{"id":2874,"date":"2021-03-02T01:48:32","date_gmt":"2021-03-02T01:48:32","guid":{"rendered":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/?p=2874"},"modified":"2021-03-02T01:48:32","modified_gmt":"2021-03-02T01:48:32","slug":"cegah-cedera-olahraga-kenali-kemampuan-sendiri-lakukan-rice-jika-terjadi-cedera","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/2021\/03\/02\/cegah-cedera-olahraga-kenali-kemampuan-sendiri-lakukan-rice-jika-terjadi-cedera\/","title":{"rendered":"CEGAH CEDERA OLAHRAGA, KENALI KEMAMPUAN SENDIRI, LAKUKAN RICE JIKA TERJADI CEDERA"},"content":{"rendered":"<p><strong>CEDERA<\/strong> adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada <em>sport injury<\/em> atau cedera olahraga.<\/p>\n<p>Secara definisi, <em>sport injury<\/em> adalah cedera yang didapatkan pada saat berolahraga. Bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.<\/p>\n<p>Menurut dr. Theri Efendi, Sp. OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligament dan jaringan lunak lainnya seperti meniscus (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan, dan cedera otot di sekitar lutut seperti <em>hamstring<\/em>, <em>quadriceps<\/em>, dll. Cedera yang serig terjadi pada lutut adalah cedera <em>Anterior Cruciate Ligaments<\/em> (ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulamg paha dengan tulang kering di sendi lutut.<\/p>\n<p>Sementara di daerah <em>ankle<\/em>, yang paling sering terjadi adalah <em>sprain ankle<\/em>, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan keseleo. Pada <em>ankle<\/em>, ligamen yang paling lemah dan sering cedera adalah anterior ligament. Selain itu, cedera pada ankle yang sering terjadi adalah pada <em>tendon achilles<\/em>, yang merupakan tendon besar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari, dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitive, <em>overused<\/em> atau dilakukan dengan intensitas sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan <em>stress fracture<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cCedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga <em>high impact<\/em> dan cenderung banyak <em>body contact-nya<\/em>. Seperti sepak bola, basket, dll\u201d, terang dr. theri. \u201cCedera olahraga paling banyak disebabkan karena <em>body contact<\/em>, tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dengan jatuh posisi tidak betul, atau melakukan Gerakan memutar seperti pivot (Gerakan berputar secara tiba-tiba dengan berporors salah satu kaki, red) itu juga paling sering menyebabkan cedera pada lutut dan <em>ankle<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>Untuk itu, dr Theri menekankan pentingnya pemanasan dan pendinginan untuk menghindari cedera. Meski dr. Theri tidak memungkiri, bahwa cedera pun dapat terjadi pada saat <em>warming-up<\/em> dan <em>cooling down<\/em>. \u201cItu sebabnya, kita harus tahu batasan atau kemampuan kita sendiri. Latihan sejak dini dan rutin juga diperlukan, agar otot lebih kuat dan siap untuk diajak berolahraga. Pemanasan dan pendinginan dengan baik tetap harus dilakukan sebelum dan sesudah berolahraga,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga makin banyak digemari, termasuk olahraga <em>urban sport<\/em>, seperti <em>running<\/em>. Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. \u201cSalah satunya yang sedang <em>in<\/em> adalah olahraga lari. Merasa mau event, persiapan kurang, tapi ingin sampai <em>finish<\/em>. Jarak yang diambil yang pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,\u201d papar dr. Theri, \u201cNutrisi juga harus diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk menunjang olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yang kurang saat berolahraga.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT, LAKUKAN RICE<\/strong><\/p>\n<p>Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat berolahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. \u201cYang pertama harus dilakukan adalah <em>Rest<\/em> (istirahat). Jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,\u201d ujar dr. Theri.<\/p>\n<p>Kemudian, Langkah berikutnya adalah Teknik ICE, yakni <em>icing, compressing<\/em>, dan <em>elevating<\/em>. <em>Icing<\/em> adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri, salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.<\/p>\n<p>\u201cKalau cedera itu sebenarnya ada kerusakan jaringan di dalam, kerusakan jaringan lunak di dalam, termasuk di dalamnya pembuluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya pendarahannya akan semakin banyak,\u201d papar dr. Theri. \u201cKalau dikasih es, kontraksi, pendarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres alcohol juga tidak betul. Penanganan dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.\u201d<\/p>\n<p>Proses <em>elevating<\/em> juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki dapat digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. \u201cKalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kecang, tapi juga tidak terlalu kendor,\u201d katanya. \u201cKalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT<\/strong><\/p>\n<p>Seiring dengan tren olahraga, penanganan pada <em>sport injury<\/em> di Indonesia juga terus berkembang,. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub spesialisasi <em>sport injury<\/em>.<\/p>\n<p>RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan peralatan modern. Salah satunya adalah arthroscopy, Teknik operasi <em>minimal invasive<\/em> dengan luka yang sangat kecil bahkan kurang dari 1cm dan prosesnya recovery yang sangat cepat.<\/p>\n<p>Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehab medik dari dokter dan fisioterapis yang memiliki program dan <em>Standart Of\u00a0 Procedure<\/em> (SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini, RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya, dan berbagai klub professional lainnya.<\/p>\n<p>\u201cTarget pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tahu, kapan mulai bisa Latihan lagia, kapan bisa tanding lagi, dan seterusnya,\u201d papar dr. Theri. \u201cSebab, dalam penanganan sport injury di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahraga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pension,\u201d tutup dr. Theri.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CEDERA adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga. Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didapatkan pada saat berolahraga. Bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan. Menurut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2875,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[364,102,135,641,648,213,642,104,209],"class_list":["post-2874","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health","tag-cedera-acl","tag-cedera-bahu","tag-cedera-otot","tag-cederaolahraga","tag-cegahcederaolahraga","tag-dokter-orthopedi-di-surabaya","tag-penanganancedera","tag-sport-injury","tag-sport-medicine"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2874","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2874"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2874\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2875"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2874"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2874"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2874"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}