{"id":4957,"date":"2018-12-03T06:00:12","date_gmt":"2018-12-03T06:00:12","guid":{"rendered":"http:\/\/raka"},"modified":"2026-06-10T06:11:06","modified_gmt":"2026-06-10T06:11:06","slug":"rsot-resmikan-komunitas-ctev-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/2018\/12\/03\/rsot-resmikan-komunitas-ctev-2\/","title":{"rendered":"RSOT Resmikan Komunitas CTEV"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_1953\" aria-describedby=\"caption-attachment-1953\" style=\"width: 200px\" class=\"wp-caption alignright\"><a href=\"http:\/\/rsot-surabaya-2.local\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV021.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1953\" src=\"http:\/\/rsot-surabaya-2.local\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV021.jpg\" alt=\"Komunitas CTEV\" width=\"200\" height=\"500\"><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1953\" class=\"wp-caption-text\">Komunitas CTEV<\/figcaption><\/figure>\n<p>Rs. Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya meresmikan komunitas CTEV,<br \/>\nMinggu (22\/7) di Hotel four Point Surabaya. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi<br \/>\nwadah berbagi pegalaman, pengetahuan, dan saling mendukung serta berbagi<br \/>\nsemangat antar para orang yang memiliki anak dengan masalah kaki bengkok.<\/p>\n<p>Angka kelahiran bayi dengan kelainan Congenital Taliper Equinovarus (CTEV)<br \/>\natau kaki bengkok di Indonesia masih tergolong tinggi. Survei yang dilakukan<br \/>\nKementerian Kesehatan pada tahun 2014 di 13 rumah sakit di sembilan provinsi<br \/>\nmenyebutkan, dari 231 anak yang terlahir dengan kelainan bawaan atau kongenital,<br \/>\n22,3 persen di antaranya adalah kelainan kaki bengkok atau CTEV.<\/p>\n<p>Rs. Orthopedi dan Traumatologi, sebagai rumah sakit yang fokus pada<br \/>\npermasalahan tulang dan sendi, berinisiatif untuk membentuk komunitas yang berisi<br \/>\npara orang tua yang memiliki permasalahan yang sama pada anak-anak mereka. Bagi<br \/>\nRSOT, komunitas ini menjadi penting, karena proses penyembuhan pada anak-anak<br \/>\nCTEV tidak hanya bergantung sepenuhnya pada proses medis, namun juga kesiapan<br \/>\nmental dari para orang tua.<\/p>\n<p>\u201dIbu dan Bapak, jangan menyerah. Tetap Semangat. Kami tahu ini tidak mudah,<br \/>\nmerawat dan membesarkan anak-anak yang spesial ini. Tapi ketahuilah Anda tidak<br \/>\nsendiri,\u201d ujar dr. Anggita Dewi, Sp. OT, dokter orthopedi dengan sub-spesialisasi<br \/>\npediatric orthopedic atau tulang anak yang biasa menangani masalah CTEV. \u201dSemoga<br \/>\nkomunitas ini bisa membantu, bapak ibu bisa saling bercerita dan berbagai<br \/>\npengalaman dengan para orang tua lainnya yang memiliki anak-anak yang juga sama<br \/>\nspesialnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Pada persemian tersebut, setidaknya terdapat 18 orang tua yang bergabung<br \/>\ndalam komunitas tersebut. RSOT juga meminta dukungan berbagai pihak untuk<br \/>\nmemberikan perhatian lebih kepada anak-anak dengan CTEV. Selain para donatur,<br \/>\nRSOT juga secara khusus membuka kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota<br \/>\nSurabaya, di mana puskesmas-puskesmas dapat memberikan rekomendasi<br \/>\npenanganan ke RSOT jika ditemukan pasien RSOT. \u201dMari kita viralkan komunitas ini,<br \/>\nsehingga lebih banyak lagi yang bisa terbantu,\u201d ujar dr. dr. Sindrawati, Sp. PA,<br \/>\nDirektur PT. Surabaya Orthopedi dan Traumatologi Hospital.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1954\" aria-describedby=\"caption-attachment-1954\" style=\"width: 381px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/rsot-surabaya-2.local\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV011.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1954\" src=\"http:\/\/rsot-surabaya-2.local\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV011.jpg\" alt=\"Komunitas CTEV\" width=\"381\" height=\"250\" srcset=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV011.jpg 381w, https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV011-320x210.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 381px) 100vw, 381px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1954\" class=\"wp-caption-text\">Komunitas CTEV<\/figcaption><\/figure>\n<p>RSOT juga menjalin kerja sama dengan Rumah Singgah Pasien IZI yang siap<br \/>\nmembantu menyediakan tempat tinggal sementara dan berbagai fasilitas lainnya<br \/>\nuntuk penanganan pasien CTEV dari luar kota.<\/p>\n<p>Kepala Rumah Singgah Pasien (RSP) IZI II Jawa Timur Hengky Asmarakandi<br \/>\nmenuturkan, khusus bagi pasien anak seperti pasien CTEV, pihaknya tidak hanya<br \/>\nmemberikan fasilitas pada pasien, namun juga fasilitas untuk dua orang<br \/>\npendamping. \u201dSelain tempat tinggal, kami juga sediakan transportasi, dan makanan<br \/>\nsehari-hari. Semuanya gratis,\u201d ujar Hengky. \u201dKalau kondisi pasien tidak<br \/>\nmemungkinkan, kami juga siap menjemput ke kota asal pasien.\u201d<\/p>\n<p>Di Surabaya, IZI memiliki dua rumah singgah, yakni di Jl. Pucang Adi No. 15, dan<br \/>\nJl. Luntas No. 15 yang berdekatan dengan lokasi RSOT.<\/p>\n<p>Dukungan juga datang dari para donatur yang peduli dengan anak-anak spesial<br \/>\ndengan CTEV. Salah satunya adalah dari dr. Dion. Dia bahkan mengajak serta<br \/>\nkeluarga besarnya untuk memberikan bantuan kepada komunitas ini. \u201dSebab CTEV<br \/>\nini bisa disembuhkan. Sayang sekali kalau tidak ditangani dengan baik,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Komunitas ini dibuka secara resmi oleh Direktur RSOT dr. Gwendolin Mustika<br \/>\nDewi dan ditandai dengan pemukulan gong. Sebagai bentuk apresiasi kepada para<br \/>\npihak yang mendukung komunitas ini, dr. Gwendolin juga memberikan plakat<br \/>\npenghargaan kepada masing-masing pihak pendukung.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1955\" aria-describedby=\"caption-attachment-1955\" style=\"width: 361px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/rsot-surabaya-2.local\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV-22.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1955\" src=\"http:\/\/rsot-surabaya-2.local\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV-22.jpg\" alt=\"Komunitas CTEV\" width=\"361\" height=\"250\" srcset=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV-22.jpg 361w, https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Komunitas-CTEV-22-320x222.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 361px) 100vw, 361px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1955\" class=\"wp-caption-text\">Komunitas CTEV<\/figcaption><\/figure>\n<p>HARU DAN SEMANGAT JADI SATU<\/p>\n<p>Selama acara peresmian Komunitas CTEV ini, banyak cerita haru yang<br \/>\ndiungkapkan oleh para orang tua yang memiliki anak-anak istimewa dengan CTEV.<br \/>\nAlih-alih memunculkan kesedihan, pengalaman-pengalaman yang diungkapkan para<br \/>\norang tua tersebut justru menjadi penyemangat untuk menyembuhkan sang buah<br \/>\nhatu dan mengembalikan harapan dan masa depan mereka.<\/p>\n<p>Salah satu pengalaman diungkapkan oleh Nayla, ibunda dari Mikayla. Nayla<br \/>\nmenuturkan, pada masa kandungannya berumur empat bulan, dokter sudah<br \/>\nmenyampaikan bahwa bayinya mempunyai kondisi khusus. \u201dItu sebabnya saya sudah<br \/>\nsiap. Selama masa kehamilan, saya terus cari tahu tentang CTEV. Dan begitu lahiran<br \/>\ndi rumah sakit ibu dan anak, saya nggak pulang dan langsung boyongan ke RSOT,\u201d<br \/>\nkenang Nayla.<\/p>\n<p>Setelah serangkaian pemeriksanaan, Mikayla akhirnya menjalani operasi saat<br \/>\nberumur dua bulan. \u201dSekarang Milayla sudah umur tujuh bulan. Sekarang pakai<br \/>\nsepatu khusus yang harus dipakai selama 12 ham sehari,\u201d ujarnya. \u201dSaya sangat<br \/>\nberterima kasih pada dr. Anggie yang menangani Mikayla. Beliau sangat kooperatif.<br \/>\nBahkan suatu waktu, saya telpon beliau jam 12 malam meminta agar Mikayla<br \/>\ndiperiksa, dan beliau dengan sabar melayani dan mau datang ke rumah sakit.\u201d<\/p>\n<p>Cerita mengharukan lainnya juga datang dari Ruri Vidiastuti.<br \/>\nDua hari setelah&nbsp;melahirkan, puteranya yang bernama Rafan diketahui mengalami CTEV.<br \/>\n\u201dSaya shock sekali waktu itu. Apa kesalahan saya sehingga anak saya seperti ini.<br \/>\nPadahal anak&nbsp;pertama saya normal\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>\u201dTapi setelah menjalani penanganan di RSOT, saya jadi lebih tenang. Rafan sudah<br \/>\ndioperasi dua minggu lalu dan sekarang sudah bisa pakai sepatu,\u201d ungkap Ruri<br \/>\ndengan wajah haru bercampur bahagia.<\/p>\n<p>#RSOTSurabaya #RSOTSby #CTEV #KomunitasCTEV #Orthopedi<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rs. Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya meresmikan komunitas CTEV, Minggu (22\/7) di Hotel four Point Surabaya. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi wadah berbagi pegalaman, pengetahuan, dan saling mendukung serta berbagi semangat antar para orang yang memiliki anak dengan masalah kaki bengkok. Angka kelahiran bayi dengan kelainan Congenital Taliper Equinovarus (CTEV) atau kaki bengkok di Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1955,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[217,225,83,109,159,89,224,223,215,226,149,174,222,118,90,108,62],"class_list":["post-4957","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health","tag-charity-social-event","tag-csr-rsot","tag-ctev","tag-dokter-tulang","tag-kaki-bengkok","tag-komunitas-ctev","tag-komunitas-ctev-rsot","tag-komunitas-kaki-bengkok","tag-operasi-gratis-ctev","tag-penanganan-gratis-untuk-kaki-bengkok","tag-rs-orthopedi-traumatologi-surabaya","tag-rs-orthopedi-surabaya","tag-rs-tulang","tag-rsorthopedi","tag-rsot","tag-rsotsurabaya","tag-surabayaorthopedi"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4957","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4957"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4957\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5237,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4957\/revisions\/5237"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}