{"id":2197,"date":"2019-12-02T05:38:34","date_gmt":"2019-12-02T05:38:34","guid":{"rendered":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/?p=2197"},"modified":"2019-12-02T05:38:35","modified_gmt":"2019-12-02T05:38:35","slug":"osteoporosis-the-silent-epidemic-disease-menyerang-diam-diam-dan-tanpa-tanda-khusus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/2019\/12\/02\/osteoporosis-the-silent-epidemic-disease-menyerang-diam-diam-dan-tanpa-tanda-khusus\/","title":{"rendered":"Osteoporosis: The Silent Epidemic Disease, Menyerang Diam-Diam dan Tanpa Tanda Khusus"},"content":{"rendered":"<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Selama ini osteoporosis identik dengan orang tua. Faktanya, pengeroposan tulang dapat menyerang siapa saja, termasuk mereka yang berusia muda. Penelitian <em>International Osteoporosis Foundation <\/em>(IOF) mengungkapkan, satu dari empat wanita Indonesia dengan rentang usia 50\u201380 tahun memiliki risiko osteoporosis. Dan, risiko wanita empat kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data\nyang dimiliki Rumah Sakit Orthopedi &amp; traumatology Surabaya pada rentang\nwaktu tahun 2012-2016, setidaknya terdapat 28.846 pasien osteoporosis yang\nditangani. Dari jumlah tersebut hanya 3 persen yang datang dengan keluhan\nsementara sisanya terdeteksi osteoporosis pada saat dilakukan pemeriksaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu\npenyebab tingginya risiko osteoporosis di Indonesia adalah meningkatnya usia\nharapan hidup masyarakat yang pada tahun 2005 mencapai 67,68 tahun, yang tidak\ndiimbangi dengan tingkat\npengetahuan masyarakat mengenai cara pencegahan osteoporosis yang masih rendah. Hal ini terlihat dari\nrendahnya konsumsi kalsium rata-rata masyarakat Indonesia, yaitu sebesar 254 mg\/hari atau hanya seperempat dari standar\ninternasional, yaitu sebesar 1000-1200 mg\/hari untuk orang dewasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>APA ITU\nOSTEOPOROSIS? <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Osteoporosis\nadalah kondisi berkurangnya massa tulang dan gangguan struktur tulang\n(perubahan mikroarsitektur jaringan tulang), sehingga menyebabkan tulang menjadi\nmudah patah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Massa\ntulang manusia dipengaruhi oleh faktor genetik dengan kontribusi dari nutrisi,\nkeadaan endokrin, aktivitas fisik, dan\nkondisi kesehatan saat masa pertumbuhan. Proses pembentukan tulang dengan memelihara kesehatan tulang dapat\ndikategorikan sebagai program pencegahan, yang secara kontinyu mengganti tulang yang\nlama dengan tulang yang baru. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehilangan\nmassa tulang terjadi saat keseimbangan proses pembentukan tulang terganggu, sehingga resorpsi tulang lebih banyak\ndari pembentukan tulang baru. Ketidakseimbangan ini biasanya terjadi pada orang\nlanjut usia dan pada wanita yang mengalami menopause. Kehilangan massa tulang\ndapat mengubah mikro-arsitek jaringan tulang dan meningkatkan risiko fraktur\ntulang (<em>National Osteoporosis Foundation,\n2014<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>PENYEBAB\nOSTEOPOROSIS<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Usia, jenis\nkelamin, dan ras merupakan faktor\npenentu utama dari massa tulang dan risiko patah\ntulang. Osteoporosis dapat terjadi pada semua usia, namun lebih banyak terjadi\npada orang lanjut usia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama masa\nanak-anak dan dewasa muda, pembentukan tulang jauh lebih cepat dibandingkan\ndengan kerusakan tulang. Titik puncak massa tulang (<em>peak bone mass<\/em>)\ntercapai pada usia sekitar 30 tahun, dan\nsetelah itu mekanisme resorpsi tulang menjadi jauh lebih cepat dibandingkan\ndengan pembentukan tulang. Penurunan massa tulang yang cepat\nakan menyebabkan kerusakan pada mikroarsitektur tulang khususnya pada tulang trabekular.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GEJALA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyakit osteoporosis dijuluki sebagai <em>Silent Epidemic Disease<\/em><em>,<\/em> karena menyerang secara diam-diam, tanpa\nadanya tanda-tanda khusus, sampai terjadi patah tulang. osteoporosis juga dapat\nterjadi pada anak-anak yang disebut Juvenile Idiopathic osteoporosis namun\nbelum diketahui.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>FAKTOR-FAKTOR\nRISIKO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Faktor risiko seseorang untuk mengalami\nosteoporis yang tidak dapat diubah antara lain usia, jenis kelamin (wanita\nlebih berisiko mengidap osteoporosis lebih besar dibandingkan pria), riwayat\nkeluarga, ganguan hormonal dan ras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Faktor risiko osteoporosis yang dapat diubah\nseperti imobilitas yang terlalu tinggi, postur yang terlalu kurus, kebiasaan\nyang selalu mengkonsumsi alkohol, asupan gizi yang telalu rendah, penggunaan\nobat kortikosteroid terlalu lama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>PENCEGAHAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Osteoporosis\nsebenarnya dapat dicegah sejak dini dengan membudayakan perilaku hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan dengan gizi\nseimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat, rendah lemak\ndan kaya kalsium (1000-1200 mg kalsium per hari), berolahraga secara teratur,\ntidak merokok, dan tidak\nmengkonsumsi minuman beralkohol.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>osteoporosis<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":2198,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[163,109,121,131,120,202,124,149,90,204,320,122],"class_list":["post-2197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health","tag-dokter-orthopedi","tag-dokter-tulang","tag-keropos-tulang","tag-orthopedic-surgeon","tag-osteoporosis","tag-osteoporosis-club","tag-pengeroposan-tulang","tag-rs-orthopedi-traumatologi-surabaya","tag-rsot","tag-sooc-rssot","tag-the-silent-disease","tag-tulang-keropos"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2197"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2197\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/surabayaorthopedi.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}