{"id":2323,"date":"2020-03-18T06:30:01","date_gmt":"2020-03-18T06:30:01","guid":{"rendered":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/?p=2323"},"modified":"2020-03-18T06:30:03","modified_gmt":"2020-03-18T06:30:03","slug":"deteksi-dini-skoliosis-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/2020\/03\/18\/deteksi-dini-skoliosis-2\/","title":{"rendered":"DETEKSI DINI SKOLIOSIS"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa manusia bisa berdiri tegak ? Hal ini disebabkan\nantara lain karena memiliki tulang belakang. Tugas tulang belakang sungguh\nberat yakni menopang dua pertiga dari berat badan dan sisi lain harus melakukan\nbanyak gerakan tubuh. lantas bagaimana jika tulang penyangga manusia bengkok ? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Skoliosis atau pembengkokan tulang belakang adalah kondisi\ndimana terjadi pembengkokan tulang belakang kea rah samping yang melibihi 10\ndrajat. Skoliosis akan tampak seperti benjolan (punuk) pada bagian punggung sebelah\natas,bawah, kiri atau kanan. Ciri-ciri lain tampak ketika penderita berdiri\ntegak badan akan tampak lebih condong ke satu sisi,kaki panjang sebelah,dan\nbahu yang asimetris. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih banyak orang yang asing dengan penyakit\nini.Namun,meskipun terdengar mengerikan, penyakit skoliosis dapat dicegah agar\ntidak semakin parah atau semakin bengkok jika dikenali sejak dini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PENYEBAB SKOLIOSIS ?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat 3 Penyebab atau faktor pemicu skoliosis,\ndiantaranya ginetik yakni terdapat riwayat skoliosis pada keluarga\npenderita,kelaian saraf\/otot,serta cidera atau infeksi pada tulang\nbelakang.Namun,kejadian yang lebih sering ditemui pada kasus skoliosis adalah\nfaktor idiopatik atau belum diketahui pasti penyebabnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PENGARUH GAYA HIDUP TERHADAP SKOLIOSIS ? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi penderita skoliosis, gaya hidup juga mempengaruhui\nbertambah parah atau tidaknya pembengkokan pada tulang belakang. Postur duduk\nyang kurang baik yakni melekung dan sering membawa tas berat di satu sisi akan\nmembuat tulang belakang di satu sisi akan membuat tulang belakang semakin\nbengkok. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang harus diingat adlah membawa tas yang terlalu berat\ntidak akan mengakibatkan skoliosis kecuali bagi anda yang mempunyai riwayat\nkeluarga terkena skoliosis. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PENANGANAN SKOLIOSIS ? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila anggota keluarga keluarga anda terkena skoliosis,\nmaka sebaiknya anda menemui dokter spesialis orthopedic, khususnya ahli tulang\nbelakang. Di RS Orthopedi dan Traumatologi (RSOT) Surabaya sendiri telah\nmenyediakan layanan sub spesialitik khusus tulang belakang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum dilakukan penanganan, biasanya dokter di RSOT akan melakukan observasi atau pengamatan dalam jangka 3-6 bulan untuk mengetahui apakah skoliosis yang di alami penderita termasuk ke dalam skoliosis progresif atau tulang mengalami bengkok secara terus menerus atau tidak.  Setelah observasi brulah diketehui apakah skoliosis tergolong skoliosis ringan maka akan dilakukan penanganan non-bedah yakni dengan <em>physical therapy <\/em>dan pemasangan<em> brace<\/em> atau  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">penyangga tulang belakang. Selain itu pasien skoliosis\nringan dapat pula melakukan olahraga berenang agar kondisinya tidak bertambah\nburuk. Untuk skoliosis tingkat berat yakni ketika sudut bengkok diatas 40\ndrajat, maka perlu dilakukan tindakan operasi dengan pemasangan pen pada tulang\nbelakang guna mengembalikan tulang belakang pada semua posisi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cRSOT telah melakukan screening ke sekolah sekolah untuk\nmendeteksi kelainan tulang belakang secara dini. Karena biasanya justru\norang-orang di sekitar penderita yang memberitahui ada yang berbeda dengan\npostur tubuhnya. Untuk itulah sebaliknya para orang tua peka dan memperhatikan\npertumbuhan anaknya serta mengenal ciri-ciri skoliosis agar tidak semakin\nparah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/skoliosis1111.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2324\" width=\"352\" height=\"197\" srcset=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/skoliosis1111.jpg 700w, https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/skoliosis1111-320x180.jpg 320w, https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/skoliosis1111-540x303.jpg 540w\" sizes=\"(max-width: 352px) 100vw, 352px\" \/><figcaption>skoliosis <\/figcaption><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengapa manusia bisa berdiri tegak ? Hal ini disebabkan antara lain karena memiliki tulang belakang. Tugas tulang belakang sungguh berat yakni menopang dua pertiga dari berat badan dan sisi lain harus melakukan banyak gerakan tubuh. lantas bagaimana jika tulang penyangga manusia bengkok ? Skoliosis atau pembengkokan tulang belakang adalah kondisi dimana terjadi pembengkokan tulang belakang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2325,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[149,108,56,368,176,119,110],"class_list":["post-2323","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health","tag-rs-orthopedi-traumatologi-surabaya","tag-rsotsurabaya","tag-rumah-sakit","tag-rumah-sakit-orthopedi-dan-traumatologi-surabaya","tag-rumah-sakit-surabaya","tag-rumah-sakit-tulang","tag-skoliosis"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2323","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2323"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2323\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2325"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2323"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2323"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2323"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}