">OA – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

sakit-lutut-alodokter.jpg

Apa itu pengapuran sendi ? Pengapuran sendi adalah istilah namun untuk menggambarkan suatu penyakit yang disebut OSTEOARTHRITIS (OA). Istilah lain yang yang sering di gunakan masyarakat adalah sendi aus, atau minyak sendinya habis. OA Merupakan suatu keadaan dimana terjadi penipisan tulang rawan atau sendi (aus atau rusak). Penyebabnya bermacam-macam,mulai penuaan,ginetik,obesitas,kelainan bentuk sendi,trauma dsb .

Sendi yang paling sering terkena OA adalah sendi-sendi penahanan berat badan,yaitu sendi lutut,sendi panggul dan sendi tulang belakang. Orang yang berisiko terkena OA adalah yang berusia di atas 50 Tahun.Tetapi bukan berarti OA tidak  bisa terjadi pada yang lebih muda. OA Bisa lebih cepat muncul pada orang yang kelebihan berat badan,olahragawan,dan seseorang yang memiliki kelainan bentuk sendi. (Misalnya lututnya berbentuk huru”O”.

Keluhan utama orang yang terkena OA adalah nyeri pada sendi. Apabila yang terkena adalah sendi yang menopang berat badan,misalnya sendi lutut,maka keluhannya adalah nyeri pada lutut. Nyeri lutut biasanya memberat saat di pakai jalan jauh,atau saat mau berdiri dari posisi duduk atau jongkok. Seringkali pasien juga merasa ngilu saat bersujud ketika melakukan sholat. Hasil pemeriksaan foto rontogen sering sekali menunjukan adanya penyempitan celah sendi, disertai penumbuhan tonjolan tulang (osteofit) yang lalu di istilahkan sebagai pengapuran sendi.

Bagaimana penangannanya ?

Kerusakan tulang rawan bisa di golongkan menjadi kerusakan ringan,sedang,atau berat. Pada kerusakan ringan dan sedang, pengobatan bisa dilakukan secara non operatif, yaitu melalui pemberian obat,latihan penguatan otot,dan fisioterapi.

Obat yang diberikan umumnya adalah obat anti nyeri, dan obat nutrisi tulang rawan, yaitu glukosamin. Pemberian glukosamin dapat dilakukan dengan cara diminum,dioles atau disuntikan langsung kedalam sendi.

Alternatif terapi lain adalah obat yang disebutkan ke dalam sendi adalah dengan pemberian PRP (Platet Rich Plasma). PRP merupakan hasil pemrosesan darah pasien sendiri,berupa trombosit yang kaya akan zat – zat penyembuhan.

Sementara itu,pada kerusakan tulang rawan yang berat,intensitas pengobatan konservatif (obat,latihan,dan penyuntikan) tidak dapat mengurangi nyeri,sehingga pilihan terbatas pada operasi.

Operasi yang di lakukan adalah mengganti sendi yang rusak dengan sendi baru yang terbuat dari campuran logamyang ringan namun kuat. Dengan pergantian sendi, nyeri yang dirasakan dapat berkurang drastic,dan pasien bisa kembali menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan.

Di RSOT Surabaya,Operasi ganti sendi umunya memerlukan waktu operasi yang lebih singkat, karena menggunakan teknologi penggantian sendi yang ringkas dan lebih presisi. Waktu pemulihan pasca operasi berakhir antara 3-5 hari, bergantung pada kondisi pasien.

Nyeri Lutut


operasi-arthroscopy.jpg

Sayatan Operasi Sebesar Luka Kecil

Pemasalahan sendi, baik di lutut, bahu, dan beberapa lokasi sendi lainnya, dapat didiagnosa dan ditangani dengan arthroscopy yang punya banyak keunggulan seperti hasil yang maksimal, luka sayatan yang sangat kecil, hingga proses recovery yang sangat cepat.

SIAPA pun yang mengalami permasalahan sendi, tentu menginginkan penanganan terbaik. Jika pun harus dilakukan pembedahan, pasti banyak yang berharap proses operasi dapat dilakukan dengan cepat, efektif, dan rasa sakit atau nyeri pada saat atau pasca pembedahan dapat ditekan seminimal mungkin.

Untuk itu dunia kedokteran orthopedi, mengenal teknik arthroscopy. Secara harfiah, arthros dapat diartikan sebagai sendi, sementara copy adalah melihat atau mengamati, sehingga arthroscopy dapat diartikan sebagai proses melihat ke dalam sendi dengan menggunakan alat khusus.

Arthroscopy dilakukan dengan teknik minimal invasive yaitu membuat luka atau sayatan yang sangat kecil sekitar 1 cm atau sekitar sebesar ujung bolpen. Sayatan yang dibuat minimal dua. ”Kalau di pergelangan, sayatan yang dibuat bisa lebih kecil, hanya 0,5 cm. Arthroscopy dilakukan dengan membuat minimal dua sayatan, satu untuk endoscopic kamera, dan satu lagi alat untuk mengerjakan diagnosis,” terang dr. Theri Effendi, Sp.OT.

Arthroscopy memiliki dua fungsi sekaligus, yakni diagnosa permasalahan sendi, dan melakukan penanganan sekaligus. Terkadang, pada permasalah sendi, terdapat hal-hal yang tidak dapat terdeteksi dengan alat diagnostik lainnya seperti X-Ray atau USG. Dengan menggunakan teknik arthroscopy dimana menggunakan kamera yang dimasukkan dan mampu menjangkau sendi, masalah yang terjadi dalam sendi dapat terlihat melalui monitor.

Setelah diketahui masalah di dalam sendi, proses arthroscopy biasanya langsung dilanjutkan dengan dilakukan penanganan. Jika sudah ada diagnosa untuk dilakukan tindakan arthroscopy maka tindakan tersebut akan dilakukan dengan membuat sayatan kecil tanpa harus dilakukan open surgery,” ujar dr. Theri. ”Tapi ada kalanya, arthroscopy dilakukan hanya untuk mengambil sampel dalam sendi. Misalnya ketika pasien dicurigai ada infeksi atau tumor, maka dokter akan mengambil sampelnya kemudian dicek terlebih dahulu patologinya. Biasanya terdapat dua tahap namun jika tidak terlihat kecurigaan adanya infeksi atau tumor maka rata-rata dapat dilakuan dalam satu tahap bersamaan.

Sendi yang paling sering didiagnosa dan ditangani dengan teknik arthroscopy ini adalah sendi lutut dan disusul dengan sendi bahu. Saat ini, sudah berkembang lagi pada diagnosa dan penanganan keluhan pada sendi pergelangan tangan dan pergelangan kaki atau ankle. ”Sendi pinggul juga bisa, tapi cukup sulit karena letaknya yang sangat dalam, tergantung dari lemak atau otot setiap orang” ungkapnya. “Di Indonesia arthroscopy untuk sendi pinggul belum terlalu berkembang. Tapi di Jepang, Korea, Eropa dan Amerika sudah ada yang mendalami.”

KEUNGGULAN

Teknik arthroscopy memiliki banyak keunggulan dikarena luka yang kecil atau minimal invasive, proses penyembuhannya menjadi lebih cepat. Secara kosmetik atau bekas luka pasca operasi akan terlihat lebih baik. ”Yang ketiga, dan paling penting adalah efektifitasnya. Bagi kami, para dokter, arthroscopy juga lebih mudah karena bisa menjangkau tempat- tempat yang tidak mungkin bisa terjangkau dengan tindakan open surgery. proses operasinya pun juga tergolong cukup singkat. Namun, juga tergantung pada operator atau dokter yang melakukannya,” terang dr. Theri.

Dokter-dokter yang dapat melakukan arthroscopy biasanya merupakan dokter-dokter dengan kualifikasi sport injury specialistic mengingat masalah sendi sangat sering terjadi pada atlet atau masyarakat dengan tingkat intensitas olahraga yang cukup tinggi.

”Seperti learning curve, misalnya semakin banyak kasus yang ditangani seorang dokter, maka semakin cepat. Untuk rekonstruksi ACL (baca halaman 2, red) bisa dilakukan dalam waktu -+ 60 menit. Kalau di bahu agak lebih lama, karena lebih rumit dan sendi di bahu termasuk ball and socket karena terdapat bola dan juga terdapat mangkuk didalamnya maka gerakan sendinya ke segala arah. Beda dengan lutut yang gerakannya menekuk dan lurus saja,” ujarnya. ”Saat melakukan Arthroscopy, pasien biasanya akan dibius regional, tapi khusus untuk bahu, terpaksa masih harus dibius block atau total.”

Menurut dr. Theri, metode arthroscopy dapat diaplikasikan pada semua orang yang mengalami masalah sendi pada grade awal. jika yang memiliki permasalahan sendi dalam derajat yang cukup berat maka tindakan yang harus dilakukan bukan lagi arthroscopy, melainkan harus operasi ganti sendi,” terangnya.

Yang juga dapat menjadi catatan, arthroscopy adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan alat khusus berbentuk semacam satu tower dan terdiri dari beberapa item, seperti monitor, light source, mesin pembersihan atau pengairan, sehingga diperlukan kapabilitas dalam pengoperasiannya dimana di RSOT sudah mempunyai alat ini dengan tenaga medis yang sudah terlatih,”tukasnya.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat