">high impact sport – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

runner-heel-carousel.jpg

Cedera adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga.

Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didaptkan pada saat olahraga. bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle  atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.

Menurut dr. Theri Effendi, Sp.OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligamen dan jaringan lunak lainnya seperti meniscus (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan dan cedera otot di sekitar lutut seperti harmstring, quadriceps dll. Cedera yang yang sering terjadi pada lutut adalah Cedera Anterior Cruciate Ligaments (ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulang paha dengan tulang kering di sendi lutut.

Sementara di daerah ankle, yang paling sering terjadi adalah ankle sprain, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan kesleo. Pada ankle, ligamen yang paling lemah dan sering cedar adalah anterior ligamen. Selain itu, cedera pada ankle yang sering terjadi adalah pada tendon achilles, yang merupakan tendon terbesar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitif overused atau dilakukan dengan intensitas yang sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang. hal tersebut dapat mengakibatkan fraktur atau patah tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan stress fracture.

“Cedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga high impact dan cenderung banyak body contact-nya. Seperti sepakbola, basket, dll.” Terang dr. Theri. “Cedera olahraga paling banyak disebabkan karena body contact, tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dan jatuh pada posisi yang tidak benar, atau melakukan gerakan memutar seperti pivot (gerakan memutar secara tiba-tiba dengan berporos pada salah satu kaki, red) itu juga paling sering me nyebabkan cedera pada lutut dan ankle.

Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga semakin banyak digemari, termasuk olahrga urban sport, seperti running. Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. “Salah satunya yang sedang in  adalah olahraga lari. Merasa mau event, persiapan kurang, tapi ingin sampai finish. Jarak yang diambil pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,” papar dr. Theri. “Nutrisi juga harus juga diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yag kurang saat olahraga.”

JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT LAKUKAN RICE

Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat olahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. “Yang pertama harus dilakukana adalah Rest (istirahat), jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,” ujar dr. Theri.

Kemudian, langkah berikutnya adalah teknik Ice, yakni  icing, compressing dan elevating. Icing adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.

“kalau cedera itu sebenarnya, ada kerusakan jaringan di dalam, termasuk di dalamnya pemb uluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya perdarahannya akan semakin banyak,’ papar dr. Theri “Kalau dikasih es, kontraksi, perdarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.”

Proses elevating juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. “Kalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kencang, tapi juga tidak terlalu kendor,” katanya. “Kalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.”

PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT

Seiring dengan tren olahraga, oenanganan pada sport injury di Indonesia juga terus berkembang. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub-spesialis sport injury.

RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan perlatan modern. Salah satunya adalah dengan arthroscopy, teknik operasi minimal invasive dengan luka sayatan kecil bahkan kurang dari 1 cm dan proses recovery  yang sangat cepat.

Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehabilitasi medic dari dokter fisioterapis yang memiliki program dan standart of procedure (SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya dan berbagai klub professional lainnya.

“Target pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tau, kapan bisa mulai latihan lagi, kapan bisa tanding lagi dan seterusnya,” papar dr. Theri. “Sebab, dalam penanganan sport injury di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahrga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pensiun.” tutup dr. Theri.


Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat