau untuk
sekedar “have fun”. Hati-hati
beberapa olahraga popular seperti joging, tenis, atau lainnya pun memiliki
potensi cedera dengan risiko yang cukup fatal.

RUNNER’S KNEE

Istilah ini cukup popular di kalangan pelari, setiap kali para pelari mengalami rasa sakit di bagian lututnya, selalu diistilahkan dengan Runner’s knee. Secara medis runner’s knee disebut dengan Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS). Cedera ini merupakan sebuah kondisi dimana terjadi iritasi di area tempat tempurung lutut (patella) dan bersentuhan dengan tulang paha.

Pada banyak kakus, runner’s knee sering kali disebabkan karena beban lutut saat berlari, dimana lemahnya otot quadriceps membuat tempurung lutut tidak dapat disangga dengan baik dan kemudian bergerak ke luar jalur. Hamstring yang tegang dan memberikan tekanan lebih besar pada lutut juga membuat potensi terjadinya runner’s knee semakin besar.

Itu sebabnya bagi para pelari, adalah sangat penting melakukan latihan beban untuk menguatkan otot-otot kaki dan melakukan peregangan untuk menghilangkan ketegangan pada otot-otot sehingga cedera runner’s knee dapat dihindari.

Selain lemahnya otot, runner’s knee uga dapat disebabkan karena aspe biomekanis. Beberapa contohnya adalah tempurung lutut dapat memiliki sisi luar yang lebih besar disbanding sisi dalam, tempurung terletak terlalu tinggi di atas alur tulang femoral (tulang paha), ada kecenderungan alami dimana tempurung lutut tersebut berpotensi mengalami dislokasi, dll.

Menurut British Hournal of Sport Medicine seperti yang dikutip oleh dunialari.com, runner’s knee ini banyak terjadi pada pelari –pelari muda, pelari reaksional, dan pelari wanita. Khusus pelari wanita hal tersebut dikarenakan ukuran pinggul wanita yang cenderung lebih lebar sehingga sudut perbandingan antara lutut dan tulang paha cenderung lebih besar dan memberikan stress tambahan pada lutut.

Gejala-gejjala yang sering dialami oleh mereka yang mengalami runner’s knee adalah nyeri di sekitar tempurung lutut. Terasa tak mampu menyangga tubuh dan terkadang bersuara jika digerakkan. Yang harus jadi catatan, tanjakan atau permukaan yang tak rata dapat memperparah runner’s knee.

TENNIS ELBOW

Hampir 50 persen petenis pernah mengalami Tennis Elbow yaitu kondisi yang menyebabkan rasa nyeri pada siku, utamanya siku bagian luar, karena tendon yang menghubungkan otot-otot lengan bawah siku rusak. Hal ini kemudian mengakibatkan rasa sakit saat menggerakkan tangan bahkan untuk gerakan-gerakan sederhana seperti mengangkat tangan.

Meskipun dinamakan dengan Tennis Elbow, cedera ini juga bisa terjadi pada semua orang. Pada prinsipnya, Tennis Elbow adalah cedera yang disebabkan oleh kegiatan memutar lengan berulang kali. Keteganan yang berlebihan juga dapat merusak tendon dan membuat robekan kecil yang menyebabkan nyeri setelah beberapa waktu, sebelum penderitanya merasakan geala-gejala lebih lanjut.

Tennis Elbow

IMG_2923-1200x800.jpg

Dispilin ilmu radiologi adalah “saudara dekat” bagi banyak disiplin ilmu kedokteran lainnya, termasuk kedokteran tulang, sendi, dan jaringan di sekitarnya. Dengan bantuan teknologi radiologi terkini seperti yang ada di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, dokter dapat membuat diagnosa terhadap penyakit dengan lebih tepat, sehingga penanganannya pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Salah satu masalah yang berhubungan dengan tulang, sendi, dan jaringan sekitarnya yang banyak diderita masyarakat adalah gangguan muskuloskeletal, yakni sebuah kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang.

Pada penanganannya, dokter memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi pasien sehingga dapat melakukan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pada konteks inilah radiologi memegang peranan penting, dimana terdapat berbagai teknologi radiologi yang dapat diterapkan untuk memeriksa lebih detail mengenai kondisi sendi, ligamen, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. “Pasien dengan nyeri bahu, misalnya. Dengan kasat mata, dokter tidak bisa tahu apakah itu robek atau radang saja. Nah di situlah pentingnya pemeriksaan radiologi, mulai dari rontgen, USG, CT Scan, hingga MRI,” ujar dr. Rosy Setiawati, Sp. Rad (K). “Memang tidak semua pasien dengan keluhan muskuloskeletal harus dilakukan pemeriksaan radiologi, karena setiap kasus memiliki indikasinya masing-masing, dan dokter memiliki pengalaman pemeriksaan. Tetapi pemeriksaan ini banyak digunakan untuk memastikan penyebab keluhan.”

Lebih lanjut dr. Rosy menuturkan, ada beberapa tingkatan pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan untuk membantu diagnosa pada keluhan muskuloskeletal. Salah satunya yang merupakan pemeriksaan standar adalah pemeriksaan rontgen. “Muskuloskeletal itu berkaitan dengan tulang, jadi tulangnya harus dipastikan baik-baik saja terlebih dahulu. Jika tidak apa-apa tapi masih bengkak, misalnya, harus cari tahu lagi dengan alat lain, ultrasound, CT Scan, MRI, hingga ditemukan masalahnya,” terang dr. Rosy.

Menurut dr. Rosy, memang terdapat banyak pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan berkaitan dengan masalah muskuloskeletal. Selain rontgen, salah satu alat yang bisa dipakai adalah ultrasonografi atau biasa disingkat dengan USG.

Teknik pemeriksaan USG memang bukan teknologi baru. Namun, seiring dengan perkembangannya, USG kini tidak hanya digunakan untuk melihat kondisi rahim pada ibu hamil atau organ-organ lainnya di dalam perut, tetapi juga dapat digunakan untuk memeriksa struktur jaringan yang berada di permukaan.

“Jadi USG yang bekerja dengan gelombang suara ini sekarang bukan hanya untuk ibu hamil saja. Tetapi yang berkaitan dengan tulang, otot, atau yang berhubungan dengan muskuloskeletal. Akurasinya cukup tinggi,” jelasnya. “Harga pemeriksaannya juga terjangkau, dan tidak memakan waktu lama, serta nilai diagnostiknya tinggi. Untuk rumah sakit pun menguntungkan, karena tidak perlu ruangan besar, bahkan sekarang monitornya bisa menggunakan layar handphone.”

dr. Rosy tidak menampik bahwa USG juga memiliki kelemahan, terutama untuk pemeriksaan pada bagian atau struktur jaringan yang dalam. Untuk itu, radiologi punya banyak pilihan, tergantung dengan kasus atau diagnosa awal dari dokter yang menangani.

“Ada tingkatannya, bisa cukup hanya dengan rontgen, USG, atau perlu CT Scan, MRI. Jadi kalau diperiksa dengan USG tidak tampak ada masalah, belum tentu memang tidak ada masalah. Jadi peran radiologi ini sangat penting dalam penentuan diagnosa dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh dokter,” ujarnya.

Dokter yang fellowship khusus di muskuloskeletal di Singapura dan Italia ini juga menekankan pentingnya tenaga ahli dalam penerapan pemeriksaan radiologi. “Selain alat yang lengkap dan teknologi terkini seperti yang ada di RSOT, tenaga ahli juga sangat penting. Jadi bagaimana bidang radiologi yang penuh dengan teknologi alat ini dapat dioperasikan oleh ahlinya, sehingga menghasilkan diagnosa yang tepat,” tutupnya.

USG Muskuloskeletal oleh dr. Rosy, Sp.Rad


download.jpg

Jumlah cedera bahu ternyata juga cukup “bersaing” dengan permasalahan tulang dan sendi lutut. Menariknya, banyak diantara penderita cedera bahu ini berasal dari kalangan usia muda.

Terdapat banyak macam cedera bahu, mulai bantalan sendi yang robek, penjepitan di daerah bahu, dislokasi bahu, hingga robeknya urat atau tendon. Cedera tersebut akan membuat pasien merasa nyeri pada bahu dan tidak dapat mengangkat tangan dengan sempurna.

Secara garis besar, ada dua penyebab cedera bahu yaitu: Trauma dan proses degenerative. Dari dua sebab tersebut cedera bahu karena trauma naik cukup signifikan seiring dengan meningkatnya tingkat partisipasi masyarakat pada olahraga, khususnya di kalangan usia muda. Kebanyakan saat olahraga atau salah tumpuan saat jatuh sehingga terjadi dislokasi bahu atau bisa juga tendonnya robek.

Permasalahan sendi ini juga dapat diakibatkan karena repetitive injury atau kerusakan pada sendi yang disebabkan kesalahan gerak yang dilakukan secara terus menerus. Pada olahraga misalnya, cedera bahu dapat dialami karena kurangnya pemanasan atau teknis gerakan olahraga yang salah atau karena overuse. Banyak juga orangtua yang mengalami gangguan bahu karena masih melakukan olahraga seperti bulu tangkis atau tenis dalam intensitas yang tinggi.

Penanganan dengan arthroscopy

Sama halnya dengan penanganan permasalahan sendi lutut, arthroscopy  merupakan salah satu tindakan yang disarankan pada semua orang yang mengalami masalah sendi grade awal.

Menurut dr. Theri salah satu dokter orthopedic di RS Orthopedi & TTraumatologi Surabaya, teknik Arhtroscopy  sangat efektif untuk menangani cedera bahu karena dapat lebih spesifik mendiagnosa dan menangani permasalahan pada tendon atau bahu yang robek. Justru akan lebih sulit jika dilakukan open surgery  atau operasi dengan luka lebar. Karena sendi bahu memang lebih rumit disbanding dengan lutut misalnya. Fisioterapinya juga harus lebih fokus. Jadi memang harus ditangani oleh ahlinya.

#RSOT #rsorthopedisurabaya #cederaolahraga #sportinjury #orthopedicsurgeon #rumahsakitsurabaya #sportmedicine #doktertulang #cederabahu #arhtroscopy #surabaya

operasi arhtroscopy
operasi arhtroscopy

Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat