"> cedera olahraga – surabayaorthopedi – Your Bone and Joint Solutions

Please wait...



Blog

CLASSIC LIST

cropped-dreamstime_s_70820775.png

Secara universal, ada tiga tahapan yang harusnya dilakukan saat melakukan olahraga antara lain Warming up, exercise, dan cooling down. Ketiga tahapan tersebut seringkali tidak dipenuhi semuanya. Itu yang menyebabkan risiko cedera menjadi tinggi.

Tiap-tiap tahapan di atas memiliki tujuan masing-masing. Warming Up atau pemanasan misalnya, dilakukan dengan tujuan untuk membuat otot lebih torelable atau lebih lentur saat olahraga telah dilakukan.

Stretching dilakukan terutama pada bagian-bagian tubuh yang akan digunakan untuk melakukan olahraga. Selain itu, pemanasan juga diperlukan untuk menyiapkan irama jantung. Misal awalnya 60 beat langsung jadi 100 beat, itu akan sangat berat untuk jantung.

Proses cooling down juga tak kalah penting. Untuk jantung, misalnya, cooling down juga dibutuhkan agar kerja jantung tidak turun langsung secara drastis.

Proses latihan atau olahraga pun harus mendapat perhatian. Latihan atau olahraga sebaiknya dilakukan secara bertahap. Sebagai awal, kita disarankan untuk memulai dengan 60 persen dari level atau batas maksimal kemampuan. Kalau misal ingin lari 10 km maka harus dimulai dari 6 km dulu. Baru nanti boleh ditambahkan secara bertahap jarak larinya. Kita juga harus menguasai teknik olahraga yang akan kita lakukan dengan baik untuk meminimalisir risiko cedera.


FISIOTERAPI.jpg

Tak kalah penting dengan tahapan medis lainnya, proses rehabilitasi dan fisioterapi juga memiliki peranan yang sangat penting dalam penanganan maupun pencegahan cedera olahraga.

SECARA umum, olahraga dapat dibagi menjadi dua antara lain Olahraga prestasi dan olahraga rekreasional. Keduanya memiliki potensi cedera atau trauma, baik cedera ringan, sedang, maupun berat.

Setiap cedera olahraga memiliki perbedaan dalam hal penanganan, berkaitan dengan tujuan akhirnya. Pada olahraga rekreasional, tujuan akhir Rehabilitasi Medik adalah untuk menghantarkan pasien dapat berolahraga kembali, sementara untuk olahraga prestasi yakni para atlet, fisioterapi dilakukan hingga atlet tersebut dapat berprestasi kembali. Untuk para atlet, penanganan yang dilakukan relatif lebih panjang dan mendalam, karena berkaitan dengan reflek, kekuatan otot, sensor, dan lainnya.

Rehabilitasi medik merupakan elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dari penanganan cedera, termasuk cedera olahraga. Pada cedera sedang dan berat yang memerlukan tindakan medis seperti operasi, sudah masuk pada masa pra-tindakan. Untuk cedera lutut yang sudah cukup lama dan otot pahanya habis, misalnya, hasil operasi akan jauh lebih bagus jika sebelumnya telah dilakukan rehabilitasi untuk memperbaiki otot tersebut.

Program Rehabilitasi Medik pada masa pra-tindakan juga menjadi sangat krusial, karena sebelum tindakan, akan dilakukan edukasi mengenai hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari-hari awal pasca operasi. Pasca operasi, proses rehabilitasi akan konsentrasi pada penanganan nyeri, bengkak, pengembalian kekuatan, dan hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan mobilisasi. Jika sudah maka kita akan melatih motorik, sensor, dan lainnya. Terakhir jika ingin kembali berolahraga, maka kita akan melatih otot-otot yang berkaitan dengan olahraga yang akan dilakukan.

Hal-hal tersebut di atas, merupakan aplikasi dari tahapan-tahapan pemulihan cedera olahraga seperti mengatasi Cedera tanpa dilakukannya tindakan operasi, pemulihan, dan return to sport. Untuk return to sport, tergantung dari kondisi pasien apakah bisa berolahraga kembali, bisa berprestasi atau berkompetisi lagi.

fisioterapi pada cedera olahraga

lab1-1200x860.jpg

Apakah PRP itu?

PRP atau platelet rich plasma, adalah salah satu komponen dari darah sendiri yang di proses dan dilakukan aktivasi sehingga menghasilkan faktor anti radang dan faktor pertumbuhan.

Platelet Rich Plasma (PRP) / Trombosit Kaya Plasma digunakan dalam menangani berbagai cedera olahraga karena kemampuannya untuk mempercepat kesembuhan dan meregenerasi pertumbuhan sel. Prosedur PRP ini relatif sederhana yaitu hanya dengan menggunakan darah pasien itu sendiri yang diproses secara medis untuk menghasilkan konsentrat trombosit. Konsentrat ini kemudian disuntikkan secara langsung ke dalam lokasi cedera untuk membantu penyembuhan.

Penyuntikan PRP pada daerah yang nyeri

Apakah PRP aman digunankan?

PRP aman digunakan karena ini bukan obat. Yang digunakan untuk penyuntikan adalah darah pasien sendiri, sehingga tidak akan ada risiko penolakan,alergi, infeksi dan penularan penyakit dari orang lain. Termasuk dalam golongan perawatan tanpa obat-obatan, PRP tidak menyebabkan efek samping keracunan, interaksi dan sistemik.

Proses Terapi PRP pada Cedera Olah Raga 

Prosedur perawatan PRP memerlukan waktu sekitar 50-60 menit dari proses awal hingga akhir. Pertama, pengambilan darah dari siku kemudian dilakukan dalam kondisi steril untuk mencegah kontaminasi. Kemudian darah ditransfer ke dalam tabung sekali-pakai dan diputar dengan kecepatan tinggi secara sentrifugal selama beberapa menit untuk memisahkan darah dan plasma. Kemudian plasma disuntikkan kebagian yang mengalami cedera. Saat diaktifkan pada lokasi cedera, plasma akan mengeluarkan faktor -faktor pertumbuhan yang membantu mengendalikan pembengkakan dan mendorong penyembuhan luka.

Faktor anti radang dan faktor pertumbuhan yang dihasilkan bermanfaat untuk:

  • Untuk mengurangi nyeri sendi dan menurunkan proses radang pada pengapuran sendi (ostheoarthritis)
  • Untuk mempercepat proses penyembuhan patah tulang
  • Cedera muskoloskeletal (robek pada ligament atau tendon, radang tendon/tendinitis akibat sport injury)

Prosedur PRP yang optimal memerlukan 2-3 kali terapi. Tindakan PRP digunakan pada pasien dengan nyeri pada persendian namun bukan untuk yang tingkat lanjut.  Untuk kerusakan sendi tingkat lanjut memerlukan operasi ganti sendi (ostheoarthritis)

Perbedaan injeksi PRP dengan suntikan lainnya ialah

Tindakan PRP menggunakan kekuatan alami tubuh dalam proses pembaharuan serta tidak ada penolakan dari tubuh dikarenakan bahan yang tergandung dalam PRP ini berasal dari penderita sendiri. Berbeda dengan suntikan kortikosteroid yang dapat menghilangkan peradangan dan nyeri namun bersifat sementara, serta tidak memperbaiki jaringan yang rusak.

Tahap pemisahan komponen sel darah pada alat Centrifuge
Proses PRP

download.jpg

Jumlah cedera bahu ternyata juga cukup “bersaing” dengan permasalahan tulang dan sendi lutut. Menariknya, banyak diantara penderita cedera bahu ini berasal dari kalangan usia muda.

Terdapat banyak macam cedera bahu, mulai bantalan sendi yang robek, penjepitan di daerah bahu, dislokasi bahu, hingga robeknya urat atau tendon. Cedera tersebut akan membuat pasien merasa nyeri pada bahu dan tidak dapat mengangkat tangan dengan sempurna.

Secara garis besar, ada dua penyebab cedera bahu yaitu: Trauma dan proses degenerative. Dari dua sebab tersebut cedera bahu karena trauma naik cukup signifikan seiring dengan meningkatnya tingkat partisipasi masyarakat pada olahraga, khususnya di kalangan usia muda. Kebanyakan saat olahraga atau salah tumpuan saat jatuh sehingga terjadi dislokasi bahu atau bisa juga tendonnya robek.

Permasalahan sendi ini juga dapat diakibatkan karena repetitive injury atau kerusakan pada sendi yang disebabkan kesalahan gerak yang dilakukan secara terus menerus. Pada olahraga misalnya, cedera bahu dapat dialami karena kurangnya pemanasan atau teknis gerakan olahraga yang salah atau karena overuse. Banyak juga orangtua yang mengalami gangguan bahu karena masih melakukan olahraga seperti bulu tangkis atau tenis dalam intensitas yang tinggi.

Penanganan dengan arthroscopy

Sama halnya dengan penanganan permasalahan sendi lutut, arthroscopy  merupakan salah satu tindakan yang disarankan pada semua orang yang mengalami masalah sendi grade awal.

Menurut dr. Theri salah satu dokter orthopedic di RS Orthopedi & TTraumatologi Surabaya, teknik Arhtroscopy  sangat efektif untuk menangani cedera bahu karena dapat lebih spesifik mendiagnosa dan menangani permasalahan pada tendon atau bahu yang robek. Justru akan lebih sulit jika dilakukan open surgery  atau operasi dengan luka lebar. Karena sendi bahu memang lebih rumit disbanding dengan lutut misalnya. Fisioterapinya juga harus lebih fokus. Jadi memang harus ditangani oleh ahlinya.

#RSOT #rsorthopedisurabaya #cederaolahraga #sportinjury #orthopedicsurgeon #rumahsakitsurabaya #sportmedicine #doktertulang #cederabahu #arhtroscopy #surabaya

operasi arhtroscopy
operasi arhtroscopy

Copyright by Surabaya Orthopedi 2018

WhatsApp Live Chat