{"id":2319,"date":"2020-03-18T04:47:00","date_gmt":"2020-03-18T04:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/?p=2319"},"modified":"2020-03-18T04:47:02","modified_gmt":"2020-03-18T04:47:02","slug":"resiko-patah-tulang-pada-osteoporosis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/2020\/03\/18\/resiko-patah-tulang-pada-osteoporosis\/","title":{"rendered":"RESIKO PATAH TULANG PADA OSTEOPOROSIS"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum,Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang di\ntandai oleh menurunnya masaa atau kepadatan tulang. Pengukuran massa tulang\ntersebut dapat dilakukan dengan metode Bone Mass Density (BMD) angak 0 pada\nhasil BMD dapat di artikan bahwa orang tersebut memiliki massa tulang yang\nnormal. Sementara jika angka-1 hingga-2 menunjukan kondisi osteopenia atau\npre-osteoporosis,dimana jika tidak di tangani dengan baik. Maka sekitar lima\nhingga sepuluh tahun ke depan dapat di pastikan akan masuk pada osteoporosis. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOsteoponia itu zona kuning. Jika hasil BMD-Nya menunjukan\n-2,5 itu sudah zona mrah atau osteoporosis. Semakin tinggi tingkat\nosteoporosisnya maka semakin tinggi resiko patah tulangnya. Terbentur sedikit\nsaja patah tulang.\u201d terang dr Tanjung A.Sangkai,Sp.OT. Menguntip sebuah\nliterature,Dr Tanjung mengungkapkan bahwa resiko patah tulang mengikuti tingkat\nkepadatan tulangnya. Jika hasil BMD Menunjukan angka-1,maka resiko patah\ntulangnya meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan kepadatan tulang yang\nnormal. Hasil BMD -2 berarti resiko patah tulangnya empat kali llebih besar\n,begitu seterusnya\u201dBahkan saya pernah menangani pasien yang patah tulang\nbelakangnya hanya karena mobil yang di tumpanginya melewati polisi tidur atau\ngundukan. Ada juga yang karena gelap,kakinya sedikit saja menendang kaki\nmeja,sudah patah.\u201dujar dr Tanjung. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk itu, tingkat awareness terhadap osteoporosis, ini\nsangat penting. Sebab, banyak orang yang tidak merasa menghidap osteoporosis\ndan baru menghantuinya setelah terjadi patah tulang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Patah tulang karena osteoporosis ini umumnya terjadi di 3\ntempat yakni tulang belakang,tulang pinggul,dan tulang pada perhgelangan\ntangan.Sebab,Pada saat jatuh,ketiga bagian inilah yang biasa di gunakan untuk\nmenyangga badan. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasus patah tulang pada ketiga tempat tersebut juga kerap\nterjadi pada orang tua yang sebagian besar Karena terpeleset di kamar mandi dan\ndi anak tangga. Biasanya terpeleset dengan posisi miring kemudian terkena\ntulang di bagian pinggul atau posisi terduduk yang mengakibatkan patah tulang\nbelakang. Kejadian paling ringan adalah bertumpu dengan tanagan yang\nmengakibatkan tulang pergelangan tangannya patah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lanjut Dr Tanjung menunturkan,penangan pada fraktur atau\npatah tulang pada pasien yang mengalami osteoporosis ini lebih sulit\ndikarenakan sudah porotik atau keropos. Namun, sebagai rumah sakit yang concern\ndi bidang orthopedic dan traumatologi, RSOT memiliki banyak dokter ahli dan\nperalatan penunjang untuk mengatasi hal tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDi RSOT,ada banyak penerapan teknologi yang bisa di\nmanfaatkan.Mulai dari Partial Hip Repclesment,Total Hip Receplesment (Ganti\ntulang pinggil keseluruhan), teknik kifoplasty pada kasus patah di tulang\nbelakang yakni dengan terlebih dahulu memasukan balon di dalamnya sehingga\nsemen tidak meluber kemana-mana dan tekhnik lainnya. \u201cUjar Dr\nTanjung.\u201dPenerapan teknologi tersebut juga di tunjang dengan peralatan dan tim\nahli. \u201c <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr Tanjung\u00a0 juga menekankan pentingnya tabungan tulang pada masa mengandung,pertumbuhan, dan menjelang menepouse bagi wanita.\u201d Dengan tabungan kalsium di masa pertumbuhan hingga usia 35 tahun itu diharapkan kepadatan tulang kita akan bagus,sehingga juga terhindar dari osteoporosis dan patah tulang karena osteoporosis.\u201dtutpnya \u00a0<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/tulang-01.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2320\" width=\"351\" height=\"281\" srcset=\"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/tulang-01.jpg 400w, https:\/\/surabayaorthopedi.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/tulang-01-320x256.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 351px) 100vw, 351px\" \/><figcaption>Osteoporosis <\/figcaption><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara umum,Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang di tandai oleh menurunnya masaa atau kepadatan tulang. Pengukuran massa tulang tersebut dapat dilakukan dengan metode Bone Mass Density (BMD) angak 0 pada hasil BMD dapat di artikan bahwa orang tersebut memiliki massa tulang yang normal. Sementara jika angka-1 hingga-2 menunjukan kondisi osteopenia atau pre-osteoporosis,dimana jika tidak di tangani [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2321,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[276,61,120,56,368,176,119],"class_list":["post-2319","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health","tag-orthocare","tag-orthopedi","tag-osteoporosis","tag-rumah-sakit","tag-rumah-sakit-orthopedi-dan-traumatologi-surabaya","tag-rumah-sakit-surabaya","tag-rumah-sakit-tulang"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2319","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2319"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2319\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}