{"id":2494,"date":"2020-05-13T01:35:07","date_gmt":"2020-05-13T01:35:07","guid":{"rendered":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/?p=2494"},"modified":"2020-05-13T01:35:07","modified_gmt":"2020-05-13T01:35:07","slug":"cegah-cedera-olahraga-kenali-kemapuan-sendiri-lakukan-rice-jika-terjadi-cedera","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/2020\/05\/13\/cegah-cedera-olahraga-kenali-kemapuan-sendiri-lakukan-rice-jika-terjadi-cedera\/","title":{"rendered":"CEGAH CEDERA OLAHRAGA KENALI KEMAPUAN SENDIRI, LAKUKAN RICE JIKA TERJADI CEDERA"},"content":{"rendered":"<p>Cedera adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada <em>sport injury<\/em> atau cedera olahraga.<\/p>\n<p>Secara definisi, <em>sport injury <\/em>adalah cedera yang didaptkan pada saat olahraga. bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, <em>ankle <\/em>\u00a0atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan.<\/p>\n<p>Menurut dr. Theri Effendi, Sp.OT, cedera pada lutut biasa terjadi karena terjadi robekan pada ligamen dan jaringan lunak lainnya seperti<em> meniscus<\/em> (jaringan yang menempel pada tulang paha dan tulang kering), cedera pada tulang rawan dan cedera otot di sekitar lutut seperti <em>harmstring, quadriceps<\/em> dll. Cedera yang yang sering terjadi pada lutut adalah Cedera<em> Anterior Cruciate Ligaments <\/em>(ACL) yang merupakan jaringan yang menghubungkan tulang paha dengan tulang kering di sendi lutut.<\/p>\n<p>Sementara di daerah <em>ankle<\/em>, yang paling sering terjadi adalah <em>ankle sprain<\/em>, atau dalam istilah awam biasa disebut dengan kesleo. Pada <em>ankle, <\/em>ligamen yang paling lemah dan sering cedar adalah anterior ligamen. Selain itu, cedera pada <em>ankle<\/em> yang sering terjadi adalah pada tendon <em>achilles, <\/em>yang merupakan tendon terbesar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit. Otot-otot ini biasanya sangat berperan pada aktivitas berjalan, berlari dan melompat. Selain itu, cedera olahraga juga dapat terjadi karena olahraga yang repetitif <em>overused<\/em> atau dilakukan dengan intensitas yang sangat tinggi, sehingga melebihi beban tulang. hal tersebut dapat mengakibatkan fraktur atau patah tulang, yang dalam istilah medis disebut dengan <em>stress fracture.<\/em><\/p>\n<p>\u201cCedera-cedera tersebut sering terjadi pada olahraga-olahraga <em>high impact <\/em>dan cenderung banyak <em>body contact<\/em>-nya. Seperti sepakbola, basket, dll.\u201d Terang dr. Theri. \u201cCedera olahraga paling banyak disebabkan karena <em>body contact, <\/em>tabrakan saat main. Baru yang kedua karena kesalahan sendiri, gerakan tertentu yang salah. Loncat dan jatuh pada posisi yang tidak benar, atau melakukan gerakan memutar seperti pivot (gerakan memutar secara tiba-tiba dengan berporos pada salah satu kaki, red) itu juga paling sering me nyebabkan cedera pada lutut dan <em>ankle<\/em>.<\/p>\n<p>Ditambahkan dr. Theri, cedera olahraga dewasa ini memang semakin meningkat. Hal tersebut berkaitan dengan tren olahraga yang juga semakin banyak digemari, termasuk olahrga <em>urban sport<\/em>, <em>seperti <\/em>running<em>. <\/em>Kompetisi-kompetisi tingkat sekolah juga makin banyak diselenggarakan. \u201cSalah satunya yang sedang <em>in <\/em>\u00a0adalah olahraga lari. Merasa mau <em>event,<\/em> persiapan kurang, tapi ingin sampai <em>finish<\/em>. Jarak yang diambil pertengahan atau paling panjang. Memaksakan diri, akhirnya cedera,\u201d papar dr. Theri. \u201cNutrisi juga harus juga diperhatikan. Walaupun bukan atlet, pengetahuan mengenai nutrisi untuk olahraga juga harus jadi perhatian, agar tidak kelelahan karena asupan nutrisi yag kurang saat olahraga.\u201d<\/p>\n<p><strong>JANGAN DIKOMPRES AIR HANGAT LAKUKAN RICE <\/strong><\/p>\n<p>Meski sederet persiapan sudah dilakukan, seringkali cedera saat olahraga tidak dapat dihindari. Jika sudah terjadi, pengetahuan mengenai penanganan pertama sangat diperlukan. \u201cYang pertama harus dilakukana adalah <em>Rest <\/em>(istirahat), jangan melakukan olahraga terlebih dahulu,\u201d ujar dr. Theri.<\/p>\n<p>Kemudian, langkah berikutnya adalah teknik <em>Ice, <\/em>yakni <em>\u00a0icing, compressing <\/em>dan <em>elevating. Icing <\/em>adalah mengompres cedera dengan es atau air dingin. Menurut dr. Theri salah satu kesalahan yang umum terjadi pada masyarakat awam saat mengalami cedera adalah mengompres cedera dengan menggunakan air hangat.<\/p>\n<p>\u201ckalau cedera itu sebenarnya, ada kerusakan jaringan di dalam, termasuk di dalamnya pemb uluh darah. Kalau dikasih hangat, pembuluh darah tidak malah menyempit tapi malah melebar, akhirnya perdarahannya akan semakin banyak,\u2019 papar dr. Theri \u201cKalau dikasih es, kontraksi, perdarahannya berkurang dan bengkaknya akan cepat kempis. Dikompres dengan cara dipijat juga merupakan langkah yang sangat fatal, karena jaringan yang mengalami cedera akan semakin parah.\u201d<\/p>\n<p>Proses <em>elevating <\/em>juga penting, dimana bagian yang cedera harus diposisikan lebih tinggi dari jantung. Jika kaki digantung atau diletakkan lebih atas, kalau tangan dapat digendong. \u201cKalau perlu dibebat, juga pastikan bebatannya tidak terlalu kencang, tapi juga tidak terlalu kendor,\u201d katanya. \u201cKalau misal belum membaik, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.\u201d<\/p>\n<p><strong>PENANGANAN TERINTEGRASI DI RSOT<\/strong><\/p>\n<p>Seiring dengan tren olahraga, oenanganan pada <em>sport injury<\/em> di Indonesia juga terus berkembang. Tak terkecuali di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya, yang juga memiliki dokter-dokter orthopedi dengan sub-spesialis <em>sport injury.<\/em><\/p>\n<p>RSOT juga menerapkan teknologi-teknologi penanganan terkini dengan perlatan modern. Salah satunya adalah dengan <em>arthroscopy<\/em>, teknik operasi <em>minimal invasive<\/em> dengan luka sayatan kecil bahkan kurang dari 1 cm dan proses <em>recovery <\/em>\u00a0yang sangat cepat.<\/p>\n<p>Selain itu, RSOT juga memiliki tim rehabilitasi medic dari dokter fisioterapis yang memiliki program dan <em>standart of procedure <\/em>(SOP) yang jelas, baik penanganan cedera dengan operasi maupun tanpa operasi. Hal tersebut sangat membantu dalam memantau kapan seseorang yang mengalami cedera dapat melakukan olahraga kembali. Itu sebabnya, selama ini RSOT dipercaya oleh berbagai klub dan atlet professional dalam penanganan cedera, termasuk para atlet Persebaya Surabaya dan berbagai klub professional lainnya.<\/p>\n<p>\u201cTarget pemulihannya berapa sangat jelas. Mereka bisa tau, kapan bisa mulai latihan lagi, kapan bisa tanding lagi dan seterusnya,\u201d papar dr. Theri. \u201cSebab, dalam penanganan <em>sport injury<\/em> di RSOT ini, harapannya dia bisa kembali berolahrga, minimal sama kemampuannya dengan sebelum cedera, atau bahkan lebih baik. Bukan menurun atau malah pensiun.\u201d tutup dr. Theri.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-2496\" src=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/RICE-320x256.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"256\" srcset=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/RICE-320x256.jpg 320w, https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/RICE.jpg 400w\" sizes=\"(max-width: 320px) 100vw, 320px\" \/><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cedera adalah hal yang sangat lazim dalam olahraga. untuk itu diperlukan pengetahuan yang baik mengenai pencegahan dan penanganan awal pada sport injury atau cedera olahraga. Secara definisi, sport injury adalah cedera yang didaptkan pada saat olahraga. bagian tubuh yang umum mengalami cedera saat berolahraga adalah lutut, ankle \u00a0atau pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan. Menurut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2495,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[51,435,448,364,103,447,64,445,90,92,393,368,104,60,446],"class_list":["post-2494","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health","tag-acl","tag-ankle-sprain","tag-body-contact","tag-cedera-acl","tag-cedera-olahraga","tag-high-impact-sport","tag-price","tag-rice","tag-rsot","tag-rsot-surabaya","tag-rumah-sakit-khusus-tulang-surabaya","tag-rumah-sakit-orthopedi-dan-traumatologi-surabaya","tag-sport-injury","tag-sprain","tag-urban-sport"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2494","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2494"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2494\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2495"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}